
Mendengar ucapan Suro barusan Geho Sama hanya tertawa kecil, sembari mengerahkan Brahmastra. Suro juga tidak mau kalah. Hampir berbarengan mereka segera melesatkan Brahmastra ke arah MahaBhuta.
"Brahmastra!"
Duuuuum!
Duuuuuuum!
Ledakan dari serangan Brahmastra milik Suro dan Geho Sama berdentum dengan suara memekakkan telinga. Tetapi mereka segera menyadari musuhnya telah menghilang entah dimana.
"Raksasa itu mengerahkan jurus ilmu Lipat bumi,"
Geho Sama segera memahami setelah lawannya lenyap tak berbekas. Itu artinya dia menghindari serangan mereka berdua dengan menggunakan ilmu ruang dan waktu.
"Benar ternyata dia berpindah ke arah sana!" ucap Suro sambil menunjuk ke arah munculnya lawan.
Setelah itu mereka berdua kembali menghujani tubuh raksasa itu dengan jurus Brahmastra. Namun serangan itu tetap saja dapat dihindari lawannya dengan mudah.
"Kurang ajar, jurus Brahmastra ini cepat sekali menguras tenagaku!"
"Umur memang tidak bisa menipu Geho Sama."
"Umur, umur...! Kepalamu itu bocah gendeng! Memang kau pikir aku tidak bisa menghitung? Brahmastra yang sudah aku kerahkan dua kali lipat lebih banyak darimu!"
Suro justru tertawa terkikik mendengar omelan Geho Sama. Sejak tadi serangan Brahmastra yang mereka kerahkan dari jarak jauh tidak juga berhasil mengenai tubuh musuhnya.
Serangan dengan jarak jauh memberikan waktu bagi lawannya untuk mengerahkan jurus ruang dan waktu. Sehingga selalu saja Mahabhuta dapat meloloskan diri dengan mudah.
Setelah serangan bertubi-tubi tidak juga mampu menghabisi lawan, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk memulihkan kekuatan terlebih dahulu. Sambil berusaha membuat strategi baru sebelum kembali menyerang.
"Kalian pikir mampu menghabisiku? Bukan kalian yang ingin menghabisiku, tetapi aku lah yang akan menghabisi kalian!" Mahabhuta menggerung keras penuh kemarahan.
Mahabhuta tidak terima dirinya terus dihujani serangan oleh mereka berdua. Karena itu dia kali ini hendak memberikan serangan balasan yang tak kalah menakutkannya.
Setelah selesai membaca mantra, maka dari tubuh Mahabhuta berlesatan ratusan Braholo. Dengan jumlah sebanyak itu mereka semua bergerak serempak menyerbu ke arah Suro dan juga Geho Sama. Sekilas serangan itu mirip yang telah diperlihatkan sebelumnya.
"Janus Agni Sahasra!"
Karena itu Suro juga menggunakan jurus yang sama untuk menghadapinya. Ribuan panah api hitam miliknya melesat menghujani para Baraholo.
Pada serangan sebelumnya seluruh serangan itu berhasil membakar habis para Braholo. Tetapi kali ini mereka tidak dengan mudah begitu saja dihabisi.
Para Braholo itu mulai menyemburkan asap yang begitu pekat. Panah api hitam milik Suro yang hendak melingkupi tubuh Braholo kehilangan dayanya. Api yang meledak itu segera meredup dan padam.
Setelah itu mereka mengerahkan serangan perubahan angin yang mampu melesatkan asap kabut yang bersifat asam kuat itu menjadi semacam torpedo. Melesat dengan kecepatan tinggi hendak menghantam Suro dan juga Geho Sama.
Tetapi mereka berdua segera mengerahkan jurus Langkah menghindari setiap serangan yang mematikan itu. Berpuluh-puluh terjangan angin kuat yang dipenuhi kabut mematikan itu berupaya mengepung gerakan mereka berdua.
Setelah itu para Braholo mengubah serangannya. Tubuhnya yang awalnya sebesar kambing, kini membesar sampai sebesar gajah. Setelah itu mereka melesat berusaha mendekati Suro dan Geho Sama.
Buuuum!
Buuuuum!
Buuuuuum!
Setelah itu secara berturut-turut ledakan terus mengikuti langkah mereka berdua tiap kali berusaha menghindar. Tubuh para makhluk ciptaan Karuru itu meledakkan dirinya sendiri untuk membunuh Suro dan Geho Sama.
