SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 385 Pasukan Elang Langit



Suro terus mengejar satu musuhnya yang memegang bayi ditangannya. Sabetan pedang yang ada ditangan Suro terus mencecar lawannya. Serangan itu dilakukan sebagai cara untuk melumpuhkan lawannya, sehingga bayi yang berada ditangan musuhnya dapat dia selamatkan.


Tetapi tidak bagi empat musuh yang lain. Serangan pedang itu membantai keempatnya dengan sangat cepat.


Kejadian berikutnya, saat tubuh keempat lawannya berhasil diserang dengan telak, Suro dibuat begitu kaget. Sebab apa yang dia lihat adalah sesuatu yang sangat tidak masuk di akal.


Saat tubuh lawannya itu tertebas dan jatuh ke tanah, maka dalam sekejap tubuh itu telah berubah menjadi sebatang kayu. Dia tidak mengetahui sejak kapan mereka telah berganti.


Kewaspadaannya segera dia tingkatkan. Sambil menyerang lawan yang ada didepannya, Suro mencoba mencari keberadaan keempat lawannya yang telah menghilang. Mereka benar-benar tidak terlihat disekitar, seperti kejadian musuh Dewa Rencong yang menghilang begitu saja


Tehnik perubahan tanah segera dia kerahkan untuk melacak, namun dalam radius yang cukup jauh, Suro tidak juga menemukan seorangpun. Dia justru mendengar pertempuran lain yang masih berlangsung di dalam kota Shanxi.


Tubuh Suro dan lawannya yang sedang bertarung itu, terus muncul dan menghilang. Seakan mereka berdua menggunakan ilmu yang sama, sehingga tidak ubahnya mereka seperti sama-sama menggunakan jurus Langkah Maya.


Tetapi kedua jurus itu sangatlah berbeda. Suro segera memahami, mengapa Geho sama sebelumnya menyebut jurus yang digunakan lawan itu mampu menjadi lawan yang berat.


Hanya saja lawan masih berada ditingkat shakti, sehingga ada satu peluang bagi Suro untuk menemukan kelemahan yang dimiliki lawannya. Sebab sehebat apapun lawannya mampu menghilang dan mampu mengimbangi ritme kecepatan serangannya, tetapi dia tetap masih menginjak tanah.


Satu celah itu juga yang menjadi kunci untuk mengalahkan keempat lawan sebelumnya. Dalam satu kesempatan, akhirnya dia berhasil melukai tubuh musuhnya itu. Serangan itu tidak mematikan, tetapi gerakan lawan tidak dapat selincah seperti sebelumnya, sebab serangan itu hanya menciderai kaki lelaki yang berusaha dia lumpuhkan sedari awal.


Saat itulah Suro berhasil menyelamatkan bayi yang hendak diculik lelaki itu. Serangan berikutnya akhirnya berhasil memotong tangan lawannya.


"Aaaaarrrgghhh!"


Sebelum sempat Suro kembali memberikan serangan susulan, Suro merasakan kehadiran lawan dibelakangnya. Tanpa menoleh puluhan pedang langsung melesat dari sarung yang menggantung di punggungnya.


Serangan yang dilakukan Suro tentu saja membuat mereka yang baru saja datang itu menjadi kelabakan. Serangan yang dilakukan Suro begitu cepat.


Mereka yang baru saja muncul itu tidak menduga sama sekali, jika lawannya telah mengetahui keberadaan mereka sesaat setelah kakinya menyentuh tanah. Satu sentuhan kecil itu sudah cukup bagi Suro untuk mengetahui kehadiran musuh lain.


Apalagi sejak menghilangnya keempat musuhnya, Suro terus meningkatkan kewaspadaannya. Dia tidak ingin musuh berhasil membokong dirinya disaat dia sedang lengah.


Satu bilah pedang akhirnya berhasil menembus salah satu tubuh lawannya yang baru saja muncul itu. Sambil mengendong tubuh bayi ditangan kirinya Suro mencoba menghabisi musuh lainnya yang kini bertambah menjadi enam orang.


Satu musuhnya yang sebelumnya menculik bayi hendak kabur. Sebab dia melihat peluang disaat Suro sedang disibukkan dengan lawan lainnya.


Namun Suro menyadari hal itu, dia tidak membiarkan lawannya lepas. Karena itulah dia kembali mengejar. Seperti tehnik Langkah Maya semakin jauh jarak berpindah tempat, maka akan membutuhkan chakra yang juga semakin besar.


Tehnik yang dikerahkan lawannya itu telah menguras banyak tenaga dalamnya, apalagi luka yang menghiasi tubuhnya telah banyak mengeluarkan darah, sehingga dia hanya dapat berpindah tempat sejauh jarak sekitar lima belas ribu kaki(setara dengan jarak setengah kilo meter).


Dalam jarak itu, Suro masih mampu menemukkannya, meski saat itu dia sedang berjibaku menghadapi lima orang yang masih berusaha mengepungnya.


