
"Ratu siluman laut selatan? Apakah itu yang dimaksud adalah penguasa laut selatan di dalam dongeng yang biasa kita dengar ?" Dewa Pedang bertanya ke arah Wanara dengan sedikit ragu.
"Saya juga kurang memahaminya ketua, tetapi kemungkinan memang makhluk itu yang dimaksud."
"Musuh dari alam lain, sesuatu kejadian yang tidak disangka. Mungkin baru kali ini aku mendengar para siluman ikut serta dalam peperangan manusia."
"Bagaimana caranya Ratu Medusa membuat para siluman itu menjadi sekutunya? Bahkan menjadikan mereka bergabung dalam barisan pasukannya. Apakah ini tidak terasa aneh? Karena jujur baru kali ini aku mendengarnya, sebuah pasukan siluman hadir ikut serta dalam peperangan bangsa manusia. Sungguh kejadian yang tidak masuk akal, tetapi ternyata benar-benar terjadi."
"Apakah ini bisa dijadikan salah satu bukti atau tanda-tanda tentang kebenaran cerita nakmas Suro dan tetua Dewi Anggini, mengenai makhluk yang akan mengancam seluruh marcapada? Sesuatu yang dulu dikhawatirkan guru dari Eyang Sindurogo. Semoga saja ini hanya perkiraanku saja yang memikirkannya terlalu jauh!"
"Karena akhir-akhir ini kita menemukan banyak musuh yang berasal dari alam lain. Dan entah kenapa mereka yang berasal dari alam lain ini memiliki nama-nama yang mirip dengan nama tokoh yang berada di cerita dongeng. Apakah ini tidak terasa janggal? Entah diriku saja yang merasa atau kalian juga ikut merasakan sesuatu yang sangat janggal dari kejadian ini? Aku juga belum memahami, apakah kejadian ini memiliki saling keterkaitan atau hanya kebetulan saja?"
"Benar adimas, aku juga merasakan sebuah kejanggalan yang sama. Belum lama kita semua menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Kemungkinan besar tokoh yang ada didalam cerita dongeng benar-benar hidup. Salah satu bukti yang nyata adalah cerita dari Banyu Kuning ini barusan. Penguasa Laut Selatan bukankah hanya ada dalam dongeng, ternyata sekarang justru ikut dalam penyerangan ke Perguruan Pedang Halilintar!" Eyang Udan Asrep menyahut perkataan Dewa Pedang sambil mengelus-elus jengotnya.
"Benar kakang aku merasa kejadian aneh ini bukan sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan semua ini, apakah semua ini ada kaitannya satu sama lainnya?" Dewa Pedang memandangi seluruh tetua seakan ingin mencari jawaban dari pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.
"Selain itu bagaimana caranya Ratu Medusa hitam itu mampu mengajak para bangsa siluman mau bekerjasama dengan dirinya? Sebenarnya apa hubungan Ratu Medusa dari Perguruan Ular Hitam itu dengan Ratu Laut Selatan?" Dewa Pedang memandang ke arah Wanara yang masih menunggu para petinggi itu selesai berbicara.
"Mohon maaf ketua saya kurang mengetahui mengenai hal itu. Tetapi sebelum saya berangkat ke Perguruan pusat ini, terdengar warta susulan, bahwa Ratu Medusa juga telah menghancurkan Kadipaten Banyu Kuning dan menguasai seluruh kadipaten."
"Apa maksud ular busuk itu sebenarnya? Eyang Sindurogo telah melakukan kesalahan besar, karena telah membiarkan iblis betina itu tetap hidup." Dewa Pedang terkejut mendengar berita tersebut, tidak kalah dengan tetua yang lain yang sama-sama tidak menyangka dengan tindakan Ratu Medusa menguasai Kadipaten Banyu Kuning. Karena tindakan itu berarti menantang perang dengan Kerajaan Kalingga.
"Kemungkin dia melakukan itu semua setelah mendengar kabar tentang Eyang Sindurogo yang telah terjebak di alam lain. Karena hanya dia satu-satunya tokoh dunia persilatan yang ditakuti oleh Medusa." Eyang Udan Asrep memberikan pandangannya kepada ketua perguruan pusat Dewa Pedang.
