
Geho sama terus mengajari La Tongeq sakti membuat gerbang gaib sampai berhari-hari. Dalam waktu itu La Tongeq sakti meminta Geho sama membawa serta penduduk untuk melihat pemukiman yang sebelumnya telah dibuat oleh Suro.
"Seperti yang aku katakan dalam pertemuan sebelumnya, aku hanya meminta kalian melihatnya terlebih dahulu. Jika kalian tidak setuju untuk pindah dan membangun kehidupan diatas permukaan tanah ini, maka akupun tidak akan memaksakan."
La Tongek sakti sengaja membiarkan para penduduk itu mencari tau sendiri kondisi tempat pemukiman yang telah dia persiapkan bersama Suro.
"Kami sudah memastikan jika para shurala sudah tidak kami temukan keberadaannya. Namun demi mencegah hal yang buruk, maka aku dan nakmas Suro memilih lembah ini. Tempat ini secara alam sudah dilindungi oleh bentengi oleh deretan pegunungan."
"Apalagi nakmas Suro dengan tenaganya sendiri dia membuat benteng kokoh yang mampu menahan dari serangan para shurala."
"Selain itu tanah didaerah ini terlihat lebih subur dibandingkan beberapa daerah yang kami lalui. Silahkan kalian melihat-melihat pemukiman yang juga telah susah payah dibuat oleh nakmas Suro."
"Semua ini dilakukan olehnya demi kelangsungan hidup kita."
Mereka begitu antusias dengan apa yang diperlihatkan La Tongeq sakti kepada mereka. Namun pengalaman pertama mereka dapat melihat matahari, awan dan luasnya pemandangan langitlah yang membuat mereka begitu bahagia.
Tidak ada kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaan mereka saat melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Walau bagi manusia pada umumnya adalah sesuatu yang biasa tidak ada yang istimewa.
Tapi bagi mereka pengalaman itu seperti seorang buta mampu melihat keindahan alam pertama kali. Tentu reaksinya begitu histeris dan sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Semua penduduk yang hadir ditempat pemukiman yang baru akhirnya setuju untuk memulai hidup diatas permukaan tanah. Apalagi La Tongeq sakti ke depannya tetap dapat mengantarkan mereka menuju negeri bawah tanah, yaitu dengan ilmu membuka gerbang gaib yang sedang dia pelajari dari Geho sama.
Gerbang benteng terluar dan gerbang benteng kota, mulai mereka buat. Itu mereka lakukan sebagai bentuk antisipasi, jika mendadak ada serangan dari para shurala.
Tetapi kemungkinan itu kecil, sebab setelah sekian waktu mereka menempati pemukiman baru itu, tidak ada tanda-tanda satupun keberadaan para Shurala atau makhluk kegelapan.
Meskipun begitu La Tongeq sakti masih khawatir dengan keselamatan para penduduk yang mencoba menempati tempat tersebut.
"Tuan Pendekar Gagak setan, aku khawatir dengan keselamatan para penduduk ini, jika kita meninggalkan mereka ditempat ini begitu saja."
"Apakah tuan pendekar tidak keberatan, jika pelatihan membuka gerbang dilakukan disini saja. Semoga saja tuan pendekar mau mengabulkan permintaanku ini."
"Aku tidak masalah jika itu memang demi melindungi para penduduk yang sedang mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan pemukiman baru ini."
Para penduduk negeri bawah tanah terkesima saat pertama kali melihat pemukiman baru mereka. Mereka tidak habis pikir, bagaimana cara Suro membuat benteng sebesar dan semegah yang ada didepan mata mereka.
Sebab setelah semua proses pembakaran api hitam yang dilakukan oleh Lodra, maka wujud benteng megah itu adalah satu benteng batu yang utuh.
Begitu juga benteng kota atau benteng inti yang melindungi seluruh pemukiman penduduk. Mereka masih sulit mempercayainya dengan apa yang diceritakan La Tongeq sakti.
Sebab menurut mereka seluruh cerita La Tongeq sakti terasa seperti khayalan. Menurut penalaran mereka bagaimana mungkin rumah- rumah seluruh kota beserta benteng yang begitu megah hanya dilakukan satu orang, yaitu pemuda yang digadang-gadang sebagai calon mantunya itu yang tidak lain adalah Suro.
Tetapi apapun itu mereka tetap berterima kasih kepada La Tongeq sakti yang memberi kesempatan kepada mereka dapat melihat kehidupan luar, melihat awan, matahari.
Apa yang mereka alami hampir sebersit pun tidak pernah mereka bayangkan. Sebab dari lahir mereka tidak pernah meninggalkan negeri di dalam tanah yang selama ini mereka diami.
