
Sesosok lelaki itu diam diatas ketinggian tanpa menginjak apapun. Pandangannya masih tertuju pada sosok raksasa yang telah tumbang dibawahnya. Tangannya bersedekap dengan sikap seakan menantang.
"Blaaar!"
Sekejap mata kemudian Naga itu bangkit, langsung menyemburkan api dengan ganas kearah sesosok lelaki yang misterius itu. Kecepatan semburan nafas api dapat dihindari dengan mudah.
Semburan api mengejar kemana pun sosok itu berada. Tetapi kecepatan berpindah tempat sosok misterius itu memang sangat tak masuk akal. Seakan-akan tubuhnya menghilang dan terlihat lagi ditempat lain. Gerakkan menghilang dan menampakan wujudnya berlangsung terus menerus mengelilingi tubuh monster.
Kejadian ini menunjukan betapa kuatnya sosok lelaki tersebut. Makhluk yang begitu perkasa menjulang tinggi seakan gunung, bagi sesosok itu, justru dipermainkan seperti sebuah lelucon buat dirinya.
Semburan api yang keluar dari tenggorokannya sejak tadi terus mengejar kemanapun sosok itu muncul. Jangankan melukai sosok tersebut, bahkan satu helai benang dari pakaiannya sekalipun tidak ada yang terkena. Justru naga itu kelelahan sendiri, mungkin tenggorokannya sudah kering. Sebab tanpa henti api itu menyembur terus dari tenggorokannya.
Setelah melihat tidak ada satupun serangan dahsyat miliknya mengenai sosok tersebut, akhirnya naga raksasa itu menghentikan serangannya. Kemungkinan dia telah putus asa. Dia kemudian mulai mengepakkan sayapnya dengan kencang. Terjangan anginnya seakan badai menghantam seluruh kawasan kota raja dengan hebat.
Kepulan debu dan puing-puing reruntuhan rumah terangkat membumbung tinggi berterbangan menghalangi seluruh pandangan mata.
Naga raksasa melesat dengan kecepatan tinggi segera menembus angkasa meninggalkan semua kehancuran yang tak terbayangkan.
Para jagoan yang memandang makhluk itu terpana melihat kecepatan terbang monster tersebut. Dalam hitungan tak sampai tiga seruput teh telah membawa tubuh rhaksasanya menghilang digelapnya malam.
Kengerian masih terbayang didepan mata semua orang. Sebuah kehancuran yang sangat dahsyat telah ditimbulkan dari sebuah serangan yang tak seberapa lama. Benar-benar membuat trauma seluruh penduduk dan juga Kerajaan Kendan.
Seiring dengan menghilangnya makhluk raksasa barusan, sesosok misterius yang mampu membuat tumbang monster itu juga ikut menghilang tanpa disadari semua orang.
Kehancuran yang dialami Kerajaan Kendan sungguh sangat dahsyat sisi timur hancur lebur. Beruntung pada detik-detik terakhir setelah daya upaya seluruh kekuatan pasukan kerajaan yang dikerahkan telah mencapai titik nadir. Seakan sudah tak mungkin lagi mampu menahan lebih lama serangan monster. Tiba-tiba monster itu berubah haluan menyerang ke arah kota raja.
Korban jiwa sudah melewati hitungan puluhan ribu lebih. Korban harta benda sudah tak terhitung lagi entah berapa banyak. Hampir setengah kota raja hancur lembur dan sebagian habis terbakar.
Jerit tangis mengema memenuhi langit diatas Kerajaan Kendan. Duka kembali membanjiri seluruh penduduk kota raja dan tentu saja kerajaan Kendan. Tak ada yang mampu mengungkapkan betapa terpukulnya mereka mendapatkan kehancuran yang tak terkira. Duka yang tak terlukiskan kedalamannya menyelimuti setiap orang yang mampu selamat dari amukan serangan monster.
"Siapakah lelaki misterius tadi Eyang? Kekuatannya sungguh mengerikan."
