SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 195 Kota Mati part 4



Mereka terus bertempur menghadapi sekian banyak musuh. Kemampuan yang dimiliki musuh dalam ilmu bela diri hanya setara dengan pendekar kelas satu, apalagi ilmu pedang mereka tidak ada yang istimewa.


Namun kekuatan dan juga daya hidup mereka sangat lah mengagumkan. Seandainya tanpa api hitam mereka tentu akan kesulitan menghadapi mereka semua. Mereka tidak jauh berbeda dengan Bhuta kala. Walaupun dari segi kepandaian sangat jauh berbeda.


Jurus Rencong Nirvana Mengamuk milik Dewa Rencong mampu menyapu bersih lawan yang tentu saja tidak sebanding dengan kekuatannya yang telah berada ditingkat langit. Suro hanya bertugas menyelesaikan sisanya, sebelum tubuh musuhnya kembali pulih.


Mereka berdua berusaha merangsek maju kedepan menuju ke dalam istana megah didepan mereka. Saat kaki mereka berdua sudah berhasil menginjakkan kaki dibawah pintu istana, seluruh lawan yang mengepung mereka telah musnah terbakar api hitam milik Suro.


"Apa yang sedang mereka lakukan?Mengapa mereka hanya berdiam disana saat yang lain bertarung dengan kita?"


Suro menatap dikejauhan dengan penuh keanehan. Sebab lebih dari seratus langkah didepan mereka, ada beberapa lusin manusia kelelawar tidak bergerak dari tempatnya.


Mereka seolah mengacuhkan pertempuran. Mereka berdiri mengelilingi punden berundak di lantai paling dasar, seakan mereka bertugas menjaga tempat itu. Karena di puncak tertinggi dari punden berundak disanalah sumber hawa kegelapan yang terlihat dari jauh, keluar dari altar paling atas.


Di atas altar tertinggi itu empat manusia kelelawar berdiri disana. Tubuh manusia kelelawar itu berbeda dari segi ukurannya hampir dua kali dibandingkan yang lain.


"Entahlah aku rasa mereka sedang menjaga sumber hawa kegelapan yang keluar dari tempat itu. Atau justru mereka sedang melakukan persembahan berupa manusia yang dia bawa sebelumnya. Tetapi apapun itu, sebaiknya kita segera habisi saja mereka semua. Entah dimana tubuh manusia yang sebelumnya mereka bawa?"


Suro dan Dewa Rencong terus berjalan ke arah punden berundak didepan mereka. Semua makhluk kegelapan telah berhasil mereka bantai, kecuali manusia kelelawar yang berada didepan mereka.


Kwak! Kwak!


Setelah Suro dan Dewa Rencong melesat mendekat, suara manusia kelelawar terdengar. Bersamaan dengan itu, mereka yang berada di bagian bawah punden berundak langsung terbang menyongsong kedatangan mereka. Tetapi sebelum mereka mendekat lebih dari dua tombak, justru Suro telah menghadang mereka. Dewa Rencong kemudian ikut menyusul untuk membantu Suro.


Dalam waktu singkat setengah lusin manusia kelelawar itu berhasil dihabisi. Kecepatan jurus pedang Suro yang dilambari api hitam telah membuat mereka menjadi abu. Sisanya yang menyusul juga berhasil dihabisi Suro dan Dewa Rencong. Semuanya berakhir menjadi abu seperti sebelumnya. Kini hanya menyisahkan empat manusia kelelawar yang berdiri dialtar tertinggi.


"Bunuh mereka berdua!" Sebuah teriakan dari manusia kelelawar diatas puncak punden berundak terdengar jelas. Makhluk itu menggunakan bahasa manusia.


"Apakah aku tadi tidak salah mendengar ucapan mereka barusan?" Dewa Rencong terkejut mendengar ucapan makhluk yang berada di atas altar itu.


Empat manusia kelelawar terakhir terbang meyerbu ke arah mereka.


