
Setelah mendengarkan ucapan Geho sama Suro segera bergerak mendekat ke arah Dewa Pedang.
Semenjak kedatangan Dewa Pedang, Suro dan juga Dewa Rencong telah membuat perguruan Pedang Bayangan dapat mengimbangi serbuan pasukan kegelapan yang dipimpin Batara Antaga. Beruntung makhluk itu kali ini tidak turun langsung entah alasan apa, sepertinya dia sedang menghemat tenaganya.
Dia justru memerintahkan para manusia bertanduk untuk terus menggempur Perguruan Pedang Bayangan. Kemungkinan dia juga yang mengatur serangan para Naga dan manusia kelelawar. Karena mereka hanya menyasar pada bagian puncak bukit.
Suro yang sebelumnya bertahan diatas puncak bukit bergerak turun mendekati Dewa Pedang. Setelah berhasil mendekati pendekar itu, dia mulai mengutarakan niatnya.
"Paman guru, sepertinya guruku eyang Sindurogo dalam kesulitan."
Suro kemudian menceritakan garis besar kondisi gurunya seperti yang diceritakan Geho sama.
Dewa Pedang terkejut mendengar ucapan Suro. Karena dia belum sempat mendengar cerita dari Suro yang berhasil menyelamatkan gurunya. Dia segera memaklumi mengapa dia tidak melihat eyang Sindurogo, karena sekarang justru sedang berada di belahan bumi lain, yaitu di Benua Barat.
"Eyang Sindurogo berhasil kamu selamatkan?" Dewa Pedang terkejut mendengar penuturan Suro.
"Benar paman guru, dan kini mereka memerlukan bantuanku, karena kekuatan Pujangga gila tidak mudah dihadapi."
Dewa Pedang segera mengingat lelaki yang disebut Pujangga gila, karena dia pernah menghadapinya sewaktu di hutan Gondo mayit.
Setelah berbicara dengan Dewa Pedang selesai, maka Suro langsung mulai mengerahkan ilmu sedulur papat. Kali ini dia hanya memanggil satu kembarannya, yaitu yang bernama Purbangkara. Bilah pedang kristal dewa diserahkan kepada kembarannya itu. Dia merasa yakin dengan kekuatan api hitam ditangan kembarannya pasti dapat membantu Perguruan Pedang Bayangan melawan pasukan kegelapan, meski kali ini dipimpin oleh Batara Antaga.
Kembarannya itu kemudian bertempur bersama Lodra menghadapi musuh yang terus bertambah semakin banyak. Musuh yang berupa makhluk kegelapan dengan bentuk yang bermacam-macam bergerak serentak, seperti hendak membumi hanguskan perguruan Pedang Bayangan.
**
Setelah menyerahkan pedang kristal dewa kepada kembarannya, Suro kemudian menghilang dari pandangan mata. Dia langsung menuju ketempat dimana Geho sama yang sedang menemani gurunya. Beruntung Geho sama berada didekat gurunya, sehingga dia bisa menentukan tujuannya dengan tepat.
Suro setelah lenyap, kini dia kembali muncul didekat Geho sama. Dia belum menyadari apa yang terjadi, serangan beruntun dari sayap Pujangga gila tidak sempat dia hindari. Akibatnya puluhan bulu hitam dari sepasang sayap menghantam ke tubuh Suro.
'Tenang tuan Suro, aku telah kembali.' Suara dari Kavacha membuat Suro tersenyum melihat hantaman serangan Pujangga gila mengenai tubuhnya.
Beruntung saat itu Kavacha telah pulih, sehingga semua serangan itu tidak mempan mengenai tubuh Suro. Jika tidak, maka tubuh bocah tanggung itu pasti akan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Pedang dalam bentuk bulu hitam legam itu terpental semua, sesaat kemudian menjelma menjadi makhluk bajang berkulit hitam bermata merah menyala. Semua terjadi begitu singkat, namun Suro dapat mengantisipasi serangan susulan itu.
Para makhluk yang mendadak muncul itu mulai memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Para makhluk pemakan daging manusia itu, serentak menyerang Suro. Mereka berebutan hendak memakan tubuh bocah tanggung itu. Dia segera mengerahkan tehnik empat Sage untuk menghabisi semua makhluk itu.
Suara hentakan syair dari Pujangga gila yang memiliki irama aneh menyadarkan bahaya tersembunyi lainnya.
"Cepat gunakan ilmu Sastra Jendra, tuan Suro!"
"Tuan guru sudah dalam kondisi gawat! Dia terkena rantai hitam milik Pujangga gila!"
Mendengar teriakan Geho sama barusan, pandangan Suro berpindah ke arah gurunya yang sibuk menghindari gempuran serangan lawan.
