
Rencana tipu muslihat yang diucapkan Yang Xiaoma kepada dua temannya itu dapat didengar dengan jelas oleh Dewi Anggini. Tetapi dia tidak memberitahukan hal tersebut kepada yang lainnya.
Dia justru penasaran ingin tau, apa yang terjadi saat mereka mendatangi rumah pejabat kota Shanxi itu. Dia sebenarnya juga ada sedikit penasaran dengan nama Yang Taizu yang akrab dikupingnya.
Apakah nama lelaki itu adalah nama yang sama dengan seseorang yang dia kenal dulu. Tetapi dia bisa menghubungkan seseorang yang dia kenal itu dengan pejabat kota Shanxi, sebab seseorang yang dia kenal itu dulu adalah anak dari salah satu bangsawan besar yang namanya cukup disegani.
Selain itu dia juga mengetahui, jika penguasa Negeri Atap Langit sekarang ini sedang dikuasai oleh seorang Kaisar bermarga Yang, maka suatu hal yang wajar jika kota Shanxi ini dipimpin oleh bangsawan bermarga Yang juga.
Dewi Anggini terus tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi, jika mereka memang jadi mendatangi rumah Yang Xiaoma. Dia yakin seluruh prajurit yang menjadi andalan tuan muda Yang itu tidak akan sanggup menghadapi Suro sendirian.
"Ada apa adinda, sepertinya sedari pemuda itu datang, adinda tidak berhenti tersenyum-senyum sendiri. Apakah undangan itu telah membuat adinda begitu berbahagia?"
Eyang Sindurogo masih mengingat nama Yang Taizu ayah dari pemuda itu. Lelaki itu selain keturunan seorang bangsawan, dia juga memiliki ketampanan diatas rata-rata.
Dewi Anggini tersenyum mendengar ucapan Kakang Sindunya itu. Dia segera menyadari, jika lelaki yang wajahnya tidak pernah mengalami proses penuaan, setampan seperti saat pertama kali bertemu dengannya itu sedang cemburu.
Namun sebelum Dewi Anggini menjawab pertanyaan eyang Sindurogo barusan, makanan yang mereka pesan ternyata telah mulai berdatangan.
Meja besar tempat mereka duduk kini telah dipenuhi dengan beraneka macam masakan yang sangat menggugah selera. Suro yang mengendus aroma makanan itu semakin tidak mampu lagi menahan air liurnya.
Begitu juga Dewa Rencong, dia sedari tadi sudah sibuk menelan ludahnya. Tangannya sejak tadi juga terus mengusap-usap perutnya. Agaknya dia juga sudah tidak mampu menahan laparnya. Perutnya yang telah keroncongan meminta secepatnya diisi.
"Akhirnya kita makan besar." Kedua mata Suro melotot, lidahnya mulai mengecap berkali-kali.
Air liurnya hampir saja berjatuhan karena sudah tidak mampu menahan rasa laparnya. Seperti juga Suro, Dewa Rencong berkali-kali menghirup aroma masakan didepannya.
"Mari makan semua," ucap Dewi Anggini memulai acara makan mereka.
Wanita itu memilih menghentikan pembicaraannya dengan kakang Sindunya, karena makanan sudah ada didepan mata. Apalagi melihat Suro yang tidak sabar seakan hendak meraup seluruh makanan masuk ke dalam mulutnya sekaligus.
"Anak sinting, kau kira kau saja yang suka dengan ayam goreng, aku juga ingin menikmatinya," Dewa Rencong bersungut-sungut melihat Suro dengan kecepatan tinggi langsung menyambar satu bakul ayam goreng dimeja.
Dewi Anggini tertawa kecil melihat tingkah Suro dan Dewa Rencong yang berebutan ayam goreng. Eyang Sindurogo hanya bisa menepuk jidatnya berkali-kali, tetapi dia membiarkan murid kesayangannya itu berebut makanan dengan Dewa Rencong.
'Anak ini, mengapa tingkahnya tetap selucu seperti saat pertama kali aku menemukannya', batin eyang Sindurogo.
Pendekar itu akhirnya justru ikut tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.
Belum lama berselang, setelah mereka mulai menikmati hidangan didepan meja, mendadak sebuah teriakan dari arah luar jendela mengagetkan mereka berlima. Namun hal itu tidak membuat acara makan mereka terhenti.