**
Suro sudah berhari-hari meneliti kandungan racun pelumpuh tulang, akhirnya dia mendapatkan sedikit petunjuk. Salah satu bahan yang digunakan dalam racun itu adalah kulit kodok emas. Sedangkan bahan untuk membuat penawar racun tersebut, bahan utamanya menggunakan rumput setan.
"Kita akan ketempat La Temmalureng. Sebelumnya kakang pernah memanen rumput tersebut. Pasti dia sudah menyimpan rumput setan itu dikediaman belakangnya yang digunakan untuk meramu obat. Dan juga digunakan sebagai gudang bahan untuk meracik obat."
Bersama Luh Niscita mereka kemudian menuju ke tempat La Temmalureng. Disana Suro memulai meracik racun terlebih dahulu sebelum membuat penawarnya.
Beberapa bahan tambahan yang diperlukan sudah Suro miliki
"Darimana kakang memiliki ilmu racun seperti ini?" Lu Niscita begitu penasaran, bagaimana seorang pemuda yang memiliki umur tidak jauh berbeda dengannya memiliki keahlian ilmu beladiri, ilmu pengobatan dan ilmu racun yang tingkatnya sudah begitu tinggi.
Kondisi itu semakin membuat dirinya tambah kesengsem dengan Suro. Karena itulah dia menemani Suro sambil tidak lepas terus memandangi wajahnya. Dara itu entah mengapa, setiap melihat Suro seakan ada aura yang menenangkan dan merasa aman.
Apalagi sebelumnya dia telah ditolong oleh Suro saat dijadikan sandera oleh La Temmalureng.
"Sebenarnya kakang sudah diajari ilmu pengobatan sejak kecil oleh eyang guruku. Selain sebagai guru, eyang telah kakang anggab sebagai orang tuaku. Karena eyanglah yang telah merawatku sejak kecil."
"Dalam dasar ilmu pengobatan yang diajarkan oleh eyang, kakang juga diajari cara mengobati orang yang keracunan. Karena eyang sering mengobati penduduk yang keracunan, baik karena binatang berbisa maupun karena makanan. Akhirnya tanpa sadar kakang telah mengerti tentang ilmu racun tingkat dasar."
"Selain itu dalam beberapa pertempuran yang kakang lalui, takdir membawa kakang berhadapan dengan jurus racun terkuat di Yawadwipa. Situasi itu akhirnya justru membuat kakang memiliki kesempatan mempelajari dari ahli racun dan juga dari kitab racun nomor satu di Yawadwipa."
Sambil mencoba mempelajari lebih dalam tentang bahan yang digunakan untuk membuat racun pelumpuh tulang, Suro bercerita banyak kepada Luh Niscita. Mendengar cerita Suro panjang lebar justru semakin membuat Luh Niscita antusias.
Dia semakin penasaran ingin mengetahui tentang kehidupan Suro yang penuh liku. Luh Niscita tidak menyangka, jika pemuda yang terlihat begitu konyol jika berbicara dengan makhluk raksasa setengah burung, ternyata menyimpan rahasia tentang kehidupannya penuh dengan petualangan yang mengagumkan.
"Petualangan hidup kakang sangat berwarna. Selain itu tidak aku sangka kakang yang begitu gagah masih juga belum memiliki pasangan. Niscita akan bersedia menemani kakang kemanapun kakang pergi."
"Seandainya kakang sudah memilikipun, Niscita tetap mau meskipun menjadi yang kedua atau ketiga bahkan," Luh Niscita tersenyum ke arah Suro sambil memandangi wajahnya.
'Gawat, apa ada kalimat yang salah aku ucapkan barusan? Kenapa dara ini bereaksi sama seperti Mahadewi jika mulai aku bacakan kata-kata yang berasal dari kitab milik Pujangga gila,' Suro membatin sambil menggaruk-garuk kepala.
Agaknya kepalanya bertambah pusing mendengar ucapan Luh Niscita. Luh Niscita terus berbicara kepada Suro, tetapi kali ini dia pura-pura tidak mendengar.
'Gawat, jika caranya seperti ini bisa repot nanti saya. Sebaiknya aku menyuruh dia menjauh saja, kepalaku pusing.'
"Adinda Niscita sebaiknya menjauh, aku akan mencoba meracik racun," ucap Suro sambil menatap Luh Niscita yang terus berbicara kepadanya.
Dara itu berjalan mundur sambil membuat tanda hati dari dadanya lalu ditiupkan kepada Suro.
'Sepertinya ada yang salah dengan isi kepala Niscita, apa perlu aku ruwat dengan sastra Jendra?'
Suro kembali menggaruk-garuk kepalanya melihat tingkah Luh Niscita yang terlihat aneh. Dia lalu melanjutkan kegiatannya mencoba menemukan racikan yang pas untuk meniru racun pelumpuh tulang sama persis seperti yang sudah ada.
