
"Penawar racun ini kamu berikan kepada kedua Jendral ini. Sebagian kamu balurkan diluka yang terkena senjata beracun. Kemudian setengahnya kalian minumkan.
Aku tidak peduli caranya bagaimana, tetapi usahakan mereka berdua mampu menelan penawar ini. Aku akan menolong para prajurit yang juga sekarat seperti mereka berdua." Tanpa meminta persetujuan para punggawa yang sedang menantikan Dewa Obat mengobati panglima mereka, lelaki itu langsung berjalan keluar dari ruangan.
Tabib milik pasukan kekaisaran segera melakukan seperti yang diperintahkan Dewa Obat kepadanya.
Jendral Yuwen Shiji tidak dapat menunggu dengan sabar melihat kakaknya dapat kembali sadar.
Malam terus merayap melewati benteng pertahanan kota He Bei. Sejak pasukan kekaisaran membentuk pertahanan di benteng kota mereka para penduduk menjadi begitu ketakutan.
Meskipun begitu sebagian dari mereka masih melakukan aktifitas seperti biasanya. Walaupun dari pasukan penjaga kota membatasi, demi keselamatan mereka sendiri.
Sebagian besar para penduduk memilih berdiam diri dan mengunci rumah-rumah mereka. Tanpa berani lagi keluar. Walaupun sebenarnya kondisi para penduduk itu aman dari serangan musuh.
Sebab serangan pasukan musuh itu hanya menyerang dari sebelah utara dan sempat dibagian sebelah timur. Tetapi rumah-rumah penduduk berada di sebelah selatan dari benteng besar He Bei. Sehingga kondisi itu membuat peperangan jauh dari jangkauan para penduduk.
Tetapi dari berita yang tersiar mengenai nasib para penduduk yang wilayahnya jatuh ke tangan musuh tak ayal sejak pertempuran meluas sampai ke daerah He Bei para penduduk banyak yang memilih mengungsi ke daerah yang lebih aman.
**
"Apa, kakak sudah sadar?" Jendral Yuwen Shiji terbangun dari tidurnya. Dia yang menunggu pengobatan Jendral Yuwen Huaji sampai ketiduran saat duduk di kursi.
Suara kakaknya segera membangunkan tidur ayamnya. Saat itu belum sepertiga malam, artinya dia baru terlelap sebentar. Tetapi itu sudah cukup bagi dirinya untuk beristirahat.
"Benarkah aku masih hidup? Apakah pendekar Suro telah datang menolong kita? Sehingga aku yang terkena racun masih dapat selamat?" Meskipun dengan suara pelan dan terbata-bata Jendral Yuwen Shiji, adiknya mampu membaca gerak bibir kakaknya Jendral Yuwen Huaji.
"Bukan bantuan dari pendekar Suro bersama seluruh pendekar yang mengikutinya menuju selatan. Tetapi pendekar Dewa Obat lah yang datang bersama para mantan anggota kelompok Mawar Merah."
Jawaban dari adiknya membuat Jendral Yuwen Huaji tersenyum, 'ini sebuah keajaiban, seorang Dewa Obat mau turun gunung membantu pasukan kekaisaran. Ini sebuah keajaiban..ini sebuah keajaiban..,' Jendral Yuwen Huaji lamat-lamat terus menyebutkan kalimat sebuah keajaiban, sambil memejamkan matanya.
"Benar apa yang terjadi dalam pertempuran hari ini adalah sebuah keajaiban..benar sebuah keajaiban telah datang." Membalas gumaman pelan kakaknya, Jendral Yuwen Shiji kembali teringat kepada jawaban Dewa Obat yang menyinggung tentang akan datangnya keajaiban di tengah pasukannya.
Panglima perang Kekaisaran Yang Guang itu merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan adiknya mengenai situasi pasukannya. Sebab itu artinya benteng belum jatuh ke tangan musuh.
Jendral Yuwen Shiji tidak ingin memberikan beban pikiran. Dia lalu meneruskan ucapannya, " Silahkan kakanda beristirahat, sebab Pendekar Dewa Obat mendukung pasukan kita.
Bukankah ayahanda selalu mendongengkan kepada kita tentang kekuatan Dewa Obat yang setara dengan serangan para Dewa. Dan memang cerita itu telah terbukti bukti. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat betapa dahsyatnya serangan yang dikerahkan Dewa Obat ke arah pasukan musuh.
