SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 202 Pertemuan Tetua



Dewa Pedang dan semua yang baru saja datang dari alam kegelapan duduk bersila di sebuah ruangan mengelilingi Suro. Karena untuk membersihkan hawa kegelapan dari dalam tubuh mereka hanya bisa dilakukan dengan ditarik keluar melalui tehnik empat sage.


Dalam pengerahan tehnik empat sage kali ini bukan Lodra yang menampung energi ke tujuh orang disekeliling Suro. Kali ini Gagak setan atau Geho sama meminta ijin terlebih dahulu kepada Suro untuk diperbolehkan menampung, karena hanya dia yang benar-benar bisa melakukan tehnik itu dengan lebih baik. Sehingga hanya hawa kegelapan dari tubuh mereka yang nantinya terhisap.


'Selain itu aku memerlukan kekuatan itu untuk memulihkan kekuatan jiwaku kembali. Aku rasa dengan pulihnya kekuatan jiwaku akan dapat membantu tuan Suro kedepannya.' Geho sama berdebat dengan Lodra. Karena kekuatan itu seharusnya untuk dirinya kini diambil oleh Geho sama.


'Awas kalau kau berani macam-macam! Jangan kira hanya kau saja yang punya kemampuan untuk melenyapkan kekuatan makhluk lain hingga seluruh jiwanya' Sebelum Geho sama berhenti berbicara Lodra sudah mencecar dengan ancaman.


'Jangan khawatir Kanjeng Lodra yang agung aku tidak ada niat untuk mencelakai mereka, maupun tuan Suro. Percayalah jika aku hanya ingin mengajari tuan Suro mengenai tehnik empat sage agar lebih sempurna. Selain itu aku sudah cukup lama bergabung dengan jiwa Dewa kegelapan, sehingga aku akan bisa mengenali hawa kegelapan yang tersimpan dalam tubuh mereka.'


'Hawa kegelapan sekecil itu tidak akan mempengaruhi atau menguasai jiwaku, tetapi akan sangat berbahaya bagi mereka. Selain itu akan ikut membantu memulihkan kekuatan jiwaku yang sudah begitu lama tersegel. Jika aku menjadi kuat tentu tuan Suro juga akan terbantu.'


'Tidak mengapa kanjeng Lodra, bukankah jika Gagak setan berani macam-macam aku masih bisa mengandalkan kekuatan Kanjeng Lodra yang agung?'


'Tentu saja, kalau hanya membuat jiwa dari siluman burung emprit ini lenyap seperti membalikan bilah pedangku saja!' Lodra yang dipuji oleh Suro barusan merasa diatas angin. Senyum Lodra langsung merekah dengan begitu lebar.


'Nasib..nasib' Geho sama hanya bisa mengurut dadanya mendengar perkataan Lodra.


'Sudah jangan hiraukan ucapan pedang sinting itu, lakukan saja Gagak setan!' Setelah mendengar titah Hyang Kavacha barusan Lodra langsung terdiam.


Suro kemudian memulai menggunakan tehnik empat sage, maka hawa kegelapan dari setiap badan orang yang mengelilingi Suro seakan ditarik paksa keluar. Hawa kegelapan itu keluar dari setiap mulut mereka. Bentuknya seakan asap, bahkan dari tubuh Dewa Pedang dan Dewi Anggini menyerupai jelaga.


Dua pendekar itu tidak menyadari, jika hawa kegelapan yang telah mereka serap sudah mengumpul sebegitu pekatnya. Beberapa saat kemudian semua proses itu selesai.


'Aku sudah tidak merasakan hawa kegelapan dalam tubuh mereka, jadi aku kira cukup sampai disini proses pembersihannya.' Mendengar bisikan dari Geho sama barusan, Suro segera menghentikan pengerahan ilmu empat sage miliknya. Dia kemudian membuka matanya.


"Sudah selesai paman sekalian."


"Akhirnya perasaan yang sangat menggangguku telah lenyap." Senyum Dewa Pedang langsung mengembang, setelah seluruh hawa kegelapan dalam tubuhnya dapat ditarik keluar.


"Aku saja atau kalian juga merasakan, ada sesuatu yang hadir dalam alam bawah sadar, seakan ada sosok yang mencoba mengambil alih kesadaran kalian?" Dewa Pedang menatap ke arah Dewa Rencong dan juga tetua Dewi anggini.


"Benar kakang, aku menyadari hal itu setelah keluar dari alam kegelapan. Dalam alam bawah sadarku, seperti ada suara yang berbisik." Dewi Anggini yang menyahut ucapan Dewa Pedang.


