
Setelah memanggil Naga Bumi, Suro juga memanggil Astra senjata gaib miliknya. Dia memanggil Gandewa Wijaya. Dia teringat pertarungan Dewa Obat melawan Geho Sama.
Dengan anak panah chakra Geho Sama tidak mampu menghindari setiap serangan yang menghujaninya. Tetapi sebelum menggunakan gandewa ditangannya dia lebih dulu memberikan Pedang Kristal Dewa kepada Geho Sama. Sebab dia melihat ada pendekar yang berhasil dihabisi makhluk menyerupai serigala raksasa penjelmaan Braholo.
"Geho Sama gunakan pedangku lindungi mereka!" Suro melemparkan pedang miliknya sambil kembali mengerahkan jurus Langkah Maya.
Sebab saat itu serangan dari Karuru yang berasal dari Pusaka Kunci Langit kembali bertambah. Sebuah penampakan semacam kepala raksasa kembali hendak menelan dirinya.
Naga bumi yang dia panggil terus mengejar Karuru, meskipun Karuru dapat selalu meloloskan diri, tetapi itu memang bukan tujuan utama. Sebab dia hanya ingin membuat musuh dibuat sibuk oleh Naga Bumi yang dia panggil.
Setelah itu dia mulai menggunakan Gandewa Wijaya. Pada awalnya Karuru tidak memperdulikan serangan Suro yang berupa anak panah bercahaya. Tetapi dia segera menyadari serangan panah yang dikerahkan Suro tidak seperti serangan panah biasa.
Setelah berusaha menghindari menggunakan jurus Lipat Bumi anak panah itu masih mengejar dirinya. Tetapi dia mensiasati dengan memecah tubuhnya menggunakan tubuh palsu.
Berkali-kali serangan anak panah chakra mengenai tubuh palsu dari Karuru.
"Jurus seperti ini hendak digunakan untuk membunuhku? Kau terlalu bermimpi! Matilah kau anak manusia!"
Wuuus...
Wuuus...
Goooaaaarrrr....
Angin hempasan pusaka Kunci Langit yang melabrak ke arah Suro langsung membentuk kepala- kepala iblis. Jumlahnya bukan hanya satu tetapi sangat banyak.
Suro mengetahui jika semua wujud kepala iblis itu mampu melumatkan benda apapun yang terkena. Kembali Suro menghindari dengan menggunakan Langkah Maya.
Dia lalu menyimpan Gandewa Wijaya miliknya kemudian menghilang dari genggamannya. Apalagi setelah menghindar, ternyata wujud kepala iblis yang melesat itu tetap mampu mengejar dirinya.
Suro mencari lain agar mampu menghabisi musuh dengan cepat. Beberapa serangan yang dia kerahkan tidak berhasil membunuhnya. Dia akhirnya memilih menyerang Karuru dengan menggunakan tehnik perubahan api tahap hitam yang berwujud kepala Serigala berkepala tiga.
"Serigala Neraka!"
Karuru mendengus kesal melihat semua kepala iblis yang dibentuk dari aura sesat dan kabut beracun dari pusaka kunci Langit mikiknya tidak juga berhasil membunuh lawannya.
Belum selesai dengan kekesalannya Suro kembali melesatkan kobaran api tahap hitam bersama pukulan jarak jauh yang dia kerahkan.
Tidak seperti Naga Bumi yang mampu dia hindari dengan mudah. Kobaran api tahap hitam menerjang ke arah Karuru dalam jumlah yang sangat banyak. Suro kali ini memilih menghabisi musuh secepatnya, dengan itu dia dapat merebut pusaka iblis Kunci Langit.
Begitu banyaknya kobaran api yang menyerang, kali ini Karuru dibuat kalang kabut, selagi dirinya terus menghindari Naga Bumi yang mengejar, dia juga harus menghindari tehnik perubahan api milik Suro.
"Kurang ajar, kau benar-benar membuatku murka! Kau akan aku habisi!"
"Siluman blekok, sedari awal kau mengatakan hal itu berulang-ulang! Apa hanya itu saja kata-kata yang bisa kau ucapkan?"
Karuru lalu membuat segel sambil melesat menghindari serangan. Setelah itu...
Buuuum...
Ledakan asap mengepul dengan sangat pekatnya dari sekitar tubuh Karuru. Setelah itu muncul belasan tubuh Karuru.
Sebab semua tubuh palsunya itu memiliki sumber chakra dalam tubuhnya, sehingga nyaris tidak ada bedanya dengan tubuh asli.
'Gawat, mana dari sekian tubuh asli Karuru?' batin Suro sambil membentuk mudra, dia lalu memanggil penjaga gaib miliknya.
