SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 479 Pertarungan Diatas Udara part 2



Terlihat dari darat pasukan Macan Hitam terus berjatuhan dari ketinggian. Mereka tidak selamat melewati pertempuran diatas udara yang tidak juga usai.


Justru pertempuran itu berlangsung semakin brutal. Musuh tidak membiarkan pasukan kekaisaran kembali ke benteng.


Jendral Xiao Long justru memilih tetap bertempur diatas langit. Dia bukan tidak mampu lepas dari kepungan lawan, tetapi ada sesuatu hal yang mengganjal pikirannya, sehingga memaksa dirinya tetap bertempur melawan musuh yang bertahan diatas langit.


Dia merasa serba salah menentukan pilihan antara tetap menghadapi lawan yang bertahan di atas udara, atau kembali ke benteng yang berada di bawah.


Jika dia kembali ke bawah, maka besar kemungkinan lawan akan kembali menghujani pasukannya dengan jarum beracun. Tetapi jika tetap bertempur diatas udara, maka pasukan kekaisaran yang berada di benteng tidak ada yang memimpin. Dia khawatir pasukan musuh berhasil menjebol gerbang.


Dia sebagai panglima pasukan kekaisaran walau bersifat sementara, sampai Jendral Yuwen Huaji pulih, tetapi tetap saja dia merasa yang paling bertanggung jawab, jika seandainya benteng itu jatuh ke tangan musuh.


"Kurang ajar bagaimana ini bisa terjadi?"


Jendral Xiao Long mendengus penuh kesal karena posisinya yang serba salah. Matanya semakin memeperlihatkan kemarahan yang memuncak saat memandang musuh yang terus mengepungnya.


Bukan hanya dirinya, semua pasukan yang mengikutinya, kini justru dikepung dan tidak dibiarkan satu pun dari mereka kembali ke darat.


Jumlah pasukan musuh yang jauh lebih banyak hampir satu kali lipat, membuat mereka cukup kewalahan. Terlihat Jendral Yuwen Shiji dan Xian Hua sibuk bertarung dengan musuh yang mengepungnya.


Para punggawa pasukan kekaisaran yang sudah mencapai kekuatan tingkat surga dikepung tiga atau empat pendekar.


Semakin bertambahnya waktu, jumlah pasukan Macan Hitam yang tewas ikut bertambah. Keadaan itu semakin mempersulit pasukan kekaisaran untuk mampu mengalahkan pasukan musuh. Walaupun sebenarnya sekedar untuk bertahan saja mereka sudah kewalahan.


Jurus Pedang Rembulan Merah milik Jendral Xiao Long beberapa kali berhasil menghantam musuh. Beberapa bahkan sampai jatuh, tetapi mereka dapat pulih.


Meskipun kuatnya hantaman pedang berhasil meremukkan tulang musuh, tetapi tetap saja luka dalam itu segera pulih dengan cepat. Serangan pedang milik Jendral Xiao Long, gagal menghabisi musuh.


Jendral itu tidak habis pikir, bagimana musuh tidak mati, meski telah dihantam dengan dilambari kekuatan tingkat surga. Bahkan meskipun telah jatuh dari ketinggian dan menghantam tanah dengan sedemikian keras, tetapi secara mengagumkan mereka dapat kembali pulih.


Seakan mereka tidak mengalami cidera sedikitpun. Bahkan mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali melesat terbang dan menyerang Jendral Xiao Long.


Kekuatan yang didapat dari benih iblis, membuat tubuh mereka menjadi begitu kuat. Salah satunya adalah ilmu kebal zirah iblis yang mereka peroleh, menjadikan pasukan itu tidak mudah dihabisi.


"Jika serangan seperti itu saja tidak mampu membunuh mereka, lalu dengan cara apa agar mereka dapat kita habisi?" Jendral Xiao Long mendengus kesal melihat musuh yang mereka serang dengan begitu kuat masih dapat kembali bangun dan melanjutkan pertarungan.


Kejadian barusan semakin membuktikan lawan yang mereka hadapi sudah bukan manusia seutuhnya. Keadaan itu bukan hanya Jendral Xiao Long yang mengalaminya, seluruh pasukan kekaisaran yang sedang bertempur diatas udara itu juga merasakan betapa susahnya menghabisi musuh mereka.


