SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 226 Awal Pengejaran Suro



Sejak pagi Suro sudah terbangun tetapi dia sengaja tetap dalam posisi seperti orang yang masih tertidur. Hal itu di karenakan sesosok dara yang sedang duduk bersimpuh tidak jauh dari tempatnya tertidur.


Geho sama terlihat masih tenggelam dalam meditasinya. Setelah mendapatkan wedar kaweruh dan juga wejangan atau nasehat dari Sang Hyang Ismaya, membuat Gagak setan itu mendapatkan pencerahan jiwanya.


Dia awalnya adalah siluman, tetapi kini tidak dapat lagi disebut sebagai siluman seutuhnya dan juga tidak bisa disebut manusia pada umumnya. Beberapa sebab yang membuat dia tidak bisa disebut sebagai bangsa siluman. Salah satunya adalah karena tubuhnya kini tercipta dari beberapa ras yang membuat dirinya tidak lagi disebut sebagai siluman.


Apalagi dengan pencerahan yang diberikan Sang Hyang Ismaya membuat pemahaman jiwanya semakin tercerahkan. Dan pencerahan itu membuat jiwanya begitu murni. Sehingga tidak mungkin memasukan jiwa dari Geho sama masuk golongan siluman. Bisa dikatakan pencerahan itu telah menyucikan jiwanya.


Dia terus melakukan meditasi itu sebagai upaya dirinya terus mengubur segala keburukan dalam dirinya. Selain itu dia terus meningkatkan kekuatan jiwa miliknya. Karena itu juga berkaitan dengan ilmu empat raga sejatinya atau sedulur papat miliknya.


Rumah diatas bukit tempat mereka beristirahat dibangun dengan bentuk seperti rumah panggung. Walaupun panggungnya tidak tinggi. Seluruh lantai itu dibuat dari papan-papan kayu yang terbuat dari kayu mahoni yang kuat. Baik Suro maupun Gagak setan berkumpul semua di ruangan tengah yang luas. Mereka berdua hanya beralaskan sebuah tikar pandan.


Mahadewi sejak pagi telah sampai di rumah itu. Dan dara itu cukup setia menunggu Suro hingga bangun. Beberapa kali dia terus memandangi wajah Suro yang masih memejamkan mata.


Jika seandainya saat kedatangan Suro bersama Dewa Rencong diperguruan pusat Pedang Surga tidak diketahui terlebih dahulu oleh Mahadewi, tentu dara cantik itu tidak akan mempercayai jika pemuda didepannya adalah Suro.


Saat di perguruan pusat, Mahadewi ikut penasaran melihat orang berduyun-duyun mengiringi tiga sosok yang baru saja datang dari gerbang perguruan. Dia melihat salah satunya adalah sosok raksasa yang begitu mencolok. Tetapi dia sedikit lebih penasaran dengan tingkah para dara yang justru sibuk menyapa sesosok lain yang ada didepan raksasa itu.


Karena itulah dia segera bergerak cepat untuk mencari tau alasan para dara sibuk mendekati sosok didepan Geho sama. Setelah melihat paras pemuda yang sedang didekati para dara, dia merasa mengenalinya. Tetapi dia lupa entah dimana. Alasan itulah yang membuat dia terus mengikuti dan mengekor bersama dara lain. Dia juga lupa dengan niat awalnya yaitu hendak menanyakan gurunya yang tidak segera kembali ke perguruan pusat.


Setelah mengetahui jika pemuda itu adalah Suro dia segera menyembunyikan dirinya diantara para dara lain. Karena saat itu wajahnya bersemu merah, entah alasan apa sejak awal dia cukup terpesona dengan aura yang dimiliki pemuda tersebut.


Walaupun dia mengakui jika wajah pemuda itu cukup rupawan, tetapi ada hal lain yang membuat pemuda itu begitu menarik bagi dirinya. Setelah mengetahui jika pemuda itu adalah Suro, dadanya langsung berdegub lebih kencang dari pada sebelumnya.


Dia segera menyadari mengapa dia menyukai pemuda yang terlihat cukup rupawan itu. Bukan karena wajahnya yang menarik pandangan matanya, tetapi hatinya memang sudah terpikat sejak lama kepada pemuda itu. Itulah sebabnya hatinya langsung berdegub merasakan aura yang dipancarkan pemuda tersebut.


Mahadewi berani masuk ke rumah itu meski didalamnya ada Maung. Sebab setelah lebih dari dua purnama kini Mahadewi sudah terbiasa, bahkan cukup akrab dengan Maung.


Tidak beberapa lama setelah itu terlihat Kolo weling datang membawa sebuah poci yang berisi air teh panas. Dia kemudian duduk didekat Mahadewi.


'Paman, mengapa kakang Suro berubah menjadi bertambah begitu tampan?' Mahadewi berbisik ke arah Kolo weling yang mulai duduk bersila didekatnya.


Koko weling tidak mampu menahan tawanya mendengar pertanyaan itu. Terlihat Mahadewi menjadi begitu malu dengan reaksi yang diperlihatkan lelaki tambun yang dibisikinya. Wajahnya tidak mampu menyembunyikan perasaanya malu yang menyelimuti dirinya. Kulitnya mulai berubah bersemu merah seperti udang rebus.


Sebenarnya sejak kemarin Mahadewi ingin menyusul ke rumah Kolo weling, tetapi Mahadewi masih tidak mampu menguasai dirinya sendiri, setelah melihat Suro yang telah berubah dengan begitu drastis.


