SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 252 Kekuatan Gendam iblis



Pujangga gila tertawa begitu kegirangan karena merasa mendapatkan ikan besar, setelah rantai yang dia miliki dapat menarik musuhnya. Kondisi Pujangga gila yang sedang lengah lalu dimanfaatkan oleh eyang Sindurogo. Dia segera menggunakan kesempatan itu untuk menyerang lawannya.


"Kau ingin mengadu kekuatan denganku kita lihat nyawa siapa yang akan lepas dari raganya! Makan jurusku ini biar lenyap ragamu bersama nyawamu!"


Bersamaan dengan lesatan tubuh eyang Sindurogo yang bergerak dengan cepat, muncul dari telapak tangannya seberkas sinar yang sangat menyilaukan mata. Sinar itu adalah bola energi yang telah dia kerahkan dengan sangat singkat.


Dengan serangan kali ini dia hendak memastikan lawannya tidak dapat menghindar. Karena serangan kali ini adalah serangan mendadak dan dikerahkan dengan cepat hanya dalam sekejap, bahkan dikerahkan dalam jarak kurang dari satu tombak.


Dengan jarak yang begitu dekat dan luncuran tubuhnya yang begitu cepat, maka pengerahan jurusnya kali ini hanya berlangsung dalam waktu satu kedipan mata saja.


Sesuai perhitungan eyang Sindurogo, Pujangga gila tidak sempat mengantisipasi serangan yang dia lakukan. Meskipun sempat mengerahkan kekuatan untuk menahan, namun itu bukan kekuatan maksimal.


Pujangga gila itu tidak menyangka, saat lawannya melayang diudara karena kuatnya daya tarik yang dia kerahkan justru dimanfaatkan untuk memberikan serangan balik. Pikirannya yang sudah gila kemungkinan kembali waras melihat betapa dahsyatnya serangan yang dikerahkan dalam waktu yang sekejap itu.


Duuuuuum!


Begitu bertemu dengan kekuatan lawan, maka suara menggelegar terdengar bergemuruh cukup lama. Suara menggelegar itu mungkin saja menjadi pertanda berakhirnya riwayat Pujangga gila. Sebab setelah itu Pujangga Gila tidak diketahui keberadaannya. Dia saat itu juga langsung lenyap. Entah hancur raganya atau dia menghilang secara mendadak seperti kedatangannya yang tidak dinyana itu.


Dengan lenyapnya Pujangga gila, maka rantai yang sebelumnya terus mengejar Geho sama dan menyeret nyawa Eyang Sindurogo kini tidak terlihat. Bahkan Eyang Sindurogo sendiri sudah tidak merasakan sakit seperti yang dia rasakan sebelumnya.


Eyang Sindurogo tetap dalam kondisi waspada sampai pandangannya dapat melihat dengan lebih jelas. Setelah kepulan debu menipis dia akhirnya yakin, jika musuhnya memang sudah lenyap. Entah dia musnah atau melarikan diri seperti yang dilakukan Batara Karang.


Setelah rantai yang mengejarnya menghilang maka Geho sama bergerak mendekati eyang Sindurogo.


"Apakah serangan tuan guru kali ini berhasil membunuh orang gila itu?"


"Entahlah Geho sama, aku juga tidak mengetahuinya."


"Siapa sebenarnya lelaki barusan tuan guru?"


"Aku tidak mengetahui nama aslinya, namun dalam dunia persilatan dia lebih dikenal dengan nama Pujangga gila. Aku sebenarnya sudah mencarinya sejak puluhan tahun lalu. Tidak aku sangka ternyata justru ditempat sejauh ini aku bertemu dengannya lagi. Dia adalah orang gila yang paling berbahaya."


Eyang Sindurogo kemudian bercerita pembantaian yang dilakukan Pujangga gila puluhan tahun lalu.


"Kekuatan yang sangat menakutkan, bagaimana mungkin manusia gila seperti dia dapat menguasai kekuatan sebesar itu?" Geho sama yang sudah mencapai tingkat langit lapis puncak sekalipun tidak mampu menandingi kekuatan Pujangga gila yang sudah sampai tingkat surga.


Setelah debu yang membumbung tinggi itu menipis, maka di hadapan mereka kini terlihat sebuah kawah yang berasal dari hantaman jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari.


