SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 28 Serangan Gabungan



"Minggir! Bahaya! Cepat menjauh! Cepat kalian semua menjauh secepatnya!"


Suara teriakan dari Dewa Pedang mengema menyadarkan mereka semua dari guyuran daging dan darah dari atas mereka. Mereka tak menyadari bahaya apa, tetapi segera mereka melarikan kuda secepat yang mereka bisa.


Guyuran darah dan daging yang berjatuhan dari langit membentuk bukit daging. Bau amis menyebar seiring darah yang membanjiri area tumpukan daging.


Mereka semua merasakan kengerian setelah melihat kedahsyatan jurus yang barusan dikeluarkan Dewa Pedang. Bahkan Dewa Pedang sendiri merasakan keterkejutan. Dia tidak menyangka potensi jurus yang diciptakan Suro Bledek sungguh luar biasa.


"Maharesi! Lihatlah jurus dari ciptaan muridmu! Bahkan aku tidak menyangka sebegitu dahsyatnya jurus ini!"


Semua orang yang mendengar ucapan Dewa Pedang terkejut mendengar jurus yang digunakannya barusan adalah ciptaan murid Eyang Sindurogo.


"Aku Dewa Pedang hari ini benar-benar mengakui muridmu bisa menjadi kartu shakti kemenangan pertempuran kali ini."


Maharesi Eyang Sindurogo hanya tersenyum mendengar perkataan Dewa Pedang.


Setelah ucapan Dewa Pedang berakhir tumpukan daging yang mengunung tiba-tiba bergerak secara acak. Seakan seperti dikomando setiap daging memiliki peran masing-masing secara cepat membentuk kembali wujud Monster Naga raksasa yang menjulang tinggi seakan gunung.


"Blaar!"


Saat kepalanya telah pulih semburan api segera menghantam kearah mereka. Tetapi sebelum api itu mengenai mereka sebuah dinding tanah menjulang tinggi muncul secara cepat menahan serangan semburan api.


"Bldaar!"


Segera ekor Naga menghantam dinding tanah dengan keras. Hantaman itu begitu keras, sehingga membuat sebuah ledakan yang menghancurkan dinding tanah.


"Blaar!"


Seberkas sinar menerjang tubuh monster dari jari telunjuk Eyang Sindurogo memotong secara horisontal membelah tubuh itu menjadi dua bagian.


"Eyang Raga Dewa hantam badan bagian atas biar muridku yang mengurus setengah tubuhnya! Dia akan menengelamkan setengah tubuhnya!" Eyang Sindurogo memerintahkan sambil memotong monster.


"Pukulan Penghancur Gunung!"


"Duuum!"


Pukulan keras dari Eyang Raga Dewa segera memisahkan tubuh rhaksasa sebesar gunung itu terpisah sejauh tiga tombak.


"Kraak! Kraak!"


Seiring serangan Eyang Raga Dewa tiba-tiba sebuah tangan rhaksasa dari batu muncul dari dalam bumi langsung mencengkram dan mencoba menarik tubuh bagian bawah monster itu masuk kedalam tanah.


"Tebasan Sejuta Pedang!"


"Blaaar!"


Secara bersamaan dengan jurus yang sama Eyang Sindurogo dan Dewa Pedang menghajar tubuh bagian atas. Perbedaannya terletak pada pedang yang digunakan. Eyang Sindurogo mengunakan pedang berupa selarik sinar dari jurus kedua dari Tapak Dewa Matahari.


Efek dari serangan itu sungguh mengerikan seakan tubuh monster itu menjadi bubur langsung lumer membanjiri daratan dibawah kaki bukit.


Pasukan elit dari tiga kerajaan seakan melihat sebuah pertarungan para monster. Karena begitu mengerikannya setiap serangan yang mereka lancarkan. Kekuatan yang mereka perlihatkan terlalu dahsyat seakan bukan milik manusia. Mereka merasa ciut melihat peran mereka hanya menjadi beban dan hanya mempersulit langkah para Pendekar besar. Sebab disatu sisi mereka menyerang satu sisi lainnya memikirkan keselamatan mereka.


"Kraak! Kraak!"


Tangan-tangan batu rhaksasa yang mencoba menengelamkan tubuh bagian bawah monster hancur berkeping-keping. Ternyata tubuh bagian bawah menolak ditarik kedalam tanah dan memberikan perlawanan.


Seiring serangan Eyang Raga Dewa, Suro mengeluarkan varian jurus dari ilmu Membelah Benua. Setelah penampakan tangan rhaksasa tak mampu menahan setengah badan monster. Sebuah Naga bumi terbuat dari unsur tanah mengeliat muncul dari kedalaman bumi membelah daratan persis dibawah tubuh monster rhaksasa.


Ular rhaksasa itu sungguh luar biasa besarnya, lebarnya lebih dari dua puluh tombak. Entah berapa panjang sebagian tubuhnya masih berada didalam tanah.


Naga dari tanah itu langsung melilit tubuh monster bagian bawah, menarik setengah tubuh monster itu masuk kedalam tanah. Suro berusaha memisahkan dengan tubuh bagian atas yang mencoba menyatu kembali.


