
Pemilihan tetua baru akhirnya tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana dikarenakan protes yang dilayangkan para tetua perguruan cabang. Sehingga pemilihan tetua diundur sampai tiga purnama kedepan.
Hal itu dikarenakan perguruan yang bergabung dibawah bendera Perguruan Pedang Surga meliputi hampir keseluruh Benua timur. Maka waktu tercepat mereka untuk menempuh perjalanan sampai di perguruan pusat membutuhkan waktu minimal dua purnama lebih.
Setiap tetua cabang telah menyodorkan nama kandidat murid utama. Mereka para murid utama merupakan murid yang memiliki potensi terbaik diantara yang lain. Sehingga mereka mendapatkan pelatihan yang istimewa, yaitu mereka mendapatkan bimbingan dan pelatihan langsung dibawah arahan para tetua.
Keputusan perguruan cabang bergabung dibawah bendera Perguruan Pedang Surga rata-rata karena alasan kemanan. Mereka menghindari ancaman serangan dari perguruan lain yang lebih kuat.
Memang kenyataan seperti itulah yang terjadi. Didalam kejamnya dunia persilatan yang kuat akan menindas yang lemah. Karena dalam dunia persilatan hanya ada satu hukum yang berlaku, yaitu hukum rimba. Maka bukan hal yang aneh jika kemudian banyak terjadi penyerangan oleh perguruan yang lebih kuat kepada perguruan lainnya untuk menguasai sumber daya yang dimilikinya.
Dari alasan itulah mengapa kemudian banyak perguruan yang memutuskan bergabung dan berlindung dibawah bendera Dewa Pedang. Pendekar pedang terkuat diseantero Benua Timur. Dengan keputusan itu mereka berharap mampu terhindar dari serangan perguruan lain. Meskipun kadang pertolongan datang terlambat diakibatkan lokasi sangat jauh dari perguruan pusat.
Untuk menghindari hal itu maka kemudian dibentuklah tetua-tetua yang membawahi beberapa perguruan disuatu wilayah dibawah perlindungan mereka. Keberadaan para tetua ini sebagai perpanjangan tangan Dewa Pedang dalam melindungi mereka. Selain itu juga untuk mengakomodir kepentingan dan keperluan perguruan cabang. Sehingga aspirasi mereka bisa didengar perguruan pusat.
Perguruan Pedang Surga didirikan oleh Mahaguru Dewa Pedang. Salah satu tokoh segenerasi dengan Eyang Sindurogo.
Perguruan cabang adalah istilah untuk perguruan lain yang bergabung dengan perguruan milik Dewa Pedang. Karena alasan itulah mengapa setiap perguruan cabang memiliki aliran beladiri yang berbeda-beda.
Perguruan cabang yang bergabung dengan Perguruan Pedang Surga menyebar hampir diseluruh Benua Timur. Termasuk di daerah kesultanan malaka antara lain perguruan yang berada di daerah Bujangkau di Kedah juga di daerah Kelantan.
Terdapat juga perguruan yang berada di negeri Champa. Bahkan ada juga beberapa perguruan di daerah Kerajaan Chenla yang berada disebelah barat dari kerajaan Champa.
**
Setelah tiga purnama akhirnya semua murid utama dari seluruh cabang berkumpul.
Perwakilan dari negeri Champa juga hadir. Bahkan ada perwakilan cabang yang berada di suatu daerah Kerajaan Chenla. Tak ketinggalan dari daerah di Kerajaan Malaka ikut datang juga dengan dua kandidat.
Sebuah arena yang dikelilingi tempat duduk penonton yang berbentuk undakan bertingkat mengelilingi arena yang berada dibawahnya. Arena dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat begitu megah.
Setelah dilakukan seleksi awal maka terkumpullah dua puluh empat kandidat yang akan memperebutkan lima kursi tetua muda. Oleh karena itu dibuatlah pola seleksi enam kelompok berisi empat peserta. Dari setiap kelompok nanti akan diambil dua peserta terkuat.
