
Sudah beberapa hari sebelum Suro menyalin kidung milik Eyang Sindurogo, sebenarnya dia telah berlatih pedang terbang menggunakan pedang kristal Dewa.
Tetapi kali ini dia akan mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu melesatkan tubuhnya bersama bilah pedangnya terbang tinggi. Tentu saja jantungnya berdegub kencang melebihi saat dia dilemparkan oleh Dewa Rencong. Dia begitu ketar-ketir, karena baru pertama kali ini dia terbang sebegitu tinggi. Selain itu saat dia melesat, tubuhnya yang berdiri diatas bilah pedang kristal Dewa terhantam angin yang begitu keras. Membuat dia khawatir, jika sewaktu-waktu pedang yang menjadi pijakannya bisa terlepas dari kakinya.
'Jangan khawatir bocah kakimu tidak akan terlepas dari bilah pedang ini.' Suara Lodra mencoba meyakinkan Suro yang masih ketakutan saat menaiki bilah pedang yang telah membawanya terbang tinggi itu.
"Kakimu akan tetap menempel dengan erat meski tubuhmu berputar ke bawah. Apakah dirimu tidak mengingat saat tanganmu tidak bisa dilepaskan dari bilah pedangku? Karena sesungguhnya bukan dirimu yang memegang bilah pedang ini, tetapi justru akulah yang memegang tanganmu. Seperti juga kakimu sekarang, melalui kakimu pedang ini akan menyerap chakramu untuk digunakan terbang. Sehingga dengan kondisi itu akan membuat tubuhmu menempel erat pada bilah pedang ini. Jadi percaya saja padaku tubuhmu tidak akan terjatuh!'
Setelah Suro merasa yakin sudah menguasainya dengan baik, maka dia kembali melesat turun menuju kediaman Kolo Weling. Tetapi dibawah seorang dara cantik sudah menunggunya ditengah halaman sambil berkacak pinggang.
"Kenapa kakang tidak mengajak adinda menuju gunung Arjuno? Jangan kira adinda tidak mendengar, jika kakang akan melakukan perjalanan jauh kembali ke gunung Arjuno!" Mahadewi berbicara sambil bersungut-sungut.
Suro mengaruk-garuk kepalanya melihat kedatangan Mahadewi yang tidak terduga. Dia yang terlalu sibuk dengan Dewa Rencong dan juga Dewa Pedang sejak kedatangannya di perguruan pusat, membuat dia tidak sempat bertemu dengan yang lain.
"Mohon maaf adinda kali ini kakang tidak bisa mengajak. Karena kakang akan terbang menggunakan bilah pedang ini." Suro menunjuk bilah pedang miliknya.
"Alasan saja! Huuuftt!" Mahadewi langsung berbalik menghadap ke arah lain.
Suro kelimpungan dengan permintaan dara cantik didepannya yang merajuk dengan begitu menakutkan. Wajah Batari Durga sudah dipasang sejak kedatangannya seperti yang biasa dia lakukan. Melihat hal itu membuat Suro kembali mengaruk-garuk kepalanya.
"Permintaan adinda untuk ikut ke gunung Arjuno kakang tidak bisa mengabulkannya. Tetapi jika adinda memiliki permintaan yang lain mungkin kakang akan berusaha mengabulkannya."
"Benar? Awas kalau kakang berbohong. Aku mendengar paman Kolo Weling dijanjikan jurus sepuluh pedang terbang oleh kakang. Adinda juga pingin diajari tehnik itu agar tehnik tangan seribu milikku menjadi lebih dahsyat lagi."
Suro langsung tersenyum cerah mendengar permintaan Mahadewi.
"Nah kalau cuma itu yang adinda minta. Pasti kakang akan mengabulkannya."
"Benar kakang akan mengajari adinda?"
"Sumpah kakang akan mengajari adinda. Asalkan adinda tidak memaksa untuk ikut pergi ke gunung Arjuno!"
"Baik, adinda tunggu sampai kakang kembali, awas kalau kakang berbohong!" Tangannya dikepalkan dengan keras. Dia lalu berbalik dan meninggalkan Suro yang masih tertegun dan terus mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Slamet, slamet akhirnya dia pergi. Paman kenapa Mahadewi selalu datang kesini meminta Suro mengajari berbagai hal. Bukankah gurunya lebih hebat dari pada diriku? Apa ini tidak aneh paman? Padahal waktu itu aku sudah menolongnya, sehingga dia terhindar dari luka serius. Tetapi entah mengapa Suro yang justru dikejar-kejar seakan Suro yang punya hutang budi?" Suro masih memandang dara yang telah berjalan jauh meninggalkan kediamannya. Suro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mahadewi datang dan pergi seperti siluman itu.
"Ehmmmm...! Ehmmm!"
Kolo Weling berdehem mendengar pertanyaan Suro barusan. Dia ikut mengeleng-gelengkan kepala mendapat pertanyaan seperti itu.
'Nakmas ini disebut pinter tapi cubluk, dikatakan cubluk tapi pinter. Bagaimana dia tidak memahami maksud dari dara cantik yang selalu mencari perhatian kepada dirinya." Kolo Weling membatin sambil menepuk-nepuk jidatnya.
"Apakah wanita yang paman kenal memiliki perilaku seperti ini juga, paman?"
"Uhuk?" Kolo Weling mendapatkan pertanyaan barusan membuat dia seperti keselek ikan bawal satu ekor.
