SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
PERTARUNGAN TAHAP KEDUA part 8



Saat jurus pedang ditambah manipulasi tehnik kabut juga tak mampu menembus pertahanan Suro, maka pilihan terakhir jatuh pada perubahan tehnik pengendalian es. Narashinga menyerang ke arah Suro dengan jarum-jarum kristal es yang sangat keras. Tetapi kembali semua serangan jarum mampu diblokade Suro.


Akhirnya dia mengerahkan semua kekuatan tenaga dalamnya untuk menyerang Suro dengan perubahan tehnik es pada tingkatan yang lebih tinggi. Ini mungkin serangan pamungkas yang sanggup dia lakukan. Semua kabut dalam arena dia rubah menjadi jarum kristal es. Suro segera menyadari bahaya yang besar dibalik serangan Narashinga kali ini.


Dewa Rencong sebenarnya ingin menghentikan serangan Narashinga, tetapi sudah tidak mampu lagi mencegah serangan itu terjadi. Sebab semua sudah sangat terlambat, serangan itu sudah terlanjur dilepaskan Narashinga dengan begitu mengerikan. Awalnya Dewa Rencong terlihat begitu khawatir melihat banyaknya jarum yang dibentuk Narashinga dengan cepat. Dia sudah tak sempat lagi menghentikan serangan itu, membuatnya tidak tahu harus berbuat apa lagi agar bisa menghentikan serangan itu. Jika dia nekat tentu hanya akan mencelakakan dirinya sendiri.


Potensi serangannya kali ini pasti akan membuat lawannya terbunuh. Bagaimana tidak jarum yang dia bentuk dengan sangat cepat hampir menutupi seluruh arena. Para penonton berteriak ngeri. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Suro, jika serangan itu mengenai tubuhnya. Bahkan Dewa Pedang sampai harus berdiri mencoba melihat dengan lebih jelas. Diwajahnya terlihat jelas kekhawatiran dirinya pada keselamatan Suro.


"Benteng Neraka Tujuh Lapis!


Braak!


Segera Suro mengerahkan jurus pertahanan terkokoh dari tehnik bhumi yang dia ketahui, sebelum semua jarum menerjang ke arahnya dari seluruh sisi. Tidak memerlukan waktu yang lama, seakan hanya sekejap atau hanya dalam satu seruputan teh. Berlapis-lapis dinding muncul dari tanah mengurung dirinya sendiri.


Dinding tanah itu naik dengan cepat menjulang tinggi. Bukan hanya satu dinding yang muncul tetapi secara berurutan berlapis-lapis dinding itu mengurung Suro melindungi dirinya dari serangan Narashinga yang menerjang dari berbagai arah.


Beruntung dinding yang dibentuk kali ini berkali-kali lipat lebih tebal dari sebelumnya. Jika tidak tentu sudah jebol dan mengenai tubuh Suro. Jika sampai hal itu terjadi maka dapat dipastikan tubuhnya akan hancur diserbu jutaan jarum kristal es yang tak terhitung jumlahnya.


Para penonton tercekat melihat ke dahsyatan serangan Narashinga. Tetapi melihat apa yang dilakukan lawannya untuk menahan semua serangan itu, mereka dibuat lebih terkagum-kagum lagi. Para penonton seakan tidak percaya melihat sebegitu dahsyatnya serangan Narashinga mampu ditahan semua oleh Suro.


"Naga Bhumi bangkitlah!"


Sesaat setelah serangan Narashinga mampu ditahan, maka Suro juga tak mau kalah. Dalam keadaan dirinya masih terkurung dalam dinding yang dia buat sendiri, satu jurus dalam tehnik yang diturunkan Sang Hyang Nagasesa segera dia kerahkan. Satu wujud ular rhaksasa yang terbentuk dari tanah muncul menerobos keluar dari dalam tanah, langsung menerjang kearah Narashinga.


Semua terkesima dengan apa yang dilakukan Suro, tepatnya mereka begitu ngeri dengan jurus yang diperlihatkannya. Bahkan para tetua juga ikut terkejut. Tidak berbeda dengan reaksi yang dilakukan Dewa Rencong. Begitu terkejutnya Dewa Rencong sampai membuat dirinya meloncat tinggi keluar dari arena. Karena tiba-tiba sebuah wujud ular yang begitu mengerikan menerobos keluar dari dalam tanah. Hanya Dewa Pedang yang masih tenang berdiri sambil bersedekap. Dia tersenyum dengan pertunjukan yang dilakukan Suro.