Dari seleksi pertama itu akan menyisahkan dua belas peserta. Kemudian akan diadakan undian ulang untuk mengatur pertarungan acak sehingga nanti hanya menyisahkan enam peserta.
Setelah tinggal enam peserta maka untuk penentuan akhir semua peserta akan bertarung melawan para tetua.
Ini merupakan tahap terakhir dan juga merupakan tahap penentuan. Dari hasil pertarungan nantinya para tetua yang lain akan menilai para peserta dianggap pantas atau tidaknya menduduki posisi tetua muda.
Suro terlihat paling muda diantara para peserta yang lain menjadikan pemandangan yang aneh. Penampilannya yang terlihat lugu dan pakaiannya yang terlihat tak semewah peserta lainnya tentu menjadi tanya. Sebab wajahnya yang masih terlalu muda seakan sebuah lelucon. Selain itu semua peserta tidak pernah melihat wajahnya tak ada satupun yang mengenalinya.
Ruangan para peserta ditempatkan disuatu ruangan khusus sehingga orang luar tidak bisa masuk kecuali hanya peserta saja. Hal itu dilakukan agar tidak mengganggu konsentrasi para peserta. Selain itu untuk menjaga netralitas para petinggi atau pihak-pihak lainnya.
"Nak ini bukan tempat bermain-main sebaiknya sebelum tubuhmu cidera sebaiknya secepatnya keluar dari ruangan ini."
Seseorang yang tinggi besar dengan kumisnya melintang lebat terlihat menakutkan menatap Suro yang duduk agak dipojok ruangan.
Suro yang sebelumnya terdiam karena tidak merasa diajak berbicara membuat lelaki itu naik pintam sehingga dia segera mencoba meraih kerah bajunya. Tetapi sebelum hal itu terjadi entah bagaimana caranya tiba-tiba tubuh yang tinggi besar itu dibanting menghajar kursi yang berada dibelakang Suro.
Semua yang sempat melihat kejadian itu dibuat berdecak kagum dengan apa yang dilakukan Suro.
"Mohon maaf senior baju ini pemberian seseorang yang aku hormati aku tidak ingin merusak kenang-kenangan ini."
Suro berbicara sambil menjura kepada orang yang telah dibuatnya terbanting menghajar beberapa kursi diruangan itu.
"Setan alas akan aku hancurkan tempurung kepalamu!"
Lelaki itu mencoba bangkit dan langsung ingin menyerang ke arah Suro. Sebelum kemudian dihentikan oleh beberapa peserta yang lain.
"Awas kau bocah tak akan aku biarkan dirimu selamat! Camkan perkataanku!"
Mata lelaki itu melotot seakan mau menelan mentah-mentah tubuh Suro. Suro hanya tersenyum dan kembali duduk tidak menghiraukan perkataan yang dikeluarkan lelaki itu.
"Awas saja nanti kalau kau dipertemukan denganku! Walaupun aku tidak membunuhmu akan aku pastikan tubuhmu cacat seumur hidup! Camkan itu bocah! Dan mulailah mengompol dari sekarang!"
Suro menatap lelaki itu dalam-dalam dan membalas ucapannya hanya dengan sebuah senyuman juga anggukan kecil.
Tentu saja hal itu semakin membuat lelaki itu murka karena merasa diremehkan. Dia mengupat sumpah serapah tanpa henti. Kemudian terdengar suara lonceng yang membuatnya berhenti mengumpat. Suara lonceng itu adalah pertanda sebentar lagi akan dimulainya seleksi untuk menjadi tetua muda.
**
Setelah suara lonceng pertanda akan dimulainya seleksi. Para kandidat kemudian diarahkan menuju arena dan diperkenalkan kepada seluruh penonton yang hadir.
