SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 259 Kembalinya Eyang Sindurogo part 2



Suara dari tetua Dewi Anggini terasa tidak asing terdengar oleh eyang Sindurogo, karena itulah mengapa dia langsung menghentikan langkahnya secara mendadak. Serta Merta dia menoleh ke arah asal sumber suara tersebut.


"A, a..din, da? Benarkah ini adinda Dewi Anggini?" Mulutnya ternganga, begitu juga raut muka eyang Sindurogo langsung berubah terlihat begitu terkejut.


"Benar kakang Sindu ini aku Dewi Anggini!" Suara Dewi Anggini yang sedikit lirih dan bergetar, karena dia menjawab pertanyaan eyang Sindurogo sambil menahan tangis.


Dalam beberapa saat Dewi Anggini tertegun seperti patung, karena tidak menyangka sama sekali dapat kembali menatap orang yang dicintainya. Dia juga cukup terkejut saat mengetahui wajah dari eyang Sindurogo yang hampir tidak bertambah tua, kecuali jengot dan kumisnya tumbuh dengan begitu lebat.


Eyang Sindurogo masih tidak mempercayai apa yang dia liat, lengannya beberapa kali mengucek-kucek matanya. Tanpa sadar dia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dewi Anggini.


Namun sebelum langkahnya semakin mendekat, sesosok makhluk menghentikan langkahnya dengan memegang bahunya. Tindakan itu tentu saja mengganggu perasaannya yang sedang berbunga-bunga.


"Tuan guru, kamu salah melangkahkan kakimu. Pertempuran yang akan kita tuju bukan diatas bukit, tetapi dibawah sana!"


"Setelah sampai disini arah tujuan kita ternyata berbeda Geho sama. Sebab pertempuran yang berkecamuk dalam hatiku berada di arah sini. Aku akan menyelesaikan pertarungan batinku terlebih dahulu."


"Kamu lanjutkan langkahmu ke arah bawah. Karena disana pertempuranmu sedang menunggu Geho sama. Jadi kamu teruskan saja langkahmu sendiri ke arah sana. Aku akan tetap disini untuk mengakhiri pertarungan batinku." Eyang Sindurogo menjawab perkataan Geho sama tanpa menoleh kebelakang. Karena saat itu dia sedang terpana menatap wanita didepannya.


Dewi Anggini sendiri tak bergerak dari tempatnya berdiri, meskipun pada saat itu jiwanya ingin berontak dan melesat menghampiri lelaki yang selalu menghiasi setiap mimpi dalam tidurnya. Dia justru tetap terpaku menatap ke arah eyang Sindurogo tanpa berkedip.


Terlihat tetua Dewi Anggini mulai mengalirkan air mata karena begitu bahagia. Disudut bibirnya yang tipis dan merah itu terbentuk sebuah senyuman termanis yang telah membuat eyang Sindurogo teringat kembali pertemuannya dengan tetua yang berjuluk Bidadari Lengan Seribu itu puluhan tahun silam.


Dewi Anggini pada saat itu masih berusia belasan tahun dan karena alasan itulah dengan berjalannya waktu mereka melewati waktu bersama dia mencoba menutupi perasaannya sendiri.


Meskipun saat itu dia telah berumur ratusan tahun, namun penampilannya pada saat bertemu dia berpenampilan layaknya pendekar yang berumur dua puluhan tahun. Bahkan sampai saat ini sekalipun masih berkisar seperti umur tiga puluhan atau bahkan lebih muda dari itu, jika dia mau memotong kumis dan jenggotnya yang tumbuh dengan lebat.


Wanita yang sekilas seperti masih berumur tiga puluhan tahun atau lebih itu tidak menyangka akan dapat bertemu kembali dengan lelaki tertampan dan terkuat dalam ingatannya.


Lelaki yang telah membuat hatinya tidak pernah sekalipun berpaling kepada yang lain. Karena dia adalah sang Arjuna bagi hatinya, lelananging jagat untuk seluruh waktu dalam hidupnya. Karena bagi dia lelaki itu adalah malaikat penolong yang tidak akan mampu bisa digantikan.


Di bibirnya terucap gumaman yang tidak terdengar suaranya sama sekali. Tetapi lelaki yang kini rambutnya tak digelung dan tergerai memanjang sampai pinggang itu memahami apa yang diucapkan wanita itu. Eyang Sindurogo memahaminya dengan membaca gerak bibir tetua Dewi Anggini.


"Kakang Sindu aku sangat merindukanmu." Mendadak dadanya berdegub dengan begitu kuat, setelah membaca gerak bibir tetua Dewi Anggini.


Senyuman eyang Sindurogo yang hendak merekah mendadak terhenti, karena sebuah tangan raksasa kembali merengkuh pundaknya dan mulai mengoyang-goyang tubuhnya.


"Tuan guru! Tuan guru, sadarlah! Ingat nyebut tuan guru, nyebut...buut...buuut! Ada hal yang lebih penting kita harus segera menolong tuan Suro!"


