
Hari ini sudah hari keempat Suro tenggelam dalam samadhinya. Dia berusaha secepatnya menyelesaikan latihan tahap terakhir yang harus dilewatinya.
Pada hari pertama dia bersamadhi dalam kondisi duduk bersila dengan kondisi telapak kaki kiri ditumpangkan diatas paha Kaki kanannya. Dua telapak tangannya membentuk mudra seribu kelopak. Dia menempatkan isyarat tangannya tepat diatas kepalanya lurus ke atas berjarak sekitar satu jengkal dari kepala.
Mudra ini sebagai tahap awal sebelum menarik energi dari chakra ajna menuju chakra mahkota. Semua energi yang ditarik ke atas menuju chakra mahkota secara perlahan nantinya akan memenuhi titik tersebut. Kemudian dengan energi itu, dia akan menggerakan chakra sahasrara untuk berputar. Sehingga akan terjadi sirkulasi pada chakra tersebut.
Chakra itu akan terus berputar hingga mampu bersirkulasi dengan baik. Jika hal itu sudah bisa dilakukan, maka akan membantu dirinya membuka gerbang dasar dititik sahasrara. Setelah gerbang yang berada di chakra sahasrara atau chakra mahkota itu terbuka maka selesai sudah semua proses latihan yang dilakukan Suro.
Kecuali Suro langsung melanjutkan latihannya hingga menembus kekuatan tenaga dalam satu tingkat diatasnya yaitu tingkat Shakti. Walau untuk mendapatkan kekuatan tingkat shakti hanya membutuhkan satu langkah lagi. Tetapi dalam prakteknya, satu langkah itu bisa membutuhkan waktu meditasi hingga puluhan purnama atau bahkan lebih. Dan semuanya itu masih berkutat di chakra sahasrara.
Chakra mahkota atau sahasrara dalam bahasa sansekerta berarti seribu, mengacu pada wujud kelopak bunga lotus yang sedang mekar, bertumpuk-tumpuk sampai dua puluh lapis. Setiap lapisannya berisi lima puluh kelopak bunga. Sebagai perwakilan kesadaran yang lebih tinggi.
Setiap lapisan itu juga mewakili tingkat kekuatan yang lebih tinggi. Tingkat kesadaran itu digambarkan dengan sebuah segi tiga yang mengerucut keatas.
Setiap tingkatan lapisan kesadaran itu terdapat gerbang lapisan kekuatan yang mewakili tingkat kekuatan shakti ke atas. Maka jika ingin mencapai setiap lapis kekuatan tersebut, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah membuka gerbang disetiap lapisnya.
Selain itu untuk mencapai tingkat shakti seorang pendekar harus melakukan perubahan besar pada chakra sahasrara. Perubahan yang dimaksud adalah mengubah kundalini menjadi Shankhini. Tahapan itu akan sangat sulit dicapai karena memerlukan rangkaian panjang meditasi yang juga dibantu tehnik penghimpunan kekuatan tenaga dalam.
Tehnik untuk menghimpun kekuatan tenaga dalam biasa disebut sebagai tehnik Pranayama atau juga tehnik pernafasan. Dalam tehnik ini dapat dibagi menjadi tiga bagian.
Bagian pertama disebut puraka atau menarik nafas. Bagian kedua disebut khumbaka menahan nafas. Bagian ketiga disebut recaka atau mengeluarkan nafas.
Dengan tehnik itu juga nantinya akan ikut membantu terbukanya setiap gerbang kekuatan yang lebih tinggi. Tehnik meditasi yang digunakan untuk membuka setiap lapisan kekuatan biasanya tidak akan sama. Karena setiap posisi meditasi dan juga mudra yang digunakan memiliki tujuan dan fungsi yang berbeda-beda.
Seperti yang dilakukan Suro pada hari kedua, dia merubah posisi samadhinya dengan posisi sirsasana atau raja asana yang artinya berdiri dengan kondisi kepala dibawah sebagai tumpuan dan tubuh serta kakinya lurus naik ke atas. Kedua telapak tangannya masih membentuk mudra seribu kelopak, hanya saja dia tidak menangkupkan. Tetapi justru membentangkan kedua tangannya ke depan ke arah kanan dan kekiri. Dengan posisi telapak tangan dibuka mengarah ke atas.
Setelah mencapai ketenangan samadhi, maka pada hari kedua ini dia sedang berusaha mencoba mengumpulkan energi menuju titik sahasrara.
Pada hari ketiga dia kembali merubah posisi meditasinya dengan posisi Vrkasana atau posisi pohon. Yaitu berdiri dengan hanya menggunakan satu kaki kanannya. Sedangkan kaki kirinya menekuk kemudian telapak kaki ditempelkan dipaha sebelah kanan. Dua lengan tangannya naik lurus diatas kepala, kedua telapak tangannya ditangkupkan saling menempel bertemu diatas kepala.
Pada tahap ini dia sedang menyelaraskan semua energi yang telah masuk dan mulai dihimpun di titik sahasrara.
Pada hari keempat dia kembali mengubah meditasinya dengan posisi Adho Mukha Vrksasana atau posisi berdiri dengan kedua tangan. Badan naik lurus ke atas. Dalam kondisi ini Suro sedang mencoba melancarkan peredaran darah dikepala, menyegarkan saraf kepala agar dapat membantu dirinya mencapai kesadaran ditingkat samadhi yang lebih tinggi. Sehingga dengan itu, akan ikut membantu dirinya memutar chakra sahasrara hingga dapat bersirkulasi dengan lancar.
