
Mendengar rencana Suro Dewa Pedang menjadi khawatir dan juga tidak memahami maksud Suro akan balik ke gunung Arjuno tempat pertapaan Eyang Sindurogo.
"Apakah perlu paman perintahkan beberapa tetua menemani nakmas?" Dewa Pedang menatap Suro, terlihat dia berat membiarkan Suro pergi sendiri. Entah mengapa Dewa Pedang merasa menyayangi Suro seakan anaknya sendiri.
"Mohon maaf paman guru, dengan tidak mengurangi rasa hormat Suro kepada paman, tetapi perjalanan ini sebaiknya saya sendiri saja yang melakukannya." Suro menolak penawaran itu dengan mantab tanpa ragu, membuat Dewa Pedang tidak mengulang perkataannya.
"Baiklah jika itu yang nakmas Suro inginkan. Tetapi kalau paman boleh tau memang ada urusan apa nakmas kembali ke gunung Arjuna?"
"Karena ada beberapa hal yang harus saya lakukan paman. Salah satunya terkait dengan zirah yang melekat dibadan saya ini."
"Dan hal penting lainnya terkait dengan kitab-kitab milik Eyang guru harus Suro sembunyikan, agar siapapun tidak bisa menemukannya. Terutama orang-orang yang telah menguasai kesadaran eyang. Jika mereka menemukannya aku yakin akan menjadi bencana lebih besar lagi bagi semua. Karena semua kitab yang disimpan adalah kitab dunia persilatan kelas wahid. Selain itu ada satu kitab disana yang sangat sakral yang tidak sembarangan orang boleh memilikinya."
"Kitab apa yang nakmas maksud?"
Suro terlihat ragu untuk menjawab, tetapi berhubung hanya ada mereka bertiga yang ada diruangan tersebut, selain itu dia sudah percaya dengan mereka berdua. Akhirnya Suro membeberkan mengenai kitab tersebut.
"Kitab tanpa aksara, Kitab Sastra Jendra Pangruwating diyu."
"Apa?" Dewa Pedang begitu terperanjat begitu mendengar perkataan Suro. Membuat dia sampai melotot seakan tidak mempercayai yang dia dengar.
Dia akhirnya mulai mengurut-urut jidatnya memandang Dewa Rencong yang tak kalah terperanjatnya.
"Be..benarkah yang barusan paman dengar jika Eyang Sindurogo memiliki kitab itu?" Dewa Rencong bahkan sampai mendekatkan wajahnya seakan tidak mempercayainya
"Benar paman, kitab itu salah satu koleksi milik Eyang Sindurogo."
"Bagaimana mungkin jika dia memiliki kitab itu masih bisa dirasuki oleh kekuatan kegelapan. Sebab isi kitab itu konon katanya mampu mengubah manusia sekalipun mampu berubah menjadi Dewa."
"Sayangnya Eyang guru belum mampu membaca kitab tersebut. Karena memang kitab tersebut sesuai dengan namanya tidak ada satu huruf pun didalam kitab tersebut. Untuk membacanya memerlukan cara tersendiri dan setiap orang belum tentu mampu melakukannya."
"Lalu bagaimana nakmas tau jika itu kitab sastra jendra jika tidak ada tulisannya sama sekali. Siapa yang sudah membacanya untuk membuktikan jika kitab itu bukan kitab yang kosong?" Dewa Pedang kembali bertanya, karena terasa tidak masuk akal sebuah kitab kosong mlompong tidak ada tulisannya disebut kitab sastra jendra.
"Karena Suro telah mampu menyerap isi kitab tersebut. Tetapi sampai sekarang Suro belum memahaminya. Karena seakan setiap huruf itu telah berkumpul dalam kesadaran Suro, tetapi susah untuk dicerna. Suro juga tidak mengetahui cara untuk mempelajarinya. Hanya saja ada beberapa pupuh yang Suro hafal seperti sebuah nada dalam sebuah kidung. Karena judulnya adalah Bhagavad gita atau nyanyian Sri Krishna."
