
Hong Shan yang mendengar dari mulut Dewa Obat mengenai nasib adiknya, yaitu Hong Dong terkejut dan membuatnya sedikit panik. Bahkan dia tidak menanggapi teriakan Dewa Obat yang diselingi suara tawa kerasnya.
"Apakah kalian mendengar kabar tentang Hong Dong? Ucapan iblis tua itu apakah benar?" Hong Shan menatap ke arah tetua yang berada disampingnya.
"Terakhir kali dia pergi bersama beberapa murid untuk minum arak di Pavillum Angin Utara. Selain itu aku tidak lagi mendengar kabarnya." Tetua yang berada disamping Hong Shan menjawab sambil mencoba mengingat-ingat terakhir kali melihat Hong Dong.
Pandangan mereka kembali berpindah ke arah pertempuran yang berada diluar gerbang perguruan mereka.
"Lalu siapa yang bersama setan tua itu?" Kembali Hong Shan bertanya ke arah tetua yang ada disampingnya.
"Kami kurang mengetahuinya, dari cara berpakaiannya pemuda itu sepertinya dia tidak terlihat berasal dari negeri ini.
Tetapi lihatlah wakil ketua Hong Shan, menurut perasaanku saja atau wakil ketua juga menganggap, jika makhluk yang bertarung melindungi Dewa Obat itu terlihat begitu ganjil!"
Hong Shan baru menyadari kondisi Geho Sama yang memiliki sepasang sayap.
"Apakah dia sejenis dengan Yon Suzaku?" Panggil utusan dari Pasukan Elang Langit. Aku rasa ini ada hubungannya dengan pasukan milik Karuru!"
Delapan pasukan penjaga suku Elang Langit memiliki nama sesuai dengan urutan kekuatannya. Urutan terlemah dari kedelapan prajurit siluman elang itu dimulai dari angka delapan, yaitu Shichi.
Kemudian secara berurutan ke angka berikutnya sampai yang terakhir angka satu. Shichi, Nana, Roku, Shi, Yon, San, Ni, Ichi.
Tetua yang dipanggil segera melesat masuk ke dalam perguruan. Selang tidak beberapa lama kemudian tetua itu kembali bersama beberapa orang. Bersama mereka ada satu makhluk tinggi besar dengan jubah hitam yang menutupi sekujur tubuhnya.
"Wakil ketua Hong Shan apa yang telah terjadi?" Sesosok lelaki dengan rambutnya yang sepenuhnya telah memutih menghampiri wakil ketua Hong Shan si Katak Kematian.
"Gawat ketua, kali ini Dewa Obat kembali menyerang perguruan kita secara langsung. Tetapi kali ini dia tidak datang sendirian."
Wakil Ketua Perguruan Lembah Beracun Hong Shan berbicara sambil menunjuk ke arah pertempuran yang berlangsung
"Kemungkinan dia sudah mempersiapkan serangan kali ini dengan matang. Lihatlah ketua Lam Thian, kekuatan pemuda yang bersamanya tidak biasa.
Bagaimana ada anak semuda itu memiliki kekuatan sebegitu mengerikan. Tenaga dalamnya kemungkinan sudah mencapai tingkat surga.
Bukan saja tenaga dalamnya yang mengerikan, tetapi lihatlah kemampuan ilmu racunnya itu sangat lah tinggi. Aku yakin dia berasal dari sebuah perguruan racun yang entah berasal dari mana."
Hong Shan bercerita sambil pandangannya tidak lepas ke arah pemuda yang tetap berdiri diatas udara sambil menahan setiap jurus beracun yang dikerahkan lawannya.
Pemuda itu berkali-kali balik menyerang balik menggunakan jarum kristal es yang kini sudah tidak terhitung jumlahnya. Semua jarum kristal es yang mengelilingi tubuhnya, dalam kondisi mengambang di udara seperti juga dirinya.
Hong Shan lalu menceritakan apa yang telah terjadi kepada ketua Perguruan Lembah Beracun. Lelaki yang diajak berbicara itu bernama Lam Thian. Dialah Ketua Perguruan Lembah Beracun.
"Aku tidak melihat maupun mendengar ada seorang pemuda belia yang memiliki kekuatan sedahsyat itu. Selain pemuda itu ada satu lagi musuh yang tak kalah mengerikan kekuatannya.
Lihatlah satu makhluk bersayap yang terus berusaha melindungi Dewa Obat. Bukankah itu seperti dirimu Yon Suzaku?" ucap Hong Shan tatapan lelaki itu berpindah ke arah sosok yang berada disamping ketua Lam Thian.
Sosok itu berperawakan tinggi dengan jubah hitamnya yang menutupi sekujur tubuhnya.
"Melihat dua sayapnya memang seperti dari jenis kaum kami. Tetapi aku merasakan dari sini, jika makhluk itu tidak sepenuhnya murni dari suku Elang Langit.
Kemungkinan dia hasil percampuran dari berbagai makhluk. Terutama karena aku merasakan, jika dia memiliki hawa seorang manusia." Sosok yang bernama Yon Suzaku berbicara dengan nada berat.
Yon berarti dia adalah Suzaku urutan keempat. Secara jelas dia terlihat seperti Roku Suzaku dan juga mirip Geho sama sebelum tubuhnya berubah setelah menyerap khasiat air Nirvilkalpa.
"Masalah ini sepertinya harus aku tanyakan kepada Kurama Tengu atau kepada Yang Mulia Karuru," ucap Yon Suzaku sambil pandangannya tidak lepas ke arah Geho sama.
**
Dewa Obat begitu bersemangat melepaskan anak panah chakra. Jurus Janu Sahasra milik pertapa itu menjadi semakin menggila.