Ledakan itu begitu berbahaya karena seluruh tubuhnya terbuat dari cairan asam kuat yang mampu menghancurkan sebongkah besi sekalipun. Geho Sama segera menggunakan kipas besarnya untuk melindungi tubuhnya dari cipratan hasil ledakan tubuh sebesar gajah itu.
Suro mampu melindungi dirinya, sebab Sang Kavacha segera melindungi sekujur tubuh Suro dengan zirahnya. Meskipun begitu mereka tidak membiarkan makhluk itu mendekat lebih jauh.
Geho Sama dan Suro secara beruntun terus mengerahkan jurus Brahmastra agar mampu menghentikan lesatan bayangan hitam yang bergerak terus mencoba mendekati mereka berdua.
Beberapa kali mereka berdua harus menelan pill tujuh nirwana untuk memulihkan tenaga dalam mereka yang terkuras dengan sangat cepat.
"Kita tidak bisa membiarkan kampret itu menghujani kita dengan mainannya, aku akan memanggil Kaisar Es, kau panggil Tirtanata!" ucap Geho Sama sambil membentuk segel tangan untuk memanggil kaisar es miliknya.
Suro juga segera membuat segel tangan untuk memanggil Tirtanata. Setelah itu dua wujud yang mereka panggil ikut bergerak menyerang Braholo yang terus meledakkan dirinya sendiri.
Setelah Tirtanata dan Kaisar es menyerang, maka serangan Braholo berhasil dihentikan. Sebab kekuatan Tirtanata dan Kaisar es milik Geho Sama membuat tubuh mereka itu berubah menjadi es.
Setelah itu Geho Sama dan Suro dapat menghancurkan mereka semua dengan mudah.
Tetapi itu belum berakhir, sebab setelah melihat seluruh Braholo yang menjadi pasukannya dihabisi Mahabhuta meradang. Dia lalu mengamuk dan menyerang mereka langsung.
"Matilah kalian dengan Pedang Kehancuranku ini!
Sesuai dengan namanya pedang itu memang sangat menakutkan. Begitu tebasan pedang itu melesat maka dalam jangkauan serangannya apapun akan hancur.
Pedang itu dibuat dari lelehan zat asam yang teramat kuat. Hawa yang mengepul melingkupi pedang itu saja mampu membuat kulit mengelupas.
Tetapi serangan itu tidak berhasil mengenai Mahabhuta. Sebab makhluk raksasa itu telah menghilang lebih dahulu dengan jurus ruang dan waktunya.
Melihat setiap serangan yang dikerahkan dari jarak jauh selalu dapat dihindari Mahabhuta, membuat Suro harus membuat keputusan sulit, yaitu menyerang dari jarak dekat. Sejak Mahabhuta itu mampu menghilangkan udara, bahkan mampu membuat nafas mereka tercekat setiap kali mencoba mendekat, sehingga mereka berdua menyerang hanya dari jarak jauh.
"Aku kira jika serangan dari jarak sejauh ini, sampai ayam bertanduk lawan kita akan selalu dapat menghindar dari semua serangan kita. Lebih baik aku akan mencoba menyerang dari jarak dekat."
"Berhati-hatilah bocah, jika sekiranya berbahaya sebaiknya kau secepatnya menjauh."
"Jangan khawatir Geho Sama aku tidak sebodoh yang kau lihat. Aku akan menyerang musuh dengan rencana ini..." Suro menjelaskan rencana serangan berikutnya dari ruang batin mereka berdua.
Setelah itu Geho Sama segera melakukan serangan ke arah Mahabhuta. Serangan yang dia lakukan dibantu Lodra menggunakan jurus perubahan api hitam.
Lodra menggunakan tehnik yang meniru jurus dari Naga Hitam, yaitu Serigala Neraka. Jurus itu dikerahkan sebanyak mungkin dan membuat raksasa itu sibuk.
Gooooaaaarrrr!
Kembali untuk menghadang serbuan yang dikerahkan Lodra raksasa itu menyemburkan asap tebal sehingga membentuk kabut tebal untuk melingkupi sekujur tubuhnya. Setelah itu Suro melesatkan Brahmastra secara berturut-turut.
Duuuum!
Duuuum!
Duuuuum!