"Sialan, bagaimana kau mampu memiliki ilmu lipat bumi milik kelompok kami?" Lelaki itu mendecak kesal menyadari musuhnya kembali berhasil menyusul dirinya.


Dia bukan hanya terkejut melihat musuhnya mampu menghilang dan muncul ditempat lain seperti dirinya, tetapi yang membuat dia lebih terkejut sejak awal, adalah kemampuan musuh yang mampu mengetahui keberadaan dirinya setelah kabur dan berpindah tempat sebegitu jauh.


Seakan dimanapun kakinya menginjakkan tanah, maka musuhnya akan dapat merasakannya. Pemikiran itu akhirnya ditangkap oleh musuhnya.


"Untuk apa aku memberitahumu bagaimana caraku menemukanmu? Justru kau yang harus berbicara setelah aku berhasil melumpuhkanmu!" Suro segera menyerang dengan racun pelumpuh tulang miliknya.


Tetapi dia cukup berhati-hati saat melakukannya, sebab salah satu tangannya sedang mendekap seorang bayi. Karena itu demi menghindari bayi dalam dekapannya itu terkena racun, dia menggunakan trik tertentu melalui bilah pedang miliknya.


Akhirnya Suro berhasil meracuni musuhnya. Tidak butuh waktu lama reaksinya segera terlihat. Tubuh lawannya itu langsung lumpuh sesaat setelah terkena racun pelumpuh tulang. Apalagi setelah salah satu tangannya terpotong membuat tubuh lelaki itu begitu cepat bereaksi.


"Apa yang kau lakukan padaku?" Wajah yang berada dibalik topeng serigala itu berubah menjadi pucat pasi.


Suro hanya tersenyum simpul sambil berusaha menenangkan bayi dalam dekapannya. Bayi itu sejak awal juga membantu Suro menemukan lawannya karena tangisannya.


Pada awal musuhnya itu cukup percaya diri dapat kabur dari kejaran Suro, meski bayi yang dia gendong terus menangis. Sebab pada awal pelariannya lelaki itu dapat dengan mudah berpindah tempat pada jarak yang cukup jauh.


Sebab dalam sekali berpindah tempat, dia dapat mencapai jarak lebih dari tiga puluh ribu kaki( sekitar satu kilo meter). Karena itulah dalam waktu yang begitu cepat mereka telah berada diluar kota Shanxi. Kini mereka telah masuk dalam wilayah pegunungan Thai Shan.


"Cup..cup..cup..." Suro berusaha menenangkan bayi yang tidak juga berhenti menangis.


'Gawat bayi ini kemungkinan bayi sedang kehausan.' batin Suro sambil menimang-nimang bayi itu agar berhenti menangis.


"Karena kau sudah berhasil aku lumpuhkan, aku akan memberitahu mengapa aku selalu dapat menemukanmu.


Semua ini karena tangis dari bayi yang ganteng dan lucu ini. Ditambah bau badanmu yang tidak pernah mandi itu, membuat hidungku masih mampu mengendus, meski dari jarak yang cukup jauh sekalipun."


Suro tertawa melihat musuhnya mendengus kesal mendengar ucapannya barusan. Lelaki itu lunglai tidak berdaya, tubuhnya lemas seakan tidak memiliki tenaga sama sekali.


Akhirnya lelaki itu hanya bisa terduduk, sebab untuk berdiri dia sudah tidak sanggup. Mulutnya tidak berhenti merepet membalas ucapan Suro dengan sumpah serapah.


"Kalian sebenarnya dari kelompok mana? Cepat katakan, jika tidak akan aku buat tubuhmu itu terpotong sedikit demi sedikit!"


Suro bertanya dengan percaya diri dan terlihat santai, karena musuhnya tidak akan mampu lagi mengerahkan ilmunya. Sebab tenaga dalamnya kini telah lenyap oleh pengaruh racun yang dia gunakan kepadanya barusan.


"Mimpi saja kau di alam kubur, aku tidak akan memberi tahukan kepadamu! Aku lebih baik mati daripada harus memberitahu apa yang kau tanyakan itu!" Dengan penuh kemarahan lelaki itu kembali membalas ancaman Suro.


"Kami adalah pasukan yang siap mati untuk menjalankan perintah dari ketua!"


"Ketua maksudmu makhluk yang berjuluk Hantu Temma itu yang menjadi ketuamu?"


"Atau justru Karuru kepala suku Elang Langit, yang payah itu? Dia terlalu uzur untuk menjadi seorang pemimpin, seharusnya dia cukup tau diri dan tidak memaksa terus menjadi kepala suku. Apa tidak lucu, melihat seorang kepala suku sudah jompo seperti Karuru itu!"


"Setan alas mulut kotor, makhluk rendahan sepertimu tidak pantas menyebut Yang Mulia Karuru!"


Suro tertawa mendengar makian lawannya. Dia cukup puas, akhirnya mulut lawannya itu mau memberitahu tanpa dia sadarinya, setelah tersulut emosinya.


"Berarti kalian adalah bagian dari pasukan suku Elang Langit, bukan?"