
Eyang Sindurogo yang tidak mengingat sama sekali saat berada dalam kendali Dewa Kegelapan. Karena itulah dia sangat terkejut dengan wujud makhluk yang sedang dihadapinya. Bhuta kala, Naga, dan juga manusia kelelawar berebut hendak menghabisi dirinya.
Pada awalnya dia tidak memahami mengapa Suro menyuruhnya menggunakan tehnik empat sage terhadap musuh yang sudah dihancurkannya. Tetapi setelah menghancurkan tubuh lawannya beberapa kali, dia segera menyadari lawan yang sedang dihadapi adalah semacam makhluk abadi.
Sebab setelah beberapa lawan yang dia hadapi hancur, dia segera berlanjut kepada lawan berikutnya. Namun musuh yang baru saja dia hancurkan telah pulih kembali tanpa kurang sedikitpun.
Tidak jauh darinya Geho sama sudah mengamuk sedari tadi. Setiap musuh yang dapat dia lukai segera dia musnahkan dengan menggunakan tehnik empat Sage. Pengerahan tehnik empat Sage yang begitu kuat membuat setiap musuh musnah dalam waktu sekejap.
Eyang Sindurogo mengikuti seperti yang dilakukan Geho sama. Terjangan sinar dari sepuluh jarinya dengan cepat menyapu lawan yang terus berdatangan.
Meskipun begitu musuh yang mereka bunuh tidak juga habis. Hal itu dikarenakan sebuah gerbang gaib yang cukup lebar membuat para naga dan manusia kelelawar berdatangan dalam jumlah besar.
**
Gunung yang didatangi Suro bersama yang lain memiliki tiga puncak. Puncak itu selalu ditutupi oleh salju. Itulah mengapa tiga puncak itu memiliki nama puncak putih tiga saudara spiritual atau memiliki nama lain yaitu gunung Gangkhar Puensum.
Tiga puncak yang berderet itu seluruh puncaknya telah dikelilingi makhluk kegelapan dalam jumlah yang teramat banyak. Mereka walaupun jumlahnya sebegitu banyaknya tidak ada yang berhasil menjejakkan kakinya dipuncak. Sebab ketiga puncaknya diselubungi suatu formasi sihir yang tidak membiarkan para makhluk itu dapat mendekati.
Kebanyakan mereka hanya sampai didekat puncak, atau sebagian terbang mengitari puncak itu. Seperti yang dilakukan para naga dan juga manusia kelelawar.
Mereka sedari tadi hendak menghancurkan formasi sihir itu. Salah satu dari ketiga puncak itu terdapat relik kuno tempat dimana Ashura disegel dalam archa kecil.
Eyang Sindurogo dan Geho sama masih berada dipuncak pertama. Puncak itu adalah tempat dimana Suro bersama guru dan Geho sama baru saja muncul. Suro tidak menunggu yang lain, sebab dia telah sampai dipuncak kedua.
Naga Taksaka yang dikendalikan Suro menggulung seluruh makhluk yang berada didekat puncak kedua. Setelah berhasil menghabisi makhluk yang ada didekat puncak kedua, Suro kemudian melanjutkan menuju puncak ketiga. Kali ini dia menarik kembali Naga Taksaka dan menyerang dengan menggunakan seluruh bilah pedangnya.
Didekat puncak ketiga itulah dimana gerbang gaib terlihat. Dari gerbang gaib itulah para makhluk kegelapan itu berdatangan. Salah satu alasan mengapa dia menarik jurus api hitam, adalah karena keberadaan manusia bertanduk diantara makhluk kegelapan.
Dia memilih menarik Naga Taksaka, sebab pada pertarungan yang pernah dia lakukan Naga Taksaka justru diserap habis oleh salah satu manusia bertanduk. Tentu saja hal seperti itu tidak dia biarkan terulang kembali. Karena untuk membentuk api hitam sebesar Naga Taksaka memerlukan kekuatan yang sangat besar.
Secara bersamaan tiga puluh bilah pedang yang dia bawa melesat membentuk formasi serangan serentak. Semua berlangsung dengan begitu cepat, seperti juga formasi pedang terbang Suro seakan badai yang mengamuk.
Sesaat setelah berhasil memukul mundur musuh, maka Suro segera mengerahkan jurus tebasan sejuta pedang. Dia hendak mengakhiri semua dengan cepat.
Blaaar!
Tebasan dengan kekuatan yang begitu dahsyat menerjang ke arah musuh. Para naga dan manusia kelelawar langsung hancur. Kesempatan itu dia gunakan untuk mengerahkan tehnik empat sage.
Dengan pengerahan itu Suro berhasil menyerap seluruh tubuh pasukan kegelapan yang hancur. Semuanya menghilang dalam sekejap terserap ke dalam tubuh Suro. Kekuatan besar yang terhimpun dari pengerahan tehnik empat Sage barusan, hendak digunakan untuk menghancurkan gerbang gaib. Sebab dari tempat itulah para pasukan kegelapan terus muncul.