Mahadewi sebenarnya masih sulit mempercaya dengan apa yang dilihat, meski hatinya tidak dapat membohongi, jika pemuda yang sedang tertidur bersama Maung adalah Suro. Walaupun secara naluri tidak akan ada yang cukup gila berani tidur memeluk harimau itu, kecuali Suro sendiri. Tetapi perubahan pada fisik Suro bagi Mahadewi sesuatu yang lebih tidak masuk akal lagi.


Bahkan karena pancaran pesona yang dilihatnya sejak siang di perguruan pusat, telah membuat matanya tidak dapat dipejamkan. Dia selalu terbayang-bayang oleh wajah dari seseorang yang memang telah mencuri hatinya.


Meski menahan malu, tetapi rasa itu tidak mampu lagi ditahan olehnya. Karena itulah mengapa sejak pagi Mahadewi sudah duduk bersimpuh di depan Suro yang matanya masih terpejam.


"Adinda sudah sampai disini ternyata?"


Mahadewi langsung menunduk dan wajahnya kembali bersemu merah. Mahadewi menjadi salah tingkah dan terlihat begitu kaku. Dia hanya membalas ucapan Suro dengan menganggukkan kepala.


Melihat situasi yang canggung Suro kemudian menoleh ke arah Kolo Weling yang menawarkan minuman teh panas kepadanya.


"Minum teh panas nakmas, mari ini sudah paman siapkan."


Suro kemudian bangun dan mendekati Kolo weling seolah tidak terjadi apapun. Dia bersikap itu karena Mahadewi terlihat masih terdiam berusaha menguasai dirinya. Karena saat itu dadanya sedang berdegup kencang menahan gejolak rindu yang sedang dia simpan agar tidak mampu diketahui oleh siapapun.


"Apakah paman sudah menyiapkan semua perbekalan yang telah Suro katakan semalam?"


"Sudah nakmas, semua sudah paman siapkan. Nakmas tinggal membawanya."


"Terima kasih paman. Maaf jika telah membuat repot paman."


"Tidak nakmas, jangan mengucapkan hal seperti itu kepada paman. Sebab paman sangat senang dapat membantu nakmas, walau hanya mengenai hal-hal yang remeh." Kolo weling membalas ucapan Suro sambil kembali menuangkan air kedalam cangkir yang telah kosong, setelah habis diteguk oleh Suro.


"Geho sama berhentilah barang sejenak dan bersantai. Ini nikmatilah hidangan teh panas pagi ini. Kamu pasti akan menyukainya!" Suro kembali menyeruput air teh itu sambil menatap ke arah Gagak setan yang masih dalam posisi bersamadhi.


Mendengar ucapan Suro, maka Gagak setan segera membuka matanya.


"Baik tuan Suro." Geho sama kemudian bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendekat ke arah mereka. Langkah kaki Gagak setan yang berat, membuat lantai rumah itu berderak dan bergetar dengan cukup kuat. Karena tubuh Gagak setan itu memang menyerupai raksasa.


Setelah itu Suasana cair dan mereka berempat terlihat terlibat dalam percakapan santai. Geho sama cukup antusias meminum air teh yang bagi dirinya begitu nikmat.


Suro kemudian menjelaskan kepada Mahadewi tentang gurunya yang masih ikut berjaga di perguruan Pedang Bayangan. Dia juga menjelaskan jika dia tidak akan berlama-lama di Kademangan Cangkring, sebab dia akan kembali melakukan perjalanan jauh dan kemungkinan akan cukup lama. Selain itu dia juga menceritakan tentang bahaya besar dalam perjalanan kali ini. Sebab musuh yang akan di hadapi adalah para makhluk yang bukan manusia. Dia juga menjelaskan tujuan perjalanan kali ini adalah hendak mengejar eyang gurunya.


Suro tidak dapat menjamin apakah gurunya nanti dapat dia selamatkan atau tidak. Tetapi dia berusaha untuk melakukan hal itu. Dia menyadari apa yang dia lakukan ini bukanlah sesuatu yang mudah namun dia harus melakukannya. Karena untuk saat ini hanya dirinya yang memungkinkan dapat menyelamatkan gurunya.


Mahadewi yang mendengar penjelasan Suro, sebenarnya dia hendak ikut, tetapi dia juga menyadari kekuatan yang dimilikinya sangat jauh untuk dapat membantu. Jika dia ikut yang ada justru hanya akan membebani dan juga menyusahkan Suro. Dengan berat akhirnya Mahadewi menganggukkan kepala membenarkan tindakan yang diputuskan Suro.


Hari itu juga Suro berpamitan kepada mereka semua, termasuk kepada Maung. Tujuan kali ini dia akan menuju Kerajaan Champa dimana pasukan kegelapan menguasai tempat itu. Selain itu sejak semalam dia sudah bertanya kepada Pusaka Kaca Benggala tentang keberadaan Eyang Sindurogo. Dari gambaran yang ada didalam pusaka itu diketahui jika gurunya sedang memimpin pasukan kegelapan. Agaknya dia telah dipercaya dan diangkat sebagai pemimpin pasukan perang Dewa Kegelapan.


Saat ini sebenarnya Suro memiliki peluang besar untuk dapat menyelamatkan gurunya. Sebab dia tidak lagi sekuat waktu itu yang menjadi tempat pecahan jiwa Dewa Kegelapan.


Setelah gerbang gaib yang dia kerahkan menelan mereka berdua, sekejap itu juga mereka berdua langsung menghilang.