Mereka berdua juga segera menyadari jika para pasukan kegelapan yang sebelumnya hancur terkena serangan dari Pujangga gila, kini tidak terlihat lagi. Kemungkinan mereka semua ikut kabur bersama Batara Karang, setelah pulih dari lukanya.


Kejadian empat ratus tahun lalu saat dia berhasil menghancurkan Perguruan Awan Merah, akhirnya terulang kembali. Meskipun kali ini dia tidak melenyapkan seluruh perguruan yang dimiliki Batara Karang untuk kedua kalinya, tetapi berhasil membuat seluruh anggota perguruan itu angkat kaki, sehingga perguruan itu kosong melompong tidak ada lagi penghuninya.


Mereka berdua kemudian berniat menyisir seluruh perguruan yang masih utuh dibagian tengah dan belakang. Perguruan itu sangatlah luas. Meskipun pertempuran barusan berlangsung sangat dahsyat, namun itu hanya menghancurkan bagian depannya saja.


"Aaaaaaarghhhhh!"


Setelah berjalan diantara reruntuhan beberapa saat, mendadak eyang Sindurogo kembali merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia berusaha menahan rasa sakit itu sampai duduk berlutut, karena sakit yang teramat sangat.


"Aaaarrrghhh! Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Tangan eyang Sindurogo mencengkeram keras kepalanya sendiri karena menahan sakit. Dia kemudian mencoba menghimpun kekuatannya untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Ada apa tuan guru?" Geho sama terkejut melihat eyang Sindurogo mendadak jatuh berlutut sambil berteriak kesakitan.


"Entahlah mendadak rasa sakit teramat sangat kembali muncul. Rasa sakit ini seperti ditarik rantai milik Pujangga gila?"


"Bagaimana mungkin? Bukankah Pujangga gila telah berhasil tuan guru habisi?"


Sebelum eyang Sindurogo menjawab pertanyaan Geho sama, mendadak terdengar suara tawa yang sangat keras.


Mereka berdua segera menyadari penyebab dari rasa sakit yang dirasakan eyang Sindurogo. Semua itu berhubungan dengan kemunculan sosok yang terbang mengambang diudara.


Sosok itu rambutnya sangat gimbal dan awut-awutan, pakaiannya terbuat dari kulit yang dibuat asal-asalan. Suara tawanya yang terdengar begitu khas, membuat Geho sama dan eyang Sindurogo menyadari siapa sosok tersebut. Tetapi mereka masih tidak mempercayai dengan apa yang mereka lihat dengan kedua matanya. Sosok itu terus tertawa dan mulai merancau dengan suara keras.


Hahahaha...ada dua bocah dungu tertipu! Hahahaha...!"


"Bagaimana Pujangga gila itu masih bisa hidup?" Geho sama terkejut sambil menunjuk-nunjuk ke arah Pujangga gila yang terus tertawa dengan suara khasnya.


Mereka berdua tidak dapat mempercayai apa yang dilihat oleh kedua matanya. Sebab sebelum ledakan dari jurus eyang Sindurogo, orang gila itu terlihat sempat menahan dengan jurus tapaknya. Meskipun saat ledakan memang mereka berdua tidak dapat melihat dengan jelas, karena pusat ledakan teramat menyilaukan mata.


Rasa sakit teramat sangat mendera sekujur tubuh Eyang Sindurogo lebih hebat daripada sebelumnya. Rantai yang sebelumnya hilang kini muncul kembali. Itulah mengapa eyang Sindurogo tidak dapat segera bangkit dan terlihat masih tersungkur sambil menahan sakit.


"Kalian kira dapat dengan mudahnya membunuh diriku manusia paling tampan diantara Bhuta kala. Raja agung Gung binatoro. Kalian berdua sudah dalam pengaruh ilmu gendamku apa yang telah kau serang itu barusan hanyalah ilusiku! Hahahaha...! Kalian berhasil aku tipu! Hahahaha...! Dua Lutung kena tipu! Hahaha...!" Pujangga gila itu kali ini berjoget diatas udara dengan begitu antusias.


"Ada dua bocah dungu kena tipu! Hahahaha...!" Dia terus berteriak-teriak sambil memainkan rantai yang salah satunya masih amblas ke dalam tubuh eyang Sindurogo.


Satu rantai hitam lain yang juga keluar dari bagian dada Pujangga gila bergerak-gerak sendiri seperti ular kobra hitam. Seolah dia sedang mempertunjukan sebuah tarian ular terburuk yang pernah ada.


