
Ketika melihat Naga Hitam kembali mengerahkan tehnik perubahan api jurus serigala neraka, maka para tetua kelompok Mawar Merah yang telah mengepung Suro bergegas segera menjauh. Para tetua memilih menjaga jarak untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Sebab api hitam yang dikerahkan Liong Heise memiliki tingkat panas yang sangat tinggi. Bila sedikit saja salah dalam melangkah, maka tubuh mereka justru dapat terbakar.
Mereka cukup mengetahui kondisi kekuatan milik Naga Hitam yang mengerikan itu. Bahkan para pendekar tingkat surga yang mampu melindungi tubuhnya dengan perisai pelindung dari chakra mereka yang kuat, tetap tidak akan selamat, jika sampai kobaran api hitam itu melahap tubuhnya.
Karena itulah dari pada mencelakai diri mereka sendiri, pilihan terbaik adalah menjauh dari terjangan api itu. Apalagi serangan api hitam yang menerjang ke arah Suro jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Di awal, Suro cukup kewalahan menghadapi api hitam milik musuhnya. Sebab beberapa kali tebasan pedang miliknya tidak dapat mengenai kobaran api yang sepintas memiliki wujud seperti seekor serigala. Suro kemudian memutuskan menggunakan seluruh bilah pedang miliknya yang tersarung di belakang punggungnya untuk membuat serangan jarak jauh.
"Rasakanlah puluhan pedang milikku ini, memang kau saja yang bisa menyerang dari jarak jauh?"
Seluruh bilah pedang milik Suro melesat ke arah Naga Hitam, kecuali satu bilah pedang yang tergenggam ditangannya. Setelah Naga Hitam diserbu puluhan pedang miliknya, maka konsentrasi lelaki itu pecah. Karena selain harus mengendalikan api hitam, di sisi lain dia harus melindungi dirinya dari hujan tebasan dan tusukan pedang yang mengepung dirinya.
'Kurang ajar, bagaimana mungkin ada manusia yang mampu mengendalikan bilah pedang sebanyak ini? Manusia macam apa sebenarnya pemuda ini?'
Seandainya setiap pedang yang dikerahkan Suro bukanlah pedang pusaka tingkat langit yang dilambari chakra besar, tentu tubuh lelaki itu tidak akan mampu digores. Sebab perisai chakra yang menyelimuti tubuh Naga Hitam sangatlah kuat. Karena memang kekuatan lelaki itu sudah mencapai tingkat surga lapis pertengahan.
Suro juga menyadari, jika kali ini aura sesat yang melindungi tubuh Naga Hitam lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Bahkan luka yang dia peroleh dari pertarungan sebelumnya entah bagaimana seakan telah pulih dengan sempurna.
Tetapi setelah serangan yang dilakukan Suro yang sebenarnya digunakan untuk mengganggu konsentrasi Naga Hitam, kini telah membuat pakaian milik musuhnya robek disana-sini.
Walaupun serangan itu hanya untuk memecah konsentrasi lawannya, tetapi jurus yang digunakan adalah formasi hati pedang. Gerakan setiap bilah pedangnya yang bagaikan kilat berhasil melukai tubuh lelaki itu.
Luka yang disebabkan serangan itu memang tidak ada yang parah. Tetapi itu sudah cukup bagi Suro.
Setelah seluruh pedang menerjang ke arah Naga Hitam, maka kendali atas api hitam yang menyerang Suro tidak sehebat seperti sebelumnya. Semua itu sudah dalam prediksi Suro. Karena itulah dia segera menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Dia segera menebaskan Pedang Kristal Dewa ditangannya untuk melenyapkan api hitam milik musuhnya. Hasilnya kali ini Suro berhasil melenyapkan seluruh api hitam milik Naga Hitam.
"Selesai sudah, ini memang lebih mudah daripada aku menghabiskan tenagaku dengan mengerahkan tehnik api hitam." Pandangan Suro berpindah ke arah lawannya yang terbelalak melihat aksinya.
"Setan alas, bocah ini telah memaksaku sampai sejauh ini!"
"Akan aku perlihatkan kepadamu kekuatan puncakku!"
Melihat Suro berhasil melenyapkan seluruh api hitam miliknya, maka kali ini Naga Hitam segera mengerahkan kekuatan yang lebih besar dari pada sebelumnya. Peningkatan kekuatan itu sebagai awal dirinya mengerahkan jurus pamungkasnya, yaitu tehnik perubahan api jurus Raja Neraka gerbang keempat, Agni Sahasrara atau jurus seribu api.
