SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 40 DUA PEMENANG SEJATI



Seleksi tetua muda sedang berlangsung dengan seru. Pertarungan itu melibatkan dua kandidat yang berasal dari dua perguruan cabang berbeda.


Trang! Trang! Trang!


Permainan kedua orang yang sama-sama mengunakan pedang ganda yang tergenggam dikedua belah tangannya bergerak begitu cepat.


Serangan yang dilakukan seorang yang memiliki tinggi badan dibawah rata-rata itu begitu cepat menyerang ke arah lawan yang memiliki postur tubuh agak jangkung.


Sepertinya postur tubuh bukan halangan telah dibuktikan dalam pertarungan ini. Terlihat serangan itu membuat kandidat yang bertubuh jangkung begitu keteteran melayani serangannya.


Gerakan yang begitu cepat terbantu oleh ilmu meringankan tubuh yang terlatih dengan baik. Bahkan tingkat kecepatannya satu tingkat dibawah langkah kilat milik Suro.


Dia bergerak dengan begitu leluasa. Bahkan tubuhnya yang sedikit kecil itu menjadi nilai tambahan untuknya. Sebab si jangkung kesulitan menyerang si pendek yang bergerak dengan gesit mengurung dirinya. Kadang tubuhnya dilemparkan sedemikian rupa melewati sela-sela kakinya.


Tentu saja si jangkung kelabakan menerima serangan seperti itu. Hal yang paling pertama dia lakukan adalah menyelamatkan pusaka satu-satunya yang berada dipangkal pahanya.


"Ealaa modiarrr aku..!"


Teriakan si jangkung terdengar acap kali daerah selangkangannya diterobos.


Si pendek mengunakan pedang ukuran pendek sehingga tidak membiarkan ada jarak diantara mereka. Serangan yang begitu deras menghajar si jangkung. Dia harus berlompatan beberapa kali agar bisa membuat jarak. Tetapi si pendek sepertinya tidak membiarkan hal itu terjadi.


Gerakan kakinya yang tak bisa melangkah selebar si jangkung bisa tertutupi dengan langkahnya yang cepat. Dia mengejar terus memepet si jangkung.


"Ealaa..modiar aku...!"


Teriakan si jangkung kembali terdengar saat si pendek menerjang diantar dua celah kakinya.


Keringat si jangkung begitu deras mengalir. Bukan karena kecapean tetapi karena takut pusaka satu-satu miliknya tertebas. Pusaka yang tidak dijual dipasar manapun. Jika sampai tertebas bisa kacau masa depannya sebagai lelaki terganteng dipelosok kaki Gunung Slamet. Hal itu yang membuat dia bercucuran keringat begitu deras. Terlihat jelas kecemasan tergambar diwajahnya yang putih, sekarang berubah menjadi merah padam.


Si jangkung sepertinya memiliki kondisi jiwa yang biasa disebut latah. Ucapan yang berkali kali terdengar keluar secara refleks. Terlepas dari sifatnya yang latah dia dikenal karena parasnya yang benar-benar kelewat rupawan. Karena parasnya itu dia mendapatkan julukan Arjuna dari lereng Gunung Slamet.


Dia berasal keluarga kalangan kasta Sudra, hanya anak seorang petani bawang. Nama aslinya adalah Paimo tetapi oleh gurunya dia diberikan nama baru Jaladara. Jaladara bisa berarti menjala dara atau perawan. Karena memang wajahnya yang rupawan itu telah banyak membuat perempuan jatuh hati kepadanya.


Karena parasnya itu salah seorang tetua cabang merasa tertarik dengannya dan menariknya menjadi murid diperguruan cabang. Ternyata bukan hanya parasnya saja yang membuat tetua itu memilihnya menjadi seorang murid. Keahlian dia dalam memainkan pedang memang diatas rata-rata.


Sebuah keahlian yang mungkin memang sudah dari bawaan lahir membuat dia cepat menguasai jurus-jurus pedang. Bukan hanya itu saja kelebihan yang dimilikinya. Dia juga diketahui memiliki kecepatan berpikir dan pemahaman tentang sesuatu berada pada level diatas rata-rata.


Ketekunannya dalam mempelajari ilmu olah kanuragan dan kecepatan pemahamannya diantara yang lain, membuat dia akhirnya terpilih sebagai murid utama. Tidak ada yang menyangkal tentang bakatnya itu.


Dia belajar olah kanuragan disuatu perguruan cabang yang terletak tidak jauh dari Gunung Slamet. Diperguruan cabang tempat dia bernaung mempunyai nama yang cukup terkenal yaitu Perguruan Panuluh


"Eala...Modiar aku...!"


Teriakan si jangkung atau Jaladara kembali terdengar saat tebasan dari Si Pendek kembali mencecar ke arah tubuh bagian bawahnya.


