SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 377 Kota Sanxi part 9



Ucapan Suro barusan sempat didengar oleh Pedang setan, tetapi lelaki itu tidak menggubrisnya.


Melihat serangan yang dikerahkan lawan barusan, Suro segera bergerak mundur beberapa langkah. Dia masih mengingat, saat dia menyepelekan serangan itu matanya sampai tidak mampu melihat. Hal itu terjadi akibat asap yang menyelimutinya ternyata juga dapat meracuni matanya.


Dia mengantisipasi ledakan yang ditimbulkan dari senjata rahasia milik lawannya yang berupa bola-bola sebesar telur ayam itu. Dan benar saja, sesaat setelah dia mundur ledakan berturut-turut segera terjadi.


Kepulan asap yang muncul segera dia halau dengan pukulan tangan kosong dari tehnik perubahan angin, hasilnya seluruh asap itu tersapu dan menghantam balik ke arah lawan.


Salah satu racun yang terkandung didalam kepulan asap itu adalah racun pelumpuh tulang.


Tentu saja mereka tidak ingin terkena racun yang terkandung didalamnya. Karena alasan itu Pedang setan dan Empat Bayangan setan segera bergerak menghindar.


Berbeda dengan mereka, Yang Xiaoma dan kedua temannya tidak sempat menghindar, akibatnya mereka langsung ambruk terkulai lemas seperti tidak memiliki tenaga lagi.


Melihat serangan pembuka miliknya telah gagal, Pedang setan mendengus kesal. Dia lalu memerintahkan keempat bayangan setan memulai formasi serangan lainnya. Keempat orang itu serentak melemparkan rantai yang memiliki kait diujungnya ke arah Suro.


Tetapi pemuda itu juga tidak tinggal diam, bilah pedang miliknya yang sebelumnya digunakan untuk menyerang lawan, kini dia lesatkan untuk menyerang ke arah Pedang setan dan keempat bayangan setan.


Pedang setan mengambil kesempatan saat Suro berusaha menghindari cakar yang berada diujung rantai. Tubuh lelaki itu dia lontarkan secara sedemikian rupa sambil berputar cepat.


Kedua tangannya bergerak menebas pedang terbang milik Suro yang mencoba menahan gerakannya. Dia melesat laksana seekor elang yang hendak menangkap mangsanya.


Tetapi sayang mangsanya seseorang yang jauh melampaui dirinya, hanya saja dia belum menyadarinya saja. Sebab memang sedari awal Suro tidak memperlihatkan kekuatan miliknya yang sebenarnya.


Dia setengah hati bertarung melawan kelompok itu, pikirannya masih tarpaut pada makanan yang telah dipesan.


"Akhirnya kau akan mati, karena berani melawan Pedang setan!"


Serangan jurus pedang yang berkelebat seperti putaran baling-baling itu hanyalah serangan tipuan belaka. Sebab setelah tubuhnya mencapai jarak cukup dekat, maka terdengar sebuah ledakan.


Suara itu berasal dari senjata rahasia yang dilemparkan Pedang setan. Lelaki itu akhirnya berhasil meledakkan senjatanya pada posisi yang begitu dekat dengan tubuh Suro.


Ledakkan itu tidak berhasil melukai Suro. Tetapi ledakkan itu memang bukan tujuan utama dari serangan itu. Tetapi efek dari ledakan yang berupa asap tebal setelah ledakan itulah inti serangan Pedang setan.


Suro segera menyadari, jika asap yang mengepul itu sejenis dengan racun pelumpuh tulang. Karena itu dia segera menelan penawar racun yang dia miliki.


Serangan rantai yang sempat menghajar Suro sebelumnya telah dapat diatasi dengan mudah. Meskipun meruntuk kesal Lodra tidak membiarkan tuannya terluka, jiwa pedang itu dengan cepat memutus setiap rantai yang menyerang Suro.


Pedang setan setelah berhasil mengerahkan serangan racun barusan, dia memilih menjauh menjaga jarak. Selain itu dia mencoba melindungi anak buahnya yang diserbu pedang terbang milik Suro.


Pedang setan kali ini cukup yakin jika lawannya akan berhasil dia lumpuhkan. Sebab ledakan barusan cukup dekat dengan tubuh lawannya.