Para perwakilan perguruan yang memiliki kandidat calon tetua muda mulai mengelu-elukan jagoan mereka. Suara mereka bersahut-sahutan dengan perguruan cabang yang lain.
Suro memandang keseluruh penjuru penonton. Kolo weling yang mendapat undangan dari Dewa Pedang tidak mensia-siakan kesempatan itu. Dia begitu antusias berteriak menyebut nama junjungannya. Dia bersama dengan semua kawan-kawan lainya meneriakan nama Suro dengan begitu hebohnya.
Orang-orang perguruan yang mendengar nama itu terasa begitu asing. Tetapi dia tidak ambil pusing dengan reaksi orang-orang yang mulai menatapnya dengan tatapan aneh.
Suro hanya tersenyum geli melihat tingkah kolo weling bersama yang lainnya berjoget sambil meneriakan yel-yel untuk dirinya.
Dia menatap podium kehormatan disamping Dewa Pedang dia melihat sosok yang dia kenal. Walaupun dari jauh dia sudah bisa mengenalinya karena penampilannya memang berbeda dari yang lainnya.
Sebuah mahkota dengan taburan berlian terlihat begitu mencolok dialah Sri Maharaja Wasumurti. Sesuatu kehormatan besar bagi perguruan sebab sang Maharaja itu kini hadir tanpa diwakili orang lain. Dia datang menghadiri undangan Perguruan Pedang Surga dengan iring-iringan prajurit yang begitu ketat mengawalannya.
Selain kedatangannya menghadiri seleksi pemilihan tetua muda sepertinya Maharaja itu ada misi lain. Diantaranya dia datang mewakili koalisi tiga negara datang untuk mengucapkan terima kasih atas keberhasilannya Dewa Pedang memerangi teror Naga raksasa.
"Sembah bekti hamba kepada sinuwun Paduka semoga berkenan menerima pengabdian hamba. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat hamba kepada baginda, hamba memohon maaf terlebih dahulu. sekiranya hamba tidak berani dan tidak pantas menerima hadiah yang paduka telah diberikan dengan kebesaran dan kebaikan paduka kepada hamba. Karena saya merasa sangat tidak pantas mendapatkan kebaikan dan kedermawanan paduka yang bagaikan lautan ini. Sebab bukan hanya hamba saja yang telah melawan Naga raksasa itu. Justru bukan hamba juga yang telah membuat Naga raksasa itu tak lagi menjadi ancaman mengerikan."
"Mengingat ukurannya sekarang telah menjadi jauh lebih kecil daripada ukuran sebelumnya yang sebesar gunung. Setelah sebagian tubuhnya mampu dimusnahkan oleh murid Eyang Sindurogo. Kemudian sisanya dihancurkan oleh gurunya."
"Mungkin yang lebih pantas menerima hadiah yang diberikan dengan keluasan dan kebaikan paduka junjungan ini adalah Eyang Sindurogo yang telah mengorbankan dirinya. Bahkan sampai sekarang beliau masih terjebak dalam dimensi kegelapan."
"Berkat Eyang Sindurogo juga dan bersama muridnya membuat Naga raksasa itu akhirnya mampu kami kalahkan. Bahkan sampai sekarang belum terdengar lagi serangan yang dilakukan monster itu."
"Ya ingsun(aku) juga telah mendengar dari laporan patih Lembu Anabrang yang berasal dari Adipati Rakai Kalung Warok juga Adipati Lowo Ireng yang melihat langsung kejadiannya."
"Mereka menceritakan kedahsyatan Eyang Sindurogo dan muridnya melakukan perlawanan terhadap monster yang begitu susah dimusnahkan."
"Tentunya dengan adanya andil besar dari pendekar Dewa Pedang membuat misi itu berhasil, bukan?"
"Ingsun pasti juga akan menemui murid Eyang Sindurogo. Aku dengar dia justru ikut dalam seleksi tetua muda."