Tubuh bagian bawah monster perlahan-lahan amblas semakin dalam masuk kedalam tanah. Tubuh bagian atas yang berupa bubur membanjiri hamparan daratan sebelum akhirnya keanehan timbul.


Saat tubuh bagian bawah sudah sepenuhnya masuk kedalam tanah setelah tak berdaya dibelit ular rhaksasa dengan kuat, hamparan bubur daging tubuh bagian atas menyusul masuk kedalam tanah.


"Braaak! Kraaak!"


Sejurus kemudian tanah terangkat dan membelah cukup lebar menampakkan wujud monster naga yang telah kembali pulih.


"Blaaaar! Blaaar! Blaaar!"


Semburan api melabrak ke arah para pendekar yang kemudian dihentikan Suro dengan dinding-dinding tanah dengan begitu megah dan kokohnya. Dinding itu naik turun Silih berganti menghadang setiap semburan api yang begitu ganas.


Kemudian monster itu mulai mengepakan sayapnya menghentak udara dengan kencang menimbulkan angin badai yang luar biasa kuat. kemudian terbentuklah angin tornado yang mengulung kearah mereka.


Saat mereka disibukkan dengan angin tornado yang tiba-tiba muncul, saat itulah monster itu mencoba kabur. Monster itu terbang menjauh secepat yang dia bisa. Kemungkinan dia ketakutan dengan serangan dahsyat yang mengenainya berkali-kali. Walaupun tidak membuatnya mati tapi tetap saja membuat monster itu ketakutan.


Saat monster itu mulai naik keangkasa sesosok tubuh melesat dengan cepat dan menaiki tubuh monster ikut melesat kelangit.


Sejurus kemudian langit yang awalnya cerah tiba-tiba dengan cepat terbentuk awan hitam menyelimuti monster yang mulai menghilang dibalik awan. Hantaman petir silih berganti seakan hujan akan turun


"Bldaaar! Bldaaar! Bldaaar!"


Awan hitam dilangit segera tergulung membentuk sebuah putaran tornado mengerikan yang tiba-tiba terbentuk diatas tubuh monster. Pusaran tornado itu sangat besar dan diselimuti petir yang tak terhitung jumlahnya. Seakan tak ada habisnya menyambar silih berganti berderet-deret sampai ke pangkal dari tornado. Di pangkal tornado yang semakin mengecil pusaran anginnya telah terbentuk sebuah bola api raksasa yang dikendalikan sesosok manusia yang tadi menyusul menaiki tubuh monster. Tentu saja dia adalah Eyang Sindurogo yang mampu mengendalikan cuaca dengan begitu cepat.


Kekuatan tornado yang sangat besar seakan menahan laju terbang dari monster naga. Dari kejauhan tornado itu bergulung-gulung mengikuti monster yang terbang dan pusat tornado berada persis diatas tubuhnya.


Pemandangan yang terlihat diangkasa sangat mengerikan dan mengagumkan. Mereka semua tidak menyadari kekuatan seperti apa yang mampu mengendalikan sebuah tornado dan petir yang begitu hebatnya. Sebelum sebuah teriakan menggelegar diangkasa menyadarkan mereka semua.


"Jurus Tapak Dewa Turun Dari Langit!"


Tornado yang bergulung diiringi petir yang silih berganti seakan membentuk tubuh naga petir dan seberkas bola raksasa yang terbentuk seolah kepala naga. Bola api menghantam keras ketubuh monster yang berada dibawahnya. Kemudian diikuti rentetan petir yang berada dibelakangnya.


"BUUUUUUM!"


Tubuh raksasa itu meluncur kebawah dengan cepat. Hantaman pukulan jurus ketiga dari Tapak Dewa Matahari sungguh dahsyat. Sebelum tubuh monster itu meledak seluruh tubuh monster diselimuti api biru yang berkobar dengan hebat.


Dentuman halilintar yang mengikuti dibelakang tapak, menghancurkan tubuh itu. Bagian tubuh yang meledak bertebaran menyebar keseluruh area dibawahnya. Bahkan sebagian besar masih dibungkus api biru yang berkobar. Membuat penampakan seakan sebuah hujan meteor yang jatuh dari langit.


"Duuuuuum!"


Dari kejauhan terlihat tubuh monster yang tak hancur menghantam tanah dengan keras. Tubuh monster bagian atas yang tak hancur jatuh di area persawahan menghasilkan lubang seperti kawah. Hantaman tubuh monster itu menghasilkan gempa bumi lokal mencapai jarak kira-kira 500 tombak.


Bagian tubuh monster yang hancur meledak dilangit menyebar hampir 1000 tombak. Sesuatu hal yang sangat tidak mungkin monster itu bisa menyatukan kembali tubuhnya.


Jarak monster jatuh dari tempat Suro berada lebih dari 400 tombak. Mereka semua segera mengejar kearah monster itu jatuh.


Dilangit Eyang Sindurogo dengan gagah menatap buruannya berjaga-jaga jika monster itu mencoba kembali kabur.