Dengan adanya penjagaan Geho sama, dia tidak perlu khawatir musuh akan mampu mendekatinya. Karena dengan perlindungan Geho Sama dan Suro, lelaki itu dapat dengan leluasa menggunakan pusaka dewa busur panah Wijaya.
Janu Sahasra yang dikerahkan Dewa Obat mampu menggandakan sebanyak mungkin tergantung chakra yang melambarinya. Semakin besar chakra yang digunakan, maka akan semakin banyak jumlah anak panah yang terbentuk.
Tidak satupun pasukan dari Perguruan Lembah Beracun mampu menghindari serangan sang pertapa. Kondisi itu membuat dia semakin bersemangat.
Selang beberapa saat kemudian mereka melihat kedatangan sosok lain disamping Hong Shan.
"Apakah sosok itu yang kalian berdua cari?" Dewa Obat bertanya ke arah Geho sama yang baru saja mengusir musuh dengan menggunakan kipas besar.
Senjata kipas itu telah berhasil menghalangi musuh untuk mendekati mereka berdua. Sebab setiap hempasan angin yang keluar darinya mewakili tebasan energi pedang yang sanggup memotong tubuh manusia dengan mudah.
Pandangan mata Geho sama berpindah ke arah yang ditunjukkan Dewa Obat. Dia melihat sosok tinggi dengan jubah besarnya yang menutupi sekujur tubuhnya.
"Benar, memang jenis makhluk itu yang coba kami kejar."
Dewa Obat menganggukkan kepala mendengar jawaban dari Geho Sama.
"Sebenarnya jika tanpa ilmu racun, kekuatanku tidak akan mampu mereka tandingi. Tetapi kini aku tidak perlu khawatir dengan ilmu sesat itu." Dewa Obat tersenyum sambil menatap Suro yang berdiri melayang di atas mereka berdua.
"Tenang saja aku akan membantu menangkap makhluk itu hidup-hidup. Aku akan memancing mereka agar ikut bergabung dalam pertempuran ini," imbuh Dewa Obat.
Geho Sama kembali sibuk menyerang musuh yang mendekat. Dia tidak sempat menjawab ucapan Dewa Obat.
Setiap kali dia berpindah tempat disekitar Dewa Obat dengan menggunakan Langkah Maya, maka kipas besar miliknya akan melemparkan musuh mundur kebelakang.
Bagi yang sempat menangkis ribuan energi tebasan pedang angin dari Taru Braja milik Geho sama, maka kemungkinan dia selamat. Tetapi yang tidak sempat melindungi tubuhnya, maka mereka akan terlempar dalam kondisi terpotong-potong tanpa ada lagi nyawa di tubuhnya.
"Hong Shan, dan kau juga Lam Thian, apakah kau hanya ingin melihat seluruh anggota perguruanmu ini dibantai! Hahaha...!" Tawa dari Dewa Obat diakhiri dengan lesatan puluhan panah chakra ke arah puncak dinding dimana musuhnya menyaksikan jalannya pertempuran dari kejauhan.
Apa yang dikatakan Dewa Obat bukanlah bualan belaka. Sebab dengan berjalannya waktu, memang tumpukan mayat anggota Perguruan Lembah Beracun semakin banyak.
Selain serangan yang dilakukan Dewa Obat dan juga Geho Sama, serangan yang dilakukan oleh Suro tidak kalah dari mereka. Apalagi dengan ilmu racun yang dia kuasai, dua orang yang berada dibawahnya merasa terlindungi dari racun milik lawan.
Setiap serangan racun yang mencoba menembus pertahanan mereka, selalu saja dapat dipatahkan oleh Suro.
Justru racun yang digunakan untuk menyerang Suro menjadi senjata makan tuan. Sebab racun itu dirubah menjadi ribuan jarum es beracun untuk menyerang pemiliknya.
Kondisi itu yang membuat para tetua mulai turun tangan ikut menyerang mereka bertiga. Namun semua serangan para tetua itu tetap dapat dipatahkan oleh Suro.
Puluhan panah chakra yang dilepaskan Dewa Obat menerjang ke arah Hong Shan , ketua Lam Thian dan beberapa tetua Perguruan Lembah Beracun. Mereka meruntuk mendapatkan serangan panah chakra.
Serangan itu tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali Dewa Obat menargetkan serangannya hanya tertuju ke arah mereka.
Dewa Obat memang sengaja memancing mereka agar ikut dalam pertempuran. Apa yang dia lakukan akhirnya berhasil memancing mereka dengan menambahkan trik yang mencoba menipu musuh mengenai kondisi tenaga dalamnya yang terkuras oleh pengerahan jurus Janu Sahasra.
"Sudah aku katakan, pancinganku pasti membuat Lam Thian bodoh itu turun tangan!" Dewa Obat tertawa terkikik melihat Hong Shan dan yang lain melesat turun ke arah mereka. Dia lalu mengingatkan Suro tentang kekuatan ketua dan wakil ketua Perguruan Lembah Beracun.
"Hati-hati calon muridku, dua orang itu telah mencapai tingkat surga. Ilmu racun mereka sangat menyusahkan!"
"Aku ingin menangkap siluman elang itu hidup-hidup," Pandangan Geho sama tidak lepas ke arah musuh yang dimaksud Dewa Obat.
Tetapi dia lebih terfokus ke arah Yon Suzaku yang ikut bergabung menyerang mereka bertiga.
"Biarkan diriku yang menghadapinya, aku tau saat ini dia berpihak disisi musuh. Tetapi setidaknya biarkan aku yang menghabisi jika tidak mampu melumpuhkannya.
Karena apapun itu, dia adalah bagian darisuku yang dulu pernah aku pimpin."