"Benar kanjeng gusti murid Eyang Sindurogo ikut serta sebagai kandidat." Eyang Tunggak semi ikut menjawab pertanyaan Raja dari Kalingga itu.
"Bagus ingsun juga ingin melihat sepak terjang murid dari tokoh terkuat dari Benua Timur ini. Apakah memang seperti yang diceritakan Adipati atau cuma dilebih-lebihkan."
Dewa Pedang hanya tersenyum mendengar ketidak percayaan Maharaja Wasumurti.
Suro melihat DewaPedang menunjuk-nunjuk kearahnya sambil wajahnya menoleh kearah Maharaja Wasumurti. Sepertinya Dewa Pedang sedang memberitahu tentang dirinya kepada Maharaja Kalingga itu.
Lelaki yang sebelumnya telah di banting oleh Suro terlihat masih menunjukan kemarahannya yang belum mereda. Tetapi Suro tidak ambil pusing dengan tatapan kemarahan yang ditujukan kepadanya.
Dalam kejadian sebelumnya semua berlangsung begitu cepat bahkan lelaki itu tidak menyadari gerakan yang dilakukan Suro. Seakan kilat menyambar tiba-tiba tubuhnya sudah melayang menghajar kursi. Tetapi dia dengan percaya dirinya menganggab semua itu hanyalah keburuntungan belaka disebabkan kelengahan dirinya yang terlalu menyepelekan Suro.
Lelaki itu adalah murid utama dari perguruan Pedang Rubah Api yang telah berafiliasi dengan Perguruan Pedang Surga. Perguruan itu berada di wilyah Kerajaan Chenla. Nama kandidat itu adalah Rithisak somnang. Pembawaan sikapnya yang arogan dan cenderung kasar dikarenakan latar belakangnya berasal dari bangsawan Chenla.
Di daerah asalnya memang dia begitu dihormati karena merupakan bagian keluarga bangsawan. Sekaligus karena dia dikenal memang memiliki bakat yang jenius. Selain itu kekuatannya yang besar dan keahlian pedangnya yang tinggi telah membuat dia menjadi bintang diantara yang lain.
Setelah para kandidat diperkenalkan kepada semua penonton kemudian mereka dipersilahkan menempati kursi di podium yang berada disebelah kanan tempat para tamu kehormatan berada.
Dimulailah pertarungan untuk menseleksi semua kandidat. Sesi pertarungan pertama dipanggil nama peserta Bayu aji melawan Vuong trung.
Bayu aji dari perguruan pedang halilintar juga termasuk perguruan yang tergabung dalam kelompok Perguruan Pedang Surga. Perguruan itu terletak berada tidak jauh dari kadipaten Banyu kuning. Keistimewaan yang dimiliki Bayu aji adalah kemampuan asli dari perguruannya yang mampu membuat setiap tebasan pedangnya diiringi sengatan listrik yang sangat kuat.
Pedangnya sedikit unik karena berlekuk menyerupai sebuah keris besar. Menurut kabar pedang tersebut dibuat oleh ahli pembuat senjata ternama bernama empu Ciung Wanara. Ahli pembuat senjata inilah yang juga dikatakan telah membuat pedang milik Dewa Pedang.
Lawan dari Bayu aji adalah jagoan dari perguruan yang berada diwilayah Kerajaan Champa. Nama kandidat itu adalah "Vuong trung" orang yang berbadan sedikit gempal tetapi gerakannya lincah. Ilmu pedangnya sangat hebat dan penuh tenaga terlihat dari pedangnya yang sangat besar. Sepanjang sekitar satu depa hampir berimbang dengan tinggi tubuh pemiliknya.
Hampir setiap padepokan beladiri yang tergabung dalam kelompok besar Perguruan Pedang Surga akan memadukan ilmu khas pedang mereka dengan kitab Dewa Pedang. Sehingga membuat permainan pedang mereka begitu terasa beragam.