"Benar seperti itu perasaan yang kami alami, sebelum kesadaran kami diambil alih oleh sesosok wujud kegelapan yang sempat kami lihat dalam alam bawah sadar kami, sebelum menenggelamkan kami dalam kegelapan yang membuat kami tidak ingat apapun setelah itu." Bekel Astawa mencoba mengingat kembali saat dia diselimuti kekuatan kegelapan dari eyang Sindurogo hitam.


Setelah semua hawa kegelapan yang ada dalam tubuh mereka selesai dikeluarkan, Dewa Pedang kemudian memberi mereka waktu terlebih dahulu, sebelum mereka harus menghadiri pertemuan dengan para tetua Perguruan Pedang Surga.


Setelah mandi dan berganti baju dan juga makan, mereka segera mendatangi balairung dimana pertemuan diadakan.


**


"Tetua Kaliki apa kau yakin tadi perintah ketua agar kita sesegera mungkin berkumpul di balairung ini?" Eyang Udan Asrep wakil ketua Perguruan Pedang Surga menatap tetua Kaliki yang resah, sebab sedari tadi mereka berkumpul kepala perguruan belum juga datang.


Didalam ruangan itu para petinggi perguruan, tetua pusat dan juga tetua cabang yang kebetulan pada saat itu berada diperguruan pusat telah hadir sedari tadi. Mereka berkumpul setelah mendapat perintah kepala perguruan melalui eyang Kaliki. Tetua muda seperti Widura, Datuk Bandaro putih dan juga Narashinga juga terlihat sudah berada didalam ruangan itu.


"Aku hanya menyampaikan apa yang diperintahkan Dewa Pedang. Memang ketua sebelumnya sudah meminta kita untuk menunggu disini. Karena Dewa Pedang harus membersihkan dahulu hawa kegelapan dalam tubuh mereka" tetua Kaliki beberapa kali mencoba menengok keluar.


"Itu mereka akhirnya datang!" Tetua Kaliki berseru melihat dari kejauhan Dewa Pedang bersama beberapa orang dibelakangnya.


Setelah beberapa saat Dewa Pedang akhirnya memasuki balairung. Posisi balairung itu berada ditengah Perguruan Pedang Surga.


"Maaf kalian harus menunggu agak lama, karena ada beberapa hal harus kami lakukan selain makan dan juga mandi. Sebab sudah beberapa hari kami tidak berganti pakaian sejak kami berangkat dari perguruan ini."


Di belakang Dewa Pedang, Suro dan lainnya menemani dirinya ikut berdiri menghadap para tetua dan petinggi perguruan yang menunggu mereka sedari tadi.


"Mungkin kalian akan terkejut setelah aku mengatakan hanya beberapa hari aku melakukan perjalanan. Sebab setelah keluar dari alam kegelapan, eyang kaliki menyebut jika kami telah meninggalkan perguruan hampir tiga bulan."


"Terlepas alasan mengapa terjadi perbedaan waktu yang terentang begitu jauh, ada hal lebih penting yang ingin aku sampaikan. Ini juga ada kaitannya dengan laporan perguruan cabang dari daerah Singhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa (Kamboja), Yawana (Annam Vietnam) dan juga beberapa perguruan cabang dib beberapa tempat lain."


"Mungkin diantara sekian banyak tetua yang ada diruangan ini, ikut dalam peperangan di Banyu Kuning. Kalian pasti mengetahui, jika eyang Sindurogo terlihat bertarung sebentar dengan nakmas Suro. Kemudian menghilang setelah dikejar api hitam yang berbentuk burung raksasa."


"Semua runut kejadian itu, hingga penampakan makhluk kegelapan yang menyerang sekarang ini terjadi, memang sudah dalam sekenario yang dilakukan tokoh dibalik layar."


"Tepatnya dua tokoh yang mengatur. Itu dimulai sejak serangan naga raksasa hingga hilangnya eyang Sindurogo dialam lain. Pada waktu peperangan di Banyu Kuning dua tokoh itu juga hadir. Hal itu diperkuat dengan kesaksian nakmas Suro dan mereka berempat." Dewa Pedang menunjuk empat prajurit sisa pasukan Medusa.


"Kalian pasti tidak akan mengenalnya. Mereka sebelumnya adalah wujud makhluk kegelapan yang mirip dengan penggambaran para perguruan cabang, yaitu manusia kelelawar. Intinya mereka diselamatkan oleh tetua muda, yaitu nakmas Suro. Mereka adalah sisa pasukan Medusa yang telah dirubah menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis. Dan yang melakukannya adalah eyang Sindurogo."