Dengan penampilannya yang seperti mayat kering tentu pertunjukannya terlihat menakutkan sekaligus menjijikan. Karena Pujangga gila itu kini mulai bergoyang-goyang dengan memutar-mutar pakaiannya diatas kepalanya. Hanya selembar kancut terbuat kulit harimau yang masih menutupi tubuhnya.


Seburuk apakah apa yang dilakukan orang gila itu? Yang jelas Geho sama sampai ingin muntah, begitu juga Eyang Sindurogo yang sedang menahan sakit semakin kesal melihat pertunjukan yang diperlihatkan Pujangga gila, seperti sebuah bentuk siksaan tambahan bagi dirinya.


"Ilmu Gendam iblisku menjadi alasan Batara Antaga memilihku menjadi penjaga Jurang Neraka!"


"Jurang Neraka?" Eyang Sindurogo terkejut Pujangga gila menyebut tempat tersebut.


"Berarti selama ini kamu bersembunyi ditempat terkutuk itu?"


"Benar tentu saja karena diriku yang paling tampan ini diangkat jadi raja para Bhuta kala! Hahahaha...! Dan aku disini diutus oleh Batara Antaga juga untuk mengajak kalian agar mau menjadi peliharaanku. Aku yakin jiwa kalian bahan yang bagus untuk aku gunakan menjadi calon Bhuta kala yang baru. Aku yakin para Bhuta kala yang sudah ada akan menyukai, jika kalian mau menjadi bagian dari mereka! Hahahaha...!"


Setelah Pujangga gila itu selesai berbicara tubuhnya terjadi perubahan. Di bagian belakang tubuhnya kini muncul sepasang sayap. Dan sayap yang dia miliki memiliki bentuk seperti milik burung, hanya saja itu adalah sesuatu yang lain.


Meski sayap itu juga memiliki bulu seperti sayap seekor burung, tetapi itu adalah sesuatu yang justru mirip bulu landak, karena dapat lepas dan meluncur seperti sebuah tombak atau justru dapat dikatakan sayapnya adalah jelmaan sebuah sayap pedang.


Sayap yang membentang itu melesatkan bulu-bulunya dengan cepat ke arah mereka berdua. Setiap bulu yang terlepas segera digantikan oleh bulu yang baru seakan tidak ada habisnya.


Eyang Sindurogo yang sedang menahan sakit sekujur tubuhnya harus bergerak menghindari serangan yang dilakukan Pujangga gila. Sambil menghamburkan serangan yang tidak ada habisnya itu dia mulai mendendangkan syair yang diucapkan dengan sekenanya.


"Bagaimana bisa aku tidak menyadari, jika aku sudah dalam pengaruh gendamnya? Bahkan aku sangat yakin jika Pujangga yang baru saja aku serang tadi adalah yang asli!"


Eyang Sindurogo sambil menahan sakit dan menghindari serangan, dia mencoba menelaah sejak kapan dirinya berada dalam pengaruh gendam milik Pujangga gila.


Setelah serangan yang dikerahkan dari bulu-bulu sayapnya yang menyerupai sebuah bilah pedang menghajar secara beruntun, keanehan kembali terjadi. Bulu-bulu sayap yang masih menancap di tanah dengan warnanya hitam legam, kini mulai bergerak-gerak.


Geho sama sempat menoleh ke arah eyang Sindurogo mencoba memastikan apa yang dia lihat itu bukanlah ilusi.


"Apakah kita kali ini juga sedang berada dibawah ilmu gendamnya tuan guru?"


Geho sama yang tidak terlilit rantai dapat mengerahkan Langkah Maya, tetapi itu tidak berlaku pada eyang sindurogo. Terpaksa dia harus berjumpalitan menghindari hujan bulu yang setajam bilah pedang.


Bulu-bulu yang sebelumnya menancap tersebar disekitar mereka berubah menjadi makhluk bajang atau kerdil dengan warna hitam legam.


Mereka terlihat begitu buas dan terlihat sangat menakutkan. Sebab setelah wujudnya terbentuk sempurna, maka berteriak-teriak riuh sambil menunjukkan giginya yang tajam mirip ikan hiu, mereka bergerak cepat menyerbu ke arah Geho sama dan eyang Sindurogo.


"Tipuan apalagi ini? Orang gila sialan!" Eyang Sindurogo berteriak penuh amarah.