Berkat serangan yang dia kerahkan pasukan musuh lari tunggang langgang ketakutan. Aku sangat yakin besok kita akan mampu mengusir mereka dari Negeri Atap Langit sepenuhnya. Jadi silahkan kakanda beristirahat, aku akan kembali ke atas untuk mengontrol kondisi keseluruhan pasukan."
Selain kondisi Jendral Yuwen Huaji yang mulai membaik, ditempat yang tidak begitu jauh Jendral Zhou juga mulai siuman. Luka yang terkena tombak lawan yang beracun telah mulai membaik. Begitu juga para prajurit yang terluka dan sekarat karena racun yang masuk ke dalam tubuh akhirnya dapat membaik, meski tidak dapat secepatnya langsung sembuh.
Mereka semua membutuhkan waktu minimal beberapa hari atau sekitar semingguan. Atau yang mengalami luka parah agar bisa pulih secara sempurna minimal satu purnama penuh untuk pemulihannya.
Jendral Yuwen Shiji lalu keluar dari ruangan bawah tanah, setelah berpamitan kepada kakaknya.
**
Di luar dia menemukan Dewa Obat masih sibuk mengobati para prajurit yang terluka. Pengobatan yang dilakukan Dewa Obat memang sangat ampuh memulihkan kondisi setiap prajurit.
Memang nama besarnya bukanlah isapan jempol belaka. Rumor yang menyebut tangannya seakan mampu memberikan nyawa pengganti kepada pasiennya bukan karena sebuah lelucon saja.
Sebab mereka yang hampir meninggal dalam keadaan sekarat saja bisa hidup kembali. Maka tidak salah mengapa dia mendapatkan julukan seperti itu.
Setelah selesai mengobati para prajurit yang terluka Dewa Obat bersama Jendral Yuwen Shiji berkeliling mengontrol prajurit dan juga para prajurit yang sedang berjaga.
Sesekali jendral itu menyapa kepada para pendekar dan prajurit yang berjaga dan menanyakan kondisinya.
"Benteng ini akan menjadi pertahanan terakhir dan menjadi hidup mati kami." Jendral Yuwen Shiji membuka percakapan sambil terus berjalan santai mengelilingi benteng sambil memantau keadaan sekitar dari atas benteng.
"Tetapi beberapa pasukan musuh memiliki kekuatan yang sangat kuat. Kami tidak mampu mengalahkan, karena selain kuat mereka memiliki ilmu kebal yang membuatnya begitu susah dilukai. Mereka sejenis dengan pasukan yang kita hadapi diatas udara.
"Nama ilmu itu adalah zirah iblis. Salah satu ilmu yang diperoleh dengan menggunakan jalan iblis. Tepatnya menggunakan sesuatu yang disebut benih iblis yang akan disatukan dengan jantung mereka. Salah satu cirinya adalah kulit mereka berubah menjadi hitam." Dewa Obat segera menyimpulkan setelah melihat sendiri dan mendengar penjelasan dari Jendral Yuwen Shiji barusan.
Jendral Yuwen Shiji terpana mendengar penjelasan Dewa Obat yang mengetahui rahasia kekuatan yang dimiliki musuh. Jendral Yuwen Shiji lalu bercerita tentang keberhasilan mereka membunuh pasukan itu dengan menggunakan peledak yang menyebabkan lautan api sangat besar.
"Selain dengan cara seperti yang telah kami lakukan, apakah tuan pendekar mengetahui cara lain untuk mengalahkan mereka? Tentu saja bukan dengan cara seperti serangan yang pernah pendekar perlihatkan.
Bukan juga seperti penjelasan Dewa Obat sebelumnya yang hanya menunggu datangnya keajaiban di tengah pasukanku." Jendral Yuwen Shiji kembali bertanya kepada Dewa Obat untuk mampu mengalahkan pasukan musuh. Tetapi dia menegaskan arah pertanyaannya sebelum Dewa Obat menjawab.
"Ada, tetapi sepertinya diantara pasukanmu tidak ada yang menguasainya."
"Cara apa yang sebenarnya tuan pendekar ingin katakan?"
"Tehnik perubahan api tahap hitam."