Setelah aba-aba dimulainya pertarungan, Vuong trunk langsung melabrak ke arah Bayu aji. Putaran pedang yang begitu besar ditangan orang yang bertubuh gempal itu seakan terasa ringan.
Sebelum kepalanya putus segera Bayu aji merendahkan tubuhnya kemudian membabat ke arah perut gempal itu.
Dengan mengunakan pedang besar itu dia memotong gerakan Bayu aji. Tak dinyana hentakan dari tusukan pedang Bayu aji itu mengandung listrik yang kuat. Sehingga Vuong trunk kaget dan tersurut kebelakang beberapa langkah.
Merasakan jurus yang aneh itu segera dia memutar pedang besarnya sehingga menimbulkan suara seakan baling-baling.
Melihat permainan pedang Vuong trunk yang terus menyambar ke arahnya yang begitu lincahnya membuat bayu aji harus ekstra hati-hati beberapa kali dirinya harus berjumpalitan menghindar.
Sesekali saat ada peluang dia menyambar kearah tubuh Vuong trunk. Walaupun sambaran pedang yang unik itu tidak mengenai tubuhnya tetapi sengatan listrik kali ini semakin bertambah besar efeknya.
Pertarungan dua pendekar pedang dengan bentuk pedang yang berbeda cukup menegangkan. Kilatan petir yang berasal dari pedang Bayu Aji menyambar beberapa kali ke arah lawannya.
Sudah lebih dari empat puluh jurus pertarungan terus berjalan dengan sangat seru.
Kali ini Bayu Aji tidak menahan kekuatannya. Dia kemudian mengerahkan kekuatan petir miliknya dengan lebih dahsyat.
Chakra petir miliknya disalurkan kepada bilah pedangnya. Pedang yang bernama "kiyai Guntur Geni" ini memiliki karakteristik mampu memperkuat berkali lipat kekuatan unsur petir seseorang. Sehingga pedang tersebut menjadi pusaka terbaik bagi Perguruan Pedang Halilintar.
Bldaaar!
Hantaman keras pedang Bayu aji mengenai pedang besar Vuong trunk disertai energi petir terlihat menyambar-nyambar kesegala arah sebelum dibenturkan dengan begitu keras ke arah Vuong trunk. Tetapi lawannya tidak takut dengan serangan petir yang melambari setiap serangan pedangnya.
Pertukaran jurus pedang berlangsung dengan sangat cepat. Kemudian sebuah serangan Bayu Aji menghentikan perlawanan pria gempal dari negeri Champa itu. Sebuah sabetan yang dilambari kekuatan petir telah melemparkannya hingga dua tombak.
Terlihat dari tubuh gempal itu mengepulkan asap. Rambutnya yang sebahu berdiri semua seakan habis tersengat listrik tegangan tinggi.
Mulutnya menganga mengeluarkan asap. Beruntung jiwanya masih dapat diselamatkan. Segera tetua cabang menyelamatkan anak didiknya itu. Dibantu tetua lain yang menjadi panitia mereka segera menyalurkan tenaga dalam ketubuh Vuong trunk.
Dengan kekalahan Vuong trunk maka pemenangnya adalah Bayu aji.
Sesi kedua dan ketiga berturut-turut dimenangkan kandidat yang berasal dari Kerajaan Malaka.
Pertarungan dua sesi itu lumayan menegangkan dengan kemampuan pedang yang sangat unik sehingga mampu membuat lawannya terkecoh. Dua perwakilan dari Kerajaan Malaka itu mampu membuat tubuhnya berubah menjadi asap sehingga menyulitkan lawannya. Mereka menang dengan gemilang.
Setelah sesi kedua dan ketiga selesai maka sesi keempat segera dimulai. Terdengar nama peserta dipanggil untuk mengikuti pertarungan selanjutnya.
"Suro bledek melawan Made Pasek."