SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 15 Ruang Rahasia



Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam padepokan. Tempat yang mereka tuju adalah sebuah ruang rahasia di dalam padepokan. Ruang rahasia itu memiliki jalan masuk khusus, sebab melalui sebuah pintu khusus dan disamarkan.


Posisi ruangan tersebut berada didalam tanah cukup dalam. Setelah melalui lorong panjang beranak tangga semakin kebawah kemudian memasuki sebuah ruangan yang memiliki pintu dari batu besar.


Eyang Sindurogo mengajari bagaimana membuka dan menutup pintu tersebut yang memiliki trik khusus setelah itu Suro bledek disuruh mempraktekannya.


Ternyata setelah mencoba membukanya sendiri, berat pintu itu tidak tanggung-tanggung. Bahkan dengan pelatihan yang telah dia latih sebelumnya dia masih membutuhkan usaha yang membuat otot dan keringatnya bercucuran.


Suropun terkejut tak mampu membayangkan seberapa besar gurunya ini memiliki tenaga dalam. Karena sewaktu memberi contoh, dia melakukan itu seolah pintu itu tidak memiliki beban.


Saat memasuki ruangan itu Suro merasakan sensasi lain yang menjalar masuk kedalam tubuhnya, seakan bersinergi dengan energi tubuhnya.


Energi yang masuk ke dalam tubuhnya itu bersumber dari dinding ruangan yang terbuat dari batu yang berwarna bening kehijauan. Seluruh permukaan dinding dan lantai ruangan itu juga mengeluarkan cahaya kehijauan. Sehingga seluruh ruangan menjadi terang meski berada didalam tanah cukup dalam.


Jika dilihat secara umum ruangan tersebut berbentuk persegi panjang selebar hampir tiga tombak dan panjang sekitar tujuh tombak lumayan luas diujung ruangan sisi kanan dan kiri mendekati ujung ruangan seperti sebuah perpustakan mini buku-buku tertata dengan rapi didinding.


Diujung ruangan sebuah ukiran yang besar terpampang sangat jelas dan mencolok, yaitu sebuah ukiran naga.


Keistimewaan lain dari ruangan ini, adalah mempunyai kemampuan menjaga kelembaban ruangan. Sehingga seluruh kitab-kitab menjadi tetap terjaga kondisinya dengan baik.


"Yek didalam sini banyak bermacam kitab ilmu kanuragan kelas tinggi kamu bisa memilih ataupun kamu juga bisa membaca semua sepuasmu."


"Aku hanya mengingatkan jika ada sesuatu yang belum jelas dan sendainya kamu tak mampu memecahkan rahasia dibalik setiap kitab yang disini kamu bisa menanyakan langsung kepadaku."


"Sendiko dawuh eyang guru! Terimakasih eyang atas semua ini. Murid tak akan mampu membalas semua kebaikan yang telah eyang berikan. Suro berjanji akan semakin berbakti, maafkalah jika Suro telah menyusahkan eyang selama ini!!"


Suro menundukan kepalanya ke lantai sebagai bentuk penghormatan dan terimakasih yang tak terukur banyaknya.


Eyang Sindurogo hanya bisa mengangguk-angguk pelan tak mengerti harus menjawab apa. Sesaat kemudian eyang Sindurogo seperti menyadari sesuatu dan membuatnya bangun dari duduknya.


"Sepertinya ada tamu tak diundang yang memasuki gunung Arjuno. Kamu tunggu didalam ruangan ini selesaikan semua bacaan diruangan ini.. Hafalkan!." Bergegas Eyang Sindurogo meninggalkan Suro sendirian.


**


Tepat dbawah kaki gunung Arjuno dua orang yang memakai pakaian seperti pakaian seorang prajurit kerajaan. Jika dilihat dari jenis pakaiannya bukanlah prajurit dengan pangkat yang rendah.


Kecepatan berlari mereka menunjukan bahwa mereka berdua seorang yang mempunyai tingkat tenaga dalam lumayan tinggi yang mendekati jagoan kelas atas. Sepertinya mereka telah berlari secepat yang mereka mampu selama beberapa hari tanpa henti.


Ada sesuatu hal yang membuat mereka melakukan Itu,sesuatu yang mendesak atau sesuatu yang sangat gawat.


"SIAPA YANG MEMINTAMU MEMASUKI KAWASAN INI?"Suara yang mengelegar menghentikan langkah mereka berdua. Ada rasa takut yang menyelimuti perasaan mereka setelah merasakan tekanan yang sangat besar membuat bernafaspun seakan berat.


"Sembah nuwun! Maharesi Eyang Sindurogo! Maafkan jika kami tidak memiliki tatakrama!"


Mereka langsung menjatuhkan badan mereka dan menundukan kepala ketanah sedalam mungkin seakan-seakan seandainya ada lubah tanah didepan mereka maka kepala mereka akan diletakan didasar lubang tersebut.


Walaupun mereka merasakan ketakutan yang amat sangat tetapi perasaan mereka diselimuti rasa puas. Akhirnya perjalanan jauh yang telah mereka tempuh selama beberapa hari tidak sia-sia orang yang telah mereka cari telah ditemukan.


"PERGILAH!! AKU TIDAK ADA URUSANNYA DENGAN WASUMURTI!!"