"Mereka agaknya berbeda dibanding yang sebelumnya paman. Kali ini biarkan Suro sendiri yang menghadapi mereka. Aku akan menggunakan tehnik empat sage untuk melumpuhkan mereka. Mungkin paman perlu menjauh sedikit, karena tehnik ini akan aku kerahkan selagi menghadapi mereka dan akan menghisap seluruh chakra yang ada didekatku." Suro segera menyambut empat manusia kegelapan yang terbang ke arah mereka.


Empat makhluk hitam besar itu mengeroyok Suro. Kali ini ada sesuatu yang terjadi disekitar tubuh Suro. Sebab dia kini diliputi pusaran angin yang membawa serta kekuatan kegelapan milik manusia kelelawar.


Suro tidak berniat melukai mereka walau beberapa kali cakar mereka yang panjang mengenai tubuh Suro bahkan menyobek beberapa bagian dari pakaiannya. Tetapi zirah kavacha melindungi tubuhnya dari serangan makhluk itu. Setelah beberapa saat kemudian, empat makhluk besar itu ambruk, kemungkinan seluruh kekuatannya telah berhasil dihisap oleh Suro.


Setelah semua kekuatan yang dimiliki makhluk itu terhisap habis, mereka semua seperti orang lumpuh. Untuk menegakkan kepala saja mereka tidak sanggup. Tetapi sejalan dengan kekuatan hitam yang mereka miliki menghilang, secara berangsur-angsur terjadi perubahan pada tubuh mereka. Secara perlahan dan pasti tubuh mereka kembali menjadi manusia.


Setiap manusia kelelawar yang berhasil kembali ke wujud manusia terlihat kebingungan. Karena mereka semua memang telah kehilangan seluruh ingatannya, sama persis seperti yang dialami eyang Sindurogo.


Setelah semua kekuatan kegelapan diserap habis dan wujud mereka kembali seutuhnya menjadi manusia. Kondisi mereka tidak memakai pakaian selembarpun. Beruntung para pasukan kegelapan yang telah banyak dihabisi oleh Suro meninggalkan pakaian yang bisa mereka pakai.


"Dimana ini?"


"Tempat apa ini?"


"Bagaimana aku bisa ada disini?" Mereka semua tampak kebingungan


"Kalian sedang berada di alam lain." Ditengah kebingungan, akhirnya Suro mencoba menjawab pertanyaan mereka.


Pandangan mereka semua beralih ke arah Suro dan juga Dewa Rencong.


"Bisakah tuan pendekar menolong kami? Jelaskan mengapa kami ada disini tuan pendekar? Karena kami tidak mengingat apapun termasuk tentang jati diri kami sendiri?"


"Kalian semua sebelumnya dikuasai kekuatan kegelapan."


"Bagaimana ini paman? Apa yang harus kita lakukan kepada mereka? Semua telah kehilangan ingatannya. Apakah paman memiliki cara untuk mengembalikan ingatan mereka?"


"Jika kita mampu mengembalikan ingatan mereka, maka kita dapat mengetahui asal usul mereka paman. Mungkin sedikit banyak akan membantu membuka misteri tabir alam ini."


Dewa Rencong yang mendapatkan pertanyaan dari Suro menghela nafas beberapa kali sebelum mulai menjawab.


"Entahlah bocah aku tidak memiliki cara untuk mengembalikan ingatan mereka. Tetapi ingatan mereka tetap berada dalam kepala mereka. Apa yang terjadi pada mereka, kemungkinan karena sesuatu hal yang telah mengunci ingatan mereka sebelumnya."


"Untuk membuat ingatan mereka kembali, kita harus masuk ke alam bawah sadar mereka. Kemudian menghancurkan sesuatu yang mengunci ingatan mereka."


"Lalu bagaimana caranya kita bisa masuk dan menghancurkan penghalang yang mengunci ingatan mereka paman?"


"Entahlah aku tidak yakin mengenai hal itu. Tetapi melalui ilmu gendam yang pernah diperlihatkan Pujangga gila untuk menyerang dirimu, aku rasa kemungkinan itu bisa saja dilakukan. Karena ilmu gendam itu mampu membuat goncangan jiwa yang hebat."


"Goncangan jiwa yang mereka rasakan akan mampu membantu mereka untuk menghancurkan sesuatu yang mengunci ingatan mereka. Jika itu berhasil, kemungkinan mereka akan mendapatkan kembali ingatannya."


