
Setelah melihat lorong labirin yang ada didepan terlihat begitu rumit untuk dimasuki, Suro kemudian memilih cara lain. Dia mencoba mencari markas Mawar Merah dari sudut lain, yaitu melihat dari atas udara.
Tetapi saat berada diatas ketinggian dia segera menyadari, jika cara yang dia tempuh tidak akan mampu menemukan markas Mawar Merah. Sebab dari atas ketinggian itu dia tidak mampu menemukan bangunan apapun, atau terlihat adanya kegiatan manusia yang menandakan lokasi markas pembunuh yang dia cari.
“Sepertinya kita tidak punya piihan lain, kecuali kita harus memasuki labirin yang ada didepan kita untuk menemukan markas Mawar Merah. Sebaiknya adinda tidak jauh dariku.”
“Baik kakang, Mahadewi akan
Mengikuti apa yang kakang katakan,” jawab Mahadewi. Dia juga menyadari, jika lorong labirin yang ada didepan mereka menyimpan bahaya yang tak terlihat.
“kemungkinan markas Mawar Merah
tersembunyi diantara tebing-tebing bebatuan ini.” Suro yang melihat dari
ketinggian sebelumnya memang benar-benar tidak melihat aktivitas apapun diantara labirin yang memenuhi pegunungan batu itu.
Gunung-gunung batu dan bebatuan yang membentuk formasi tidak beraturan semakin membuat orang akan kesusahan untuk keluar dari labirin itu jika sudah memasukinya. Banyak yang akhirnya mati karena terjebak didalamnya.
Suro yang telah melihat dari atas udara memiliki kesimpulan, kemungkinan besar markas kelompok Mawar Merah memang tidak dibangun diatas permukaan tanah. Kemungkinan tersembunyi didalam tanah atau diantara gunung batu yang memenuhi tempat tersebut.
Kondisi itulah yang menurut cerita sebuah kekaisaran sekalipun tidak berhasil menumpas habis kelompok pembunuh bayaran itu. Meskipun telah mengerahkan pasukannya yang berjumlah ratusan ribu.
Salah satu alasan kegagalan pasukan itu adalah cakupan pegunungan berbatu itu mencangkup daratan yang sangat luas. Setiap kali mereka mengirimkan pasukannya memasuki lambirin raksasa itu tidak ada yang kembali.
“Mungkinkah markas Mawar Merah yang kita cari adalah sebuah kota batu kakang?”
“Tepat apa yang adinda kemukakan. Kakang juga memiliki pemikiran seperti itu. Kemungkinan memang seperti itu adanya.”
Mereka berdua kemudian memasuki
salah satu lorong didepan mereka, diantara ratusan atau bahkan ribuan lorong yang tercipta dari celah diantara gunung batu. Mereka memasuki dengan cukup waspada.
“Kakang mungkinkah eyang Sindurogo dan Pendekar Dewa Rencong telah memasuki tempat ini sebelum kita?”
“Mengapa adinda memiliki pemikiran seperti itu?”
“Bukankah kakang sebelumnya menyebutkan, jika kakang tidak menemukan mereka, meskipun telah menggunakan pusaka Kaca Benggala?”
“Entahlah adinda, kakang tidak mengetahuinya. Tetapi pemikiranmu itu ada benarnya juga. Mungkin saja eyang
sudah memasuki tempat ini. Semoga saja dia baik-baik saja. Sebab tidak akan ada yang mampu menghentikan eyang guru, kecuali Batara Karang yang telah
mendapatkan kekuatannya kembali atau Dewa Kegelapan langsung?”
“Tetapi yang aku khawatirkan adalah mereka berdua dapat dilumpuhkan dengan menggunakan racun pelumpuh
tulang.”
“Racun itu ampuh untuk meniadakan
tenaga dalam seseorang, meskipun dia telah memiliki kekuatan tingkat surga sekalipun, seperti eyang guru.”
“Karena itu adinda sebaiknya
membawa pill penawar racun ini, jika seandainya adinda sampai terkena racun itu dapat langsung menelan pill penawar racunnya.”
“Baiklah kakang adinda akan menyimpan penawar racun ini sebaik mungkin.” Mahadewi mengambil sebuah botol dari tangan Suro, lalu menyimpannya.
Suro yang berjalan didepan untuk
membuka jalan berusaha meningkatkan kewaspadaannya dengan menggunakan tehnik perubahan tanah. Dia akan dapat menangkap keberadaan seseorang jika seandainya didepan ada seseorang yang bersembunyi.
