
Lelaki itu baru menyadari, jika dirinya telah masuk jebakan. Sebab ucapannya itu secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan Suro. Wajah di balik topeng serigala itu merah padam.
Kemarahannya sudah tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Suara bergemeletuk giginya yang beradu sudah menggambarkan betapa murkanya lelaki itu.
"Kurang ajar kau telah menjebakku!”
Ekspresi lelaki itu sebenarnya antara puncak kemarahannya dan ketakutannya yang tidak terkira melebur menjadi satu.
Sebab ucapannya itu sama saja telah membuka identitas dirinya dan juga seluruh pasukannya. Dan dia mengetahui apa hukumannya bagi siapapun yang telah membocorkan keberadaan suku Elang Langit yang sangat tertutup itu.
"Bagaimana kau mengetahui tentang suku Elang Langit kami? Juga mengetahui Panglima perang kami Hantu Temma, bahkan mengetahui Yang mulia Karuru kepala suku kami?"
"Sebut saja kacungku adalah saudara kembar dari kepala suku kalian."
"Tidak mungkin, kepala suku kami adalah dewa. Mulut kotormu sedari tadi berbicara merancau seperti orang gila. Siapa kau sebenarnya bocah?"
"Siapa diriku...? Apakah itu penting buatmu? Sepertinya itu tidak begitu penting bagimu. Untuk apa kau meributkan jati diriku?
Seharusnya ini waktu bagimu untuk mulai memikirkan nasibmu saja, tidak usah memikirkan siapa sejatinya pemuda tampan ini." Suro berbicara sambil tertawa-tawa kecil.
Tetapi kewaspadaan pemuda itu tidaklah menurun, begitu merasakan kehadiran beberapa orang yang muncul tidak seberapa jauh darinya, pedang miliknya segera menyerbu ke arah mereka semua.
Kali ini entah mengapa, musuh yang bermunculan itu tidak berusaha membokong seperti yang dilakukan sebelumnya. Mereka kemudian membalas serangan Suro dengan menghujaninya menggunakan pisau-pisau kecil.
Serangan yang dilakukan lawannya itu seakan hendak menjauhkan Suro dari kawan mereka yang telah diracuni pemuda itu. Dengan serangan itu memang telah memaksa Suro untuk mundur beberapa langkah.
Pemuda itu tidak membiarkan serangan yang menghujani dirinya melukai bayi yang ada dalam dekapannya. Puluhan pedang terbang yang digunakan untuk menyerang lawan dia gunakan untuk menangkis seluruh lesatan senjata rahasia itu. Sehingga tidak satupun pisau itu mengenai tubuh mereka berdua.
Keputusan Suro yang terpaksa mundur itu memang bukan karena takut dengan lesatan pisau terbang yang menghujani dirinya. Dia melakukan itu semata-mata, karena menghawatirkan keselamatan bayi yang tidak juga menghentikan tangisnya itu.
**
Setelah Suro mundur, salah satu pasukan dari suku Elang Langit itu mendekati lelaki yang diracuni oleh Suro.
"Hideyoshi! Mulutmu itu seperti milik perempuan, tidak bisa ditutup rapat! Kau sudah mengetahui apa hukuman bagi siapapun yang membuka mulut dan memberitahukan identitas kita!"
"Aku melakukan itu semua tanpa aku sengaja Jiro. Tetapi jika kau tetap menganggap itu sebuah kesalahan akan aku lakukan permintaanmu."
"Kesalahan tetaplah kesalahan. Dan kau juga mengerti mengenai hal itu. Tidak ada yang mampu menghindar dari apa yang telah ditetapkan oleh Yang mulia Karuru, termasuk juga diriku, Hideyoshi," Lelaki tinggi besar dengan palu ditangannya itu kembali menatap lawan bicaranya yang semakin bertambah lemas, setelah ucapannya yang terakhir itu.
"Apakah aku punya pilihan lain selain menuruti permintaanmu Kenjiro? Selain itu, aku juga sudah tidak berguna lagi dengan kondisi tanganku yang buntung ini. Kau juga sudah melihat sendiri aku dalam keadaan tidak berdaya seperti ini, setelah pemuda itu meracuniku." Lelaki yang dipanggil dengan nama Hideyoshi mengakhiri ucapannya dengan menghela nafas panjang.
"Karena hubunganku denganmu cukup lama, aku tetap memberimu kesempatan untuk memperoleh kehormatan sebagai bagian pasukan suku elang langit. Tetapi itu tergantung dirimu." ucap lelaki yang bernama Jiro sambil mengangkat palu besar diatas kepala Hideyoshi.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Berhati-hatilah dengan pemuda itu Kenjiro. Dia telah meracuniku, sehingga tenaga dalamku tidak dapat aku kerahkan. Aku akan menunggu kalian di Koke Mongke Tngri (Surga Biru yang Kekal)," ucap lelaki yang berhasil diracuni oleh Suro kepada perwira pasukan yang memberi perintah kepadanya.
Lelaki bernama Hideyoshi itu kemudian mengambil pedang pendek dipinggangnya. Terlihat raut muka lelaki itu menunjukkan kesedihan mendalam setelah mengucapkan kalimat barusan.
Sebenarnya wajahnya berubah menjadi semakin muram sejak kedatangan orang-orang yang menyerang Suro. Tepatnya setelah menyadari kedatangan lelaki bernama Jiro perwira pasukan yang berbicara kepadanya barusan.