Dia kebingungan ingin menjawab apa. Jangankan mengejar, justru orang-orang akan langsung kabur begitu melihat dirinya datang bersama kawanan rampok yang dia pimpin.
"Kebanyakan paman yang mengejar nakmas."
"Apa nakmas lupa? Karena dulu pekerjaan paman merampok. Jika tidak mengejar korban bagaimana paman akan mendapatkan hasil rampokan?"
'Benar juga kata paman. kenapa sekarang Suro jadi pelupa. Lalu apakah sekarang ada yang mengejar paman?"
"Paman sekarang bersyukur nakmas, setelah mengikuti saran yang telah nakmas katakan paman tidak perlu lagi mengejar, justru mereka berbondong-bondong datang sendiri meminta paman mengobati mereka semua." Kolo Weling tersenyum ke arah Suro yang telah mengubah jalan hidupnya dan juga seluruh teman-temannya.
"Benar juga sekarang paman justru dikejar orang-orang dimintai tolong untuk mengobati mereka. Sekarangkan paman sudah menjadi tabib terkenal di Kademangan Cangkring sini hehehe...!"
Kolo Weling ikut tertawa mendengar perkataan Suro yang begitu lugu. Entah mengapa justru karena keluguan Suro lah yang membuat jalan hidupnya berubah. Dan karena sebab itu pula mengapa seorang mantan pemimpin perampok itu menghormati Suro seperti selayaknya junjungannya.
"Sepertinya Suro akan pamit paman. Hari ini juga Suro akan balik ke gunung Arjuno untuk sementara waktu. Mungkin satu purnama Suro akan disana."
"Baiklah nakmas, semoga segala urusan yang akan nakmas lakukan bisa berjalan lancar." Kolo Weling tidak bertanya lebih lanjut mengenai urusan Suro balik ke gunung Arjuno. Karena sepertinya Suro tidak berniat menceritakan kepadanya.
Sebenarnya Suro ke gunung Arjuno selain seperti yang dikatakan kepada Dewa Pedang, dia juga hendak bertemu kepada Sang Hyang Anantaboga perihal gurunya dan meminta saran jalan terbaik agar bisa menyelamatkan gurunya.
Setelah perbekalan yang disiapkan Kolo Weling termasuk didalamnya obat-obatan telah diberikan kepadanya, maka Suro segera melesat tinggi menggunakan bilah pedang yang dia injak dengan kedua kakinya itu.
Dalam sekejab dia sudah hilang dari pandangan mata Kolo Weling yang masih terpatung menatap ke langit.
'Tuanku aku akan menutupi seluruh tubuhmu agar tubuhmu terlindungi dari kuatnya hempasan angin yang menerjang.' Hyang Kavacha yang biasa terdiam segera menyadari Suro menggigil kedinginan, saat Lodra menaikan ketinggian. Sebab pada saat ini ketinggian yang telah dicapai sudah melewati awan.
Secara mengagumkan sekujur tubuh Suro mendadak telah diselubungi cahaya hijau, setelah itu zirah yang sebelumnya hanya menutupi dadanya kini telah menyelubungi seluruh tubuhnya. Kondisi ini sama seperti saat pertama kali dirinya ditemukan oleh Eyang Sindurogo dihutan lereng gunung Mahameru.
'Terima kasih Hyang Kavacha tubuhku terasa hangat tidak merasakan terpaan angin yang begitu kuat.'
'Itu sudah menjadi tugas hamba untuk selalu berusaha melindungi tuanku.'
Suro segera menyerap kekuatan matahari dengan luar biasa. Sebab setelah Zirah kavacha itu muncul justru semakin memperkuat Suro menyerap kekuatan matahari ke dalam tubuhnya.
Dengan semakin meningkatnya chakra yang mampu diserap membuat Lodra semakin pamer kekuatan kepada Suro. Pedang itu terbang menembus awan dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahkan karena begitu cepatnya pedang itu melesat membuat dirinya hanya dalam waktu relatif cepat sudah sampai di atas gunung Arjuno.
"Eyang guru! Akhirnya murid telah sampai dipertapaanmu!" Suro berteriak antara bahagia dan sedih setelah mendarat dipuncak gunung Arjuno.
Sebab sedari kecil digunung itulah dia dibesarkan. Tentu banyak kenangan yang dia lalui dan tersimpan diantara semak dan batu di hutan yang berada disekitar gunung itu. Bahkan setiap sisi dari gunung itu sudah dia hafal diluar kepalanya.
Dia sedih saat turun gunung dia bersama gurunya. Kini setelah hampir sepuluh purnama dia telah kembali ke gunung itu tanpa gurunya.
"Apa kabar dengan Maung ya?" Suro sepontan teringat dengan harimau taring pedang yang selalu menemaninya berjalan-jalan menjelajahi hutan disekitar gunung Arjuno.
"Mauuuuuuung...ini aku Suro datang! Mauuung!" Suro berteriak berkali-kali memangil harimau bertaring pedang yang merupakan peliharaan gurunya itu.
Selang tidak beberapa lama sebuah suara auman keras memecah kesunyian hutan di gunung Arjuno. Bahkan para monyet dan burung-burung ketakutan mendengar kerasnya auman itu.
"Ternyata kamu tidak melupakan suaraku ini Maung! Hahahaha...!"