"Ular ini belum seberapa dibandingkan dengan wujud ular yang dia bentuk sehingga mampu menggulung Naga raksasa yang pernah menteror negeri ini." Dewa pedang berbicara sambil matanya terus mengawasi jalannya pertarungan.


Tetua Tunggak Semi dan Tetua Udan Asrep terkejut dan saling berpandangan seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dewa Pedang. Mereka tidak mampu membayangkan seberapa besar ular yang telah Suro bentuk saat melawan Naga raksasa. Karena mereka melihat sendiri seberapa besar Naga raksasa yang dimaksud Dewa Pedang saat menyerang sekte pusat.


Mereka tak mampu membayangkan seberapa besar wujud ular yang harus dikerahkan Suro untuk mampu menggulung Naga raksasa yang sebesar gunung. Yang pasti tentu perlu ukuran puluhan kali lipat daripada ular yang mereka saksikan sekarang.


Hooooaaarrgh!


Suara ular itu menggerung seakan benar-benar hidup sebelum memulai menyerang Narashinga dengan ganas. Nyalinya sesuai dengan namanya manusia yang berjiwa seekor singa, tentu tak akan ada kata mundur. Meski dalam hatinya dia begitu ngeri dengan penampakan ular yang sebegitu besarnya.


Kali ini serangan Suro ke arah Narashinga mengisyaratkan tidak ingin berlama-lama lagi. Dia mencoba secepat mungkin mengakhiri pertarungan yang sedang berlangsung. Serangan balasan yang dilakukan Suro begitu ganas menerjang kearah Narashinga.


Meskipun begitu ilmu meringankan tubuh Narashinga sudah dalam tingkatan yang tinggi sehingga mampu menghindari dengan gerakan yang begitu lihai. Ular itu bergulung cepat memburu Narashinga menerjang apapun yang ada di didepannya. Bahkan beberapa tiang tanah yang dibentuk Suro, rubuh diterjang dengan begitu kuat.


Dalam keadaan diserang seperti itu Narashinga masih penasaran dengan dinding tanah yang melindungi tubuh Suro.Dari jarak jauh beberapa kali dia masih sempat melemparkan mata tombak dari kristal es ke arah dinding yang melingkupi Suro. Walaupun beberapa ada yang menancap tetapi tidak terlalu kuat untuk menembus dinding tersebut.


Kembali sambil menghindari serangan Naga Narashinga menyerang ke arah dinding yang menutupi Suro dengan serangan yang lebih ganas. Tetapi hal itu justru digunakan Suro untuk segera menyudahi pertarungan mereka. Dengan sebuah serangan beruntun mengunakan pengendalian Naga bhumi. Akhirnya tubuh Narashinga dibuat terlempar keluar dari arena, yang sebenarnya sudah tak pantas lagi disebut arena pertarungan. Karena bentuknya sudah hancur lebur.


Dengan terlemparnya Narashinga menandai berakhirnya pertarungan diantara mereka. Naga yang menyerang kembali dia kirim ke dalam bhumi.


"Mohon maaf senior, hanya dengan cara ini senior harus mengaku kalah! Sebab aku yakin senior lebih baik terluka daripada harus kalah!"


Suro menjura ke arah Narashinga yang masih berada diluar arena, setelah dia membuka benteng yang melingkupi dirinya dan berjalan ke tepi arena pertarungan. Meskipun tubuhnya terlempar begitu keras, tetapi dia tidak mengalami cidera yang cukup serius. Hal itu karena dia tertolong oleh penguasaan ilmu meringankan tubuhnya yang memang sudah mencapai tingkat tinggi.


"Lihat apa yang telah kau lakukan pada arena pertarungan bocah!" Dewa Rencong murka melihat arena tempatnya berpijak sudah tidak karuan bentuknya.


Suro kaget menoleh ke belakang ke arah asal suara orang yang membentaknya.


Lantai arena yang sebelumnya datar berubah carut marut seperti tundakan sawah yang penuh dengan tiang-tiang terbuat dari tanah yang menjulang hampir lebih dari satu tombak. Semua hancur lebur tak berbentuk lagi.