"Setelah mendengar Lelananging jagat terjebak di alam lain maka dia menganggab tidak ada lagi batu ganjalan yang menghalangi jalannya. Kemungkinan dia kembali melaksanakan rencana awalnya yang tertunda, yaitu keinginan dirinya untuk mendirikan sebuah kerajaan ditanah Javadwipa ini."
"Seperti yang telah kita ketahui bersama, menurut telik sandi yang telah kita sebar untuk menyelidiki peperangan Kerajaan Kalingga yang belum lama terjadi. Bukankah pada peperangan itu pasukan pemberontak yang dipimpin Pangeran Sanjaya, Medusa hitam ikut serta membantunya? Tentu saja dia ikut bukan tanpa bayaran. Ada tuntutan yang harus dibayar. Dia menuntut sebuah kadipaten menjadi miliknya dan dibawah kekuasaannya. Pangeran Sanjaya bahkan dengan senang hati memberikan kadipaten yang dijanjikan dengan syarat menghabisi para adipati dan senopati yang masih setia dengan Raja Wasumurti, itu jika menang. Untungnya mereka menderita kekalahan telak akibat kedatangan Eyang Sindurogo yang mengubah hasil peperangan seperti membalikan tangannya."
'Dari warta yang telah dikumpulkan para telik sandi juga diketahui, bahwa yang menghubungkan antara Banteng Iblis dengan Pangeran Sanjaya adalah Medusa si Ular hitam itu"
"Agaknya dia memang memiliki hubungan dengan Perguruan aliran hitam di Benua Barat, Perguruan Pemuja Dewa kegelapan tempat Banteng Iblis berasal. Entah hubungan seperti apa? Tetapi aku yakin dia sebelumnya memiliki hubungan erat dengan jagoan aliran hitam dari Gunung Ararat itu? Karena aku tau Banteng Iblis bukanlah seseorang yang mudah diajak bekerjasama."
"Mendengar nama Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan, entah kenapa aku jadi teringat dengan Iblis Kegelapan yang belum lama kita bahas? Apakah nama Dewa Kegelapan ini ada sangkut pautnya dengan Iblis kegelapan, kakang?"
"Entahlah adimas aku kurang mengetahui perguruan golongan hitam dari Benua Barat itu." Eyang Udan Asrep menjawab pertanyaan Dewa Pedang sambil mencoba mengingat-ingat tentang perguruan yang disebutkan ketuanya itu.
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tetapi aku sependapat dengan kakang, bisa jadi dia memang ada hubungannya dengan aliran hitam dari Benua Barat. Bukankah Ratu Ular Hitam itu juga berasal dari daratan dimana Banteng iblis berasal."
"Dengan kondisi itu, apakah mungkin selain para siluman yang mendukung kekuatan pasukannya ada kekuatan lain yang ada dibelakangnya?"
"Bukankah itu terlalu berani jika dia menyerang Kadipaten Banyu Kuning sama saja dia mengibarkan bendera perang kepada seluruh Kerajaan Kalingga? Jika lawannya hanyalah perguruan kita itu sangat masuk diakal, dia hanya mengandalkan para siluman itu. Tetapi kini dia melawan sebuah kerajaan apakah itu tidak berlebihan?
"Aku sudah mengenal sejak lama iblis betina itu. Selain dia terkenal kejam dia juga dikenal licik dan culas. Meskipun begitu dia bukanlah orang yang dikenal bodoh. Dia tidak akan mengambil keputusan tanpa dipikirkan secara matang. Kemungkinan Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan ada dibalik kekuatannya itu."
"Itu juga masuk diakal ketua. Tetapi apakah pemikiran ketua itu tidak terlalu jauh? Sebab jarak Benua Barat dengan Benua Timur ini terpisah jarak ratusan ribu lie." Tetua Tunggak Semi mencoba menjawab keresahan Ketuanya.
"Semoga saja itu hanya perkiraanku saja. Sebab jika kekuatan Ular hitam itu hanya mengandalkan para siluman dan perguruan lain yang bergabung dengan pasukan Medusa, aku yakin kita bisa mengatasinya. Dengan jurus andalan yang baru saja kita miliki, aku yakin mampu menumpas mereka sampai habis tidak tersisa."
"Tetapi aku tidak menyangka jika Medusa itu mampu mengajak pasukan siluman berada dipihaknya."
"Apakah masih ada yang ingin kau sampaikan lagi Wanara?" Tetua yang bernama Eyang Baurekso guru besar Perguruan Pedang Halilintar itu menatap ke arah utusan yang masih menunggu para petinggi selesai berbicara.
