SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 144 Amukan Si Maung



Para gadis menangis berteriak-teriak meminta tolong saat anak buah lelaki itu mulai menarik mereka dengan kasar. Sebagian mereka mencoba mempermainkan mereka dengan tindakan yang tidak senonoh.


"Ampuni kami den, jangan bawa anak kami!" Seorang lelaki mencoba memberanikan diri maju kedepan memohon belas kasihan ke arah lelaki itu.


Bukan sebuah belas kasihan yang didapat, tetapi sebuah hantaman ujung kaki dari lelaki itu membungkam mulutnya selama-lamanya.


Para wanita dan anak-anak kembali menjerit dan menangis bertambah keras.


"Jangan bawa pergi mbakyukuu...!" Seorang bocah lelaki berlari mengejar kelompok perampok yang menyeret kakak perempuannya.


"Le, thole jangan kejar!" Seorang perempuan mengejar bocah lelaki yang lepas dari pegangannya.


"Bocah kamu ingin mati sepertinya!" Seorang lelaki bertampang bengis berbalik arah memapak bocah yang berlari ke arahnya sambil mencabut golok miliknya.


"Ampuni anakku jangan bunuh!" Perempuan itu mengejar ke arah anaknya yang terus berlari bertambah kencang. Bocah itu berlari sambil menangis, setelah melihat kakak perempuannya ikut di bawa serta rombongan perampok.


"Tidaaak jangan bunuh anakku!" Perempuan berteriak keras sambil menangis. Langkah kakinya kurang cepat karena lelaki yang telah mencabut goloknya lebih dahulu menyongsong bocah itu.


Sebuah ayunan goloknya sudah tak lagi dihentikan oleh tangis semua orang.


Hoaaaarrrrgh! Bruuuk!


Dari arah yang tak dinyana seekor harimau sebesar sapi langsung menerkam lelaki itu dan menghentikan tebasan goloknya. Sebab kepala lelaki itu telah remuk diterkam Maung.


Semua orang berteriak-teriak begitu kencang. Kali ini teriakan bukan saja dari para penduduk, tetapi juga dari para kawanan perampok yang ikut berteriak ketakutan.


Sebab selesai menghancurkan kepala lelaki barusan, langkah harimau itu tidak berhenti. Dia kembali menyerang lelaki didekatnya yang juga merupakan kawanan perampok.


Serangan itu begitu brutal membuat yang melihat pasti akan sangat ketakutan, tetapi anehnya yang diserang harimau itu hanya para kawanan perampok.


Tentu saja para perampok itu lari tunggang-langgang mencoba menyelamatkan diri secepatnya. Mereka meninggalkan begitu saja dua lusin gadis yang akan dijual. Para gadis itu juga berteriak tak kalah histerisnya. Sebab kondisi mereka yang sedang terikat satu sama lain, membuat mereka tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.


Uniknya harimau itu melewati begitu saja para gadis yang tidak berdaya dan terus berlari mengejar para perampok. Para gadis justru sebagian sudah pingsan mengira akan menjadi mangsa harimau itu.


"Kalian tidak berguna dengan seekor harimau saja sudah ketakutan!" Lelaki yang sebelumnya membunuh Ki kamituwo berbalik arah menatap anak buahnya yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari amukan harimau.


"Bunuh harimau itu, jika tidak aku yang akan membunuh kalian!" Teriakan lelaki itu menghentikan langkah kaki anak buahnya. Mereka berbalik mencoba menghentikan amukan harimau besar itu. Sudah selusin kawanan perampok itu dibantai.


"Jika kalian ingin membunuh harimau itu senjata kalian harus sebagus ini!" Mendadak ditengah jalan seorang pemuda berdiri menghadang rombongan perampok yang akan meninggalkan kampung. Pemuda itu memperlihatkan sebilah pedang yang bening seperti kaca. Entah mengapa pedang itu justru kembali dimasukan kedalam sarungnya, seakan tidak memandang kemampuan lawan yang sedang dia hadang.


Lelaki kekar yang menjadi pemimpin perampok menatap ke arah pemuda yang menghadang ditengah jalan sendirian. Mendengar perkataan barusan lelaki itu curiga, jika serangan harimau yang mengamuk menghabisi anak buahnya adalah atas perintah pemuda itu.


"Kamu cari mati anak muda, berani mencampuri urusanku! Apa kau yang telah memerintahkan harimau itu untuk menyerang anak buahku? Aku adalah Jambul geni murid dari Dukun Sesat dari Daha!"


"Hahahahaha....! Seandainya dirimu ini si dukun itu sendiri, lalu mengapa? Memang ada pengaruhnya bagiku?"


