
Melihat pasukan musuh berlesatan hendak menuju ke atas benteng, Dewa Obat segera mengarahkan busurnya ke arah mereka. Anak panah chakra melesat menerjang ke arah Chugutai, Yim Lan, juga ke arah Jendral Ulagan dan seluruh pasukannya yang memiliki kulit hitam legam.
Serangan anak panah chakra memang berhasil mengenai pasukan Jendral Ulagan, tetapi tidak membuat mereka mati. Mereka sempat tidak sadarkan diri, kemudian mereka segera bangun dan kembali berloncatan ke atas benteng.
Dewa Obat yang melihat hal itu tentu saja tetap terkejut, tetapi wajahnya justru tersenyum.
"Kalian jangan senang dahulu, apa kalian pikir aku akan membiarkan kalian berbuat sesuka kalian sendiri!"
Teriakan Dewa Obat dilambari kekuatan tenaga dalam sehingga mampu mengalahkan dari bisingnya suara pertempuran. Di waktu yang sama pasukan dari perguruan aliran hitam mulai bergerak.
Mereka sebelumnya memilih menahan diri, setelah hujan panah milik Dewa Obat menghabisi ribuan pasukan yang berada di garis terdepan. Setelah Jendral Ulagan mulai menyerang anak panah itu berpindah arah serangan.
Kesempatan itu digunakan para pendekar aliran hitam. Mereka para pendekar yang sudah berada pada tingkat langit ke atas segera bergerak menyusul ke atas benteng ikut menggempur pertahanan pasukan kekaisaran. Sedangkan sisanya bergabung dengan pasukan yang berusaha menjebol gerbang.
Melihat pasukan pendekar aliran hitam mulai bergerak tak urung perhatian Dewa Obat berpindah ke arah mereka. Terutama pasukan yang berada di depan gerbang. Mereka menggunakan sebuah batang pohon besar yang digunakan sebagai palu untuk menjebol gerbang.
Batang pohon itu di tempatkan sedemikian rupa sehingga bisa di ayun. Setiap ayunannya itu seakan palu besar yang mencoba menjebol gerbang besar didepan mereka.
Suara dentuman bertalu-talu itu menyita perhatian Dewa Obat, bahkan dia sampai mengacuhkan musuh yang kembali melesat ke arahnya. Padahal pasukan itu sebelumnya telah dia serang dengan menggunakan jurus Janus Sahasra atau panah seribu yang berhasil menghujani mereka.
Melihat gerbang benteng yang berusaha dijebol musuh, Dewa Obat tidak tinggal diam. Dia kemudian memanggil senjata gaib miliknya yang lain.
"Vayuvyaatra!"
Serangan Dewa Obat kali ini terasa janggal. Aih-alih mengarahkan busurnya ke arah musuh, dia justru mengarahkan Gandewa Wijaya miliknya ke arah langit.
Wuuusss...
Bldaaar!
Bldaar!
Bldaaar!
Begitu Astra miliknya melesat menerjang awan yang berada di langit, maka kilat petir langsung bertaburan menghiasi awan dalam jumlah yang tak terhitung. Kemudian secara cepat awan hitam yang diatas langit mulai berkumpul dan mulai membentuk pusaran besar.
Setelah itu awan yang masih berada di langit itu mulai bergulung-gulung turun kebawah dengan cepat. Sekejap kemudian dihadapan pasukan gabungan terbentuklah pusaran tornado yang maha dahsyat. Pusaran angin berkekuatan besar itu menarik semua yang berada didekatnya.
Angin berkekuatan besar mulai bergerak dan menyapu seluruh benda yang ada dalam jangkauannya. Termasuk didalamnya adalah para prajurit. Sekuat apapun mereka berusaha kekuatan alam itu berhasil menyedot mereka masuk dalam putaran tornado yang dipenuhi kilat petir.
Jendral Ulangan sampai terpana melihat begitu mengerikan, "Ini bukan kekuatan manusia!"
Vayuvyastra atau Bayuyastra adalah Astra milik Dewa Vayu atau Batara Bayu. Batara Bayu dikenal juga sebagai Dewa Angin. Pusaran berkekuatan besar itu muncul ditengah paukan musuh, akibatnya barisan pasukan gabungan itu hancur luluh lantah.
Serangan itu tidak berlangsung secara terus menerus. Setelah menyapu pasukan gabungan yang berada di garis terdepan, pusaran angin berkekuatan mengerikan itu lalu menghilang. Tentu saja pasukan musuh yang ikut tersedot ikut menghilang terlempar entah kemana.
Dewa Obat sendiri kembali menelan Pill Tujuh Nirwana untuk mengembalikan kekuatan yang telah terkuras. Terlihat didahinya bercucuran keringat sebesar jagung-jagung.
Kondisi itu menunjukkan, jika untuk mengerahkan serangan berkekuatan dahsyat barusan membutuhkan tenaga dalam yang tidak kepalang tanggung. Karena besarnya bahkan telah menguras tenaga dalamnya.
Melihat kondisi itu kembali Jendral Ulagan merasa memiliki peluang membunuh musuhnya itu. Sebagian dari pasukan miliknya yang berlesatan menyusul dirinya justru ikut terbawa badai tornado.
"Gerbang ketiga Kemunculan Iblis!"