Si pendek itu mempunyai panggilan Bajing(tupai) Awarawar atau Bajang(kerdil) Awarawar. Bajing adalah nama lain dari tupai. Binatang yang mampu berloncatan dan bergerak lincah diantara dahan pepohonan. Karena memang kemampuan dan fisik dia mengingatkan pada pergerakan seekor bajing yang sangat lincah.


Sedangkan kata Awarawar berasal dari penggalan nama lengkapnya yaitu Galih Awarawar. Awarawar berasal dari sebuah nama pohon yang memiliki daun lebar dan buahnya banyak menempel pada batangnya. Biasa digunakan para tabib untuk mengompres bisul.


"Jadi ini ilmu Welut(belut)Putih yang tersohor itu!" Jaladara bertanya setelah mencoba membuat nafas kembali normal. Dia menatap ke arah musuhnya yang sudah mampu dia buat berjarak.


Ajian Welut putih adalah salah satu ilmu olah kanuragan yang akan membuat tubuh penggunanya sangat susah ditangkap. Salah satunya karena gerakannya yang begitu gesit. Membuat lawannya juga susah untuk menyerang tubuhnya karena selalu berpindah-pindah dengan acak dan cepat.


Si jangkung alias Jaladara akhirnya mampu membuat jarak tiga tombak. Setelah berjumpalitan di udara sambil melemparkan senjata rahasianya. Senjata itu berbentuk cakram-cakram kecil dengan pinggir lancip-lancip. Serangan itu mampu menghentikan gerakan Bajang Awarawar yang terus merangsek mengejarnya.


"Benar kisanak! Aku tak mengira ilmu ini bisa terdengar sampai di Gunung Slamet!"


"Hahahaha....! Kadang jalannya bayu(angin) pun kalah jauh dari nama yang tersohor."


Si jangkung alias Jaladara setelah merasa nafasnya yang sebelumnya begitu memburu kini sudah mulai normal. Tak berapa lama kemudian dia mulai membuat serangan ke arah lawannya.


Trang! Trang! Trang!


Tiga lemparan cakram miliknya menerjang ke arah Bajang Awarawar sebagai serangan pembuka. Saat lawannya sibuk menangkis dia seger menerjang dengan cepat. Kali ini dia tidak membiarkan lawannya berada posisi yang terlalu dekat.


"Gelombang Pedang Menggulung!"


Menghadapi serangan pedang yang mengulung dengan begitu deras tidak membuatnya gentar. Tubuhnya yang kecil berlompatan bergerak cepat menghindari serangan dari Jaladara.


Gerakan yang agak unik itu bahkan membuat Jaladara sedikit kesulitan menemukan tubuh lawannya. Gerakannya yang bisa begitu cepat bahkan kakinya bisa berpijak pada pedang yang menerjang kearah tubuhnya. Pijakan itu digunakan sebagai daya lontar.


"Pusaran Pedang Dewa!"


Tubuhnya Bajang Awarawar melontar tinggi keatas hampir tiga tombak. Kedua tangannya memeluk kedua kaki yang menekuk dan memutar cepat diudara. Setelah itu dia menukik dengan tajam ke arah Jaladara, sambil pedangnya berputar dengan cepat mengurung tubuhnya sendiri dengan kilatan kedua bilah pedangnya.


Jurus Dewa Pedang yang dikombinasikan gerakan seperti itu ternyata menghasilkan efek yang dahsyat. Tak ingin tubuhnya hancur Jaladara segera melemparkan tubuhnya kesamping menghindari serangan yang menerjang.


"Trang! Trang! Trang! Trang!


Bola pedang yang berasal dari rangkaian jurus milik Bajang Awarawar menghantam lantai. Putaran tubuh dan pedangnya seakan tak berhenti setelah menghantam lantai.


Tubuh itu seakan tak menyentuh tanah kembali berputar membentuk pusaran pedang mengejar arah larinya Jaladara.


Jaladara sepertinya sudah bersiap sebelum lawannya mendekat justru dia menerjang cepat.


Trang! Trang!


Bilah pedang beradu dengan cepat. Bajang Awarawar tubuhnya berputar dengan cepat, sambil menyabetkan kedua bilah pedangnya.


Dalam kondisi berputar tiba-tiba salah satu kakinya menghentak ke lantai, melontarkan tubuhnya mendekati sisi tubuh lawan bagian atas yang sebelumnya terlalu jauh dari jangkauannya. Sambil terlontar itu kakinya menendang kedua pergelangan tangan Jaladara yang memegang erat dua bilah pedangnya.


Tendangan itu tak sampai melemparkan pedang yang dipegang lawannya. Tetapi dengan itu membuat lawannya tidak punya kesempatan untuk menepis serangan kedua bilah pedangnya yang menyambar ke arah kepala Jaladara secara beriringan.