Mahapatih Singaranu seakan meminta jawaban ke arah Eyang Raga Dewa yang berada disampingnya. Bukan hal yang aneh Mahapatih menanyakan hal itu kepadanya, sebab diantara semua tokoh dunia persilatan di Kerajaan Kendan tidak ada tokoh yang lebih disegani dan memiliki pengetahuan lebih luas daripada dirinya.
"Hamba tidak pernah melihat tokoh dunia persilatan yang memiliki ilmu sekuat itu dan parasnya yang rupawan aku tidak pernah melihat sebelumnya."
"Seruling kristal yang ada ditangannya juga sesuatu yang sangat istimewa. Membuatku semakin penasaran siapa sosok misterius ini sebenarnya?"
Eyang Raga Dewa mencoba mengingat-ingat kembali seluruh jagoan dalam ingatannya. Tetapi tidak ada seorangpun yang dia kenal memiliki ciri-ciri sesuai dengan sosoknya.
Rasa penasaran dalam dirinya untuk mengetahui lebih besar daripada rasa ingin tau Mahapatih. Disebabkan kekuatan luar biasa yang disaksikan sendiri di depan kedua mata begitu hebat membuat dirinya berdecak kagum. Bahkan jika kemampuannya dibandingkan sesosok misterius itu seakan langit dan bumi terpaut jarak yang begitu jauh.
Betapa hebatnya kekuatan yang ditunjukan kepada semua orang. Bahkan seumur hidupnya melalang buana dalam dunia persilatan tidak pernah melihat seorang pun manusia mampu berpindah tempat dengan begitu cepat.
"Bagaimana Naga itu bisa tumbang Eyang padahal kita sama-sama tidak mendengar sama sekali suara permainan serulingnya?"
"Tetapi Kita sama-sama menyaksikan akibat permainan seruling itu, kuping Naga meledak. Entah kekuatan seperti apa yang mampu membuat makhluk raksasa itu dibuat sampai kehilangan kesadaran?"
Seperti diketahui sebelumnya kepala monster itu telah dibelah tempurung kepalanya. Selain itu juga dihantam dengan pukulan sampai membuat hancur kepala bagian belakang sampai ke arah leher, tetapi tidak bisa membuat kesadarannya hilang. Bahkan beberapa kali ekornya masih sempat menghajar seluruh sisi yang ada dalam jangkauannya.
"Sinuwun, hamba juga tidak begitu paham tetapi ada gelombang suara yang manusia tak mampu mendengar tetapi makhluk lain dapat mendengarnya. Kemungkinan monster tersebut mendengar suara permainan seruling dari sesosok misterius itu."
Eyang Raga Dewa mencoba menganalisa kejadian yang telah terjadi didepan mereka sebelumnya, kepada Mahapatih.
**
Kabar telah diserangnya kerajaan Kendan dari teror Naga raksasa segera menyebar dengan cepat. Kehancuran yang menerpa kota raja terlalu besar untuk ditutupi.
"Aku tak menduga Hyang Anantaboga mau turun langsung menghadapi makhluk ini. Sepertinya ada sesuatu bahaya begitu besar yang mengintai dibalik kehadiran makhluk rhaksasa ini." Eyang Sindurogo menggumam lirih setelah kabar tentang adanya sesosok misterius yang telah berhasil mengusir Naga raksasa saat menyerang Kerajaan Kendan.
Eyang Sindurogo segera mengenali siapa sosok yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan dalam berita tersebut. Karena sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah Hyang Anantaboga.
"Suro sepertinya ini bukan pertanda yang bagus ada sesuatu yang lebih gawat dari pada Naga raksasa yang telah menteror hampir seluruh pesisir utara javadwipa."
"Eyang tidak tau bahaya apa yang tersembunyi yang lebih gawat dari pada serangan makhluk raksasa itu. Tetapi untuk saat ini lebih baik kita fokus kepada masalah makhluk itu dulu. Kita harus sesegera mungkin menemukan tempat persembunyiannya."