Jendral Yuwen Shiji pernah mendengar jenis perubahan api hitam itu, "seingatku hanya pendekar Naga Hitam."
"Ditambah satu lagi, yaitu muridku Suro."
"Pendekar Suro pergi menuju selatan. Setelah mendengar penjelasan kakakku Jendral Yuwen Huaji mengenai adanya benih iblis di pegunungan Longmen, dia memimpin pasukan yang bersamanya menuju gunung Longmen." Jendral Yuwen Shiji mengakhiri penjelasannya sambil menghela nafas panjang.
"Andai saja dia ada disini, tentu semua ini bukan masalah baginya," Dewa Obat menggumam pelan.
Mereka berdua terdiam sebelum kembali melanjutkan perbincangannya. Justru Jendral menikmati kesunyian malam itu sambil mendengar desir angin malam yang menghembus perlahan.
Bau anyir yang cukup pekat memenuhi udara disekitar benteng, sehingga menyadarkan kembali keadaan jiwa Jwndral Yuwen Shiji.
Malam itu bulan tidak ada sehingga gelap gulita , bahkan bintang-bintangpun tidak terlihat diatas langit.
"Kau ingin mendengar bagaimana cara mengalahkan mereka?" Dewa Obat kembali membuka suara dengan bertanya ke arah Jendral Yuwen Shiji disebelahnya.
"Benar tuan pendekar. Apakah tuan pendekar kini memiliki saran bagi pasukan kami untuk mengalahkan mereka dalam pertempuran besok?"
"Tidak, bukan dalam pertempuran besok. Rencana yang akan aaku katakan adalah dengan cara menghancurkan gudang pangan mereka. Jika mereka kehabisan bahan pangan, tentu mereka akan kembali ke negeri mereka? Mungkin itu tidak membuat mereka akan langsung angkat kaki. Tetapi pasti akan berhasil melemahkan kekuatan pasukan secara keseluruhan."
"Memang benar jika rencana itu berhasil. Tetapi bagaimana caranya kita mampu mengetahui dimana mereka menyimpan bahan makanannya?" Tatapan Jendral Yuwen Shiji menunggu jawaban dari Dewa Obat.
"Gampang, biasanya mereka menempatkan pada tenda-tenda besar. Kita hancurkan saja semua bahan makan mereka sampai tidak ada sisa."
Mata Jendral Yuwen Shiji terbelalak mendengar ucapan Dewa Obat barusan.
"Meskipun ide itu sangat cemerlang, tetapi bagaimana kita mendekatinya," ujar Jendral Yuwen Shiji dengan nada lesu.
"Siapa yang mengatakan dalam penyerangan ini ada kata kita?"
"Maksud tuan pendekar?"
"Aku sendiri yang akan menghancurkan bahan makan mereka dari atas udara. Atau memasuki perkemahan mereka dengan cara menyusup mengelabuhi mereka dengan menggunakan pakaian prajurit Goguryeo dan juga pakaian Khan Langit.
Aku melihat banyak pakaian dari pasukan musuh yang sebagian kalian simpan atau kalian bakar untuk perapian."
"Ha...maksud tuan pendekar akan menyerang perkemahan musuh langsung sendirian?" Jendral Yuwen Shiji masih kurang jelas dengan ucapan Dewa Obat yang terdengar gila.
" Sebenarnya bukan benar-benar sendiri. Pada bagian untuk menghancurkan tenda bahan makanan memang dapat aku lakukan sendiri. Tetapi aku masih memerlukan bantuan pasukan pemanah milikmu untuk mengalihkan perhatian.
Mereka akan menyerang dari beberapa sudut luar dari perkemahan. Sehingga musuh menyangka kita hendak mengepung seluruh perkemahan mereka.
Aku tidak ingin ada korban. Karena itu pasukan pendukungku haruslah mereka yang sudah setara dengan pendekar tingkat langit. Mereka nantinya setelah memberikan serangan langsung berpindah tempat dengan cepat. Terutama mereka adalah seseorang ahli pemanah. Jumlah pasukan pendukung yang aku perlukan juga tidak lebih dari dua puluh orang saja.
Jika Jendral mendengar dan melihat ledakan api di perkemahan musuh, berarti serangan telah dimulai. Di saat itulah aku akan mulai masuk dan menyerang dari dalam."