"Benar guru, ada warta yang perlu saya sampaikan. Saat penyerangan Ratu Medusa Hitam ke Kadipaten Banyu Kuning bukan hanya dibantu oleh para siluman ular dibawah pimpinan Ratu Laut Selatan, tetapi siluman lain juga ikut serta. Menurut warta yang sempat kami kumpulkan, ada beberapa Raja dan Ratu siluman lain yang ikut serta bergabung dalam barisan pasukan mereka."
"Sepertinya bertambah pelik urusan yang akan kita hadapi. Pantas saja Medusa itu berani bertingkah, ternyata ada kekuatan besar yang mendukungnya." Dewa Pedang memandang ke arah Wanara sambil mencoba membaca kekuatan lawan yang akan dihadapi.
"Wanara bisakah dirimu mengambarkan seperti apa dan sekuat apa siluman ular yang ikut serta menyerang Perguruan Pedang Halilintar?" Giliran Eyang Baurekso kali ini yang tidak mampu menahan rasa penasarannya dengan musuh yang telah menguasai perguruan yang telah lama dia pimpin.
"Mereka siluman ular ini memiliki tubuh seekor ular yang besar. Tetapi sebagian ada ular yang memiliki kepala dan setengah badannya adalah manusia. Mereka para siluman yang memiliki badan dan kepala manusia itu memiliki kemampuan yang bisa merubah tubuhnya menjadi air atau lenyap setiap serangan hampir mengenai tubuh mereka. Kemudian dalam sekejap muncul ditempat lain. Tubuhnya sebesar dua kali lipat pohon kelapa. Hantaman ekornya mampu merobohkan satu rumah dengan begitu mudah."
"Belum bahaya racun yang disemburkan mampu melelehkan manusia hanya dalam waktu satu seruputan teh."
"Sebagian justru banyak yang ditelan menjadi santapan para ular siluman itu guru!" Kini mata Wanara tak lagi menahan air matanya jatuh membasahi pipinya. Hatinya tersayat-sayat membayangkan kembali saat dia melihat teman-temannya, sanak saudaranya dan handai taulannya telah menjadi santapan para ular siluman itu, tanpa dia bisa berbuat apapun untuk menolong mereka semua. Karena dia juga sibuk menyelamatkan para wanita dan anak-anak secepatnya menjauh dari serangan musuh yang sudah tidak mampu ditahan lebih lama.
"Anak dan istriku bagaimana? Apakah dirimu memiliki kabar tentang mereka?" Eyang Baurekso bertanya dengan suara bergetar tidak mampu menutupi kekhawatiran yang telah menyelimuti hatinya.
"Setelah kekuatan kami tak mampu lagi menahan, tetua Garangan Abrit memerintahkan para anggota termasuk saya untuk segera menyelamatkan para perempuan dan para anak-anak."
"Beruntung diantara mereka ada anak dan istri guru yang berhasil diselamatkan, sebelum para pasukan musuh mampu menjebol pertahanan kami. Akhirnya kami berhasil menyelamatkan mereka semua dari serangan musuh yang kemungkinan masih mengejar. Sebab setelah memerintahkan kami tetua Garangan Abrit bersama para murid tingkat tinggi lainnya menjadi benteng terakhir yang menahan serangan mereka. Dengan pengorbanan itu telah memberikan waktu bagi kami untuk menyelamatkan diri. Mereka semua kemungkinan tidak selamat guru demi menyelamatkan kami."
"Beberapa dari mereka menjadi arca batu akibat serangan mata dari medusa."
"Berapa banyak yang mampu selamat dari serangan itu?" Eyang Baurekso bertanya kembali dengan penuh rasa sedih.
"Berapa banyaknya saya tidak bisa memastikan, tetapi kebanyakan hanya anak-anak dan kaum perempuan yang berhasil kami selamatkan. Setelah sampai di Kademangan Keling kami sedikit bernafas lega karena kemungkinan pasukan yang dipimpin Medusa Hitam sudah tidak lagi mengejar."
Panjang lebar Wanara menjelaskan sedetail mungkin gambaran yang bisa dia ingat tentang penyerangan yang begitu mendadak. Walau diiringin cucuran air mata yang sudah tidak lagi ditahan.