Suro segera menyadari apa yang dikatakan Geho sama memang benar. Rantai yang keluar dari tubuh Pujangga gila telah berhasil menembus tubuh gurunya.
"Gawat apakah aku mampu mengalahkan ilmu gendam yang dilambari kekuatan tingkat surga?"
"Cepat tuan Suro, kerahkan ilmu sastra Jendra!" Geho sama kembali berteriak sambil menghindari terjangan serangan Pujangga gila.
"Gunakan ilmu itu untuk menyadarkan manusia gila ini thole Suro! Maka kekuatannya akan dapat mengalahkan ilmu gendam dari Pujangga gila meski dia melambari dengan kekuatan surga!" Teriakan eyang Sindurogo memberikan pencerahan kepada Suro.
Suro segera teringat jika inti ilmu sastra Jendra adalah welas asih, keutamaan Budi dan juga rasa ingin menyelamatkan makhluk hidup lainnya.
Dengan petunjuk gurunya Suro segera mengerahkan ilmu Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sesaat setelah Suro mengerahkan ilmu itu maka seakan alam berhenti,bahkan salju yang baru mulai turun terlihat bergerak begitu pelan. Angin yang sebelumnya bertiup lumayan kencang, kini tidak bertiup sama sekali.
Kehebatan ilmu pangruwat dewa itu memang sangat mengagumkan, meskipun pada awal ilmu gendam dari Pujangga gila menghentak dengan keras hendak melawan pengerahan yang dilakukan Suro, secara perlahan suaranya terdengar melemah. Lelaki gila itu seperti sedang disirep, sehingga dia terlihat menguap. Bahkan untuk melanjutkan ucapannya dia terasa begitu berat.
Serangan bulu-bulu hitam yang menghujani mereka berhenti seiring dengan lenyapnya sepasang sayap milik Pujangga gila. Setelah beberapa lama terkena ilmu Serat Sastra Jendra milik Suro, tubuh Pujangga gila yang berada diketinggian kini meluncur kebawah.
Gdebuuum!
Agaknya lelaki gila itu telah kehilangan kesadarannya. Sehingga tubuhnya itu terhempas ke tanah dengan cukup keras.
Setelah beberapa saat kemudian Pujangga gila terlihat mulai tersadar. Jari-jari tangannya bergerak-gerak. Dia kemudian bangkit dan mulai duduk bersimpuh.
Tatapan matanya mulai menyapu keseluruh area pertempuran, kemudian beralih kepada anggota tubuhnya sendiri. Terutama bagian dadanya dimana dua rantai yang salah satunya masih menancap ditubuh eyang Sindurogo.
"Maafkan aku tuan pendekar, karena telah melukaimu." Dia menundukan kepalanya sampai menyentuh tanah ke arah eyang Sindurogo yang masih terlihat begitu waspada. Dia melakukan itu sebagai bentuk permintaan maaf dan penyesalan teramat dalam.
Kali ini mereka bertiga mulai menyadari ada perubahan perilaku yang sangat berbeda yang diperlihatkan lelaki kurus seperti mayat hidup itu.
Lelaki itu itu kemudian berdiri. Gerakan itu tentu saja membuat mereka bertiga kembali waspada.
"Kembali!" Pujangga gila membuat gerakan tangan seakan memberi perintah kepada rantai yang masih menancap ditubuh eyang Sindurogo.
Setelah perintah dari Pujangga gila itu terdengar, mendadak rantai itu bergerak dan mulai keluar dari tubuh eyang Sindurogo.
Mereka terkejut dengan yang terjadi, sebab rantai yang masuk kedalam tubuh eyang Sindurogo ternyata begitu panjang. Lebih dari tujuh Depa bagian rantai yang berada didalam tubuh pendekar itu.
"Senjata yang sangat mengerikan." Eyang Sindurogo bernafas lega setelah seluruh rantai itu keluar dari tubuhnya.
Eyang Sindurogo tidak dapat memahami mengapa bisa sampai sebegitu panjangnya rantai yang masuk kedalam tubuhnya.
Pujangga gila yang telah mendapatkan kewarasannya kembali mulai mengingat semua. Dia kemudian mulai menangisi semua keburukan yang telah dia lakukan dan rasa kehilangan kekasihnya. Kemudian dia mulai menceritakan mengapa dia memiliki tubuh yang penuh hawa kegelapan seperti sekarang.
Menurut apa yang dia ceritakan, sebenarnya kondisi dirinya sudah pantas dianggap mati. Namun kekuatan kegelapanlah yang menahan sukmanya tetap berada didalam raganya.
Dengan keadaan itu bisa dikatakan dirinya setengah hidup, bisa dikatakan sebagai mayat hidup. Dia menjelaskan secara panjang lebar. Semua berawal dari kedatangannya di Jurang neraka.
