SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 436 Perisai Genta Kumala



"Dimana kita?"


Setelah melewati lubang dalam dan terjun bebas, akhirnya mereka jatuh disebuah ruangan luas yang seluruh dindingnya berbeda dari sebelumnya.


Pandangan mereka segera terpaku pada lantai yang dipenuhi bercak darah. Suara tangis bayi yang sayup-sayup terdengar oleh mereka segera menyadarkan mereka semua.


"Kita sudah berada didalam makam utama tempat kaisar Qing bersemayam!" seru Dewa Obat.


"Benar itu pasti bayi yang akan dijadikan tumbal persembahan untuk pusaka iblis Kunci Langit," sahut Geho Sama dengan geram.


Suro saat meraba apa yang ada didalam tanah dia mendengar dengan merasakan getaran suara bayi yang menangis persis dibawah tempatnya berdiri.


Ular naga yang sebelumnya bertarung dengan Naga Bumi dia biarkan lepas. Sebab ular itu hanyalah ular biasa yang kebetulan bersarang ditempat tersebut.


Setelah bertarung dengan Naga bumi, ular raksasa itu memilih melarikan diri ketakutan dengan musuhnya. Tentu saja ular itu ketakutan sebab Suro mulai mengkombinasikan jurusnya itu dengan tehnik perubahan api.


Panas api yang mulai menyelubungi Naga bumi tentu tidak akan sanggup ditanggung ular raksasa. Sebab seekor ular siluman sekalipun tidak berdaya dengan panasnya tingkat api hitam yang menyelubunginya.


Setelah dia terjun bebas masuk ke dalam lubang dimana ular raksasa dan naga bumi miliknya, Suro langsung mengerahkan tehnik perubahan bumi.


Dengan kemampuannya itu dia membuat lorong baru langsung menuju sumber suara yang terus dia dengar. Walaupun suara itu sangat lirih. Tetapi dia tetap mampu merasakan asal suara tersebut.


Perkiraan Suro memang tidak salah setelah meluncur bebas jatuh dari atas kini mereka telah tiba ditempat yang dituju, yaitu makam utama kaisar Qing.


Bahkan Suro mendobrak atap ruangan itu agar bisa dimasuki. Banyu anyir yang memenuhi tempat itu sudah menjadi pertanda, bahwa ritual persembahan telah dimulai.


Suro segera menggunakan Langkah Maya disusul Geho Sama sambil menggapai Dewa Obat menghilang bersama dirinya.


Mereka kemudian muncul di ruangan lain yang lebih besar. Dihadapan mereka kini berdiri beberapa sosok tinggi menjulang dengan dua sayap di punggungnya.


Mereka berempat adalah para Suzaku yang merupakan pengawal pribadi Karuru. Mereka bertiga adalah Shi Suzaku, San Suzaku, Ni Suzaku dan yang terakhir adalah Ichi Suzaku. Artinya mereka berempat adalah Suzaku terkuat dari delapan Suzaku yang ada.


"Siapa kalian?" Ichi Suzaku atau Suzaku pertama bertanya ke arah Suro dan yang lain yang muncul bersamaan dihadapan para Suzaku dengan menggunakan jurus ruang dan waktu.


Para Suzaku itu langsung bersiap siaga saat kemunculan mereka bertiga. Sedangkan Ichi Suzaku paling kuat menjadi benteng terakhir menjaga pintu masuk menuju tempat dilaksanakannya ritual persembahan.


Shi, San dan Ni Suzaku bergerak menghadang mereka bertiga. Tiga makhluk itu tidak berbicara sepatah katapun. Tetapi mereka langsung melancarkan serangan mematikan secara beruntun.


Dewa Obat yang mendapatkan lawan Shi Suzaku harus merasakan tendangan dan pukulan dari makhluk itu yang menyerang dengan begitu cepat. Sebab serangan mereka menggunakan jurus ruang waktu seperti milik Geho Sama.


Jurus Suro dan Geho Sama yang telah mereka perlihatkan saat muncul, mampu mengimbangi kecepatan lawan. Melihat serangan mereka dapat dihindari, maka Ni Suzaku dan San Suzaku bergerak bertambah semakin cepat.


Tetapi kecepatan mereka tidak cukup cepat untuk membuat serangan yang dikerahkan mampu mengenai lawan.


"Mengapa kalian berdua tidak menggunakan jurus ruang waktu untuk langsung memasuki ruangan dibelakang mereka tanpa harus bertempur!"


"Tidak semudah itu tuan pertapa, mereka telah menyegel dengan sihir yang membuat kita tidak bisa memasukinya, meskipun itu dengan jurus ruang waktu." Geho Sama memberi penjelasan singkat.


Dewa Obat cukup kesal sebab dia tidak


Bisa menggunakan para Astra senjata gaib miliknya, sebab kekuatan senjata gaib itu mampu meruntuhkan makam kaisar Qing yang berada didalam tanah.


Dia tidak sempat memanggil busur panah Wijaya, terpakasa Dewa Obat menggunakan golok Sang Naga Pembantai untuk menghadapi Shi Suzaku. Jurus pedang miliknya bergerak dengan sangat cepat menyerang lawannya yang terus berpindah tempat.


"Kalian para siluman mencoba melawanku? Meskipun aku tidak punya jurus ruang waktu, tetapi jangan meremehkan keturunan langsung dari murid Maharesi Parashurama."


Teriakan Dewa Obat dibalas secara beruntun oleh Shi Suzaku dengan tendangan dan pukulan ke tubuh Dewa Obat.