Ledakan berturut-turut menghantam ke dalam kabut yang melingkupi tubuh Mahabutha. Ledakan kuat itu berhasil menyingkirkan seluruh kabut tebal. Tetapi kembali sosok Mahabhuta sudah tidak nampak. Dia telah menghindar jauh menggunakan Jurus Lipat Bumi.
Suro sudah memperkirakan langkah yang akan diambil lawan. Karena itu sejak memulai serangannya, dia terlebih dahulu mengerahkan empat sage untuk menangkap aura kekuatan menjangkau sampai jarak ratusan tombak.
Sehingga saat tubuh musuhnya telah muncul ditempat lain setelah mengerahkam jurus Lipat buminya, maka dengan mudah Suro akan dapat segera menemukannya.
Dan benar saja setelah itu Suro langsung menyusul bersama dengan Kaisar Es dan juga Tirtanata. Sebelum Suro memulai serangannya, Kaisar Es dan Tirtanata telah mengunci tubuh raksasa itu dengan pengendalian es mereka.
Mereka melakukan itu agar Mahabhuta tidak mampu menghindar dari serangan yang akan dikerahkan Suro selanjutnya. Tetapi semua itu dilakukan dalam waktu hampir bersamaan.
"Narayanastra!"
Duuuum!
Duuuuum!
Duuuuuum!
Semua serangan itu dilakukan sekejap setelah tubuh raksasa itu muncul. Bahkan Mahabhuta belum menyadari keberadaan Suro. Narayanastra merupakan kumpulan astra yang mampu menyerang secara berturut-turut!
Tetapi Suro hendak memastikan jika musuhnya akan mati karena itu disaat astra menghantam berturut-turut, maka kembali Suro mengerahkan jurus mematikan lainnya.
"Ledakan mata hari kembar!"
Dua telapak tangan Suro mendadak diliputi cahaya yang terang benderang dan mulai membentuk bola energi yang luar biasa mengerikan. Itu adalah jurus kelima dari Ilmu Telapak Dewa Matahari.
Duuuuuum!
Duuuuuum!
Ledakan besar melanda menghancurkan Mahabhuta. Tubuh raksasa itu hancur bersama seluruh Baraholo.
"Kurang ajar kekuatan pusaka iblis kunci langit yang telah aku serap kalian berhasil hancurkan?!" Gerungan keras dari Karuru muncul setelah Mahabhuta hancur.
Tetapi Geho Sama telah bersiap dengan hal itu. Dia lantas mengunci tubuh musuh abadinya itu dengan menggunakan tehnik empat sage yang dilambari tehnik perubahan api hitam.
"Kalian pendekar Yawadwipa berani menghancurkan rencana besarku! Maka Pasukan Elang Langitku juga akan menghancurkan negeri kalian! Termasuk juga kau Geho Sama aku akan hancur..! Aaarrrgh!"
Sebelum mampu menyelesaikan makiannya tubuh Karuru telah lenyap terhisap oleh kuatnya energi yang dikerahkan Geho Sama dan Lodra setelah bilah pedang itu menancap kuat di dada Karuru.
'Tidak buruk kekuatan yang dimiliki makhluk ini!' ucap Lodra yang diiringi tawa Geho Sama dengan keras.
"Tunggu, sebentar apa yang barusan diucapkan Karuru barusan? Dia mengirim pasukan Elang Langit miliknya menuju Yawadwipa?" Suro menatap Geho Sama yang langsung mengehentikan tawanya.
Ucapan Suro barusan telah menyadarkan Geho Sama dengan apa yang diucapkan Karuru. Dia sebelumnya terlalu berkonsentrasi dengan pengerahan tehnik empat sage sehingga tidak begitu memperhatikan ucapan Karuru.
"Benar juga, berarti mereka jugalah yang membawa pusaka iblis Kunci Langit." ucap Geho Sama dengan cemas.
"Apapaun itu sepertinya sudah direncanakan sejak awal. Sebab eyang guru juga belum kembali ke sini. Kemungkinan disana sedang terjadi sesuatu hal yang menghawatirkan juga." timpal Suro mencoba mencari tau alasan Karuru memerintahkam anak buahnya membawa pusaka iblis Kunci Langit menuju Yawadwipa.
"Apapun alasannya, pusaka itu hanya akan membawa malapetaka." ucap Geho Sama sambil menatap ke arah pertempuran dibawah.
"Kita selesaikan dahulu pertempuran yang masih berlangsung dibawah sana!" Geho Sama lalu menghilang dari pandangan dan disusul oleh Suro.