
"Bocah kesempatan ini aku gunakan untuk wedar kaweruh mengenai kekuatan jiwa." Dewa Rencong terlihat duduk di sebuah ruangan bersama Suro. Ruangan itu adalah bagian dari rumahnya yang berada di atas bukit, dibelakang rumah Kolo weling.
Di ruangan lain, tepatnya ruangan khusus untuk membuat penawar racun, Dewa pedang bersama Kolo weling masih membahas kelanjutan mengenai status dia yang telah resmi menjadi bagian Perguruan Pedang Surga.
Kali ini mereka membahas mengenai hal itu bersama Eyang Udan asrep. Wakil ketua Perguruan itu memang mendorong untuk memanfaat kondisi ketua perguruan yang sedang ada untuk membahas semuanya sejelas mungkin.
Sebelumnya Dewa Rencong ikut bersama mereka. Tetapi karena Dewa Rencong sebenarnya bukan bagian dari Perguruan Pedang Surga, maka dia memilih menyingkir dan menemui Suro.
Dia kemudian teringat dengan niatnya yang sudah tertunda sejak lama. Dia agaknya sama seperti juga dengan eyang Udan asrep, ingin memanfaatkan waktu yang sempit itu selagi bersama Suro, yaitu untuk menurunkan ilmu kekuatan jiwa. Sebab sudah beberapa kali dia mencoba, tetapi kondisi dan situasi tidak memungkinkan.
Dia perlu menurunkan ilmu itu, sesegera mungkin juga ada hubungannya dengan Suro yang sekarang telah berbagi kesadaran dengan tiga jiwa lain yang telah bergabung dengannya. Dewa Rencong yang memiliki pemahaman ilmu jiwa yang cukup tinggi, memahami itu adalah sesuatu hal yang tidak mudah.
Karena itulah dia bertekad untuk menurunkan ilmu yang mampu membangkitkan kekuatan jiwa pada diri Suro secepatnya. Sehingga mampu mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, salah satunya gila mungkin. Seperti sekarang dia memulai wedar kaweruh tentang ilmu itu kepada Suro.
"Aku rasa waktu yang sempit ini harus aku gunakan untuk membantumu menguasai tiga jiwa yang telah bersatu dalam kesadaranmu." Dewa Rencong menghela nafas panjang sebelum kembali menjelaskan niatnya. Suro duduk bersimpuh didepan Dewa Rencong sebagai bentuk sikap hormat.
"Ini juga berhubungan dengan lawan yang kita hadapi, yaitu Dewa Kegelapan. Karena dengan ilmu Ini akan membantumu menguasai jiwamu, agar tidak akan mudah di pengaruhi oleh hawa kegelapan."
"Salah satu alasan mengapa waktu itu aku tidak terlalu terpengaruh oleh hawa kegelapan yang terlanjur masuk dalam jiwaku, adalah karena kekuatan jiwa yang telah aku kuasai."
"Mengapa Dewa Pedang dan tetua Dewi anggini tidak ikut serta mendengar wedar kaweruh ini paman?" Suro teringat dengan kondisi Dewa Pedang dan tetua Dewi anggini yang sedikit terganggu dengan adanya hawa hitam dalam diri mereka, sesaat setelah keluar dari alam kegelapan.
"Mereka pendekar tingkat atas bocah. Tentu saja mereka juga sudah memiliki dasar ilmu jiwa, walau tingkatannya tidak setinggi diriku. Jika tidak, tentu mereka sudah kehilangan kesadarannya. Jika hal itu terjadi, maka dapat dipastikan tentu jiwanya telah dikuasai kekuatan kegelapan."
Suro akan kembali bertanya kepada Dewa Rencong mengenai gurunya, yaitu eyang Sindurogo yang seorang pendekar terkuat di seluruh Benua Timur, mengapa bisa dipengaruhi oleh hawa kegelapan. Tetapi Geho sama lah kemudian menjelaskan kembali alasan mengapa gurunya sampai hilang kesadarannya. Kemudian justru dikuasai jiwa dari Dewa Kegelapan.
'Tuan Suro jangan samakan jiwa Dewa kegelapan dengan hawa kegelapan, itu sesuatu yang berbeda. Karena perbedaan kekuatan diantara keduanya seperti langit dan bumi. Jika hawa kegelapan yang menyerang para sisa pasukan Madusa hanyalah bagian terkecil darinya, maka jika jiwanya sendiri adalah sesuatu yang teramat kuat. Karena dari situlah sejatinya hawa kegelapan itu berasal.'
'Walaupun itu sebenarnya juga hanya pecahan jiwa saja. Namun dengan hanya pecahan jiwa dari keseluruhan kekuatan jiwa yang dimilikinya, seandainya gurumu itu tidak tersentuh berkah dari tirta amerta, aku yakin wadaknya atau raganya akan hancur tidak tersisa lagi. Meskipun itu hanya abunya."