"Banyak mulut kau orang tua!" Shi Suzaku sepertinya jengah mendengar suara Dewa Obat yang terus berkicau.


Makhluk itu sebenarnya cukup kagum, sebab setelah berkali-kali pukulan maupun tendangan miliknya mengenai tubuh Dewa Obat, tetapi lelaki tua itu tetap dapat berdiri.


"Kau kebingungan bukan?" Seperti mengerti apa yang dipikirkan oleh Shi Suzaku, Dewa Obat mencoba menebak.


"Inilah kekuatan Genta Kumala tahap sebelas! Hahaha...!"


Ilmu Perisai Genta Kumala adalah salah satu ilmu kebal yang mampu membuat tubuh tahan terhadap pukulan. Bahkan jika minimal berada pada tahap enam saja senjata apapun akan sulit melukai.


Kecuali senjata itu menusuk titik tertentu yang menjadi kelemahannya. Sebab dititik itu belum dilindungi oleh perisai Genta Kumala.


Alasan itulah yang membuat Dewa Obat tidak terluka pada pertempurannya melawan Perguruan Lembah Beracun. Selain karena perlindungan Geho Sama, semua itu berkat ilmu itu. Sebab saat itu berbagai senjata masih sempat menghujani tubuhnya.


Di atas tahap ketujuh, tenaga dalam pengguna ilmu Genta Kumala akan mampu memantulkan setiap serangan baik itu pukulan tendangan maupun senjata. Sebab otot pengguna begitu lentur dan kokoh.


Alasan inilah yang dirasakan Shi Suzaku saat tendangan dan pukulannya membal seperti ada kekuatan balik yang melindungi tubuh Dewa Obat.


Tetapi Dewa Obat sudah mencapai tahap sebelas yang artinya setiap inchi tubuhnya sekeras besi baja, tetapi juga bisa selembut kapas. Tak bisa ditembus golok dan tombak, namun dia masih tidak tahan serangan racun.


Karena itulah mengapa dia cukup khawatir saat pasukan Lembah Beracun menyerang dengan ilmu racunnya.


Puncak dari Ilmu Perisai Genta Kumala ada pada tahap 12. Tetapi tidak satupun yang pernah mencapai tahap itu, kecuali penciptanya sendiri yang seorang Brahmana dari Jambudwipa.


Menurut cerita seseorang yang telah mencapai tahap dua belas, maka tubuhnya bagaikan besi baja tak berkarat.


Ditinju, ditendang, ditusuk pedang, ditebas golok, dibakar, dibenamkan dalam air tak makan dan minum selama lima ratus hari, bahkan meminum racun sekalipun tak akan berpengaruh pada tubuhnya.


"Menarik sekali, ternyata ini adalah ilmu yang mengguncang dunia persilatan puluhan tahun lalu. Jadi dirimu yang telah menyimpan kitabnya?"


"Kitab itu? Ah, aku lupa menaruhnya..."


"Akan aku buktikan apakah memang ilmu itu sangatlah dahsyat dan pantas menjadi rebutan dunia persilatan!" Shi Suzaku berseru sambil kembali memulai serangannya.


Dewa Obat yang memegang golok Sang Naga Pembantai cukup percaya diri melihat musuh kembali menyerang.


Tubuh Shi Suzaku kini berubah menjadi begitu banyak. Mereka semua bergerak untuk mengepung Dewa Obat dari berbagai sisi.


"Jurus ilusi ingin mengecohku, kau pikir dengan jurus kampungan ini kau akan mampu membunuhku?"


"Kita lihat apakah kemampuanmu itu sehebat mulutmu yang tidak juga berhenti berbicara itu!" Selesai berbicara tubuh Shi Suzaku yang begitu banyak secara serentak menyerang Dewa Obat.


Dewa Obat hanya menyengir mendengar ancaman Shi Suzaku.


"Cermin Pembalik Sukma!"


Saat teriakan Shi Suzaku mengawali serangannya, maka Suro yang sedang bertarung dengan Ichi Suzaku menyadari bahaya jurus Cermin Pambalik Sukma. Dia berteriak keras ke arah Dewa Obat.


"Awas tuan pertapa! Cepat menghindar! Jangan sampai terjebak! Bahayaaaa..masuk ke dalam peruuuuttt.!"


Suara Suro memang terdengar oleh Dewa Obat, hanya saja lelaki tua itu tidak memahami alasan dan maksud ucapan Suro. Dia tidak merasa setiap pukulan dan tendangan Shi Suzaku menjadi sebuah ancaman bagi dirinya.


Ilmu Perisai Genta Kumala akan tetap mampu menahan setiap serangan itu. Selama itu bukan jurus beracun, dia berpikir dia tetap akan baik-baik saja.


Tetapi dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya hendak dijelaskan Suro dalam teriakannya itu. Di saat dia masih berpikir dan bersiap dengan jurus golok pelebur Langit, mendadak semua telapak tangan milik pecahan tubuh Shi Suzaku yang lebih dari lima belas sosok itu mulai bercahaya terang.


Seperti juga kejadian saat Suro melawan Kurama Tengu, Dewa Obat juga harus mengerjapkan mata karena begitu silau.


Kondisi itu membuat matanya mencoba menyesuaikan diri dalam beberapa kejap. Dia dengan terpaksa harus menutup mata karena matanya merasakan cahaya yang begitu silau.


Saat matanya tertutup itulah semua kondisi alam tempatnya berdiri telah berubah. Kini dia tidak lagi berada ditempat sebelumnya. Sebuah negeri asing dan sedikit sekali cahaya yang menerangi.