Jendral Yuwen Shiji tidak jauh berbeda, dia sudah berkali-kali berhasil menghancurkan kepungan musuh, namun mereka dalam waktu singkat mampu meneruskan pertarungan dan kembali mengepung dirinya.


Dalam satu kesempatan, akhirnya Jendral Yuwen Shiji berhasil mendapatkan celah. Dia lalu melesat mendekat ke arah Jendral Xiao Long.


Musuh tidak membiarkan dirinya lolos begitu saja, mereka kembali berusaha mengepung dirinya.


Melihat musuh yang kembali berusaha menyerang dari berbagai arah, dua jendral itu akhirnya mensiasati dengan cara saling membelakangi. Dengan posisi seperti itu mereka dapat menghadapi musuh lebih mudah.


Selain itu ada sesuatu hal yang hendak Jendral Yuwen Shiji utarakan kepada Jendral Xiao Long. Sesuatu yang terkait dengan situasi pasukan mereka yang sedang bertempur melawan musuh di darat.


"Keadaan pasukan kita yang berada di darat tidak bisa kita biarkan bertempur tanpa ada yang pemimpinnya!" Sambil menyerang dan bertahan dari serangan musuh, Jendral Yuwen Shiji mengutarakan kekhawatirannya kepada panglima sementara pasukan kekaisaran.


"Aku juga memikirkan hal itu, salah satu dari kita harus turun secepatnya. Jika tidak, aku tidak mampu membayangkan apa yang terjadi pada seluruh pasukan kita yang sedang bertahan di benteng He Bei!"


"Tepat sekali Jendral Xiao Long, karena kau adalah pemimpin tertinggi, maka serahkan semua yang disini kepadaku. Aku akan menghadapi dibantu para pasukan Macan Hitam," balasan ucapan Jendral Yuwen Shiji membuat Jendral Xiao Long tidak segera menjawab.


Lelaki itu memang sedang sibuk menangkis serangan jarum yang dilemparkan musuh. Tebasan pedang merah milik Jendral itu berhasil menghantam dada musuhnya. Bahkan berhasil membelah zirah bagian dada musuh.


Tetapi kembali serangan itu tidak berhasil melukai musuh. Walaupun sempat melemparkan mereka kebelakang cukup jauh.


"Cepat pimpin pasukan, jangan biarkan benteng He Bei jatuh ke tangan musuh! Serahkan sisanya yang ada disini padaku!"


Suara Jendral Yuwen Shiji dibalas anggukan oleh Jendral Xiao Long sebelum melesat ke bawah.


**


"Ini gawat, jika kita tidak menahan pasukan Khan Langit di sini, maka kemungkinan besar gerbang benteng ini akan hancur!" Jendral Tian Bai segera bertindak cepat melihat situasi yang mampu membahayakan seluruh pasukan.


Dia lalu berusaha mengatur pasukan kekaisaran, agar benteng pertahanan mereka tidak dapat dijebol.


"Cepat pasukan Macan Hitam bentuk barikade! Lindungi gerbang utara! Jangan biarkan musuh berhasil menjebol gerbang!" Teriakan Jendral Tian Bai segera dipatuhi pasukan Macan Hitam yang kekuatannya berada pada tingkat langit dan juga tingkat Shakti


Para pemanah yang berada diatas gerbang sempat dihabisi pasukan Jendral Ulagan bersama dua jendral dari Kerajaan Goguryeo. Mereka bertiga menjadi lawan terberat bagi prajurit kekaisaran.


"Seperti janjiku sebelumnya, jika kau bertemu denganku di pertempuran, maka aku tidak akan membiarkan dirimu hidup lebih lama!" Pandangan Jendral Ulagan menatap tajam kepada jendral Tian Bai.


Tak urung Jendral Tian Bai bergidik melihat Jendral Ulagan yang berubah semakin kuat dan semakin bertambah buas seakan binatang liar.


"Gerbang ketiga Kemunculan Iblis!"


Jendral Tian Bai semakin bergidik menyaksikan peningkatan kekuatan yang berkali lipat dibandingkan sebelumnya. Musuhnya menyeringai menampakkan gigi taring miliknya yang terlihat semakin memanjang seakan taring singa.