Tetapi jurus itu lebih dikenal luas sebagai manusia api. Satu alasan yang membuat orang menyebutnya seperti itu, karena sekujur tubuh Naga Hitam kini telah diselubungi api hitam.
Buuuuum!
Ledakan kekuatan itu bahkan mampu menerbangkan bilah pedang yang dikerahkan Suro sebelumnya untuk memecah konsentrasinya lawannya. Bilah-bilah pedang itu langsung terlempar semua ke segala arah.
'Jadi hanya seperti ini tehnik perubahan api yang mampu dia kuasai. Siluman Banaspati yang pernah aku hadapi juga mampu melakukan hal ini. Selesai sudah tidak ada lagi yang perlu aku pelajari.'
Kanda atau sumber dari chakra milik Naga Hitam adalah jenis yang sangat langka. Sebab lelaki itu hanya memiliki satu unsur alam yang terkandung didalamnya, yaitu unsur api.
Kanda seperti itu dalam dunia persilatan memiliki sebutan kanda dewa api. Salah satu alasan kemampuan tehnik perubahan api milik Liong Heise bisa mencapai tahap hitam, adalah kanda unik yang dimilikinya, tentu saja selain kejeniusannya dalam ilmu seni bela diri.
Sekujur tubuh Naga Hitam yang diselimuti api terlihat begitu mengerikan. Penampakan seperti ini, adalah kali kedua saat dulu pernah menghadapi Dewa Pedang. Pada pertarungannya yang dia lakukan dulu itu, kekuatan Naga Hitam masih setara dengan seorang yang masih ditingkat shakti.
Kini kekuatannya berpuluh kali lipat dengan yang dia pernah tunjukkan sebelumnya. Api hitam yang menyelimuti tubuhnya mampu berkobar hingga setinggi hampir satu tombak.
Buuuum! Buuuuum!
Buuuum! Buuuuum!
"Hahahaha...banggalah kau anak muda, karena kau akan aku bunuh dengan kekuatanku yang sesungguhnya! Jangan khawatir kau tidak akan sempat merasakan sakit saat berhasil aku bunuh. Sebab api hitamku ini akan melenyapkan tubuhmu dengan cepat!"
Ledakan menghantam Suro secara berturut-turut bersama setiap pukulan jarak jauh atau energi tebasan yang dikerahkan Naga Hitam. Namun pemuda itu berhasil menghindari semua serangan itu dengan mudah. Sebab setiap serangan yang menerjang ke arahnya terus dihindari dengan menggunakan jurus Langkah Maya miliknya
"Memang kau pernah merasakan mati? Kalian semua sepertinya memiliki jenis mulut yang sama, sedari awal bertarung hanya berteriak-teriak ingin membunuhku! Tetapi tidak satupun dari kalian yang mampu melakukannya, tidak juga, kau!"
Wuss...
Jleb...!
Craaaassh...
"Aaaaaarrrggghhh!"
"Bagaimana.. bagimana mungkin kau tetap sanggup melukaiku?" Mata Naga Hitam sempat melirik ke belakang setelah tertebas lehernya.
Karena begitu cepatnya tebasan yang dilakukan Suro, tidak ada satu tetes darah pun yang menempel dibilah pedang miliknya. Bahkan kepala itu tetap bertengger di badannya dalam waktu beberapa saat sebelum jatuh ke tanah.
"Sepertinya tidak ada jalan lain selain membunuhmu, apalagi kekuatanmu sudah sampai setinggi ini. Tentu akan banyak orang yang akan bersyukur atas kematianmu."
"Selain itu semua tehnik perubahan api hitam milikmu sudah aku pahami. Jika bukan karena adanya Mahadewi disini dan niat kedatanganku mencoba menyelamatkan tetua Dewi Anggini, tentu akan aku perlihatkan jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda kepadamu."
Suro bergegas menghabisi Naga Hitam, karena tidak ada lagi yang perlu dia pelajari. Selain itu lelaki itu telah menghalangi dirinya untuk mengorek informasi tentang eyang Sinurogo dan yang lainnya.
Apalagi kini dia memang sudah mengetahui, kepada siapa sebaiknya dia bertanya hal ikhwal keberadaan gurunya itu.