Eyang Sindurogo mendengus kesal, karena konsentrasinya ambyar. Dia mulai menggaruk-garuk kepalanya sambil menoleh ke arah Geho sama.


"Lihatlah tuan guru! Pertempuran yang berlangsung berada dibawah. Kita harus segera menuju kesana untuk menolong tuan Suro! Kondisi mereka sudah gawat!" Geho sama takut eyang Sindurogo mendadak gila seperti Pujangga gila, karena raut mukanya mengingatkannya Geho sama pada lelaki itu jika mulai bersyair, yaitu tersenyum-senyum sendiri.


"Tuan guru!"


"Mengganggu saja siluman ini. Aku akan tetap disini sebentar. Aku harus menyelesaikan urusanku yang lebih gawat terlebih dahulu Geho sama. Jadi kamu sendiri yang menuju sana, aku akan menyusulmu nanti!"


"Selain itu, bukankah yang diminta tolong untuk segera datang oleh angger Suro, adalah dirimu? Apalagi urusannya mengenai ilmu sihir yang hanya dirimu yang bisa melakukannya! Sudah kamu duluan sana! Urusanku disini lebih gawat, secepatnya aku akan menyusul dirimu!" Eyang Sindurogo sedikit kesal karena bunga-bunga dan juga kawanan kupu-kupu yang baru saja muncul dimatanya menjadi ambyar dengan gangguan yang dilakukan Geho sama.


"Urusanku ini sangat gawat dan harus aku selesaikan sekarang!" Tanpa menoleh kembali, eyang Sindurogo berbicara sambil menepis tangan Geho sama yang masih memegang pundaknya. Dia kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dewi Anggini.


Suara gigi Geho sama mulai bergemeletuk menahan marah. Dia mulai bersungut-sungut penuh kekesalan.


"Ini urusan anak muda Geho sama. Kamu sudah terlalu tua tidak bakal memahami betapa gawatnya urusan ini. Sudah buruan kamu secepatnya menolong angger Suro."


"Anak muda ini hendak menyelesaikan hal yang lebih gawat daripada pertempuran yang disana!"


Kali ini Geho sama mendengus kesal, setelah mendengar ucapan eyang Sindurogo. Dia mulai meruntuk panjang lebar.


"Murid gendeng ternyata gurunya lebih gendeng. Sialan, kenapa nasibku sesial ini? Mengapa aku harus terjebak takdir menjadi pengikut manusia-manusia gendeng ini?" Geho sama menggerutu dengan begitu kesal.


Dia lalu melesat meninggalkan eyang Sindurogo tanpa menoleh lagi. Beruntung dia segera mendapatkan cara untuk melampiaskan seluruh kekesalannya. Karena peperangan yang sedang berkecamuk berlangsung dengan lebih sengit dari pada sebelumnya. Kekuatan Geho sama akan sangat membantu, sebab saat itu pasukan yang dipimpin Dewa Pedang terus didesak untuk mundur.


Eyang Sindurogo yang mendengar gerutuan Geho sama, sudah tidak peduli lagi. Karena pada saat itu dimatanya semua terlihat begitu indah dan penuh dengan bunga warna-warni.


Di langit dia melihat pelangi bukan hanya satu tapi dua buah pelangi kembar menghiasi pemandangan. Bahkan kupu-kupu begitu banyak mendadak muncul entah datang dari mana. Apa saja yang dia lihat tidak seperti biasanya, semua terlihat begitu indah.


Bahkan seekor kambing hitam yang kebetulan lewat dan mulai mengembik mencari anaknya yang hilang, Dimata eyang Sindurogo terlihat seakan menjelma menjadi seekor kuda Sembrani lengkap dengan kedua sayapnya yang membentang lebar. Suara kambing yang mengembing juga terdengar seperti ringkikan kuda. Bahkan seluruh bulu disayapnya penuh warna-warni seperti ekor burung cenderawasih.


Entah matanya yang salah atau pikirannya yang sudah terganggu karena sebuah racun kuat yang merasukinya. Sebuah racun kuat yang bahkan pendekar sekuat Pujangga gila pun dibuat kehilangan kewarasannya, racun itu bernama "cinta".


"Ada apa dengan mataku? Mengapa semua terlihat begitu berwarna-warni? Apa aku sekarang sudah berada di nirwana? Mengapa semua terlihat indah dan kini justru muncul seorang bidadari di hadapanku?"


"Tidak ada yang salah kakang, pengelihatanmu tidak ada yang salah, karena ini memang diriku, kakang."


Saat dua orang yang saling merindukan itu bertemu, di bagian agak ke bawah dari bukit besar itu pertempuran berkecamuk lebih hebat dari sebelumnya. Karena makhluk seperti katak dan rantai dari tubuh Batara Antaga telah memakan korban yang sudah tak terhitung jumlahnya.