SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 104 PERTEMPURAN MELAWAN PASUKAN MEDUSA



"Ketiwasan ketua! Ketiwasan!"


"Ketiwasan kenapa kakang Baurekso? Keringat kalian sampai bercucuran seperti itu, memangnya kalian habis dikejar apa? Selain itu, mengapa kalian begitu lama mengejar siluman api? Untung saja para tetua lain segera tanggap dan ikut membantu menjaga sisi utara yang telah kalian tinggalkan."


"Mohon maaf ketua mengenai pengejaran kami yang membuat penjagaan di bagian utara sedikit berkurang. Karena kami harus memastikan kembali kekuatan jurus Tebasan Sejuta Pedang mampu membunuh para siluman atau tidak? Karena itulah kami mengejar mereka, para siluman api yang berusaha kabur. Tidak bisa aku biarkan para siluman itu tetap hidup setelah menghancurkan perguruan ini. Selain itu dengan tindakan kami mengejar siluman sampai dihutan larangan, justru tanpa sengaja kami mengetahui sesuatu yang sangat menghawatirkan yang ketua harus mengetahuinya secepatnya."


"Mengenai apa itu kakang Baurekso sepertinya sangat wigati?" Mendengar perkataan Eyang Baurekso dia menjadi begitu antusias tanpa sadar wajahnya mendekat ke lawan bicaranya.


"Saat kami mengejar siluman api yang terbang begitu cepat, tanpa sadar ternyata kita sudah melangkahkan kaki begitu jauh dari perguruan. Kami sampai di hutan larangan sebelah timur dari daerah kembang ini."


"Dari kejadian itu justru tanpa sengaja kami menemukan markas tempat berkumpulnya para siluman yang selama ini menyerang perguruan kita. Kemungkinan mereka sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan serangan yang lebih besar. Hal itu diperkuat dengan temuan kami berikutnya, yaitu iring-iringan pasukan yang memakai bendera milik Medusa. Pasukan itu kami lihat memenuhi sepanjang jalan dari arah kota Kadipaten Banyu Kuning ke daerah Kembang sini ketua. Kemungkinan mereka semua akan melakukan serangan besar-besaran ke arah perguruan ini. ." Eyang Baurekso berhenti sebentar untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


Eyang Baurekso kembali bercerita dan menjelaskan sedetail mungkin mengenai fakta yang baru saja dia temukan. Panjang lebar dia bercerita tentang semua yang dia temui barusan. Dewa Pedang terperanjat mendengar cerita Eyang Baurekso.


"Ini benar-benar gawat! Yang aku khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi. Medusa akan menyerang perguruan ini sebelum datang pasukan Kalingga yang bisa membantu kita. Umumkan pada semua untuk persiapan perang!"


Segera setelah perintah dari sang ketua perguruan keluar, maka semua orang langsung sibuk dengan persiapan peperangan yang sebentar lagi akan terjadi.


Tetua Datuk Rajo Mustiko menerka seluruh kekuatan yang berada dibawah bendera Medusa yang sedang dalam perjalanan ke daerah Kembang, jumlah kekuatan pasukan yang dimiliki lebih banyak dibandingkan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki Perguruan Pedang Surga.


Kekuatan musuh yang sebanyak itu, belum digabungkan dengan para siluman yang jumlahnya tidak diketahui. Dengan kondisi itu tentu sesuatu yang sangat berat mampu mengalahkan kekuatan musuh. Meskipun keberadaan para tetua yang sangat banyak menjadi nilai tambah kekuatan Perguruan Pedang Surga. Karena mereka semua adalah para pendekar yang telah sampai pada tingkat shakti.


Semua pasukan dari Perguruan Pedang Surga sudah bersiap perang. Setiap sisi dari Perguruan Pedang Halilintar telah dijaga lebih ketat. Serangan siluman yang sempat menyerang begitu gencar secara tiba-tiba menghilang, sehingga mereka bisa lebih leluasa mempersiapkan segala pertahanan yang ada.


"Peperangan kali ini kita akan melawan pasukan bukan hanya dari bangsa manusia, tetapi dari bangsa siluman yang sudah menyerang kita sejak kita berhasil mengusir pasukan Medusa dari Perguruan Pedang Halilintar ini." Dewa Pedang mulai memberikan rencana persiapan perang kepada para tetua dan juga para murid utama yang akan menjadi ujung tombak kekuatan Perguruan Pedang Surga.


"Pasukan siluman akan dihadapi para tetua yang kekuatannya bisa mengimbangi kekuatan para siluman. Pada serangan pertama sebaiknya kita menggunakan jurus terkuat kita dengan kekuatan penuh. Semoga dengan itu akan mengurangi jumlah musuh secara signifikan."


"Sebisa mungkin kita mengurangi jumlah musuh saat mereka masih berada diluar lingkup perguruan. Selama mereka masih berada diluar tembok perguruan maka para tetua dapat menghancurkan barisan musuh dengan jurus Tebasan Sejuta Pedang. Bagi murid utama kalian bisa ikut menghancurkan barisan musuh dengan jurus seribu pedang menyatu."


"Sebisa mungkin semua tetap dalam barisan, sehingga kita bisa mempertahankan perguruan ini. Jangan biarkan para anggota perguruan terpancing untuk keluar dari lingkup tembok perguruan ini. Kecuali para tetua yang akan menghadapi para musuh yang ingin menerobos pertahanan dapat menghentikannya, tetapi jika itu sudah dalam kondisi sangat gawat saja."