"Apakah tidak salah dengan posisi Adho Mukha Vrakasana yang sedang dia gunakan? Bukankah ini tahap yang mendekati tahap akhir dalam serangkaian latihan menembus tahap sembilan dalam tehnik sembilan putaran langit?" Dewa Rencong begitu terkesima dengan apa yang telah dilakukan Suro sepanjang latihan.
"Benar adimas, dia sedang berusaha mempercepat putaran chakra sahasrara. Sehingga dengan itu secara tidak langsung akan membantu dirinya mampu membuka gerbang dasar pada chakra sahasrara atau chakra mahkota?"
"Benar, padahal ini baru hari keempat! Bagaimana dia bisa menyelesaikan tahap kesembilan hanya membutuhkan waktu kurang dari satu purnama? Luar biasa memang pantas jika dia adalah murid dari Eyang Sindurogo pendekar terkuat di Benua Timur ini."
"Berarti tinggal sebentar lagi semua tahap telah diselesaikannya, kakang?"
"Dengan selesainya tahapan ini apakah kekuatan tenaga dalamnya masih setingkat dengan pendekar tingkat tinggi?" Dewa Rencong menoleh ke arah Eyang Udan Asrep. Karena sebagai wakil ketua Perguruan Pedang Surga tentu dia lebih memahami tehnik tersebut. Walaupun dia juga mengetahuinya tehnik tersebut, tetapi sebagai orang diluar perguruan tentu dia tidak mengetahuinya secara mendetail mengenai tehnik rahasia milik Perguruan Pedang Surga tersebut.
Begitu rahasianya tehnik tersebut bahkan tidak semua tetua mengetahui tehnik tersebut, kecuali hanya namanya saja. Maka sesuatu yang mengagumkan jika Dewa Rencong bisa mengetahuinya. Tentu saja karena dia memang memiliki hubungan dengan Ketua perguruan dan juga banyak berhubungan dengan tetua yang lain.
"Jika pada umumnya orang lain setelah membuka chakra mahkota maka tenaga dalamnya setingkat dengan pendekar tingkat tinggi. Tetapi seseorang yang berlatih dengan tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit, maka setelah mampu membuka chakra mahkota kekuatannya sebanding dengan sembilan kali kekuatan pendekar tingkat tinggi."
"Jadi maksud kakang nakmas Suro kekuatannya nanti sebanding dengan pendekar tingkat shakti tahap pertama?"
"Benar sekali, seharusnya adimas Dewa Rencong. Tetapi apakah adimas tidak melihat kejanggalan saat dia mampu membuka granthi terakhirnya?"
"Iya kakang aneh sekali saat ledakan energi itu entah mengapa tiga tiang rumah menghantamku secara berurutan seperti tidak menyukai atas kehadiranku. Apakah rumah yang hancur itu, sebelumnya memang banyak penunggunya?"
Eyang Udan Asrep mengaruk-garuk kepalanya mendengar ucapan Dewa Rencong yang tidak menyambung dengan maksud pertanyaan miliknya.
"Yang aku maksud, apakah adimas tidak merasakan keanehan dengan begitu kuatnya ledakan energi yang ditimbulkan dari terbukanya granthi terakhir nakmas Suro?"
"Ooo...maaf kakang saya kira mengenai yang lain. Mungkin kekuatan jiwaku yang sudah terbuka dengan lebar membuat perasaanku yang berhubungan dengan alam lain menjadi begitu peka."
"Mengenai ledakan energi beberapa hari yang lalu memang terasa begitu kuat. Sampai menghancurkan rumah sekokoh itu tentu sesuatu yang tidak lazim. Aku masih mengingat saat granthi terakhir mampu aku buka. Ledakan yang ditimbulkan tidak lebih dari hancurnya seluruh piring-piring dan kendi milik Mahaguru. Gara-gara itu aku dihukum."
"Menurut adimas dengan kekuatan ledakan energi sebesar itu, apakah pantas dimiliki seseorang yang bahkan belum berada ditingkat tinggi?"
"Entahlah kakang sejak dia bertarung di arena dengan mengerahkan tehnik kitab bumi yang begitu mengerikan, aku mengira dia sudah ditingkat shakti? Tetapi ternyata chakra sahasraranya saja belum dia buka." Dewa Rencong kembali menatap Suro yang masih terdiam dalam meditasinya.
Pembicaraan dua pendekar itu berhenti saat Suro kembali merubah bentuk meditasi dan mudra yang digunakannya. Kali ini dia bermeditasi dengan posisi duduk bersila dengan menggunakan mudra dhyana. Persis seperti saat dia baru memulai proses latihannya.
"Agaknya dia sudah berhasil membuka gerbang dasar chakra sahasrara adimas!" Eyang Udan Asrep berbicara tanpa menoleh ke arah Dewa Rencong perhatiannya terpusat kepada Suro yang masih bermeditasi.
Dewa Rencongpun tak menjawab, dia juga ikut menatap Suro dengan serius.
Selang tidak beberapa lama mata Suro terbuka sambil tersenyum dengan lebar.
"Akhirnya Suro mampu menyelesaikan semua tahap dari tehnik sembilan putaran langit ini tetua." Suro tersenyum senang sambil berusaha bangkit dari duduknya.
"Kekuatan yang Suro rasakan seakan begitu meluap-luap. Kini Suro sangat yakin, dengan kekuatan yang telah aku dapatkan ini tentu sudah tidak akan berbahaya, jika Suro menggunakan tehnik Tapak Dewa Matahari dengan kekuatan yang sesungguhnya."
**
Terima kasih untuk semua yang menyempatkan membaca novel SURO BLEDEK ini dengan memberikan like, comment dan tidak lupa juga memberikan tips koin dan point.