Sebenarnya Suro menyuruh Luh Niscita bukan tanpa alasan, sebab segala Bahan yang dia gunakan memiliki kandungan racun yang sangat mematikan. Terutama serbuk kulit katak emas yang telah dikeringkan itu sangatlah beracun.
Bahkan saat katak itu hidup, seandainya ada yang menyentuh kulitnya secara langsung, maka racunnya akan masuk melewati pori-pori. Jika tanpa pertolongan akan mampu membuat manusia yang menyentuhnya mati secara cepat.
Setelah Luh Niscita keluar dari ruangan, Suro terus mencoba menemukan takaran racikan yang tepat. Tetapi setelah berkali-kali mencoba dia selalu gagal. Dia merasa komposisi yang dia buat dan hasil racikannya itu tidak menghasilkan racun pelumpuh tulang seperti yang telah ada.
"Gagal lagi...gagal lagi...apa yang sebenarnya yang kurang dari racikanku ini?"
"Seharusnya ini tidak ada yang salah, sudah pas. Tetapi uji cobaku selalu gagal. Racun yang terbentuk tidak seperti yang ada. Seharusnya tidak memiliki bau sama sekali."
"Bagaimana aku mampu membuat penawarnya, jika aku saja belum berhasil membuat racun pelumpuh tulang ini?"
"Beruntung di negeri bawah tanah ini memiliki sumber daya yang melimpah dan memiliki kwalitas yang sangat bagus. Racun ini pasti akan menjadi andalan bagi Batara Karang."
"Akan sangat berbahaya jika Batara Karang kembali menggunakan racun ini pada pertempuran berikutnya. Aku takut eyang atau siapapun akan terkena bahayanya racun ini. Racun ini menyerang syaraf dan mengacaukan nadi. Sehingga mampu melenyapkan tenaga dalam seorang pendekar."
"Bahkan seorang eyang guru sekalipun dapat terkena dampak dari racun ini. Apa yang kurang? Apa ada yang salah dari caraku meracik racun ini sebenarnya?" ucap Suro sambil mengetuk-ketuk jidatnya dengan ujung jari telunjuknya.
"Gunakan perasaan kakang, agar racunnya bisa mengenai hatiku yang paling dalam,"
"Apalagi ini, dara itu benar-benar mirip dengan paman sakti, tetapi tunggu,...benar apa yang dikatakan adinda aku memang harus menggunakan hati kodok emas untuk menetralkan rasa maupun bau racun ini..adinda memang pintar sekali,"
"Terima kasih juga kakang sudah membuat adinda semakin kesengsem dengan kakang ," kepala Luh Niscita muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis.
"Buat kakang, Niscita akan selalu ada untuk membantu."
Suro hanya bisa menepuk jidatnya berkali-kali sebelum melanjutkan kegiatannya
"Aiiisssshhhh..jagat dewa batara, jika caranya seperti ini bagaimana aku bisa menggunakan kekuatan dari Sang Hyang Wenang, ampuuuun..."
Setelah mendapatkan saran dari Luh Niscita, walaupun secara tidak langsung Suro kembali mencoba membuat racun pelumpuh tulang. Beberapa kali dia masih gagal, namun ada reaksi yang menunjukkan hati kodok emas mampu membuat bau maupun rasa dari racun itu mulai menghilang.
Beberapa lama kemudian Suro terlihat tersenyum dengan puas.
"Akhirnya aku berhasil membuatnya," ucap Suro sambil memasukkan racun kedalam botol kecil.
Setelah mendapatkan formasi racikan dari racun itu, tahap berikutnya dia kemudian mulai membuat penawarnya.
Dengan berbekal dari uji coba sebelumnya dan juga bahan dari racun itu, akhirnya Suro juga berhasil membuat penawarnya.
"Sekarang saatnya mencoba khasiat dari penawar yang aku buat."
"Memang siapa yang akan menjadi bahan percobaan kakang?"
"Tentu saja dua lusin orang yang telah aku racuni itu."
"Kakang sudah berbicara dengan paman sakti untuk meminta ijin ramandamu menggunakan penawar racun yang aku buat kepada mereka."
"Apalagi menurut ucapan paman sakti mereka sebenarnya mengikuti ucapan La Temmalureng bukan benar-benar dari kehendak mereka sendiri, tetapi dari pengaruh yang ditanamkan Batara Karang kepada mereka."
"Apalagi mereka bukan termasuk pasukan yang ikut membantai para penduduk dan penjaga di tempat pertemuan masyarakat waktu itu, tetapi demi memberikan unsur jera mereka sengaja tetap dikurung dihutan. Apalagi kondisi mereka lumpuh tidak mampu berdiri."