Suro akhirnya terpaksa akan menghadapi seluruh pecahan tubuh Karuru. Dia tidak akan melepaskan satupun dari mereka.
"Ini mungkin tidak akan berjalan dengan mudah, tetapi kalian berempat Purbangkara, Tirtanata, Warudijaya, Sinotobrata jangan pernah melepaskan satu pun dari mereka.
Tubuh penjaga gaib mikik Suro pada awalnya berbentuk mirip dengan Suro. Tetapi beberapa dari mereka berubah wujud dengan bentuk sempurna mereka.
Tirtanata telah berubah wujud menjadi seekor naga biru. Dia adalah penguasa unsur air dan segala perubahannya. Termasuk unsur racun dan juga es.
Dia segera membentuk gelombang air lalu berputar mengilas beberapa tubuh Karuru yang tersedot dalam putaran itu dan di bekukan dengan menjadi bongkahan es abadi.
Setelah itu tebasan pedang air melesat menghujani tubuh Karuru yang telah terperangkap dalam kebekuan es abadi. Tubuh palsu Karuru menghilang bersama hancurnya bongkahan es. Suro segera menyadari jika tubuh lawan yang dihabisi Tirtana itu adalah tubuh palsu.
Purbangkara juga berubah, sekujur tubuhnya diselimuti api. Dia mengerahkan tehnik perubahan api dahsyat. Berkat serangannya itu berhasil membumi hanguskan beberapa tubuh Karuru.
Seperti juga yang dilakukan Tirtanata, semua tubuh milik lawan yang ditangkap atau dihabisi penjaga gaib milik Suro ternyata semuanya palsu. Begitu juga yang terjadi pada Warudijaya dan Sinotobrata. Mereka memang mampu menghabisi belasan tubuh Karuru, tetapi tidak menemukan musuhnya.
Keempat penjaga gaib miliknya segera dia tarik semua setelah tubuh palsu musuh berhasil dikalahkan semua.
"Kurang ajar bagaimana aku tidak menyadarinya!" Suro segera memahami, jika musuhnya telah pergi sejak tadi. Kemungkinan dia menghilang dengan menggunakan jurus lipat bumi saat ledakan asap putih yang begitu pekat.
Suro lalu mengerahkan tehnik empat Sage untuk mencari keberadaan musuhnya. Pandangannya juga menyapu keseluruh area. Tetapi dia tidak lagi menemukan keberadaan musuh disekitaran goa.
Dia juga tidak menemukan keberadaan pasukan Goguryeo dan Khan Langit yang diperintahkan mundur oleh Karuru dan masuk ke dalam lorong sebelah kanan. Meskipun lorong itu sangat gelap, Suro mampu merasakan jika dilorong itu tidak ada satupun makhluk berada di sana.
Entah bagaimana kemungkinannya hanya satu, yaitu mereka telah berpindah tempat menggunakan gerbang gaib dan dikirim ke tempat yang jauh.
"Dia belum terlalu lama, seharusnya aku dapat menyusulnya," Suro berdecak kesal menyadari Ryoichiro Soga alias Karuru telah pergi.
Dia segera mengerahkan tehnik empat Sage, tetapi tehnik yang dia kerahkan sedikit berbeda. Sebab tehnik yang dia gunakan adalah untuk mendeteksi posisi lawannya.
"Ketemu," Suro kali ini dapat begitu yakin mampu menemukan lawannya karena belum lama, sehingga masih memiliki kesempatan dapat menemukan keberadaan lawannya.
"Geho Sama aku akan mengejar Karuru, sebelum terlambat!" Tanpa menunggu jawaban Suro lalu mengerahkan jurus Langkah Maya lalu menghilang.
Geho Sama tidak sempat menjawab, karena saat itu memang dia sedang berupaya menghabisi makhluk mirip Serigala yang merupakan jelmaan para Braholo.
Dia tidak berani menggunakan tehnik empat Sage secara penuh, sebab itu dapat mencelakai para pendekar yang lain.
Beruntung Lodra membantu dirinya menghadapi para Braholo. Api hitam yang di lontarkan dari bilah pedang itu terus membakar para wujud berbentuk serigala besar.
Melihat Suro telah pergi Geho Sama menjadi khawatir atas keselamatan Suro. Tentu saja dia sangat khawatir sebab dia mengenal Karuru dengan baik. Makhluk itu sepengetahuan dirinya sangat licik dan penuh dengan tipu daya.
"Kita harus mengejar bocah gendeng itu tuan Lodra, cepat kerahkan kekuatan terkuatmu! Segera gunakan kekuatanku, aku tidak peduli seberapa banyak kau menyerap tenaga dalamku!"