Mahadewi yang berada dibelakang
Suro tak kalah waspadanya. Dua bilah pedang miliknya telah digenggam di kedua tangannya. Suro cukup hati-hati, sebab sesorang yang memiliki pelindung sihir mampu menutupi dari kemampuan pusaka Kaca benggala, tentu seseorang yang tidak bisa dianggap remeh.
**
Setelah beberapa lama Suro dan
Mahadewi berjalan tanpa disadari oleh mereka berdua keberadaanya telah diamati oleh musuh dari tempat yang tidak disadari oleh Suro.
Di tempat lain di dalam markas Mawar Merah, seseorang yang kemungkinan adalah pemimpin kelompok itu terlihat bersama beberapa orang.
“Setan seribu wajah kerahkan
pasukanmu untuk mengecoh musuh yang kembali memasuki wilayah markas kita ini. Meskipun mereka terlihat muda, tetapi kekuatan mereka tidak bisa diremehkan.”
Lelaki yang baru saja berbicara matanya menatap sosok perempuan yang menggunakan sebuah topeng hitam.
“Guru biarkan murid yang
menghadapi pemuda itu, agaknya wajahnya terlalu sayang untuk dilewatkan. Biarkan murid bersenang-senang terlebih dahulu sebelum menghabisinya,” sela seseorang wanita lain.
Wanita itu memiliki bibir tebal dan gigi yang mencuat keluar menghiasi wajahnya dengan sangat mengagumkan, sehingga mampu melebihi panjang hidungnya yang pesek.
“Jika Wah Muka menginginkan
pemuda itu, ijinkan muridmu ini yang menghadapi dara cantik itu guru. Aku juga ingin bersenang-senang.”
“Arimuka dan Wah Muka, anakku
berdua. Jika kalian menginginkan tentu ibumu ini akan mengijinkannya.”
“Terima kasih guru, ibu selalu
tau bagaimana cara menyenangkan anaknya ini. Anakmu ini memang sudah lama tidak bisa bersenag-senang...hehehehe...!” Arimuka yang
mendapatkan jawaban dari Setan Seribu Muka tertawa kegirangan. Sebab dia
bersama adiknya diperbolehkan untuk menghadapi Suro dan Mahadewi.
Mereka adalah murid dan sekaligus
anak dari sesosok wanita yang merupakan salah satu jagoan dari kelompok pembunuh bayaran Mawar Merah. Kelebihan ilmu dari jagoan itu adalah meniru dan berubah menjadi sosok siapapun yang berhasil disentuhnya. Ilmu itu juga sudah dikuasai oleh kedua anaknya.
“Tetapi ingat, kalian berdua setelah puas
dengan mereka berdua, segera habisi,” ucap Setan Seribu Wajah.
“Jangan khawatirkan hal itu
ibundaku yang cantik,” Wah Muka menjawab dengan tertawa cekikikan sambil meninggalkan tempat tersebut.
**
Mahadewi memiliki jalan berliku dan memiliki cabang yang tidak terhitung. Begitu rumitnya tempat tersebut membuat Suro sekalipun kebingungan untuk menentukan arah.
Setelah melewati sebuah persimpangan
suro memilih berbelok kekanan. Sebab dia seperti melihat sesosok yang berkelebat dilorong sebelah kanan.
Mahadewi sendiri tidak menyadari saat
Suro yang berbelok ke kanan, dia justru terus lurus berjalan. Hal itu terjadi sebab
didepannya selain ada sosok yang terus berjalan seperti suro, dia sempat
teralihkan pandangannya menoleh kebelakang, sebab dia merasakan ada sesuatu yang berkelebat seperti mengikutinya.
Suro mempercepat langkah kakinya,
sebab kelebat bayangan manusia yang sempat tertangkap oleh matanya ikut
mempercepat langkahnya. Dia kemudian mengerahkan langkah maya untuk mengejar.
Saat dia menyadari itu hanyalah
sebuah ilmu sihir ilusi. Setelah itu dia juga menyadari hal lain, yaitu Mahadewi sudah tidak ada dibelakangnya.
“Gawat kemana Mahadewi ?”
“Mahadewi, adinda Mahadewi!”
Beberapa kali Suro berteriak,
sebelum tidak beberapa lama kemudia muncul Mahadewi dari balik tikungan jalan yang telah dilewati sebelumnya.
“Jangan terlalu jauh jaraknya adinda,akan sangat berbahaya jika kita berjauhan.”
“Kakang justru yang menjauhi adinda, kakang mendadak berpindah dengan begitu cepat.”
Suro menggaruk-garuk kepalanya
sebelum menjawab ucapan Mahadewi “maaf, kakang tadi mengejar sesosok yang terlihat berkelebat. Adinda memang tidak melihat apa yang aku lihat?”