Kembali dua pendekar dibuat terkejut dengan perkataan Suro. Mereka berdua saling pandang
Dewa Pedang kemudian teringat perkataan Eyang Sindurogo yang menyebut bahwa Suro mampu membongkar suatu rahasia yang sudah dicoba berkali-kali olehnya, bahkan sudah ratusan tahun sejak menemukannya pertama kali. Tetapi dia tetap tidak mampu untuk memecahkannya.
"Jadi rahasia ini yang dulu Eyang Sindurogo ceritakan. Dia menyebut, jika salah satu hal yang dia tidak bisa pecahkan selama ratusan tahun, hanya dalam hitungan bulan muridnya sudah mampu membongkar rahasia yang tidak bisa dia pecahkan." Dewa Pedang mengusap-usap jenggotnya sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Apakah adimas mengetahui ini sebelumnya?" Dewa Rencong yang masih terkesima mendengar perkataan Suro langsung menoleh ke arah Dewa Pedang.
"Tidak kakang, hanya saja Eyang Sindurogo sedikit menyinggung mengenai hal ini, tetapi tidak dijelaskan lebih lanjut."
Suro terkejut jika gurunya pernah menyinggung apa yang telah dia lakukan kepada Dewa Pedang.
"Sebenarnya yang terjadi bukan Suro yang membongkar cara menyerap kitab tersebut. Karena yang sebenarnya terjadi adalah Suro dibantu oleh kekuatan yang dimiliki jiwa dari zirah ini paman." Suro menunjuk zirah perang dibalik bajunya. Zirah itu kini hanya menutupi bagian dada dari Suro. Bagian yang menutup kaki dan tangan telah menghilang.
"Zirah ini memiliki jiwa?" Dewa Rencong bertanya sambil mengaruk-garuk kepalanya. Agaknya dia ikut pusing mendengar perkataan Suro.
"Benar paman Maung, zirah ini memiliki jiwa yang bisa berbicara dengan Suro didalam alam pikiran. Sama seperti bilah pedang ini."
"Apakah kakang pernah mendengar hal seperti ini?" Dewa Pedang mengalihkan pandangannya ke arah Dewa Rencong yang masih mengaruk-garuk kepalanya.
"Benar adimas rata-rata pusaka Dewa umumnya memiliki jiwa. Tetapi tidak semua jiwa pusaka itu mau berbicara, jika yang menguasai pusaka itu bukan pemiliknya yang sejati. Sehingga dengan itu membuat pusaka itu kekuatannya tidak akan mampu keluar secara penuh."
"Sepertinya pedang yang nakmas pegang itu telah merasa menemukan pemiliknya yang sejati. Sebab saat aku melawan Pedang iblis, jurus yang dia kerahkan tidak membuat pedang itu mampu membuat api sebesar saat nakmas yang mengerahkannya "
Suro hanya mengangguk-anguk mendengar perkataan Dewa Pedang, karena pada saat itu Lodra sedang mengumpat-umpat menjawab perkataan Dewa Pedang. Dia berkali-kali menyebut, bahwa dia tidak sudi membantu Pedang iblis, kecuali karena terpaksa saja.
"Pada perang yang terjadi di Kadipaten Banyu kuning yang menyelamatkan Suro saat terjatuh dari langit adalah jiwa dari pedang ini. Sebab saat Suro jatuh dari atas awan hitam waktu itu, sebenarnya Suro sudah kehilangan kesadaran, karena terkena kuatnya pukulan eyang guru."
"Kemudian jiwa pedang ini mengambil alih kesadaran tubuh Suro. Begitu juga saat Eyang guru menghantam Suro hingga membuat kawah yang cukup dalam. Jiwa dari dua pusaka ini bersatu menghadapi kekuatan Eyang guru. Jika tidak, tentu Suro pasti sudah mati."
Kemudian Suro mulai bercerita tentang semua kepada dua pendekar itu tentang yang terjadi sebenarnya saat pertempuran melawan pasukan Medusa. Dia bercerita tentang dua jiwa pusaka Dewa miliknya yang kini telah bersatu dengannya dalam alam kesadarannya.
"Apakah itu tidak masalah, bocah? Apakah tidak khawatir jiwa pusaka ini akan merasukimu kembali dan mencuri kesadaranmu, seperti yang terjadi pada Eyang Sindurogo?" Dewa Rencong terlihat sedikit khawatir setelah mendengar cerita Suro.