Suro segera memulai pengerahan jurus berikutnya. Sesaat setelah bentuk energi yang berputar disekitar tubuhnya mengumpul disekitar telapak tangannya, maka sesuatu yang bersinar dengan teramat terang segera muncul. Sebuah bola energi yang sangat padat ditelapak tangan Suro, lalu dihantamkan ke arah gerbang gaib.
"Tidak akan aku biarkan kali ini dirimu menghancurkan gerbang gaib yang telah aku buat!"
Sebelum jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari itu mengenai gerbang gaib, mendadak terdengar suara teriakan penuh kemarahan yang disusul dengan kemunculan pusaran hitam yang menelan jurus Suro.
"Ajian Sapu Jagat!"
"Kau lagi bocah! Masih saja mencoba menghalang-halangi langkah kami yang hendak membebaskan kanjeng junjungan, hingga terbebas secara sempurna." Lelaki yang muncul dari dalam gerbang gaib tidak lain adalah Batara Sarawita atau juga memiliki nama yaitu Batara Karang.
"Aku yakin kau bukanlah manusia biasa, entah kau sebenarnya titisan dewa apa? Tetapi kali ini aku akan memastikan dirimu binasa tanpa menyisakan apapun.
'Gawat musuh berat datang, apalagi Hyang Kavacha belum sepenuhnya pulih. Aku tidak yakin dapat menahan kekuatan makhluk ini.' Suro menyadari kekuatan lawannya kali ini bukan tandingannya, karena saat ini Kavacha yang belum juga pulih dan masih tertidur. Padahal dia sudah berusaha menyerap sebanyak mungkin kekuatan Sang Hyang Surya.
Tetapi ternyata semua itu belum cukup, setelah Kavacha sebelumnya menggunakan kekuatannya untuk menahan ledakan tingkat surga milik eyang Sindurogo. Karena itulah Suro cukup waspada dengan kedatangan Batara Karang kali ini.
Sebelum Suro berpikir untuk kembali menyerang Batara Karang sosok lain mendekati dirinya.
"Biarkan eyang yang menghadapi dirinya thole Suro. Dia adalah musuh lamaku, orang yang sudah lama aku cari." Pandangan mata eyang Sindurogo beralih ke arah Batara Karang.
"Kita berjumpa lagi Batara Karang, ternyata takdir mempertemukan kita disini. Padahal sudah ratusan tahun aku memburumu."
Batara Karang yang melihat kedatangan eyang Sindurogo cukup terkejut. Karena dia segera menyadari jika ingatan dari pendekar itu telah pulih.
"Bagaimana mungkin ilmu penjara semesta hitam milik Kanjeng Junjungan dapat dipatahkan?"
"Benar ilmu itu telah muncul kembali, tetapi bukan diriku yang mampu menguasai ilmu milik para dewa itu. Justru muridku lah yang berhasil menguasai dan menggunakan untuk membebaskan jurus laknat itu dari dalam tubuhku. Kini aku telah terbebas dan tidak lagi menjadi boneka kalian!"
Eyang Sindurogo kemudian menoleh ke arah Suro yang masih berdiri disampingnya. "Kamu cari relik kuno atau apapun itu di salah satu puncak dari deretan tiga puncak gunung ini."
"Sendiko dawuh eyang guru."
Suro kemudian melesat menjauh dari pertempuran dahsyat yang sebentar lagi pecah.
**
Suro segera mencari petunjuk sesuai yang telah diajarkan Sang Hyang Ismaya. Dia dapat berkonsentrasi mencari relik kuno dengan dibantu Geho sama. Makhluk raksasa itu terus menjaganya dan menghancurkan seluruh musuh yang hendak menghalangi jalannya. Sembilan tubuh ilusi milik Geho sama segera menghabisi musuh yang datang.
Dia kali ini menyatukan empat kekuatan alam yang terangkum dalam inti ajian Saifi angin, Saifi Geni, Saifi Banyu, dan juga saifi bumi. Semua tehnik pengerahan ilmu itu adalah salah satu bagian dari ilmu yang diajarkan oleh Sang Hyang Ismaya.
Salah satu alasan mengapa Suro tidak menyarankan gurunya menggunakan tehnik itu, karena dia mengetahui jika gurunya hanya mampu mengerahkan tehnik perubahan unsur alam api dan petir saja.
Dia juga tidak mengetahui kekuatan jiwanya sudah mencapai kekuatan sedulur papat atau belum. Karena itulah dia hanya menyarankan menggunakan empat Sage untuk menghabisi makhluk kegelapan.
Suro segera bergerak cepat untuk mendapatkan relik kuno yang tersembunyi diantara ketiga puncak gunung.
Dengan menggunakan tehnik perubahan tanah yang telah dia kuasai, dia mulai menjejakkan kakinya cukup keras disetiap puncak yang dia datangi. Dia melakukan itu untuk dapat melihat isi yang terkandung didalam puncak gunung, melalui getaran yang dia tangkap.