“adinda sedari tadi hanya memandangi punggung kakang yang terlihat gagah. Jadi adinda tidak melihat selain punggung kakang.”
Ucapan Mahadewi barusan tak ayal
membuat Suro mengernyitkan dahinya “maksud adinda?”
“maksud adinda, kenapa kakang
tergesa-gesa berlari dengan begitu cepat? Mending kita beristirahat sebentar. Jika perlu kakang aku pijit biar hilang capeknya. Adinda pintar memijit lho, kakang pasti akan ketagihan merasakan pijitanku.”
‘Apa yang terjadi dengan wanita
ini? Sepertinya kepalanya habis terkena sambitan batu sebelumnya jadi sedikit
sedeng,’ Suro membatin sambil matanya melotot ke arah Mahadewi mengamati
kepalanya yang mungkin saja ada bekas lukanya.
“Kenapa kakang justru melotot begitu menakutkan, adinda kan jadi takut.”
Mendengar ucapan berikutnya Suro
bertambah curiga. Kali ini dia semakin serius mengamati kepala Mahadewi.
‘Benar kepalanya sepertinya telah
cidera dalam, sebab luka luar tidak aku temukan.’ Suro menggaruk-garuk kepalanya kembali, setelah gagal menemukan luka di kepala Mahadewi.
“Apakah kepala adinda terasa pusing?”
“Tidak kakang, kepala adinda baik-baik saja. Justru sekarang sedang membayangkan kakang jika tidak menggunakan pakaian selembarpun.”
Ucapan Mahadewi yang terasa janggal membuat Suro semakin curiga. Dia mencoba mencari apa yang salah dengan dara itu, tetapi dia tidak juga menemukan alasannya.
“Adinda sebaiknya tidak usah berbicara yang aneh-aneh. Tempat ini dipenuhi sihir yang menyesatkan. Penampakan bayangan sebelumnya aku rasa adalah salah satu bentuk sihir ilusi untuk mengecoh kakang.”
“Tetapi untuk mengecoh apa sebenarnya?” Suro menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap ke arah Mahadewi yang tersenyum balik. Lidah dara itu dijulurkan dan menjilat bibirnya sendiri. Tingkah Mahadewi yang terasa semakin menghawatirkan membuat Suro menjadi cemas.
‘Gawat, Mahadewi sepertinya dia kesurupan,’ sambil membatin dia berjalan ke arah Mahadewi.
Dara itu tersenyum semakin mengoda
sambil membusungkan dadanya. Tetapi dia sedikit kecewa sebab Suro justru
menempelkan telapak tangannya ke arah dahi mahadewi. Dara itu juga tidak mau kalah dia mengusap wajah Suro.
Wuuusssss...
“Siapa kau?”
Mendadak Suro terkejut, lalu secepatnya melesat mundur kembali. Sebab dia merasakan usapan tangan Mahadewi mengandung racun.
Raut muka wanita yang ada didepan Suro tak kalah terkejutnya, sebab lelaki didepannya sepertinya menyadari dia sedang menggunakan racun. Padahal seharusnya racun tidak diketahui dan tidak dirasakan sama sekali.
“Bagaimana kau mampu merasakan
racun yang terlanjur aku telah usapkan ke wajahmu?”
“Kau bawa kemana adinda Mahadewi? Aku tau kau pasti bukan dia, cepat katakan kamu sembunyikan dia kemana?”
“Sudah terbongkar ternyata penyamarku, tidak aku sangka kamu mampu membongkar samaranku ini dengan begitu cepat. Padahal tampang terlihat bodoh."
"Tetapi justru hanya kau satu-satunya yang mampu membongkar penyamaranku yang nyaris sempurna ini. Tetapi jangan khawatir racun pelumpuh tulang yang aku balurkan ke wajahmu itu sudah memasuki aliran darahmu. Jadi khawatirkan saja dengan nasibmu sendiri. Aku rasa adikku Ari Muka sedang bersenang-senang dengan kawanmu itu?”
“Dan wajahmu yang tampan ini juga
tidak akan aku sia-siakan. Jangan khawatir, sebelum kamu aku menghabisimu, aku akan ajak kau bersenang-senang terlebih dahulu. Aku jamin rasa nikmat yang akan kamu
dapatkan sangat pantas dengan kematian yang akan kau dapatkan,” Mahadewi yang ada didepan Suro mendadak berubah suaranya. Lalu disusul dengan perubahan wajahnya yang membuat Suro seakan mau mutah.
Wanita yang ada didepan Suro yang
tidak lain adalah Wak Muka, dia juga terkejut melihat pemuda didepannya tetap dapat tegak berdiri.