"Aku rasa tempat persembunyiannya bukanlah didaratan utama, tetapi disuatu tempat dilautan entah disuatu pulau kecil atau justru dialam lain?"
"Jika seandainya tempat sembunyinya adalah pulau tentu banyak nelayan yang melihatnya. Atau jika dia hidup didalam dasar laut dan bersembunyi disuatu goa, itu juga sesuatu hal yang mustahil. Sebab naga ini berelement api tak mungkin dia menyelam dikedalaman samudera, itu sama saja dengan bunuh diri."
"Alasannya tentu saja karena makhluk ini tidak mempunyai kemampuan hidup didalam laut. Selain itu air adalah lawan dari unsur element api yang dimilikinya."
"Kemungkinan yang terakhir adalah dia memiliki formasi gerbang sihir menuju alam lain yang memiliki dimensi ruang berbeda dari alam yang ada disini."
"Formasi sihir seperti apa yang Eyang guru maksudkan? Apakah mirip dalam kitab Formasi Sihir Gerbang Dimensi."
"Glek! Eyang Sindurogo menelan ludah kembali sepertinya Suro telah membaca kitab yang dulu jadi rebutan para penyihir hitam.
Kitab yang dia ambil dari mayat seorang tokoh aliran hitam yang telah dia kalahkan. Kitab itu tetap dia simpan walau belum sempat dibacanya karena dia yakin akan berguna suatu waktu selain itu sangat berbahaya jika kitab itu berada ditangan yang salah.
Potensi betapa sangat berbahayanya kitab itu jika disalah gunakan sudah dilakukan
tokoh golongan hitam yang memegang kitab itu sebelumnya. Alasan itulah yang mengawali dia harus membuat keputusan untuk menghentikan sepak terjang para tokoh golongan hitam membuat kerusakan dimuka bumi lebih lanjut.
Salah satu sebab dia harus menghentikan tokoh yang menjadi pemilik kitab ini sebelumnya juga karena begitu besarnya kerusakan yang telah dia lakukan.
Dia membunuhnya dengan cara membelahnya menjadi dua dan mengubahnya menjadi mayat, sebelum mengambil kitab yang ada ditangannya.
Walau sebenarnya saat itu dia tidak menyadari bahwa dia belum benar-benar membuatnya menjadi mayat. Sebab tokoh aliran hitam ini memiliki kemampuan yang membuat dirinya tidak cukup hanya dipotong saja jika benar-benar ingin membuatnya mati. Nama julukan yang masyur dari tokoh golongan hitam ini tak lain adalah tokoh yang memiliki sebutan Jerangkong dari Jurang Neraka.
"Ah aku jadi ingat. Bukan kah pemilik kitab itu guru dari Bathara Karang? Kemampuannya yang terakhir aku tau dia mampu menyerap kekuatan dari dunia kegelapan."
"Yek kamu tentunya sudah membaca semua isi kitab itu . Pernah tidak mempraktekkan isi dari kitab itu?"
"Tentu saja belum Eyang! Perintah Eyang guru dulu hanya disuruh menghafalkan semua bukan dipraktekkan semua."
"Plak!"
Eyang Sindurogo menepak jidatnya sendiri kemudian mengaruk-garuk rambutnya yang digelung dan diikat agak mendekati ubun-ubunnya.
"Oh...ya, tentu saja Eyang memerintahkanmu menghafalkan terlebih dahulu baru prakteknya eyang ajari!"
"Benar sekali Eyang Guru! Karena Eyang sudah berbicara mengenai kitab tersebut. Suro rasa ini waktu yang paling tepat meminta diajari Eyang untuk mempraktekkan cara membuka gerbang dimensi alam lain menggunakan formasi sihir didalam kitab tersebut."