Setiap kali racun itu telah meledak atau menyentuh ataupun terhirup tubuh lawan, maka itu artinya akhir dari riwayatnya. Sebab dia akan segera menghabisi lawannya dengan begitu mudah.


Pedang setan sebenarnya sedikit kebingungan melihat lima bilah pedang terbang yang menyerang dirinya tidak juga berhenti bergerak. Dia juga melihat satu bilah pedang terus berputar diatas kepulan asap yang melingkupi musuhnya.


Keheranan Pedang Setan belum berhenti disitu saja, sejak ledakan asap itu, dia merasa asap itu justru terus berputar disekeliling tubuh Suro. Bahkan kini terlihat lebih pekat dibandingkan saat meledak.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Pedang setan hanya bisa bertanya-tanya sambil terus menangkis dan berusaha mematahkan setiap bilah-bilah pedang terbang yang berseliweran menyerang dirinya dan keempat anak buahnya.


'Jurus pedang terbang ini begitu sempurna, seakan setiap bilah pedangnya memiliki pikiran sendiri.' Pedang setan menggerung sebelum akhirnya dia berhasil mematahkan seluruh bilah pedang yang berlesatan menyerang.


Dia mengira keberhasilannya itu pertanda musuhnya telah kehilangan tenaga dalam karena terkena racun miliknya. Tetapi itu ternyata pertanda bahaya lain yang lebih menakutkan dibanding serangan pedang terbang.


Sebab dia segera menyadari seluruh asap yang menyelubungi Suro yang begitu pekat telah menghilang. Kini dia menyaksikan ribuan bahkan lebih, jarum kristal es yang begitu kecil terlihat terbang mengambang disekitar pemuda didepannya.


"Racun pelumpuh tulang kalian tidak akan berpengaruh padaku, kalian para cecunguk tidak mengerti apa itu kesempatan hidup yang telah aku berikan.


Aku sudah mengatakan sebelumnya, jika kalian tidak berhenti melakukan tindakan kalian, maka aku tidak akan mengampuni. Aku akan menghabisi kalian seperti aku juga telah menghabisi Naga Hitam dan pemimpin kelompok kalian." Suro menyeringai ke arah mereka dengan tatapan yang membuat jantung Pedang setan seakan berhenti.


Dia segera menyadari dengan apa yang dia lihat sedari tadi. Jurus pedang terbang yang digunakan Suro mengingatkan dirinya pada selentingan kabar yang sempat dia terima.


Yaitu tentang hancurnya markas pusat milik mereka. Kabar itu menyebut, jika seseorang yang menyerang markas mereka dan membumi hanguskan hingga rata, adalah seorang pemuda belia.


Selain itu jurus pedang yang digunakan sangat tidak biasa, sebab dia mampu mengerakkan puluhan pedang dalam sekali serangannya. Pemuda itu juga kebal dengan serangan racun pelumpuh tulang.


"Kau, apakah kau yang telah menghancurkan markas besar Mawar Merah kami?" suara Pedang setan bergetar saat bertanya. Menunjukkan jika lelaki itu kini merasakan sebuah perasaan ketakutan yang sudah lama dia lupakan sejak dulu.


Dia segera menyadari kesalahan besar yang akan disesalinya. Tetapi itu sudah terlanjur sebab pemuda didepannya tidak lagi menahan serangannya kali ini.


"Tentu saja itu aku, sudah aku berikan kalian kesempatan untuk hidup sebagai manusia yang tidak menyebarkan kejahatan, tetapi sepertinya kalian lebih memilih mati." Suro berbicara cukup pelan, tetapi itu telah membuat Pedang setan sekalipun bergetar kedua kakinya.


Bersama gerakan kedua tangan ke arah depan, maka seluruh jarum itu menerjang menghujani musuhnya.


Zraat! Zraat!


Blaar! Blaar!


Tidak berhenti disitu saja beberapa sinar berlesatan menghajar musuhnya dan melemparkan semua keluar dari ruangan itu menabrak dinding hingga jebol. Semua tidak ada yang tersisa, kecuali dua pemuda dan pemudi yang tergeletak lemas seperti tidak memiliki tulang.