
“Jika kita bawa dia kembali ke alam manusia, maka itu akan menjadi bencana yang jauh lebih merusak dibandingkan apa yang terjadi disini,” ucap lanjut Suro yang terus memandangi kondisi kepala dari Dewa Kegelapan yang terus berusaha lepas dari kerangkeng cahaya.
“Bencana besar?” ucap Geho Sama sambil mengerutkan keningnya, “bukankah disana nanti dia tidak akan mampu menyerap aura kegelapan lagi tidak seperti disini yang sangat melimpah?” tanya Geho Sama masih tidak paham dengan perkatan Suro.
“Memang benar apa yang kau katakan Geho Sama, namun apakah kau tidak ingat, jika Dewa Kegelapan ini juga menguasai kekuatan yang mampu menyerap unsur lain. Jadi bisa kau bayangkan kehancuran apa yang terjadi saat dia kita bawa ke alam manusia?”
Perkataan Suro seperti sebuah petir yang menyambar pemahaman Geho Sama dan dia kini mengerti mengapa Suro membawa pertempuran ke alam kegelapan, karena dia sudah memperhitungkan langkah terakhir yang akan diambil oleh Dewa Kegelapan, yaitu menghancurkan alam manusia sehancur-hancurnya.
“Kini aku mengerti dengan pemikiran tuan, lalu tindakan apa selanjutnya yang akan tuan lakukan, tidak mungkin bukan, jika tuan akan menunggu terus Dewa Kegelapan dan bertahan disini untuk selama lamanya?” tanya khawatir Geho Sama.
“Itu yang akan aku lakukan, jika tidak aku lakukan, maka setiap kali Dewa Kegelapan hendak menelan matahari dan bulan tidak akan ada yang menghentikan. Jika itu terjadi, maka alam kita juga akan hancur dan memusnahkan seluruh umat manusia,” ujar Suro dengan sangat yakin.
“Jika seperti itu, maka aku akan ikut berjaga disini bersama tuan,” sahut Geho Sama.
“Tidak, engkau harus kembali ke alam manusia, karena aku punya tugas bagimu untuk membantuku,” balas Suro sambil memandang ke arah kerangkeng yang memenjarakan Dewa Kegelapan. Makhluk itu terus mengerang penuh kesakitan karena kerangkeng yang memenjarakan dirinya seperti ribuan pedang yang berusaha mencacahnya.
Hanya saja begulung gulung aura kegelapan terus berusaha ditarik oelh Dewa Kegelapan agar bisa masuk ke dalam kerangkeng. Saat itulah Suro menghentilkan aksi Dewa Kegelapan dengan mengerahkan kekuatan mustika kegelapan, sehingga aura yang hendak menuju Dewa Kegelapan berkurang drastis.
“Makhluk itu sungguh keras kepala dan memilih tetap hidup, meskipun disiksa sepanjang waktu seperti ini,” ucap Suro sambil menggelengkan kepala.
Pandangan Geho Sama sempat berpindah ke arah Dewa Kegelapan yang hanya tinggal kepala dengan ukuran melebihi ukuran bulan sekalipun. Begitu besarnya ukuran kepala makhluk itu sehingga gerungannya sangat menakutkan seperti langit hendak runtuh.
“Bisa dijelaskan kepadaku lebih terang dengan tujuan tuan yang mengirimku kembali ke alam manusia, sedangkan tuan sendiri tetap berada disini?”
“Karena kita juga harus menghentikan pasukan kegelapan yang sedang mengamuk menyerang pasukan yang dipimpin Eyang Sindurogo,” ucap Suro sambil tersenyum.
“Jika hanya mengandalkan diriku, aku yakin pasukan kegelapan itu akan sulit aku musnahkan.”
“Jangan khawatir Geho Sama aku memang ada disini. Karena Mustika kekuatan kegelapan yang kini bersamaku akan meracuni dunia manusia. Meskipun begitu jangan khawatir, eksistensiku akan ikut bersamamu.”
“Eksistensi tuan akan ikut denganku?” tanya Geho Sama sambil mengernyitkan dahinya.
“Kau akan tahu setelah sampai disana, karena aku tahu yang sedang direncanakan oleh Dewa Kegelapan ini. Dia akan terus berusaha menghancurkan alam manusia apapun caranya. Salah satunya adalah dengan tipu dayanya membuat para manusia saling berselisih dan tentu itu akan membuat mereka saling menghancurkan dirinya sendiri.”
