
"Maafkan kami tuan pendekar, kecurigaan kami kepada para pendekar berdua mungkin telah membuat kalian tidak nyaman," La Tongeq sakti mencoba memulai menjelaskan alasan, mengapa mereka hendak dimasukan ke dalam tahanan.
"Pastinya!" Geho sama menyahut dengan nada kesal tanpa membiarkan La Tongeq sakti berhenti berbicara.
"Uhuk, uhuk!" Suro langsung terbatuk-batuk mendengar jawaban Geho sama yang begitu jujur.
"Geho sama, biarkan paman La Tongeq sakti selesai berbicara."
"Biarkan saja dia sebelumnya juga tidak menggunakan pikirannya saat berbicara. Dia kira kita apa, tanpa tanya kesalahan apapun langsung memberikan perintah menyuruh mereka menjebloskan kita ke penjara."
"Tetapi paman La Tongeq sakti sudah meminta maaf, silahkan paman lanjutkan penjelasannya."
Tanpa menanggapi protes kekesalan Geho sama, Suro segera memotong dan meminta La Tongeq sakti untuk melanjutkan penjelasannya.
Geho sama yang pernah merasakan di segel selama waktu yang sangat panjang, tentu tidak mau mengalami lagi kejadian seperti itu. Karena itulah mengapa dia tadi langsung bergerak cepat mencegah agar tidak dimasukan ke dalam penjara, meskipun tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada Suro.
La Tongeq sakti lalu mulai menceritakan alasannya kepada mereka berdua.
Alasan yang dia kemukakan adalah adanya serangan para makhluk kegelapan yang mencoba mencuri air suci yang biasa dijadikan sebagai sumber air minum juga bisa di jadikan penawar racun hawa kegelapan bagi penduduk yang mendiami goa raksasa itu.
Tetapi mereka melakukan itu tidak langsung namun dengan cara menggunakan umpan manusia yang belum terkena hawa kegelapan, entqh bagaimana manusia itu berasal namun para manusia yang dijadikan umpan itu tidak memilikj tanduk seperti biasanya mereka lihat.
Sebab alam dimana mereka tinggal telah diberikan segel sihir perlindungan yang tidak dapat ditembus oleh para makhluk yang telah teracuni hawa kegelapan dalam kondisi sudah dikendalikan oleh Dewa Kegelapan.
Menurut La Tongeq sakti setiap kali manusia yang berhasil menyusup akan mengambil lalu memberikan air suci itu kepada makhluk kegelapan yang mengantarkannya. Dengan meminum air suci itu membuat mereka mampu memiliki kecerdasan.
Bahkan jika tubuh mereka dimakan oleh makhluk kegelapan lainnya, maka mereka juga mendapatkan manfaat dari air suci itu.
Suro segera memahami kejadian yang dia lihat sebelumnya, para makhluk kegelapan yang dia temui dapat berbicara. Selain itu mereka tidak memiliki tanduk, meskipun taring dan gigi tajam menghiasi wajah mereka.
"Biasanya para manusia yang dijadikan umpan itu memiliki kemampuan yang tidak tinggi. Karena itulah mengapa kami dapat menangkap para penyusup itu," sambung lelaki yang dipilih seluruh penghuni yang mendiami tempat tersebut.
La Tongeq sakti selain sebagai pemimpin, dia juga dikenal sebagai pendekar terkuat yang menjadi pelindung tempat itu.
"Mohon maaf paman, segel sihir yang paman sebutkan tadi membuat saya menjadi begitu penasaran. Keberadaan sihir yang telah melindungi tempat ini, sepertinya berhubungan erat dengan sesuatu benda yang aku cari.
Karena tujuan diciptakan segel sihir yang melindungi tempat ini, sebenarnya bertujuan untuk melindungi benda kecil agar tidak diambil oleh kaki tangan Dewa Kegelapan. Ini juga menjawab mengapa makhluk kegelapan terus berusaha menerobos tempat ini.
Aku yakin tujuan utama mereka bukan hanya untuk mengambil air suci yang paman katakan. Tetapi tujuan utamanya adalah mengambil sebuah archa kecil sebesar gengaman tanganku yang terbuat dari sebuah batu giok berwarna hijau muda. Arca itu kami sebut dengan nama relik kuno."
Suro lalu menceritakan mengenai relik kuno dan juga kegunaannya. Dia juga menceritakan kedatangan mereka yang sesungguhnya bukan berasal dari dunia saat ini berada, tetapi dari dunia lain.
Suro juga menceritakan tujuan utama kedatangan mereka adalah hendak mengejar dan mencoba menghabisi Dewa kegelapan.
Mendengar cerita dari Suro, La Tongeq sakti cukup terkejut.
"Jadi begitu cerita lengkap tentang Dewa Kegelapan, dan aku tidak menyangka jika Pendekar Geho sama ini dulunya adalah tempat bagi Dewa Kegelapan. Dan telah disegel didunia ini sejak ribuan tahun lalu."
Melihat kekuatan mereka berdua membuat ucapan Suro terasa masuk akal dapat melawan Dewa Kegelapan. Karena itulah La Tongeq sakti mempercayai Suro. Apalagi dari awal dia memang tidak melukai anak buahnya dan mengalah, meski jika mau mereka dapat dikalahkan hanya dalam satu gebrakan.