'Selain itu, kondisi gurumu yang terlalu ceroboh menghimpun hawa kegelapan dengan ilmu empat sage, menjadi salah satu sabab musabab mengapa jiwa dari dewa kegelapan mampu merasukinya dengan mudah. Jiwa gurumu aku yakin telah dipenjarakan dengan menggunakan jurus semesta hitam milik Dewa kegelapan.'
Suro hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Geho sama mengenai nasib gurunya yang telah hilang ingatan.
'Lalu mengapa eyang guru tubuhnya tidak berubah seperti para sisa pasukan Medusa yang berubah menjadi makhluk kegelapan Geho sama?'
'Tentu saja tidak, karena memang tujuan jiwa Dewa kegelapan merasuki tubuh makhluk lain adalah agar tidak hancur karena sudah masuk dalam ranah dunia manusia. Jika dia merubahnya menjadi wujud makhluk kegelapan sama saja dia bunuh diri, sebab tubuh makhluk kegelapan itu tidak mampu melindungi dirinya dari ancaman lingkaran samsara yang mampu menghancurkan jiwa miliknya.'
Suro yang terlihat termenung mendengar penjelasan Geho sama, tertangkap oleh mata Dewa Rencong, membuat lelaki itu juga menghentikan ucapannya dan menunggu hingga Suro memperhatikan apa yang dia akan bicarakan.
"Sudah jangan pikirkan yang lain, aku akan memulai menjabarkan ilmu ini kepadamu, sebaiknya kamu dengarkan baik-baik agar mampu kamu pahami. Pelatihan ilmu ini cukup dengan bermeditasi. Tetapi kamu harus memahami dasar dari ilmu ini terlebih dahulu. Sebab ini terkait dengan sesuatu dalam dirimu, hampir tidak berhubungan dengan ragamu."
"Sendiko dawuh paman Salya, Suro akan mendengarkan wedar kaweruh yang akan paman jabarkan." Suro menundukkan badan sebagai bentuk penghormatan dan juga ketundukan seorang murid kepada guru.
"Sebelum kita membahas tentang kekuatan jiwa. Aku akan menceritakan tentang alam raya secara garis besarnya saja. Ini aku ceritakan agar kamu mampu memahami dengan baik penjelasanku mengenai kekuatan jiwa."
Suro kembali mengangguk mendengar perkataan Dewa Rencong.
"Sesungguhnya alam raya ini memiliki istilah lain bernama jagat agung atau jagat besar. Diri kita ini sesungguhnya perwujudan dari bentuk kecil dari jagat agung yang disebut jagat alit."
"Alam raya dibentuk oleh lima unsur dasar yang dikenal dengan sebutan panca mahabhuta. Di dalam tubuh manusia juga sama dibentuk oleh panca mahabhuta. Karena hal itulah mengapa Dewa kegelapan dapat mengambil alih kesadaran manusia. Sebab ada bagian dalam diri manusia yang merupakan bagian dari Dewa Kegelapan."
"Panca mahabhuta dalam diri manusia lebih dikenal dengan istilah lain, yaitu sedulur papat limo pancer. Sedulur papat mewakili unsur air, api, tanah dan angin. Sedangkan yang ke lima pancer adalah mewakili unsur terakhir yaitu akhasa atau ruang. Bagian di dalam pancer inilah yang di dalamnya ada bagian dari Dewa kegelapan. Masalahnya pancer ini adalah bagian inti dari semua lima unsur yang ada. Bisa dikatakan penggerak dari empat unsur lainnya."
"Sedulur papat juga disebut saudara gaib atau marmati. Empat saudara gaib ini berada di empat penjuru arah mata angin. Jika kita mampu menguasai sedulur papat, maka mereka dapat menjadi pamomong atau penjaga manusia. Jika kamu mampu menguasai tehnik ini kamu bukan saja mampu mengerahkan ilmu ngrogoh sukmo, tetapi mampu melakukan sesuatu yang berada ditingkat selanjutnya, yaitu mampu mewujudkan empat saudara gaibmu. Apalagi kamu sudah mampu menguasai tiga jiwa dalam kesadaranmu. Aku rasa kamu akan sangat mudah memahami apa yang aku ajarkan ini."
"Empat saudara gaib atau marmati yang berada diempat penjuru arah mata angin memiliki nama sendiri-sendiri."
"Itu gambaran sedikit tentang sedulur papat, sedangkan penjelasan ke bagian yang ke lima atau pancer, sebenarnya itu mewakili ruang yang berwujud diri kita sendiri. Tetapi pengertian diri sendiri yang paman maksud adalah diri kita yang sejati atau sang aku sejati. Mungkin agar lebih mudah dipahami, paman akan menyebut sebagai hati nurani."
"Untuk mampu mengikat sedulur papat dalam inti jiwa, kita harus mengenali hal lain dalam diri."
"Hal lain yang paman maksud adalah tiga buah alat batin, yang pertama dikenal sebagai kalbu, kedua adalah ruh. Sedangkan untuk yang ketiga disebut sebagai inti jiwa atau juga disebut telenging kalbu atau wosing jiwangga."