"Yang Xiaoma keluarlah! Aku Kelabang Hitam menagih janji atas upah yang belum kau bayarkan! Hari ini aku akan memotong tanganmu sebagai ganti bayaran yang tidak juga kau berikan!"
**
Lelaki muda yang membawa kipas besi ditangannya, segera berubah sangat panik. Dia segera menyuruh pemuda sebelahnya yang bernama Yang Jiang untuk segera turun ke bawah.
Sebab pengawal yang selalu menjaga dirinya berada di lantai bawah. Memang menjadi kebiasaan pemuda itu, jika saat makan mereka tidak pernah diajak.
Selain memiliki sifat yang culas, pemuda itu juga dikenal pelit. Mereka para pengawal biasanya disuruh tetap menunggu dilantai dasar, sampai pemuda itu selesai makan.
Selang tidak beberapa lama Yang Jiang muncul kembali dengan berlari. Wajahnya terlihat semakin bertambah pucat saat telah kembali dari lantai bawah.
"Gawat Xiaoma, Golok setan dan Pedang setan ternyata sedari tadi ada dibawah. Mereka berdua telah melumpuhkan semua orang yang ada dilantai bawah dengan racunnya.
Tidak ada seorangpun dilantai dasar yang mampu berdiri. Saat ini mereka berdua sedang bergerak ke lantai tiga ini." Mendengar penjelasan Yang Jian barusan telah membuat Yang Xiaoma bertambah semakin kalut.
**
"Kurang ajar, ayamku!" Teriakan Suro meledak, sebab dada ayam goreng yang hendak dia makan lepas dari tangannya melesat bersama anak panah yang menembusnya.
"Kurang ajar siapa yang berani mengganggu acara makan besarku ini!" Dewa Rencong tidak kalah murka, apalagi dia yang berada persis didekat jendela.
Beberapa anak panah dia tangkis dengan sentilan jarinya.
"Yang Xiaoma keluarlah! Aku tau kau sedang berada dilantai tiga!" Kembali suara teriakan terdengar dari luar jendela.
Orang-orang yang berteriak dari jalanan didepan Pavillum Angin Utara terus menghujani mereka dengan anak panah. Entah mengapa mereka menyerang dari jendela. Kemungkinan mereka hendak menutup jalan keluar, agar Yang Xiaoma tidak mampu melarikan diri.
"Berisik kalian semua! Mengganggu saja! Jika kalian tidak berhenti menghujani kami dengan anak panah ini, maka akan aku potong tangan dan kaki kalian!" Dewi Anggini akhirnya tidak mampu menahan kemarahannya, sebab acara makannya sudah terganggu.
Wanita itu dengan mudah menangkis seluruh anak panah yang menerjang ke arahnya. Begitu juga yang lainnya sambil menikmati makan terus menyingkirkan lesatan anak panah yang menerjang.
Dewa Rencong dan Dewi Anggini yang berada didekat jendela terlihat paling sibuk menangkis lesatan anak panah. Sedangkan Suro tidak mempedulikan lesatan anak panah, dia lebih sibuk mengunyah dan memasukan berbagai macam makanan kemulutnya.
Mendengar teriakan Dewi Anggini barusan, kelompok yang menyerang yang berada dijalanan justru semakin bertambah murka. Mereka segera melesat naik ke atas lantai tiga dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Mereka berjumlah lebih dari tiga puluh orang. Rata-rata kekuatan mereka minimal sudah sampai pada tingkat tinggi. Ada beberapa yang sudah ditingkat shakti, seperti yang sebelumnya terus berteriak keras mengaku sebagai Kelabang Hitam.
Sebelum mereka berloncatan melesat naik ke lantai tiga, serbuan anak panah membuka jalan bagi mereka. Mereka masuk dari dua jendela lain yang berada di belakang Suro dan belakang Dewi Anggini.
Kini mereka telah dikepung dari dua arah dibelakang mereka. Namun saat mereka sampai diatas, lelaki yang berjuluk Kelabang Hitam itu menyadari sesuatu yang tidak biasa. Karena alasan itulah, mengapa lelaki itu tidak segera menyerang ke arah wanita yang tadi mengancam mereka.