"Mengenai Relik kuno yang tuan pendekar sebutkan kemungkinan aku mengetahuinya, imbuh lelaki itu.
La Tongeq sakti entah mengapa menjadi menaruh hormat kepada pemuda tanggung didepannya tersebut. Terlepas dia memang memiliki kekuatan yang memang sangat mengerikan.Namun sikapnya sejak awal membuat dia tertarik.
Tidak lagi ada rasa curiga kepadanya. Sebab bilamana dia memang adalah seorang penyusup, maka tidak seorangpun yang sanggup menghentikan langkah dua pendekar itu. Jika menginginkan air suci yang mereka jaga, termasuk dirinya
Karena itulah, setelah mendengar cerita dari Suro dia tidak menutup-nutupi lagi apa yang dia ketahui.
Terlihat beberapa puluh lelaki menjaga tempat itu dengan bersenjata lengkap. Mereka hanya setara dengan pendekar tingkat kelas satu. Mereka menjaga sesuatu yang bagi mereka sangat berharga, yaitu air suci.
Karena dari kristal besar yang menggantung dilangit goa menetes secara perlahan air yang jatuh dan berkumpul disebuah wadah alami. Air yang terkumpul itulah yang disebut La Tongeq sakti sebagai air suci. Wadah itu meluber dan mengalir ke bawah membentuk kolam yang lumayan besar.
Para penjaga setelah melihat pemimpinnya datang segera menjura.
"Siapa mereka ketua, kami tidak pernah melihatnya?" Salah satu penjaga itu bertanya penuh penasaran.
Dengan penampilan Geho sama yang terlihat mencolok, tentu membuat mereka semua penuh tanda tanya.
"Mereka adalah tamu negeri ini." La Tongeq sakti menjelaskan kepada para penjaga tempat itu hanya sekilas. Setelah itu dia mengajak Suro dan Geho sama menuju ketempat wadah air suci yang dijaga puluhan lelaki.
"Tempat ini sudah dijaga sedemikian ketat, bagaimana caranya kalian masih dapat dicuri?" Suro bertanya kepada La Tongeq sakti, setelah melihat sendiri tempat itu tidak mudah didatangi.
"Tentu saja mereka tidak mencuri ditempat ini. Tetapi mereka mencuri dari air persediaan para penduduk."
"Mungkin kalian tidak akan percaya jika berkat air ini kami selalu sehat dan dapat berumur panjang. Coba kalian lihat ke tampangku ini berapa kira-kira umurku?"
Setelah mendengar ucapan lelaki dan pertanyaannya, Suro mulai menatapnya lebih teliti. Dia melihat tampang lelaki itu dan perawakan tubuhnya yang cukup kekar.
"Menurut perkiraanku paman berumur tidak lebih dari umur empat puluh lima tahun."
"Hahahahaha...terima kasih penilaiannya. Percaya atau tidak jika umurku telah berumur seratus lima puluh tahun."
"Ha?" Suro melongo mendengar ucapan lelaki itu.
"Itu sesuatu hal yang wajar, contohnya lelaki itu," ujar La Tongeq sakti sambil menunjuk dan memanggil salah satu penjaga yang berdiri didekat pintu masuk tempat tersebut.
"Berapa menurut kalian umur La Jambu wangi ini?"
Lelaki yang di panggil itu terlihat seperti pemuda yang berumur dua puluhan tahun.
"Jika di lihat dari tampangnya sekitar pemuda berumur dua puluhan tahun. Tetapi dengan perbandingan yang paman sebutkan, kemungkinan umurnya sekitar lima puluhan tahun lebih."
"Hahaha...! Coba sebutkan umurmu La Jambu wangi," ujar La Tongeq sakti menoleh ke arah lelaki itu sambil tersenyum.
"Tepatnya tujuh puluh dua tahun, kisanak."
"Mengagumkan sekali. Ini sesuatu yang sangat luar biasa." Suro yang mendengar ucapan mereka cukup terkesima, sebab itu terasa tidak masuk akal.
"Lalu berapa umur pendekar ini yang terlihat begitu gagah, saya menjadi begitu penasaran?" La Tongeq sakti bertanya ke arah Geho sama yang berdiri disamping Suro menjulang tinggi sekitar satu tombak. Badannya yang penuh berotot dengan wajah yang tidak biasa, tentu akan menyulitkan mereka menerka umurnya.
"Apakah pendekar ini telah berumur lebih dari tujuh puluh tahun?"
Dengan suara beratnya Geho sama menjawab pertanyaan La Tongeq sakti, sehingga membuat lelaki itu terdiam tidak melanjutkan ucapannya yang begitu bangga karena terlihat awet muda.
"Jika secara keseluruhan, bisa dikatakan aku telah berumur lebih dari sepuluh ribu tahun."
Glek!
La Tongeq sakti langsung menelan ludah mendengar jawaban Geho sama. Terjadi kecanggungan beberapa saat, sebelum akhirnya lelaki itu melanjutkan perkataannya.
"Baiklah sebelum akan saya perlihatkan kepada pendekar archa yang disebut relik kuno, sebaiknya tuan pendekar melihat lebih dekat tempat kami menyimpan air suci yang kami bicarakan tadi."