SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 309 Iblis Kalipurusha part 2



Setelah melewati jarak beberapa puluh tombak dimana istana itu berdiri, jawaban atas raibnya hantaman kuat dari gelombang suara Batara Karang mulai terjawab.


Sebab setelah mendekat itu mendadak suasana dimana mereka berdiri berubah. Sesuatu benteng gaib telah membuat pembatas air lautan tidak dapat memasuki daerah disekitar istana milik Iblis Kalipurusha.


Benteng gaib itu meliputi seluruh istana dan daratan sekelilingnya yang berbentuk melingkar begitu luas. Jika diperhatikan tempat berdiri istana itu seperti diatas puncak gunung yang menjulang tinggi mencuat keluar dari gelapnya jurang lautan.


Puncak dari gunung itu terhampar sangat luas, sehingga istana Iblis Kalipurusha mampu berdiri diatasnya. Segel gaib yang memisahkan air lautan itu mirip gelembung udara yang dibuat Hantu Laut.


Kondisi tempat itu dipisahkan dari alam sekitar oleh jurang yang sangat dalam, atau sesuatu yang sering disebut sebagai palung laut.


Bisa dikatakan istana itu terlihat seperti sebuah kelopak bunga yang mekar diatas tangkai dan bersinar diantara gelapnya dasar lautan. Jika tidak mengetahui latar belakang dan tanpa kehadiran pasukan milik Iblis Kalipurusha, tentu itu adalah sebuah pemandangan yang sangatlah indah.


Namun, jika semakin mendekat ke arah istana, maka mata akan melihat sesuatu yang mengerikan sebab alih-alih dikelilingi taman indah, justru tempat itu cukup menakutkan. Sekeliling puncak gunung itu dipenuhi kerangka raksasa.


Seakan mereka menjadi peringatan bagi siapapun yang berani mencoba memasuki tempat tersebut akan tamat riwayatnya. Namun pasukan yang menyerbu kali ini tidak memperdulikan dengan pemandangan yang cukup mengganggu tersebut.


Kondisi seluruh tempat itu benar-benar kering tidak ada air laut yang mampu memasukinya. Bahkan seolah-olah mereka tidak sedang berada didasar lautan, justru sedang berada diatas daratan.


Setelah memasuki hutan berupa segala rupa kerangka para raksasa dari berbagai macam jenis, maka mata mereka kembali disuguhkan dengan pemandangan yang sangat janggal ada di dalam lautan.


Karena setelah tumpukan kerangka makhluk raksasa, maka pemandangan mereka berganti dengan hamparan permadani hijau yang berupa rumput yang terpapas begitu rapi. Pepohonan juga tersebar dan tumbuh dengan normal, seakan memang ada diatas daratan.


Gelembung udara yang sebelumnya diciptakan Hantu Laut telah menghilang sejak mereka muncul di hutan kerangka para raksasa. Sesaat setelah mereka melihat hamparan pemandangan yang menghijau, penampakan lain juga bermunculan dengan cepat.


Pasukan Iblis Kalipurusha telah bersiap menyambut kedatangan musuh yang dipimpin Batara Karang. Pasukan yang muncul itu berbaju hitam dengan tanduk memutar seperti seekor domba.


Dengan tinggi yang rata-rata sekitar satu tombak. Bisa dikatakan ukuran mereka seperti golongan para raksasa diantara para manusia.


Ditangan mereka sebuah tongkat dengan golok besar diujungnya membuat penampilannya semakin menakutkan. Jumlah pasukan milik Iblis Kalipurusha yang menyerbu ke arah mereka ada lebih dari dua ratus.


Pertarungan dua kubu langsung pecah, dua tetua ular, Hantu Laut, siluman gurita cincin biru beserta pasukan kegelapan yang memiliki kekuatan setara dengan mereka berhasil memporak-porandakan kekuatan musuh.


Tetapi gelombang kedatangan pasukan milik Iblis Kalipurusha lebih banyak dari sebelumnya. Mereka kini telah mengepung sepenuhnya pasukan yang dipimpin Batara Karang.


Melihat hal itu Batara Karang memerintahkan Hantu Laut dan lainnya untuk mundur. Pasukan kegelapan yang bertempur segera mundur begitu mendengar perintah pimpinannya.


Namun pasukan milik Iblis Kalipurusha juga tidak berusaha mengejar pasukan musuh yang bergerak mundur untuk bertahan.


"Iblis Kali Purusha! Kalau kau tidak muncul, bukan orang-orangmu saja yang aku babat habis, tetapi istanamu akan aku rubuhkan!"


Selang tidak beberapa lama terdengar suara yang menyahut teriakan menggelegar milik Batara Karang. Suara itu juga tidak kalah kuatnya.