Serangan berturut-turut itu membuat Jaladara bergerak cepat menghindar. Sepontan badannya melengkung kebelakang dilanjutkan bersalto. Dalam kondisi bersalto kebelakang tendangan kaki Jaladara yang begitu cepat tepat mengenai Paha kanan bagian belakang Bajang Awarawar. Tendangan itu begitu keras sehingga membuat tubuh lawannya terlempar sejauh hampir dua tombak.


Bajang Awarawar merupakan murid utama dari Perguruan cabang yang berada didekat Dahanapura yang berarti kota api. Nama Dahanapura kadang hanya disebut kota Daha saja. Salah satu kota kadipaten yang kemudian bernama Kediri.


Nama Perguruannya adalah Perguruan Alap-alap kumitir(alap-alap adalah jenis elang jawa sedang arti kumitir itu bisa berarti berputar bisa juga seperti bergerak ragu-ragu tak tentu arah).


Seperti gerakan Bajang yang bergerak cepat dan tak menentu gerakannya seakan acak. Disitulah letak kelebihan dari jurus andalannya yang membuat susah ditebak pergerakannya.


Walaupun ditambah jurus andalannya welut putih tetapi Jaladara bukanlah pendekar sembarangan. Walaupun awalnya dia hanya dari kalangan kasta Sudra tetapi kegagahannya dan tekadnya adalah milik kalangan ksatria.


Itu dibuktikan dengan serangan balasan ke arah Bajang Awarawar. Tendangan itu membuat luka dalam pada pahanya sehingga pergerakannya tak selincah sebelumnya. Tanpa kelincahannya sepertinya tinggal menunggu waktu saja.


Jaladara menatap lawannya yang tak segera bangun berdiri. Salah satu tangannya memegangi bekas tendangan barusan.


"Menyerah saja kisanak! Aku tak ingin melukaimu! Tidak ada gunanya meneruskan. Aku tau kelebihanmu ada pada kelincahanmu."


"Hahaha...! Terimakasih perhatianmu kisanak! Aku ditempa belajar pedang sedari dini! Bukan karena ketrampilanku bergerak dengan lincah sehingga aku terpilih menjadi murid utama perguruan cabang."


"Akan aku perlihatkan pedang alap-alap kumitir."


Selesai dia berbicara dia meloncat tinggi menerjang keatas langsung menyambar dengan cepat tebasan pedang Bajang Awarawar ke tubuh Jaladara.


Perkataannya tentang kelebihan dia bukan hanya kegesitan tak sepenuhnya salah dan juga tak sepenuhnya benar. Karena satu kakinya yang terkena tendangan tak mampu menompang tubuh dengan sempurna.


Beberapa kali gerakan sapuan kaki milik Jaladara menerjang kedua kaki Bajang. Terlihat Bajang yang hanya bertopang pada kaki kanannya sedang kaki kirinya hanya sekedar untuk mengimbangi membuat dia harus berguling beberapa kali lalu bersalto kebelakang menghindari pedang Jaladara yang mengejar.


Pertarungan begitu seru. Bajang yang pergerakannya sudah tak selincah sebelumnya masih melakukan perlawanan. Dia memang petarung yang hebat mentalnya memang terasah dengan baik. Segala cacian baginya hanyalah sarapan pagi.


Tak peduli orang berkata apa tentang fisiknya yang memang tak bisa berkembang seperti lainnya. Tetapi minatnya sangat besar pada ilmu olah kanuragan membuat Tetua cabang tertarik dengan tekadnya itu.


Tekad kadang hanyalah faktor tambahan untuk mendalami ilmu kanuraga. Banyak faktor lain yang menentukan kemajuan kemampuan seseorang.


Posisi dia yang mengantarkan dirinya sebagai murid utama telah menjadikan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Dan posisi dia sekarang yang lolos mengikuti pemilihan tetua muda tentu sebuah mimpi yang melebihi keinginan.


Bajang Awarawar hanyalah gambaran lain dari Jaladara. Seseorang yang ingin membuktikan kepada orang lain bahwa takdir dari lahir mampu dirubah jika mempunyai kehendak yang kuat untuk membuktikannya. Seperti juga Bajang, Jaladara yang hanya seorang kasta Sudra ingin membuktikan bahwa dalam dirinya pantas disetarakan dengan para kasta ksatria.


Walaupun akhirnya dalam pertarungan ini Paimo atau Jaladara yang akhirnya memenangkan pertarungan. Tetapi mereka berdua sesungguhnya tetaplah dua pemenang sejati. Pemenang yang memenangkan pertarungan dalam liku jalan hidupnya yang melebihi harapan yang diimpi-impikan selama hidupnya.