Sebelum mereka selesai melanjutkan perkataan. Sebuah suara menggelegar kembali terdengar, sehingga membuat mereka berhenti berbicara. Mulut mereka seakan kaku dan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Tekanan kekuatan yang mengerikan dan juga suara yang mengelegar hampir saja membuat mereka pingsan.


Untunglah mereka adalah para jagoan kelas satu yang sedikit banyak memiliki ilmu kanuragan yang masih mampu menahan tekanan itu. Tetapi menghadapi tekanan yang begitu menakutkan tak hayal tetap membuat mereka berdua mengigil ketakutan.


Ketakutan mereka hampir membuat jantungnya meledak. Tetapi keteguhan hati seorang prajurit tidak lah bisa dianggab remeh. Keteguhan yang telah dilatih dengan sebegitu keras membuat tubuh mereka tetap tak beringsut walau sejengkalpun.


Sebagai seorang perajurit tentunya mereka telah mengetahui resiko saat menerima perintah, walaupun nyawa adalah taruhannya. Sebagai perajurit tentu mereka akan tetap melaksanakan tugas sampai tugas itu sukses dilaksanakan.


Sebagai seorang prajurit mereka bersemboyan lebih baik mati berkalang tanah daripada gagal dalam tugas. Sebuah prinsip yang patut diacungi jempol. Hal itu lah sepertinya yang membuat hati Maharesi itu melunak.


"Urusan apa dia mengutus kalian?"


Saat dia bertanya itu tiba-tiba wujudnya sudah berada dihadapan mereka bukan hanya suaranya saja, sebab sekarang dia bertanya tanpa mengunakan tenaga dalam.


Dihadapannya duduk seorang resi diatas punggung seekor harimau bertaring pedang sambil tersenyum.


"Sembah nuwun, Maharesi Agung Eyang Sindurogo!"


"Duh, Maharesi ampunilah kelancangan kami. Sesungguhnya kami hanyalah utusan yang diperintahkan untuk bertemu dengan Maharesi yang Agung ini. Untuk menyampaikan nawala(surat) yang sangat wigati(penting). Titah Baginda Maharaja Wasumurti, mengharapkan kesediaan Maharesi Agung membantu melawan pasukan yang mencoba kraman(pemberontakan)."


"Sesungguhnya Kerajaan kami sedang menghadapi malapetaka besar bagi seluruh kerajaan Kalingga kedepannya. Pangeran ketiga sedang merencanakan kraman(kudeta) kepada ayahandanya sendiri."


"Jika hanya dengan kekuatan pasukan Pangeran ketiga, tentu saja tidak menjadi kekhawatiran kerajaan kami. Tetapi orang-orang yang berada dibelakangnya yang mendukung rencana kramannya sangat menakutkan dan sangat menghawatirkan."


"Kekuatan yang dibelakang Pangeran ketiga merupakan iblis-iblis yang memiliki reputasi yang sangat mengerikan. Reputasi yang dibentuk dari kekejamannya yang susah dicari tandingannya. Jagoan dari golongan hitam dari Gunung Ararat. Suatu daerah di negeri Turk yang berada diwilayah Benua Barat. Dia datang bersama Pasukan Naga terbangnya yang sangat terkenal karena mereka semua adalah pasukan kanibal pemangsa daging manusia."


"Dialah yang berjuluk" Rajanya para iblis" atau dengan namanya Sapi jahanam."


"Selain itu tak kalah mengerikannya tokoh golongan hitam lain yang berada dibelakang pasukan yang akan melakukan kraman. Si Ratu Ular Medusa hitam. Ketua Perguruan Ular Hitam itu juga ikut mendukung rencana Pangeran ketiga untuk kraman."


"Menurut teliksandi kami Pangeran ke tiga telah menjanjikan memberikan persembahan 300 wanita cantik untuk Sapi Jahanam. Sekaligus upeti yang sangat banyak dalam upaya merayunya agar bersedia membantu mendapatkan singgasana kerajaan."


"Jika nanti dengan pertolongannya mampu mencapai kesuksesan meraih kerajaan. Maka hadiah upeti yang berkali-kali lipat akan diberikan. Tambahan lainnya adalah berupa tumbal manusia yang meliputi beberapa kadipaten. Mereka adalah para adipati yang merupakan pejabat yang setia kepada raja yang sekarang. Seluruh pejabat dan penduduk yang tinggal akan dijadikan tumbal santapan Sapi Jahanam dan pasukannya."


***


Peperangan antara seorang anak yang hendak mengkudeta ayahandanya sendiri, yaitu raja dari Kerajaan Kalingga telah pecah. Suara peperangan terdengar dengan begitu riuh rendah. Suara sabetan pedang yang bertemu dengan senjata musuhnya bersatu dengan suara teriakan prajurit yang mengerang kesakitan hendak menemui ajalnya.


Mendadak suara mengelegar seakan meruntuhkan langit mengalahkan suara peperangan yang berkecamuk. Kedua belah pihak yang terlibat dalam peperangan dibuat terkejut dengan suara menggelegar itu.


"SAPI BURIK BERANI SEKALI KAU MEMBUAT ULAH DITANAH JAVADWIPA!"


"APAKAH KAU SUDAH TIDAK MENGANGGAP KEBERADAANKU DISINI? SUDAH MERASA DIRIMU KUAT? APAKAH KAU INGIN MELIHAT BAGAIMANA AKU MEMBUAT SAPI GULING DAN KADAL TUNGGANGANMU ITU MENJADI KADAL BAKAR."