Mereka yang mendengar cerita Wanara merasa begitu geram tanpa bisa melakukan apapun karena semua sudah terjadi. Tetapi dengan itu membuat mereka semakin bersemangat untuk melibas habis musuh yang telah menguasi Perguruan Pedang Halilintar.
"Bagaimana ketua? Langkah apa yang akan kita ambil?" Tetua Tunggak Semi menatap ke arah Dewa Pedang untuk menunggu perintah lanjut dari ketua Perguruan pusat Pedang Surga itu.
"Akan kita rebut kembali Padepokan Pedang Halilintar. Mungkin saja masih ada yang bisa kita selamatkan. Mengenai apakah kita akan menyerang balik ke Perguruan Ular Hitam itu kita pikirkan nanti. Setelah langkah pertama berhasil kita jalankan yaitu mengambil kembali padepokan Pedang Halilintar."
"Mengenai serangan balasan yang akan kita lakukan ke Perguruan Ular Hitam lebih baik kita membaca terlebih dahulu peta kekuatan lawan yang akan kita hadapi." Dewa Pedang menatap ke arah tetua cabang yang merupakan guru besar Perguruan Pedang Halilintar yang terlihat sangat terpukul setelah mendengar semua tentang kondisi perguruannya.
"Benar sekali aku juga setuju dengan tindakan ketua yang akan diambil. Aku rasa Kerajaan Kalingga pasti telah melakukan pergerakan. Bukankah kadipaten Banyu Kuning salah satu kadipaten yang masih masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga?"
"Jika pasukan Kerajaan Kalingga mengempur Perguruan Ular Hitam seharusnya bisa meratakan tanpa ada sisa sedikitpun. Tetapi kita belum tau seberapa kuat pasukan siluman yang dikabarkan ikut bergabung dibawah bendera Ratu Medusa itu? Jika Ratu ular medusa hitam itu berani menguasai Kadipaten Banyu Kuning berarti dia memang sudah memiliki perhitungan matang jika diserang balik pasukan dari Kerajaan Kalingga."
"Kita lebih baik membaca situasi seperti apa, sambil melihat perkembangan selanjutnya. Karena itu, kita lebih baik fokus untuk menyelamatkan Perguruan Pedang Halilintar terlebih dahulu."
"Siapkan pasukan dari sekarang karena kita akan berangkat besok. Akan aku pimpin sendiri seluruh pasukan yang akan langsung berangkat menuju Banyu Kuning."
"Selama saya dalam misi menyelamatkan Perguruan Pedang Halilintar Kakang Udan Asrep yang akan menjadi ketua pusat sementara."
"Sebarkan juga berita penyerangan ini keseluruh perguruan cabang. Perintahkan mereka semua untuk mengirim pasukan langsung ke Banyu Kuning. Kita akan jadikan Banyu kuning itu menjadi Banyu Abang(merah). Kita tumpahkan darah para siluman dan pasukan Medusa Hitam."
"Kakang Udan Asrep titip perguruan pusat selama aku tinggalkan. Selain itu hubungi Pendekar Dewa Rencong untuk ikut membantu mengawasi latihan nakmas Suro. Setelah dia menembus tahap terakhir biarkan Dewa Rencong melanjutkan latihan kekuatan jiwa. Lebih baik biarkan nakmas Suro menyelesaikan latihannya. Aku berharap setelah selesai dengan misi di Banyu Kuning dia sudah bertambah kuat berkali-kali lipat. Karena misi selanjutnya sudah menunggu untuk dirinya."
"Baik adimas Jagat Saswito(nama asli dari Dewa Pedang) aku akan menyampaikan hal tersebut kepada Dewa Rencong."
"Kalian para tetua akan ikut kecuali sebagian yang akan tetap tinggal untuk menjaga perguruan pusat. Selain itu kita bisa mencoba kekuatan dari jurus yang baru saja aku ajarkan."
"Kita buktikan bersama-sama apakah kekuatan itu akan mampu membuat para siluman itu hancur lebur tak berbentuk jika terkena energi pedang jurus Tebasan Sejuta Pedang?"
\*
Terima kasih untuk semua yang telah mendukung novel ini dengan like comment terutama terima kasih sekali kepada yang telah menyumbangkan koin maupun poin ke novel Suro Bledek ini. Untuk Update sebisa mungkin saya lakukan dua hari sekali. jika setiap hari kemungkinan belum bisa karena waktu kerja tidak memungkinkan. terima kasih semua.
salam jempol kejepit