"Batara Karang mulutmu besar seperti biasanya!"


Sumber suara barusan yang terdengar keras, berasal dari dalam istana megah.


"Keberadaan para Ashura membuat mulutmu semakin besar!"


"Apakah seperti ini kau menyambut utusan dari Dewa Kegelapan?" Batara Karang menggerung penuh kemarahan. Karena sikap Iblis Kalipurusha yang menjawab dari kejauhan tanpa berusaha menemuinya langsung adalah sebuah bentuk penghinaan.


"Apa yang aku khawatirkan dengan dewa lemah seperti dirinya, menghadapi anak manusia yang begitu lemah saja sudah lari kocar-kacir!"


"Hahahaha...!" Suara menggeleggar dari dalam istana kembali menyahut ancaman Batara Karang.


Batara Karang bersama keempat Ashura langsung melesat ke arah istana.


Keempat ashura itu kemudian triwikrama berubah menjadi sebesar gunung. Empat makhluk raksasa itu hendak menghancurkan istana milik iblis Kalipurusha.


Goooaaarrrrghgh!


"Tunggu!"


Saat itu langsung muncul sesosok yang hitam legam. Tubuhnya setinggi hampir tiga tombak menjulang. Dia menebaskan sebuah pedang besar yang memiliki panjang setinggi tubuhnya.


Blaaaar!


Kekuatan tebasan itu sangatlah mengerikan. Empat raksasa yang terkena dampak tebasan itu meski tidak terpotong menjadi dua, tetapi tetap harus menahan dengan gada raksasanya.


Tubuh raksasa itu terlempar hingga terjerebab masuk ke dalam jurang yang mengelilingi daratan tersebut. Beruntung mereka dapat menguasai kembali keadaan.


Para Ashura sesungguhnya adalah semacam makhluk astral yang bisa berubah ukuran tubuhnya sesuka hatinya. Kondisi itulah yang menjawab mengapa mereka muat dimasukan kedalam relik kuno yang hanya sebesar genggaman lelaki dewasa.


Empat Azura itu kemudian kembali melesat hendak melanjutkan kembali serangan mereka. Keempatnya sudah bersiap menghantamkan gadanya yang juga berubah menjadi begitu besar.


Dengan besarnya ukuran para Ashura dan gadanya, maka dengan sekali hantam dapat dipastikan istana milik Iblis Kalipurusha akan rata dengan tanah.


"Kita sama-sama dari golongan hitam, mengapa harus bertarung!"


Batara Karang lalu memerintahkan para Azura untuk tidak melanjutkan serangannya. Namun dia meminta mereka tetap dalam wujud raksasanya.


Jika Iblis Kalipurusha menolak, maka mereka akan bersiap menghancurkan seluruh istana beserta pasukan yang telah mengepung mereka.


Pasukan yang dimiliki Iblis Kalipurusha memiliki bentuk yang bermacam-macam. Sebagian mereka sejenis dari para siluman. Jumlah mereka sebenarnya menang banyak dibandingkan pasukan yang dipimpin Batara Karang.


Namun keberadaan para Ashura menjadi sesuatu yang lain. Iblis Kalipurusha juga menyadari hal tersebut. Karena itulah dia juga menahan pasukannya untuk tidak menyerang. Dia justru menyuruh mereka untuk mundur tidak jauh darinya berdiri.


"Jika kau menginginkan, aku juga tidak akan keberatan memusnahkan dirimu beserta seluruh pasukanmu!" Batara Karang memandang Iblis Kali Purusha sambil menyeringai.


"Mulut besar, kau tidak lebih daripada seorang dewa yang sudah dibuang! Memang ada urusan apa junjunganmu mengutus peliharaannya ke sini?"


Mendengar penghinaan itu Batara Karang hendak menyerang Iblis Kalipurusha, namun dia kembali teringat akan tugas yang dia emban. Karena itu dengan gigi bergemeletuk dia berusaha menahan kemarahannya yang sudah berada diubun-ubun.


"Kesepakatan apa yang hendak kau sampaikan Batara Karang? Aku ingin mendengar tawaran apa yang diberikan dewa kegelapan padaku? Aku hanya penasaran ingin tahu, tetapi bukan berarti aku akan takut dengan ancaman kentutmu itu!"


Batara Karang lalu menyampaikan perintah dari Dewa Kegelapan untuk melaksanakan perintahnya. Dengan iming-iming menjadi penguasa dibumi.


"Sepertinya itu sebuah kesepakatan yang tidak buruk. Selain itu, aku juga ingin menghajar wajah Batara Guru sampai babak belur!"


"Jadi apa jawaban dari penawaran Kanjeng Junjungan padamu?"


"Baik, aku menerimanya."