"Setan alas! Bunuh bocah bau kencur itu, berani sekali melecehkan nama besar guruku!"


"Mengapa bukan dirimu sendiri yang menghadapiku? Ternyata murid Dukun sesat tidak lebih dari seorang dukun cabul yang penakut!" Suro tertawa keras melihat Jambul geni menjadi murka.


Mendengar perintah pimpinannya puluhan lelaki yang berada disekitar Jambul geni segera menerjang ke arah Suro.


Tidak mau kalah dengan ucapan Jambul geni Suro juga berteriak ke arah Maung.


"Maung...! Jangan biarkan para sampah itu lolos! Habisi saja mereka semua, Maung!"


Teriakan Suro segera membuat mereka sadar, jika memang anak muda itu yang mengendalikan serangan harimau besar ke arah kelompok mereka.


Walaupun sedikit ragu, tetapi para anak buah perampok itu tidak berani membantah perintah pimpinannya. Para perampok itu, justru semakin mempercepat langkah kakinya hendak menghabisi Suro.


Dengan jumlah lebih banyak membuat nyali mereka semakin bertambah, mereka tidak berpikir jika seekor harimau sebesar itu bisa ditundukkan, seharusnya bisa mengukur seberapa kuat lawan yang akan mereka hadapi.


Jambul geni pemimpin perampok itu menyadari hal itu, karena itulah dia tidak mau ambil resiko. Dan membiarkan anak buahnya yang menyerang terlebih dahulu.


Jambul geni kagum melihat sikap Suro yang tidak takut melihat musuh menyerang dengan begitu banyaknya. Dia tetap tenang meski hanya seorang diri. Bahkan dia juga tidak segera mencabut bilah pedangnya.


"Siapa namamu bocah, agar saat kau mati nanti, para penduduk ini bisa memberi nama pada nisanmu?"


"Anggab saja aku Sang Hyang Yamadipati yang akan mencabut nyawa kalian semua!"


Suro sudah murka melihat perbuatan para perampok yang telah membantai para penduduk dengan begitu sadis. Bahkan dalam perjalanan itu dia juga sempat melihat para perampok yang bertugas mengumpulkan para penduduk menghabisi para wanita yang telah mereka perkosa.


Dengan geram dia bersama Maung menghabisi setiap perampok yang terlihat olehnya.


Dia terus berlari setelah mendengar dari perkataan penduduk yang telah diselamatkan, jika para penduduk sedang dikumpulkan dirumah Ki Kamituwo. Dengan mengikuti petunjuk penduduk itu dia akhirnya menemukan mereka semua.


Sayangnya beberapa nyawa tidak sempat diselamatkan, diantaranya Ki kamituwo sendiri yang sudah tergeletak tidak bernyawa.


Para perampok yang sedang mengeroyok Maung segera menyadari jika kulit harimau yang mereka hadapi seperti kulit badak. Pedang mereka membal tidak mampu melukai tubuhnya.


Suro tersenyum melihat harimau itu terus mengamuk tanpa ada yang mampu menghentikannya.


Pemimpin perampok itu tentu saja ketar-ketir melihat amukan harimau yang besarnya tidak lumrah itu. Apalagi setelah mengetahui cara bertarung dan juga kulitnya yang tidak seperti harimau pada umumnya. Sebab setiap senjata dari anak buahnya tidak mampu melukainya.


Dengan kondisi itu membuat Jambul geni berpikir untuk melarikan diri. Apalagi melihat jurus yang dikerahkan Suro tak kalah mengerikannya.


Anak buahnya yang menyerang Suro, entah bagaimana caranya mendadak mereka semua telah amblas masuk ke dalam tanah setinggi dada atau sebagian justru sampai sebatas leher.


Suro bahkan tidak perlu melangkahkan kakinya untuk melumpuhkan para penyerangnya. Sebab cukup dengan menggerakkan jarinya para kawanan perampok itu sudah amblas masuk ke dalam bumi.


"Aku adalah Jambul geni! Kau akan menyesal telah ikut campur urusanku!"


Lelaki itu lalu meloncat tinggi dari kudanya yang sedari tadi dia tunggangi. Jarak dirinya dan Suro tidak kurang dari tiga tombak.


Setelah meloncat dari kudanya dia berlompatan diantara cabang pohon. Agaknya dia menghindari serangan Suro melalui tehnik bumi.


"Mati kau bocah!" Dengan diawali serangan jarum beracun yang tidak terhitung jumlahnya, lelaki itu kemudian meloncat turun dari dahan pohon sambil menebas ke arah Suro dengan dilambari kekuatan yang berdasarkan kitab agni. Sebuah api yang cukup besar melabrak ke arah Suro.