
"Matilah kau sialan!" teriak Dewa Kegelapan dengan pukulan yang hendak menghancurkan dada Suro.
Sebelum pukulan lawannya menyentuh, maka dalam seperseribu detik mungkin, mendadak Suro berhasil menghentikan serangn Dewa Kegelapan dan menangkap kepalan tangan Dewa Kegelapan lalu memelintirnya. Kemudian secara bersamaan Geho Sama muncul di belakang Dewa Kegelapan mengerahkan jurus yang terbentuk dari PanchaMahabuta.
Telapak tangan Geho Sama menghantam punggung lawannya dengan sangat telak. Serangan itu tentu saja sangat dahsyat. Meskipun begitu Dewa Kegelapan hanya melirik sebentar terdorong ke depan.
Serangan yang dilakukan Geho Sama itu tentu saja bukan serangan utama. Sesungguhnya itu hanya serangan pengalihan untuk memberi waktu bagi Suro untuk mengerahkan serangan utamanya.
Dari telapak tangan Suro mendadak muncul empat bola sebesar kelereng yang dipenuhi energi yang teramat kuat, sebab itu adalah mustika empat dewa yang menguasai empat anasir alam.
"Menjadilah bagian dariku makhluk terkutuk!" teriak Suro melepaskan serangannya menghantam perut bagian bawah pusar dari Dewa Kegelapan.
Duuuuuuuum!
Sebuah ledakan teramat kuat menghantam tubuh Dewa Kegelapan. Hempasan serangan itu bahkan mampu melemparkan tubuh Geho Sama sedemikian jauh hingga lenyap dari pandangan.
"Apa yang kau lakukan padaku?!" teriak terkejut Dewa Kegelapan yang tidak mengerti dengan langkah yang diambil oleh Suro.
Tangan Suro bukan hanya menempel, tetapi secara pelan dan pasti masuk ke dalam tubuh Dewa Kegelapan. Kondisi Dewa Kegelapan sendiri tidak mampu menghentikan langkah yang dilakukan oleh Suro.
"Bagaimana mungkin tubuhmu mampu menampung empat kekuatan dewa sekaligus?!" ucap Dewa Kegelapan yang segera menyadari empat benda yang berputar sangat cepat mengelilingi telapak tangan Suro yang telah amblas ke dalam perutnya adalah mustika empat dewa.
Wajah Dewa Kegelapan memperlihatkan ekspresi kesakitan yang tidak terkira rasanya. Namun makhluk itu berusaha tidak memperdulikan dan masih berusaha menyerang balik. Sayang kekuatan yang dikerahkanSuro dengan empat mustika dewa membuat tubuh itu menjadi kaku layaknya patung dan hanya bisa menatap penuh kemarahan dengan apa yang tengah dilakukan Suro.
"Kau salah, bahkan tubuh manusiaku ini bukan hanya mampu menampung empat mustika dewa, tetapi lebih!" seringai Suro.
Beberapa saat Dewa Kegelapan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Suro, namun wajahnya segera berubah dengan cepat tatkala tangan Suro yang keluar dari dalam perutnya itu menangkap sebuah mustika berwarna hitam kelam dengan ledakan energi yang begitu mengerikannya.
“Sialan, kau mengambil mustika kekuatan kegelapanku!” teriak Dewa Kegelapan yang langsung menerjang kembali ke arah Suro yang bergerak cepat mundur.
Dewa Kegelapan seperti tidak memperdulikan luka diperutnya yang robek, dia terus mengejar Suro. Hanya saja sosok yang ada di belakang Dewa Kegelapan segera bertindak.
“Matilah kau makhluk buruk rupa!” teriak Geho Sama sambil menebaskan Pedang Kristal Dewa.
Crasss!
Kini dengan tanpa mustika kekuatan Kegelapan rupanya mempengaruhi kekuatan Dewa Kegelapan terutama pada kerasnya kulitnya. Sebelumnya kulit itu tidak mampu tergores oleh bilah senjata apapun.
Kini dengan mudahnya Pedang Kristal Dewa membelah tubuh Dewa Kegelapan menjadi dua. Sebelum Geho Sama melebarkan senyumnya, tanpa diduga olehnya tubuh itu langsung menyerap kegelapan di sekitar. Lalu dengan cepat segala luka yang tergores itu kembali menyatu dengan teramat mengagumkan.
“Kau pikir dengan luka seperti ini akan mampu membunuhku, makhluk setengah siluman!” dengus Dewa Kegelapan yang langsung membentuk sebuah godam raksasa siap menghantamkannya kepada Geho Sama.
“Kini tugas yang aku miliki adalah memberikan waktu bagi bocah gila itu beberapa saat saja,” gumam Geho Sama.