"Saya rasa tetap aman tidak terjadi kecuali dalam keadaan darurat seperti waktu itu, paman. Jiwa zirah ini Hyang Kavacha baru saja menjawab pertanyaan paman Maung."
"Kavacha? Apakah adimas pernah mendengar nama itu?" Dewa Rencong mengaruk-garuk kepalanya sambil menatap Dewa Pedang.
"Pantas saja seperti dugaanku zirah itu sekelas pusaka Dewa. Ternyata zirah itu milik Sang Hyang Surya atau juga yang dikenal dengan nama Savita(pemberi hidup) atau juga Arka(cahaya), Ravi( burung api), Bhaskar(pencipta cahaya), Divakar(pencipta hari) dan juga dengan nama Grahapati Sang Penguasa Matahari."
"Sebenarnya siapa latar belakangmu bocah, kemampuanmu dan segala yang kamu miliki ini bukanlah milik manusia biasa?" Dewa Rencong kembali memelototkan matanya memandang Suro dengan kagum.
Suro hanya mengaruk-garuk kepalanya sambil menyengir, karena dia juga tidak tau menahu.
"Nanti paman Maung tanyakan sendiri kepada Eyang guru, jika kita mampu membuatnya sadar dan mampu mengembalikan ingatannya kembali. Karena dia yang tau semua itu paman. Hehehehe...!"
"Perjalanan menuju ke gunung Arjuno cukup menguras waktu dan tenaga. Kamu akan naik apa?" Kembali Dewa Rencong bertanya ke arah Suro.
"Suro sedang mempelajari ilmu pedang terbang dari bilah pedang ini paman Maung. Bilah pedang ini memiliki nama Lodra yang agung. Dia juga yang mengajariku tehnik pedang yang pada waktu perang Suro pernah perlihatkan. Karena jurus khusus ini mampu membuat pengendalian api hitam pada bilah pedang ini semakin dahsyat."
"Selain itu menurut pepulun Lodra yang agung dia menyebut bahwa pedang ini sebenarnya pedang yang memiliki kemampuan terbang. Dan yang paling awal dibuat dari jenis bilah pedang terbang. Karena itu Suro akan menaiki bilah pedang ini menuju gunung Arjuno." Suro kemudian menunjukan bilah Pedang Kristal Dewa miliknya kepada Dewa Rencong.
"Kalau tidak salah Pedang yang nakmas gunakan bukankah awalnya berwarna hitam?" Dewa Pedang ikut mengamati bilah Pedang yang disodorkan Suro ke arah Dewa Rencong.
"Benar paman, pedang ini berubah menjadi pedang kristal seperti ini setelah menghisap kekuatan besar para siluman saat di atas awan hitam."
"Setelah menjadi pedang kristal seperti ini, kekuatannya setara dengan pedang pusaka Dewa." Dewa Pedang ikut memegang bilah pedang tersebut dengan kagum. Dia tidak menyangka jika bilah pedang yang dipegang lawannya pada waktu itu kekuatan puncaknya ternyata sekelas pusaka Dewa.
"Sekali lagi Suro mohon ijin kepada paman berdua untuk bersiap menuju gunung Arjuno hari ini juga. Mungkin satu purnama ke depan Suro baru bisa kembali ke Perguruan Pedang Surga ini paman guru!" Suro menjura kepada dua pendekar tersebut dengan begitu khidmat.
Setelah itu Suro segera meninggalkan kediaman Dewa Pedang untuk bersiap kembali ke Gunung Arjuna. Dia kembali ke kediaman Kolo Weling untuk mempersiapkan semuanya.
Dua pendekar itu hanya mengangguk menjawab perkataan Suro. Mereka berdua kembali menekuni salinan yang diberikan Suro. Dua pendekar itu yang kekuatan tenaga dalamnya sudah pada puncak shakti, akhirnya membutuhkan waktu seminggu untuk bisa benar-benar memahami seluruh kidung itu.
Setelah itu merasa apa yang tertulis itu mereka pahami secara sempurna, mereka kemudian mulai melakukan latihan tertutup. Selama latihan mereka belum selesai siapapun tidak diperkenankan mengganggu. Bahkan ruangan yang mereka gunakan ditutup rapat dan diberikan penjagaan ketat secara terus menerus.