Jendral Ulagan segera meningkatkan kekuatannya dengan membuka gerbang ketiga dari kekuatan benih iblis. Setelah itu tubuh Jendral Ulagan melesat menerjang ke arah Dewa Obat.
Jurus tombak Sang Talaka andalannya langsung menerjang ke arah Dewa Obat seperti bendungan yang hancur. Putaran tombak menderu dengan suara seakan badai.
Melihat musuh yang mendekat ke arahnya, Dewa Obat sempat melesatkan panah chakra dan menghujani tubuh Jendral Ulagan, tetapi tubuh milik musuhnya itu terlampau kuat. Bahkan serangan pedang milik Jendral Yuwen Huaji yang sudah mencapai tingkat surga sekalipun tidak mampu mengoreskan luka dikulitnya.
"Ternyata ucapan Jendral Yuwen Shiji memang benar, kulit kalian lebih ulet dan lebih kuat dibandingkan tempurung kura-kura. Bahkan lebih kuat dari zirah baja sekalipun!"
Dewa Obat lalu mundur setelah serangannya tidak mampu melukai lawannya. Tetapi Jendral Ulagan tidak memberi kesempatan, dia kembali mengejar dengan serangan berikutnya. Namun dia terkejut saat tombak miliknya berhasil menghantam tangan Dewa Obat.
Buuuuk!
Suara hantaman tombaknya tidak mampu membuat luka di tubuh Dewa Obat.
"Kau pikir hanya kulitmu saja yang mampu menjadi sekeras baja dan seulet tali laba-laba? Kau baru saja menyaksikan kehebatan ilmu Genta Kumala!" Senyuman Dewa Obat merekah melihat serangan musuh tidak mampu melukai tubuhnya.
Kembali Dewa Obat mundur untuk membuat jarak, sebb pendekar itu hendak melepaskan astra miliknya. Tetapi akan sangat berbahaya jika dia berada pada jarak yang terlalu dekat, saat astra miliknya menghantam musuhnya.
Kekuatan besar milik astra yang dia lepaskan sangatlah kuat, sehingga daya penghancur yang dimilikinya mampu menjangkau dalam radius cukup jauh. Minimal mencapai jarak lebih dari lima tombak.
"Ini bukan waktunya untuk bermain-main Ulagan! Cepat habisi kakek tua sialan ini!" Yim Lan utusan timur merepet melihat Jendral Ulangan yang serangannya terkenal ganas tidak juga menghabisi Dewa Obat.
"Tutup mulutmu Yim Lan! Apa kau tidak melihat tubuhnya kebal tidak bisa dilukai seperti juga kulit tubuhku?"
Gerutu penuh kekesalan dari Jendral Ulagan membuat Utusan Timur Jendral Yim Lan tercekat. Dia segera memperhatikan memang setiap tebasan cepat dari Jendral Ulagan mampu menyambar tubuh musuh beberapa kali.
Jangan kan membuat luka, bahkan tombak yang beratnya ratusan kati itu tidak membuat guratan sedikitpun. Seakan ada sebuah medan kekuatan yang melindungi tubuh Dewa Obat.
Yim Lan tidak tinggal diam kipas yang dia pegang sedari tadi segera menghajar Dewa Obat dari sisi yang berlawanan dimana saat itu Jendral Ulagan juga sedang berusaha menghantamkan tombaknya dengan lebih kuat.
Trang! Trang!
Melihat dirinya dikeroyok Dewa Obat lalu memanggil senjata astra miliknya yang berupa pedang. Dia lalu menangkis gempuran senjata lawan dari dua sisi.
Tetapi kondisi itu tidak juga mampu melukai Dewa Obat. Melihat hal itu utusan selatan, yaitu Jendral Chagatai ikut mengepung Dewa Obat. Seperti Yim Lan, Chagatai juga mendapatkam titah dari Khan Langit untuk menghabisi Dewa Obat.
Khan Langit murka melihat pasukannya dibantai dengan begitu mudah, bahkan dalam waktu singkat ribuan prajurit miliknya mati oleh serangan panah chakra Dewa Obat.
Jendral Yuwen Shiji, maupun para pendekar yang sebelumnya datang bersama Dewa Obat tidak memiliki kesempatan membantu dirinya. Sebab mereka juga harus menghadapi para pendekar aliran hitam yang ikut menyerbu berloncatan naik ke atas benteng.
Terutama para pendekar yang berasal dari Perguruan Seribu Hantu. Mereka dipimpin oleh pemimpin perguruan, yaitu ketua Yin Hua. Bersamanya juga datang tiga bidadari kematian, yaitu tetua Song Hong, tetua Song Qing dan juga tetua Song Ling.
Mereka cukup merepotkan, itu yang dirasakan Jendral Yuwen Shiji, sebab dia juga sedang berhadapan dengan ketua Yin Hua.
Ditempat tidak jauh darinya kolonel Xing Hua pemimpin pasukan Macan Hitam dibuat kerepotan oleh satu dari Tiga Bidadari Kematian, yaitu tetua Song Hong.
Tentu saja Kolonel Xing Hua yang sedang berhadapan dengan tetua Song Hong begitu kerepotan. Sebab dalam satu waktu dia juga harus menghadapi serangan boneka manusia milik tetua itu. Jumlah boneka manusia hidup yang berkekuatan langit itu bukan hanya satu, tetapi lebih dari setengah lusin.