Eyang Sindurogo kembali mengaruk-garuk ubannya yang masih satu dua dikepala. Sesuatu hal yang orang mungkin akan ragu jika dikatakan sosok Maha Resi ini telah berusia 500 tahun lebih. Sebab wajahnya yang tampan hanya memiliki sedikit keriput disudut matanya dan dijidat yang masih sedikit. Bahkan rambutnya memiliki tak lebih dari sepuluh lembar uban yang menempel dikepalanya.
"Itu dia yang menjadi masalah yek! Tidak semua kitab yang Eyang simpan telah Eyang baca. Sebab dari kitab yang banyak Eyang simpan awalnya berasal dari menyita kepunyaan tokoh-tokoh yang telah menyalah gunakan isi kitab-kitab tersebut. Eyang hanya menyimpannya saja agar tak lagi jatuh ditangan yang salah."
"Jadi Eyang belum membaca kitab itu juga?"
"Tentu saja belum!"
Kembali Eyang Sindurogo mengaruk-garuk kepalanya dia menjadi salah tingkah dihadapan muridnya yang melongo mengetahui fakta tersebut.
**
Kepulan debu menerjang jalanan kota raja sebuah rombongan kecil pasukan berkuda dengan seragam dari Kerajaan Kendan membelah jalanan dengan buru-buru menuju istana raja Kalingga. Utusan yang mewakili Kerajaan Kendan segera datang ke Kerajaan Kalingga untuk menanyakan kelanjutan koalisi yang dibentuk untuk penanganan teror yang dihadapi Tiga kerajaan.
"Kami sudah meminta bantuan kepada beberapa tokoh dunia persilatan. Dewa Pedang dan Eyang Sindurogo telah menyanggupi."
Mahapatih Lembu Anabrang menjelaskan dengan diakhiri senyumnya yang lebar dia mencoba menjelaskan tindak lanjut koalisi yang telah dia pimpin secara tidak langsung. Sebab dia yang mendapatkan titah dari Raja Kerajaan Kalingga dan Raja Kendan, yaitu Rajaresi Dewaraja atau Raja Sang Kandiawan. Selain itu Raja Tarumanegara juga menyetujui dirinya untuk menjadi panglima dari koalisi tiga kerajaan.
Raja Kalingga itu ikut tersenyum mendengar penjelasan Mahapatihnya. Mereka berdua tersenyum sebab dua pendekar terhebat dalam dunia persilatan sudah berada di istananya. Dua pendekar yang dimaksud tak lain adalah Dewa Pedang dan Eyang Sindurogo.
"Apakah telik sandi dari Kerajaan Kalingga sudah mendapatkan kemungkinan tempat yang dapat dicurigai sebagai sarang makhluk itu?" Adipati Lowo ireng menanyakan sebuah pertanyaan yang telah dia simpan sejak perjalanannya dari Kerajaan Kendan.
"Untuk sementara seperti yang diketahui bersama tidak ada yang tau dimana sarang makhluk itu berada. Meskipun begitu telik sandi kami telah menyebar keseluruh pesisir dan juga pulau-pulau diLaut utara javadwipa."
Mahapatih kembali menjelaskan kemajuan yang dia capai untuk sementara. Tetapi sepertinya penjelasan itu tidak cukup memuaskan Adipati Lowo Ireng.
"Yai Mahapatih saya paham kesulitan kanda mencari sarang makhluk itu tetapi jika kita hanya menunggu dan menunggu kedatangan serangan berikutnya dari Naga raksasa itu, sama saja kita pasrah untuk disembelih."
Adipati Lowo Ireng sedikit menekan suaranya menunjukan sedikit emosi yang coba dia kuasai. Itu semua dikarenakan Kerajaannya baru saja diserang makhluk rhaksasa tersebut. Tentu saja jiwanya masih bergejolak dengan duka yang mendalam terasa menyesakkan dadanya. Sebuah peristiwa yang tentu saja sangat susah untuk diterima. Sebuah kenyataan yang menyayat dengan begitu banyaknya korban yang telah diderita.