Dewa Pedang memberikan perintah mengenai rencana dan langkah-langkah untuk mempertahankan Perguruan Pedang Halilintar dari serangan pasukan Medusa Hitam dan juga serangan dari para siluman.


Setiap sisi perguruan dijaga para tetua dan anggota perguruan yang dibagi menjadi empat bagian yang diwakili oleh para tetua yang terpilih. Sebelah barat Dewi Anggini yang bertugas menjaga pertahanan perguruan dengan mendapatkan bantuan dari tetua lainnya. Disebelah utara Eyang Baurekso yang menjadi memimpin pasukan disana. Di sebelah timur Eyang Kaliki dan disebelah selatan Tetua La Patiganna yang memimpin puluhan tetua lainnya. Dibagian selatan diperkuat dengan begitu banyak tetua, karena kemungkinan musuh datang dari arah selatan. Seperti yang telah dikabarkan Eyang Baurekso dan empat tetua lainnya yang telah melihat iring-iringan pasukan.


Mereka menunggu kedatangan pasukan musuh dengan penuh rasa was-was. Hal yang meringankan tugas mereka adalah para wanita dan anak-anak yang berada di perguruan telah diungsikan sejak serangan Medusa pertama kali. Sehingga dengan itu mereka sedikit banyak berkurang dengan beban yang mereka tanggung.


Mereka menunggu kedatangan pasukan musuh yang hingga matahari sudah terik. Saat matahari hampir diatas kepala suara barisan pasukan mulai terdengar dari jauh. Dan benar pasukan musuh sesuai yang telah diperkirakan datang dari arah selatan.


"Mana kepala Dewa Pedang? Aku menginginkan kepalanya, jika kalian mampu memberikan kepala Dewa Pedang akan aku ampuni hidup kalian! Jika tidak, maka hari ini adalah hari terakhir kalian melihat langit. Hahahahaha...!"


Sebuah suara keras yang dilambari kekuatan tenaga dalam tingkat shakti memecah kesunyian. Suara itu adalah milik seseorang yang memiliki rambut berupa ular dia adalah Ratu Ular Medusa Hitam. Suara yang mengelegar itu berasal dari tempat yang cukup jauh dari Perguruan Pedang Surga, tetapi dia mengirimkan suara itu seolah telah mendekati mereka.


Setelah suara mengelegar itu berhenti puluhan kelebatan manusia bergerak cepat menuju Perguruan Pedang Halilintar. Entah mengapa orang-orang yang bergerak cepat itu mendahului iring-iringan pasukan yang masih jauh dibelakangnya.


"Hati-hati kalian semua musuh berkekuatan tinggi sedang mendekat!" Dewa Pedang yang merasakan puluhan orang dengan kekuatan tingkat shakti segera waspada. Dia sudah bersiap jika sewaktu-waktu harus melancarkan serangan. Dibelakangnya para tetua sudah dalam posisi siaga begitu merasakan pancaran kekuatan yang semakin mendekat.


Mendadak terlihat penampakan selarik kekuatan beraura hitam menghajar cepat ke arah Perguruan Pedang Halilintar. Dewa Pedang terkejut menyaksikan kekuatan begitu besar. Dia merasa mengenali kekuatan yang menerjang ke arahnya itu. Seseorang tokoh aliran hitam yang sangat terkenal, berasal dari negeri yang sangat jauh dibarat sana sebuah negeri yang bernama Bharata atau juga negeri Hindustan.


Sebelum serangan itu mendekati dinding perguruan Dewa Pedang telah meloncat tinggi memapak serangan musuh seorang diri. Kekuatan tahap Dewa Pedang miliknya segera dia kerahkan untuk menangkis kekuatan lawan. Dia menggunakan kekuatan tahap Pedang Dewa, Karena dia tau siapa tokoh dibalik serangan yang begitu mengerikan.


Duuuuum!


Dua buah kekuatan beradu di udara membuat gelombang kejut yang luar biasa kuat. Larik kekuatan hitam yang menyerupai seribu pedang menyatu segera dihantam Jurus Tebasan Sejuta Pedang.


Beruntung adu kekuatan itu berlangsung diudara diluar dinding perguruan. Sehingga tidak ada yang terluka akibat hempasan dua kekuatan besar itu. Walaupun begitu dua kekuatan yang beradu itu menghasilkan sebuah hempasan angin yang begitu kuat seakan sebuah badai sedang menerjang.


"Jadi ini kekuatan Dewa Pedang yang tersohor itu. Tidak rugi aku jauh-jauh datang dari Bharata, ternyata lawan yang aku hadapi sepertinya mampu menghapus dahagaku dengan pertarungan yang sejak lama tidak aku rasakan lagi. Aku sungguh sangat bergairah sekali hari ini. Hahahahah...!"


"Pedang iblis!" Dewa Pedang segera mengenali lelaki yang menggunakan pedang berwarna hitam itu. Dia adalah tokoh dari negeri Bharata. Dia dikenal sebagai Pedang Iblis. Biasanya dia bersama tujuh anak buahnya yang setia. Kekuatan mereka juga sama-sama mengerikan. Mereka memiliki panggilan yang begitu terkenal tak kalah dengan junjungannya, yaitu Tujuh pedang sesat.