Tentu saja lelaki itu mengetahui apa arti kedatangan perwira itu dan perintah yang baru saja dikatakan. Hal itu lah yang membuatnya begitu sedih.
Mendadak lelaki bernama Hideyoshi itu berteriak keras.
"Demi Kejayaan Suku Elang Langit!"
Craaash!
**
"Manusia rendahan, kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan kepada saudara kami Hideyoshi yang memilih mengakhiri hidupnya!" Kenjiro berteriak ke arah Suro yang masih terus dihujani pisau terbang oleh pasukannya.
"Kenapa kalian menyalahkanku? Bukankah dia memilih membunuh dirinya karena perintah yang kau katakan barusan? Apakah kau sudah pikun seperti Karuru pimpinan kalian yang sudah jompo itu?" Suro menjawab sekenanya dengan mimik lucunya.
Puluhan pedang miliknya terus menangkis setiap pisau yang mengincar tubuhnya. Suro beberapa kali juga berpindah tempat menggunakan jurus Langkah Maya untuk menyelamatkan bayi dalam dekapannya.
Perwira pasukan suku Elang Langit yang bernama Kenjiro itu semakin murka mendengar jawaban Suro. Lelaki itu juga merasa, jika pemuda didepannya itu memandang remeh dirinya.
Kemarahannya lelaki itu sudah tidak mampu lagi dia tahan. Dengan badannya yang tinggi besar penuh dengan otot, seperti raksasa itu menggerung keras. Apa yang dia lakukan itu, seakan hendak menelan tubuh Suro bulat-bulat.
Setelah memberi tanda kepada pasukannya untuk menghentikan serangan berupa lesatan pisau kecil, dia langsung menerjang ke arah Suro. Serangan yang di lakukan lelaki itu sangatlah mematikan, sekali saja lawannya terhantam, maka akan remuk tubuhnya.
Sebab lelaki kekar itu menyerang menggunakan sebuah palu besar yang sedari awal tidak lepas dari genggamannya. Bentuk palu besarnya itu sudah cukup mengerikan dengan ujungnya seperti paku-paku yang berguna untuk menghancurkan apapun, termasuk tubuh manusia.
Senjata miliknya itu bergerak dengan begitu leluasa, seakan beban ratusan kati itu terasa begitu enteng. Senjata palu raksasa ditangan lelaki itu, benar-benar telah menjelma menjadi sebuah senjata penghancur yang sempurna.
Kekuatan lelaki itu sudah berada ditingkat langit, karena itulah saat dia muncul tidak seperti yang lain. Dia muncul diatas udara mengambang.
Namun kedatangannya itu tetap tidak luput dari pengawasan Suro. Sebab aura kekuatan lelaki itu telah dirasakan oleh Suro, sesaat setelah dia muncul.
Seperti juga yang lain, Kenjiro sebenarnya langsung diserang oleh Suro begitu dia muncul. Tetapi terjangan bilah pedang milik Suro berhasil dia hindari.
Apalagi setelah itu Kenjiro segera memerintahkan anak buahnya untuk memberikan serangan balasan berupa pisau terbang. Serangan itu juga membuat dirinya memiliki kesempatan untuk memerintahkan Hideyoshi untuk bunuh diri.
Lawan yang dihadapi Suro kali ini bertambah lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Sebab selain Hideyoshi didalam pasukan yang berdatangan itu, ada satu lagi yang telah mencapai tingkat langit. Tetapi sosok itu memilih berada diatas udara cukup tinggi.
Melihat serangan yang dilakukan Kenjiro yang mengamuk seperti kesetanan, Suro memilih menghindar beberapa kali. Apalagi bayi yang berada dalam dekapan Suro menangis lebih keras.
Suara dentuman akibat hantaman palu Kenjiro menjadi penyebab bayi itu menangis semakin menjadi. Suara hantaman palu besar itu memang begitu memekakan telinga.
"Matilah kau manusia rendahan!"
Duuuum!
Braak!
"Setan alas kurang ajar, bagaimana mungkin kau menahan pukulanmu dengan tangan kosong!"
Kenjiro mengumpat sumpah serapah tak terhitung jumlahnya, sebab hantaman palu yang seharusnya menghancurkan kepala lawannya, justru oleh Suro dihantam balik dengan menggunakan pukulan tangan kosongnya.
Bahkan karena kuatnya pukulan Suro, palu miliknya dan juga tubuhnya ikut terpental. Tangannya sebenarnya masih bergetar hebat, karena mencoba menahan pukulan Suro.
Kwalitas tulang yang dimiliki Suro setelah menyerap batu giok dewa, telah membuat tulangnya itu melebihi kerasnya baja sekalipun. Apalagi zirah Kavacha yang melindungi Suro, membuat pukulan itu melebihi kuatnya hantaman palu besar yang dilakukan oleh Kenjiro.
"Makhluk jenis apa sebenarnya kau bocah? Bagaimana mungkin kekuatanmu sebegitu besar?"
"Cup, cup, cup...tidak usah menangis itu hanya monyet besar yang kehilangan pisangnya.
Sudah cup, cup, cup...tidak usah takut kakangmu ini akan menendang monyet besar ini jauh-jauh."
Ucapan Kenjiro yang penuh murka itu tidak digubris pemuda tanggung itu, dia justru sibuk berupaya menenangkan bayi didalam dekapannya.
Tetapi ucapan Suro itu justru membuat lelaki raksasa dengan tubuh kekarnya itu meradang. Tentu saja lelaki itu semakin murka, selain tidak digubris, dia juga disamakan dengan seekor binatang hutan yang buruk rupa.