Suro hanya bisa menyengir kuda dan mulai menggaruk-garuk kepalanya. Tampang bodohnya yang menyengir semakin membuat Dewa Rencong murka.


"Lihatlah! Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membetulkan arena yang kau hancurkan ini? Apa kau tidak tau sehabis ini masih banyak sesi pertarungan yang masih menunggu?"


"Mohon maaf sebelumnya tetua, jika Suro sudah menghancurkan arena ini. Karena sangat terpaksa mau tidak mau aku harus melakukannya. Sebagai rasa tanggung jawab saya karena menghancurkan arena ini, maka Suro akan mencoba memperbaikinya. Sebelumnya bersediakah tetua turun terlebih dahulu dari arena ini? Hanya sebentar saja, Suro akan mencoba membantu memperbaiki. Mungkin Suro memiliki solusi yang lebih cepat untuk memperbaiki arena ini. Walau mungkin tidak serapi sebelumnya tetapi minimal masih bisa dipakai untuk meneruskan pertarungan sesi berikutnya."


Dewa Rencong terlihat ragu untuk mengikuti perkataan Suro tetapi akhirnya menuruti perkataan Suro dan turun ke bawah. Dia sebenarnya sedikit penasaran juga dengan apa yang akan dilakukan Suro pada arena pertarungan yang sudah tak berbentuk itu.


Dihadapan semua penonton Suro lalu membentuk kuda-kuda tengah yang kokoh. Semua beban ditimpakan pada dikedua paha. Salah satu bentuk kuda-kuda diantara kuda-kuda lain dalam tehnik ilmu bela diri. Kemudian kedua tangannya berputar dan dilepaskan perlahan-lahan kedepan mengikuti tarikan dan hembusan nafasnya. Seperti dalam tehnik pernafasan untuk menghimpun tenaga dalam. Kemudian....


Braak......!


Duuum.....!


Seluruh arena terangkat naik setinggi lebih dari satu tombak. Lalu dihempaskan kebawah dalam satu tarikan nafas. Debu berterbangan sebelum mereka melihat kembali arena yang sebelumnya bertundak-tundak kini kembali rata. Hanya beberapa bagian yang perlu di rapikan. Tetapi secara keseluruhan sudah layak untuk melanjutkan pertarungan berikutnya.


"Mohon maaf hanya seperti ini yang bisa saya lakukan untuk mempercepat perbaikan arena yang sebelumnya sudah saya hancurkan."


Dewa Rencong masih terpana dengan yang barusan Suro lakukan. Bukan hanya Dewa Rencong bahkan hampir semua yang melihat dibuat terpana dengan kekuatan yang barusan Suro perlihatkan. Karena tenaga dalam yang barusan dia lakukan melebihi kekuatan seekor gajah. Bagaimana tidak arena pertandingan sebegitu luas bisa dia angkat sampai sebegitu tinggi. Dan hanya dalam satu hentakan seluruh bentuk penampakan arena pertandingan yang sebelumnya tidak karu-karuan kembali rata.


"Makhluk apa sebenarnya kau ini, bocah? Seumur hidupku baru kali ini aku melihat ada orang yang bisa mengolah potensi kitab bhumi setinggi ini."


"Saya hanya makhluk yang merasa bersalah kepada tetua karena sudah menghancurkan arena ini!" Suro tertawa kecil sambil mengaruk-garuk kepalanya dengan tampang tak bersalahnya tidak lupa dia lampirkan. Kemudian menjura sebelum membalikan badannya dan berjalan ke arah podium.


"Hei bocah aku belum mengumumkan siapa yang menjadi pemenangnya! Jangan langsung mengeloyor pergi!" Suro yang menyadari hal itu langsung berbalik dan menepuk jidatnya.


"Maaf tetua saya lupa!"


Entah mengapa saat Suro dan Narashinga sudah berada diatas arena Dewa Rencong tidak segera mengumumkan pemenangnya. Justru dia sibuk berdiskusi dengan empat tetua lain yang menjadi juri disekeliling arena. Mereka terlihat cukup alot entah apa yang sedang dibicarakan. Kemudian menyudahi perdebatannya dengan berjalannya Dewa Rencong ke arah Suro dan Narashinga.