Setiap hentakan kakinya yang dia kerahkan begitu kuat menghantam puncak gunung itu. Karena begitu kerasnya hentakan itu, bahkan salju yang ada di lereng gunung mulai longsor. Formasi sihir kuno yang menjaga tiga puncak itu hanya menghalangi makhluk kegelapan, tetapi tidak bagi manusia biasa yang tidak dipenuhi hawa kegelapan seperti Suro.
Karena itulah Suro dapat leluasa mendarat diatas permukaan puncak gunung itu sedari awal kedatangannya. Setelah memeriksa dari puncak ketiga, lalu kedua dan kemudian dia memeriksa puncak yang terakhir dimana dia muncul pertama kali. Sampai dipuncak itulah dia merasa menemukan sesuatu yang mirip dengan bentuk relik kuno.
Beruntung saat berada di Perguruan Pedang Bayangan dia sempat diperlihatkan bentuk dari relik kuno itu. Sehingga saat dia melihat melalui getaran yang dia tangkap, Suro merasa telah menemukan apa yang sedang dia cari.
"Akhirnya ketemu." Suro tersenyum lebar. Dia kemudian mulai mengerahkan tehnik bumi yang sangat kuat.
Dia mulai menarik keatas sebuah batu cukup besar yang menjadi bagian dari puncak gunung itu. Dibawah batu besar tersebut ternyata ada sebuah ruangan semacam goa kecil. Didalam goa itulah relik kuno tersimpan dengan rapi.
**
Pertempuran Eyang Sindurogo dan Batara Karang yang sejak tadi berlangsung, belum juga menunjukan hasil. Meskipun pertarungan itu berlangsung semakin dahsyat.
Para makhluk kegelapan yang berdatangan dari gerbang gaib semakin banyak. Diantara mereka beberapa manusia dengan penampilan khasnya, yaitu memiliki tanduk didahinya juga terlihat berusaha menyerang eyang Sindurogo.
Mereka akhirnya mengepung pendekar itu dan mulai menyerang dari berbagai arah. Pasukan kegelapan itu berusaha membantu Batara Karang. Namun usaha mereka semua justru berakhir sia-sia. Sebab bukan eyang Sindurogo yang berhasil dihabisi, tetapi justru merekalah yang hancur semua melalui pengerahan tehnik Tapak Dewa Matahari. Tidak ada yang mampu selamat dari terjangan sinar yang dikerahkan eyang Sindurogo.
Untuk memastikan mereka binasa secara sempurna, maka eyang Sinduroho segera mengerahkan tehnik empat sage dengan kekuatan tingkat surga miliknya. Hasil dari pengerahan itu sangat mengerikan. Semua makhluk dalam cakupannya tersedot dan musnah tanpa meninggalkan jejak. Bahkan segala bentuk energi yang berada disekitar puncak ketiga tertarik dan membentuk pusaran energi disekitar tubuh eyang Sindurogo.
Batara Karang memilih melesat menghindari kekuatan yang sedang dikerahkan eyang Sindurogo.
Setelah pengerahan empat Sage barusan, maka serangan berikutnya segera menyusul. Jurus yang akan dikerahkan eyang Sindurogo, adalah jurus yang belum pernah disaksikan oleh siapapun dan mungkin baru pertama kali ini dia mengerahkannya.
"Akan aku pastikan kali ini nyawamu akan musnah Batara Karang! Aku masih ingat kekejaman yang telah kau lakukan empat ratus tahun yang lalu!"
Teriakan kemarahan eyang Sindurogo mengawali sebuah jurus yang sangat dahsyat, yaitu jurus kelima dari ilmu Tapak Dewa Matahari. Jurus itu memiliki nama"Ledakan Matahari Kembar".
Seperti namanya kali ini kekuatan yang dikerahkan eyang Sindurogo mirip seperti yang dikerahkan Suro, hanya saja pemusatan energi bukan hanya pada satu telapak tangannya, tetapi dua telapak tangannya secara bersama-sama mengumpulkan energi. Kemudian dipadatkan sampai sedemikian rupa, sehingga membentuk dua bola yang sangat terang menyerupai matahari kembar.
Seluruh penjuru menjadi begitu terang melebihi pengerahan jurus yang dilakukan Suro sebelumnya.
"Kurang ajar jurus apalagi ini?" Batara Karang segera melesat menuju gerbang gaib.
"Jangan berpikir untuk kabur Batara Karang!" Eyang Sindurogo langsung menghantamkan dua bola energi dikedua telapak tangannya.
Duuuuuuuum!!
Suara keras menggelegar terdengar hingga ribuan tombak. Gempa bumi begitu hebat terasa sampai kejauhan. Hetakan pukulan eyang Sindurogo menerpa ke arah timur membentuk badai besar menggulung seluruh salju lenyap tak berbekas.
Bersama ledakan itu juga kilatan petir dan cahaya menyilaukan telah membutakan mata dalam beberapa saat. Sehingga tidak ada yang sanggup menyaksikan kejadian dahsyat itu dengan jelas.