Sebenarnya awal kedatangannya itu adalah berniat untuk bunuh diri dengan menjatuhkan tubuhnya ke dasar jurang yang terkenal kedalamannya tak terukur. Tetapi nasib berkata lain, melihat jiwa dan kekuatan yang dimiliki Pujangga gila, Batara Antaga punya rencana lain.
Lelaki itu kemudian menanamkan rantai pemasung jiwa untuk membuatnya tidak mati. Meskipun pada saat itu tubuhnya telah remuk setelah jatuh dari ketinggian. Dengan kondisi itulah dia mulai menjelaskan jika dia tidak akan dapat hidup sebagai manusia lagi. Kekuatan kegelapan yang ada dalam tubuhnya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Meskipun saat ini dia telah tersadarkan, namun dia menyadari jika itu hanyalah masalah waktu. Akhirnya nanti dia akan kembali dikuasai oleh kekuatan kegelapan.
Pujangga gila menyadari jika kekuatan kegelapan dihilangkan dari tubuhnya, maka dia akan mati. Karena keberadaan rantai dan kekuatan kegelapan lah yang membuatnya tetap hidup.
Setelah dia selesai bercerita dia ambruk. Beruntung Suro dapat menahan tubuh Pujangga gila.
Dia kemudian melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti. Hal yang dia ingin dia katakan adalah ingin menyempurnakan kematiannya yang tertunda oleh kekuatan kegelapan yang telah menyatu dengan tubuhnya.
"Aku ingin kematianku kali ini menjadi sempurna, sehingga tidak akan dimanfaatkan kekuatan kegelapan. Selain itu aku hendak menyusul kekasihku yang sudah pergi ke alam lain lebih dahulu. Aku ingin mati ditanganmu bocah dan gunakan kekuatanku ini untuk menghentikan kehancuran yang akan dibuat Dewa Kegelapan."
"Jangan ragu untuk melakukan permintaanku. Karena jika tidak dihisap maka kekuatan yang aku miliki ini justru akan dikendalikan oleh kekuatan kegelapan."
"Meskipun sepanjang jalan hidupku tidak memiliki makna, namun aku ingin kematianku bermakna. Ijinkan aku menyumbang kekuatanku yang sudah aku capai ini untuk memperkuatmu bocah. Jangan ragu lagi, sesungguhnya aku yang sekarang ini tidak lebih daripada mayat hidup."
"Aku memintamu untuk menyempurnakan kematianku ini, agar aku dapat moksa dan menyusul belahan jiwaku yang telah pergi mendahuluiku." Mata Pujangga gila berlinangan air mata, karena pada saat itulah dia mengingat semua pembantaian demi pembantaian yang telah dia lakukan.
"Lihatlah bocah disana kekasihku sedang berdiri menunggu kedatanganku." Pujangga gila yang kepalanya diatas pangkuan Suro sedikit mendongak sambil menunjuk ke arah depan. Seolah didepan dirinya ada seseorang, padahal tidak ada siapapun disana.
Kali ini Geho sama dan eyang Sindurogo mendekati Pujangga gila yang kepalanya berada dipangkuan Suro. Entah mengapa setelah mendapatkan kesadarannya tubuh lelaki itu menjadi semakin bertambah lemah.
"Lihatlah apa kalian tidak ada yang melihat kekasihku sudah tidak sabar sedang menantikan kedatanganku." Pujangga gila menatap ke arah mereka bertiga yang duduk mengelilingi dirinya.
"Cepat, karena kekuatan kegelapan yang telah bersatu dengan sukmaku sebentar lagi akan kembali menguasai diriku. Jika hal itu terjadi, kemungkinan tidak ada kesempatan kedua aku akan dapat mati dalam kesadaran sebagai manusia. Biarkan aku mati dengan sempurna sebagai manusia seutuhnya." Mata Pujangga gila yang kini terlihat seperti manusia normal memohon dengan amat sangat kepada Suro.
Suro akhirnya menyetujui apa yang diinginkan Pujangga gila untuk menyempurnakan kematiannya yang tertunda. Dengan pengerahan tehnik empat Sage akhirnya tubuh mayat hidup itu lenyap dari pandangan.
Buuuum!
Setelah selesai menyerap seluruh kekuatan Pujangga gila, Suro kembali mendapatkan peningkatan kekuatan yang luar biasa. Karena saat itu dia akhirnya menembus tingkat Surga.
Walaupun peningkatan yang dia dapat masih berada ditingkat Surga lapis pertama, tetapi itu adalah peningkatan kekuatan yang sangat mengagumkan.
"Sekarang muridku telah berubah menjadi sekuat ini. Sebenarnya siapa dirimu ini, ngger? Gurumu ini selalu kamu buat terkagum-kagum dengan segala pencapaianmu yang sangat tidak dimasuk akal."