“Bagaimana caranya?” tanya Geho Sama dengan kebingungan, sebab saat ini secara nyata Dewa Kegelapan masih berada disini dan hanya tinggal kepalanya saja.
“Jika sepereti itu yang terjadi aku tidak membantah, meskipun ini sesuatu yang sulit aku terima dengan membiarkan tuan berada disini sendirian.”
“Tidak mengapa, meskipun aku disini kesadaranku bisa berada diamanapun. Mengenai apa yang terjadi beberapa hal sebaiknya hanya Eyang guru Sindurogo yang mengetahuinya,” ucap Suro mengakhiri penjelasannya.
Segera setelah itu Geho Sama membuka gerbang gaib. Meskipun dengan berat hati, tetapi akhirnya dia tetap pergi dari alam kegelapan. Dia langsung muncul di atas Gunung Mahameru dengan sebuah cahaya yang teramat menyilaukan mata ditelapak tangannya.
Cahaya teramat terang itu membuat semua orang yang ada dalam radius puluhan kilometer pun melihatnya. Karena keadaan saat itu sekitaran Gunung Mahameru yang sedang meletus itu penuh gelap gulita.
“Tidak aku sangka, hanya eksistensinya saja kekuatannya jauh melampaui diriku,” gumam Geho Sama sambil menatap ke arah cahaya terang sambil menunggu sesuatu terjadi pada eksistensi Suro yang kini melayang di depannya.
Dia tidak mengetahui hal apa yang akan terjadi dengan eksistensi Suro, sebab dia tidak dijelaskan secara terperinci. Kini dia memilih menunggu sesuatu keajaiban apa yang akan diperlihatkan kepadanya.
“Apa yang akan kau rencanakan Tuan Suro kembali ke sini hanya dengan eksistensimu saja?” gumam Geho Sama dengan penuh tanya.
Beberapa saat kemudian sesosok manusia melesat cepat ke arahnya yang segera disadari oleh Geho Sama sebagai Eyang Sindurogo. Terlihat lelaki yang tidak juga bertambah usianya itu menatap ke arah Geho Sama dan beberapa kali mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu.
“Dimana muridku berada Geho Sama?” tanya Eyang Sindurogo sambil menatap ke arah cahaya yang begitu terang di depan Geho Sama. Sebenarnya karena keberadaan cahaya yang teramat terang itulah membuat Eyang Sindurogo memilih meninggalkan pertempuran yang masih berkecamuk.
Melihat cahaya yang teramat terang itu membuat rasa khawatir atas keselamatan Suro mendadak muncul. Selain itu dia sebagai pemimpin pasukan pendekar merasa bertanggung jawab untuk memastikan dan menghentikan, jika ada hal buruk lain datang.
Selain itu dia begitu khawatir ketika Geho Sama yang sebelumnya bertempur disampingnya mendadak berpamitan kepadanya karena diminta bantuan oleh Suro. Semenjak itu dia tidak melihatnya. Setelah itu semua
pendekar juga tidak lagi melihat pertempuran yang terjadi antara Suro dan Dewa Kegelapan.
Oleh karena itu begitu dia merasakan aura kekutan Geho Sama muncul di dekat cahaya terang tersebut membuat Eyang Sindurogo bergegas melesat. Selain itu secara naluri dia seperti merasakan keberadaan Suro, meskipun itu terasa aneh, karena dia juga merasakan adanya kekuatan Kegelapan di dalamnya.
“Geho Sama, diaman muridku Suro?” tanya kembali Eyang Sindurogo yang berubah cemas setelah tidak melihat keberadaan Suro di manapun. Bahkan setelah mengerahkan kekuatannya untuk merasakan aura yang dimiliki Suro dia tetap tidak berhasil menemukannya, meskipun sudah sedemikian jauh.
Geho Sama tidak segera menjawab matanya menatap kondisi tubuh Eyang Sindurogo yang begitu buruk. Hal itu menandakan pertempuran yang terjadi antara pasukan pendekar melawan pasukan kegelapan begitu dahsyatnya.
“Aku jelaskan nanti dimana Tuan Suro, tetapi tunggulah sebentar,” sahut Geho Sama yang mulai merasakan ada sesuatu terjadi pada eksistensi Suro di depannya.