"Selain tiga hal barusan ada tiga hal lain yang harus kamu pahami. Tiga hal yang paman maksud memiliki istilah tridaya. Mungkin kamu akan mudah menyebutnya sebagai cipta, rasa, dan karsa."
"Penjelasan cipta adalah kekuatan yang mengawali semuanya, yaitu tercetusnya sebuah rencana atau pengambaran dalam benak kita."
"Rasa adalah kekuatan halus yang menyelimuti dan menyatu dalam benak. Kemudian akan menimbulkan kesan yang lebih dikenal sebagai perasaan atau juga disebut emosi."
"Sedangkan yang terakhir adalah karsa, inilah kekuatan yang menggerakkan cipta dan rasa sehingga terlaksana."
"Seseorang yang mampu mengenali diri yang sejati atau sang aku sejati, maka akan mampu mengatur tridaya. Sehingga akan menjadi sebuah kekuatan yang manunggal atau menyatu. Tridaya dalam tataran tertinggi disebut Tridaya Sang Maha Agung."
Panjang lebar Dewa Rencong menjabarkan ilmu tentang kekuatan jiwa. Suro terus menyerap semua penjelasan yang dijabarkan dengan gamblang oleh pendekar Swarnabhumi. Meskipun begitu, terlihat beberapa kali Suro meminta penjelasan yang lebih mendetail mengenai ilmu yang dia wedar.
**
Selama beberapa hari Suro terus mendalami kekuatan jiwa yang telah dijelaskan Dewa Rencong sebelumnya. Selain itu dia juga kembali pada kegiatan melatih jurus sepuluh pedang terbang kepada Mahadewi, Made pasek dan juga Kolo weling. Selain itu dia bersama Kolo weling terus belajar meracik racun dan juga penawarnya. Dengan bantuan Tohjaya membuat kemampuan Kolo weling meningkat sangat pesat, sehingga Suro dapat bertanya banyak padanya.
Setelah berlatih selama lebih dari tiga purnama, akhirnya Mahadewi dan lainnya mampu memainkan sepuluh jarinya untuk mengatur pergerakan sepuluh bilah pedang. Walaupun gerakan bilah pedang
yang mereka mainkan belum bergerak dengan sempurna.
Memang mereka masih membutuhkan waktu yang lebih lama agar gerakannya dapat sempurna. Karena memang sangat susah untuk membagi pikiran dalam satu waktu pada sepuluh bilah pedang yang bergerak serentak.
Pagi itu seperti biasanya Suro melatih mereka bertiga ilmu pedang di halaman rumah Kolo weling.
Mendadak sesosok manusia turun dari langit dan mendarat didekat Suro. Dia adalah kepala Perguruan Pedang Surga, yaitu Dewa Pedang.
"Ada apa paman seperti tergesa-gesa?" Suro tersenyum menatap wajah Dewa Pedang yang terlihat tegang.
"Ada sesuatu yang gawat nakmas."
"Gawat mengenai apa paman? Seperti hal yang darurat saja?"
"Perguruan Pedang Bayangan diserang makhluk kegelapan! Kita harus segera menuju ke sana."
"Bagaimana paman tahu bukankah perguruan itu berada di dalam kerajaan Tarumanegara berada tidak jauh dari Sundapura?"
"Itu nanti saja paman jelaskan, sekarang kita harus segera menuju kesana sesegera mungkin. Hanya nakmas yang mampu melakukan itu. Karena itu paman hendak meminta bantuan agar dapat mengantarkan pasukan menuju ke Sundapura dimana Perguruan Pedang Bayangan berdiri." Dewa Pedang mencoba menghemat waktu dengan menjelaskan secukupnya. Wajahnya terlihat begitu tegang dan tidak terlihat ada senyum sedikitpun.
Suro lalu mengangguk dan mulai menyiapkan semua untuk berangkat menuju Sundapura.
Pemimpin Perguruan Pedang Bayangan saat ini adalah Azura. Setelah dia berhasil mendapatkan jabatan tetua muda, dia kemudian kembali ke Sundapura. Karena dia adalah murid utama yang langsung mendapatkan semua ilmu dari eyang Giling Wojo. Gurunya itu adalah kepala Perguruan Pedang Bayangan, sekaligus pendiri perguruan itu. Dia dulu dikenal sebagai Kepala Pasukan Iblis yang banyak merontokkan aliran hitam. Namanya sangatlah disegani di dunia persilatan.
Karena salah satu alasan itulah mengapa Azura dipilih untuk menggantikan posisi gurunya. Apalagi kemampuannya memang sangat luar biasa. Hal itu bisa dibuktikan dengan pencapainnya mendapatkan jabatan sebagai tetua muda dalam ajang pemilihan, yang diadakan di perguruan pusat Pedang Surga.
**
Dukungannya berupa comment, like , point dan koin tetap ditunggu author. Terimakasih untuk semua yang telah mendukung novel ini.