"Setelah melihat pertarungan ini yang begitu dahsyat, maka aku nyatakan kemenangan diperoleh Suro. Tetapi melihat perlawanan dan kedahsyatan serangan yang dilakukan Narashinga, kami para tetua memberikan kesempatan sekali lagi padanya untuk menuju tahap berikutnya. Yaitu bertarung dengan para tetua. Nanti ditahap itu akan dipilih lagi siapa yang paling pantas menerima jabatan tetua muda."


Narashinga tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar. Wajahnya yang sebelumnya lesu karena kalah dalam pertarungan berubah begitu ceria.


"Terima kasih tetua..terima kasih tetua." Dia berkali-kali menjura ke arah para tetua yang menjadi juri duduk di sekeliling arena. Narashinga tersenyum dengan begitu sumringah.


"Selamat senior akhirnya bisa tetap menuju tahap berikutnya. Keputusan para tetua tidak salah senior ditingkatan yang pantas menyandang jabatan tetua muda. Ilmu olah kanuragan yang senior miliki sudah pada tahap yang mengagumkan." Suro berbicara kepada Narashinga dengan senyum bahagia. Sepertinya dia ikut senang lawannya yang baru saja memberikan pencerahan tentang tehnik air dan es akhirnya ikut diloloskan pada tahap selanjutnya.


Narashinga hanya menganguk kecil sambil tersenyum kecut. Walaupun dia merasa sudah mencapai tahap yang bahkan seluruh murid diperguruan cabang yang tak mampu mencapainya, tetapi melawan bocah yang terlihat bodoh itu dia harus berakhir dengan sebuah kekalahan. Padahal menurut yang dia rasakan perlawanan yang diberikan lawannya hanya dengan setengah hati. Sedangkan dirinya sudah mengeluarkan kemampuan puncaknya tetapi hasilnya masih sama, tetap menerima kekalahan.


Dewa Rencong masih mengeleng-gelengkan kepala melihat arena yang sebelumnya awut-awutan kini telah rapi. Walau perlu sedikit perbaikan dibeberapa bagian, tetapi itu bukan hal yang terlalu signifikan. Tanah keras yang sebegitu besar diangkat oleh seorang bocah yang badannya tak seberapa, tentu bukan sesuatu yang lumrah.


'Jadi ini kekuatan sebenarnya yang di miliki!Pantas saja guru menilainya begitu tinggi. Ini bukan kekuatan manusia lagi tapi sudah seperti kekuatan raksasa. Pantas saja waktu itu aku dibanting seperti mengangkat kapas.' Rithisak membatin sambil memandang Suro dari kejauhan.


Dia yang sebelumnya pingsan sudah siuman dan menolak tidur beristirahat. Dia memilih kembali melihat jalannya pertarungan. Sepertinya dia tidak ingin melewatkan pengalaman selama berada disekte pusat. Apalagi kesempatan bisa datang ke sekte pusat sesuatu kesempatan yang sangat jarang. Selain itu setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dia tidak rela jika kesempatan mendapatkan pengalaman berharga hanya digunakan untuk beristirahat. Justru ini kesempatan baginya mendapatkan ilmu yang berharga saat berada disekte pusat.


Kini dia memandang Suro dengan kagum yang berjalan menaiki tundakan ke arah tempat duduknya. Bukan pandangan mata Rithisak saja yang mengikuti gerakan langkah kaki Suro yang berjalan sambil menunduk, hampir semua mata menatap ke arahnya dengan pandangan ngeri.


"Bagaimana kakang bisa mengangkat tanah sebesar itu?"


Setelah Suro kembali duduk disampingnya, Mahadewi tak mampu menahan penasaran setelah melihat kekuatan Suro yang barusan diperlihatkannya.


"Itu bukan seberapa dibandingkan dengan kekuatan guruku yang bisa mengangkat berkali-kali lipat. Kekuatanku hanya sebuah bagian kecil, tak seberapa."


"Sesuai dengan perkiraanku perlawanan yang dia berikan tadi, bukan kemampun maksimal yang dia miliki. Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa menguasai tehnik bhumi sehebat itu?" Narashinga berbicara sendiri setelah melihat cara Suro mengangkat seluruh arena.


Hanya Dewa Pedang yang tersenyum tidak terlalu terkejut dengan kemampuan Suro mampu mengangkat lantai arena. Karena dia sudah melihat yang lebih dahsyat hal yang mampu dia lakukan.