"Aku memiliki pemikiran seperti itu, dikarenakan ilmu gendam Pujangga gila yang telah menyerang tetua Dewi Anggini."


"Beruntung dirimu sudah kehilangan kesadaran, sehingga tidak ikut terpengaruh oleh syair orang gila itu. Sebab saat aku memeriksa tetua Dewi anggini, kondisi jiwanya benar-benar menghawatirkan. Jiwanya hampir saja dapat dikuasai Pujangga gila. Beruntung saat itu Pujangga gila sudah lari kocar-kacir dikejar api hitam milikmu."


"Apakah paman bisa mengajarkan kepada Suro mengenai ilmu gendam?"


"Aku tidak memiliki ilmu semacam itu bocah. Namun dasar kekuatan jiwa yang aku kuasai sedikit banyak mampu menjelaskan ilmu itu."


Kemudian Dewa Rencong mulai menjelaskan ilmu gendam kepada Suro. Panjang lebar Dewa Rencong menjelaskan sepanjang yang dia ketahui.


Setelah mendengar penjelasan panjang Dewa Rencong barusan satu senyuman tersungging dipojok bibirnya.


"Paman ingat tidak, waktu itu paman sehabis bertarung dengan siluman ular di desa Kali Goa. Saat paman sedang samadhi setelah menelan pill tujuh bidadari. Suro memainkan sebuah kidung menggunakan sebuah daun."


"Ya aku mengingatnya. Saat kau melakukan itu banyak hewan liar datang mengelilingi dirimu, bahkan seekor macan ada diantara mereka."


Suro menganguk mendengar perkataan Dewa Rencong barusan.


"Setelah mendengar perkataan paman barusan, agaknya Suro mempunyai cara tersendiri yang mampu mengembalikan ingatan mereka."


"Aku ingin mencobanya. Jika ini berhasil, kemungkinan kita memiliki kesempatan untuk memgembalikan ingatan eyang guru. Walau itu tidak akan mudah sebab kekuatan eyang guru tidak akan mudah ditaklukan seperti mereka."


Setelah mendengar penjelasan Dewa Rencong barusan, Suro teringat kembali kepada ilmu sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu. Didalam ilmu sastra itu ada syair panjang yang memiliki nama sendiri, yaitu nyanyian Sri Krishna.


Nyanyian Sri Krishna ini sebenarnya adalah sebuah bagian dari cerita Bharatayuda. Dalam syair ini Sri Krishna memberikan wejangan kepada Raden Arjuna dalam bentuk percakapan.


Syair ini juga menceritakan saat awal peperangan Bratayuda. Pada saat itu peran Sri Krishna menjadi kusir kereta perang milik Raden Arjuna. Peristiwa ini terjadi sebelum saat akan dimulainya peperangan antara Pandawa dan Korawa di padang Kurushetra.


Arjuna menjadi bimbang karena dia harus berperang melawan anak saudara sendiri. Termasuk didalamnya adalah teman-teman dan juga guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan.


"Aku mencoba membantu mengembalikan ingatan kalian. Tetapi aku tidak yakin apakah ini akan berhasil atau tidak?"


Suro kemudian mengalunkan kidung dalam nada-nada yang dilambari ilmu tenaga dalam. Dia melakukan itu dengan mengikuti petunjuk dari penjelasan Dewa Rencong.


Setelah mendengarkan kidung yang dilantunkan Suro mereka seperti terbius. Mereka berempat berteriak keras dan kemudian jatuh pingsan. Setelah mereka bangun ingatan mereka telah kembali.


"Siapa sebenarnya kalian ini? Dari bahasa yang kalian gunakan tidak salah lagi, jika kalian berasal dari Javadwipa." Setelah mereka sadar Suro mulai bertanya tentang asal usul mereka.


"Kami adalah bagian dari sisa pasukan Medusa yang bertempur di Banyu Kuning." Salah seorang dari mereka kemudian mulai bercerita. Mereka masih mengingat terakhir kali sebelum mereka dirubah wujudnya oleh seseorang yang mereka kenal sebagai eyang Sindurogo.