Dia lalu membentuk sebuah mudra tertentu, maka tanpa dinyana dari mana entah datangnya sewujud senjata yang berupa tameng raksasa muncul dan menghadang serangan Dewa Kegelapan. Tameng itu berwarna kehijauan dan menyala persis sama dengan Pedang Kristal Dewa.
Setelah itu perisai raksasa itu mulai membentuk sebuah penjara dan mengurung Dewa Kegelapan. Pedang Kristal Dewa langsung melesat ke dalam penjara dimana Dewa Kegelapan dan mulai menyerang dan mencabik-cabik dengan kecepatan tinggi.
Bukan hanya itu saja kobaran api hitam yang meledak dari bilah pedang tersebut memenuhi penjara, sehingga penjara itu mirip sebuah matahari kerdil. Ledakan terus terdengar dari penjara yang menandakan Dewa Kegelapan belumlah berhasil dihabisi.
“Padahal Mustika kekuatan kegelapan yang ada di dalam dirinya telah berhasil diambil oleh Tuan Suro, namun kekuatannya masihlah sangat mengerikan!” ucap tercekat Geho Sama yang tidak menyangka serangan yang begitu dahsyatnya tidak juga mampu melenyapkan Dewa Kegelapan. Pandangannya sempat melirik ke arah di kejauhan dimana Suro sedang berusaha menguasai kelima mustika dan hendak menyatukan seluruh kekuatannya.
Geho Sama mengetahui, jika apa yang dilakukan Suro bukanlah sesuatu yang mudah. Karena itu dia masih berusaha memberikan waktu lebih lama bagi Suro, walaupun sebenarnya itu adalah hal yang teramat sulit.
“Aku tidak akan membiarkan dirimu lepas lalu merebut kembali mustika kekuatan kegelapan milikmu!” ucap Geho Sama yang melihat Dewa Kegelapan hendak berusaha menyerap unsur kegelapan yang memang melimpah.
“Sepertinya aku harus mengembalikan kekuatan silumanku Sang Gagak setan,” gumam Geho Sama.
“Sangat disayangkan sebenarnya, jika tubuhku yang tampan rupawan ini harus aku tinggalkan dan aku ganti dengan sosok burung setan. Namun aku harus melakukan itu agar aku mampu menguasai kekuatan kegelapan seperti dahulu kala,” sambung Geho Sama yang segera merapal sesuatu mantra.
Bersama dengan mantra yang dia ucapkan itu, maka wujudnya sebagai pria tampan dengan kulitnya yang putih perlahan berubah. Pertama muncul dua sayap dari belakang punggungnya,lalu diikuti dengan perubahan wajahnya yang tidak lagi seperti manusia, sebab kini wajahnya secara cepat mengerucut dan berubah menjadi paruh seekor burung.
Begitu juga kulitnya yang putih bersih kini berubah menjadi merah. Perubahan itu begitu cepatnya hanya dalam waktu tidak lebih dari tiga atau lima detik, setelah itu perubahan itu diikuti dengan tertariknya kekuatan kegelapan yang ada di sekitar yang tertarik ke arahnya.
“Ini wujud sempurnaku saat aku menjadi siluman terkuat ribuan tahun lalu!” ucap Geho Sama yang lalu menahan kekuatan kegelapan yang hendak diserap oleh Dewa Kegelapan.
“Setidaknya ini akan mampu menahan Dewa Kegelapan sampai Tuan Suro berhasil menguasai lima mustika kekuatan miliknya,” imbuhnya yang langsung mengerahkan kekuatan dari empat anasir alam untuk melumpuhkan lawannya sampai Suro selesai dengan urusannya.
“Seribu Siksa Neraka!” teriak Geho Sama meledakkan seluruh kekuatannya dan menghantamkan kekuatan api, angin, tanah dan air,logam secara bergantian demi memastikan Dewa Kegelapan tidak dapat lepas.
Seperti sebuah meteor yang segera menghujani penjara yang telah dia buat untuk mengurung Dewa Kegelapan dari segala arah bersama sembilan tubuh gaibnya. Raungan suara Dewa Kegelapan yang tidak juga mati di dalam pusat api yang terus meledak ledak membuat Geho Sama semakin cepat melesatkan seluruh serangannya.
Pada saat itulah dia melihat kekuatan kegelapan yang berusaha dia jauhkan dari penjaranya akhirnya tidak dapat dia tahan lagi dan jebol. Seketika pusaran aura kegelapan memenuhi penjara.
Duuuuuuuuuuuuum!
Sebuah ledakan keras menghancurkan segala sisi penjara yang susah payah dibentuk oleh Geho Sama dengan munculnya wujud dari Dewa Kegelapan yang berubah menjadi raksasa tak terkira besarnya.
“Aku akan menelanmu anak manusia!” teriak penuh murka Dewa Kegelapan yang kini wujudnya hanya berupa kepala teramat besar. Mulutnya itu melesat ke arah Suro yang masih terpejam dan dalam posisi bersamadhi.