Peningkatan kekuatan yang dikerahkan Jendral Ulagan hanyalah pembuka dari serangan yang akan dia kerahkan. Dia sepertinya hendak menghabisi seluruh musuh yang berusaha menghalangi langkahnya.


Dalam jalan pikiran Jendral Ulagan, semakin cepat dia menghabisi dan menghancurkan barisan pasukan kekaisaran yang berjaga diatas gerbang, maka akan membuka kesempatan bagi pasukan miliknya berhasil menjebol gerbang.


Dia kemudian mengerahkan jurus kedua dari Tombak Sang Talaka dengan dilambari kekuatan gerbang ketiga miliknya yang sudah terbuka. Kali ini Jendral Ulagan sangat yakin mampu menghabisi Jendral Tian Bai dan Jendral Zhou, meskipun saat itu pasukan Macan Hitam juga ikut menyerang dirinya.


"Sang Talaka Menuju Langit!"


Jurus tombak itu menyerang musuh dengan sangat cepat. Sabetan tombak berhasil memukul mundur pasukan Macan Hitam. Benteng besar yang terhantam jurus tombaknya mengalami kerusakan yang terus bertambah. Walupun tidak sampai membuatnya rubuh.


"Serang musuh dengan bola-bola peledak!" Jendral Tian Bai segera memberi perintah kepada pasukan Macan Hitam.


Mendengar perintah barusan, maka melesatlah puluhan bola-bola sebesar kepalan tangan. Jendral Ulagan yang melihat serangan itu tidak tinggal diam.


Wuuuung...


Wuuuuung...


Buuum!


Buuum!


Tombak miliknya berputar sedemikian cepat melindungi dirinya. Dengan cara tertentu, sebelum bola-bola itu meledak mengenai dirinya, justru dia gunakan tombaknya untuk melemparkan kembali bola-bola itu ke arah pasukan Macan Hitam.


Kontan pasukan Macan Hitam harus jungkir balik menghindari ledakan yang mampu menghancurkan tubuh mereka. Beberapa pasukan Macan Hitam tidak cukup beruntung. Senjata yang seharusnya menewaskan musuh justru membunuh rekan mereka sendiri.


Setelah itu serangan Jendral Ulagan menyasar ke arah Jendral Tian Bai. Diantara yang lain kekuatan Jendral Tian Bai lah yang paling kuat.


Jika berhasil membunuhnya, maka mental pasukan musuh akan jatuh. Dengan cara praktis itu kemungkinan dia akan mampu menyingkirkan musuh dari sekitar gerbang, sehingga ada waktu bagi pasukan gabungan untuk menjebol gerbang.


Trang! Trang!


Dua bilah pedang Jendral Tian Bai segera menangkis sabetan tombak yang hendak memotong lehernya. Beberapa kali dia memilih menghindar.


Setelah dua bilah pedangnya berhasil menangkis serangan tombak barusan, kedua tangannya tidak juga bergetar dan berasa seperti kesemutan. Tetapi dia berusaha menyembunyikan agar tidak diketahui muauh.


Kekuatan yang melambari serangan tombak itu telah berubah lebih kuat berkali lipat. Dalam kondisi seperti itu, akhirnya Jendral Tian Bai menggantungkan nasibnya kepada jurus andalannya.


"Jurus Pedang Petir Kembar!"


Serangan Tian Bai yang sejak awal memang cukup ganas dan mampu membuat pergerakan Jendral Ulangan menjadi terganggu. Tehnik perubahan petir yang melambari serangan jurus pedang kembar itu mampu membuat tubuh lawan seperti tersengat listrik kuat.


Jdaaar!


Jdaaar!


Jendral Tian Bai tidak membiarkan musuh menjadikan dirinya sasaran yang mudah. Karena itu dia mulai mengempos tenaga dalam miliknya untuk memperkuat serangan berikutnya.


Trang!


Trang!


Jdaaar...!


Jdaaar...!


Aaaaaaarrrrgggh!


Tombak Jendral Ulagan yang terbuat dari besi utuh, menjadikannya penghantar listrik yang kuat. Sehingga setiap kali pedang Jendral Tian Bai menghantam tombaknya, tubuhnya seperti terhantam petir.