SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 444 Penantian Mahadewi part 2



"Pendekar Mahadewi, sudikah pendekar menolong Yang Xie Ying, dia dalam bahaya." Dengan sangat terpaksa dan memasang muka tembok mengesampingkan rasa malunya, akhirnya Yang Xiaoma meminta tolong kepada Mahadewi.


Tetapi dara itu hanya memandang sesaat ke arah Yang Xiaoma yang telah memasang wajah memelas.


"Bukankah dia adalah salah satu wanitamu? Dimana tadi kata-kata yang barusan kau ucapankan seharian kepadaku?


Aku masih mengingat semua kata-katamu dengan cukup jelas. Demi kekasihmu kau rela menyebrangi samudera, berjalan melawan badai, bahkan menyelam ke dasar lautan dan melewati panasnya bara api.


Aku mulai berpikir mungkinkah kau adalah lelaki keturunan siluman ikan julung-julung sehingga kuat menyelam sampai ke dasar samudera."


Mahadewi kembali meneruskan kegiatannya menghabiskan paha ayam yang berada ditangannya.


"Aku punya saran kepadamu, kau gunakan saja kemampuanmu untuk mengalahkan lelaki yang sedang menyandera kekasihmu. Ajak dia menyelam ke dasar samudera. Aku yakin sebelum dia sampai ke dasar sudah kehabisan nafas dan mati."


Mahadewi menatap Yang Xiaoma yang kehabisan kata-kata. Pemuda itu sudah mulai menggerutu mendengar saran tidak masuk akal dari Mahadewi, walaupun dia hanya berani menggerutu dalam hati.


"Setelah itu semua beres, tidak perlu bersusah payah."


Mahadewi kembali menyantap ayam goreng yang biasa menjadi makanan favorit lelaki idamannya. Entah mengapa apa saja yang disukai Suro akan menjadi kesukaan dirinya juga.


"Te..ta..pi pendekar yang meletakkan golok dileher Yang Xie Ying telah mencapai kekuatan tingkat shakti. Jadi bagaimana caranya aku mengajak berenang ke dasar laut? Tidak mungkin juga aku menyeretnya menuju laut yang sangat jauh dari wilayah Shaanxi ini." Bingung bagaimana cara membuat Mahadewi mau menolong, membuat Yang Xiaoma menjawab sekenannya dengan cukup kesal.


Pandangan matanya sudah begitu khawatir menatap Yang Xie Ying. Wanita itu tidak berdaya direngkuh tubuhnya oleh seorang lelaki bau keringat dan bau mulutnya yang menebarkan aroma arak kelas rendah yang mengganggu hidungnya.


"Pendekar Mahadewi, kekuatan yang aku miliki tidaklah mampu mengimbanginya. Tentu aku bukanlah lawan yang mampu mengalahkannya.


Apalagi dia sudah memiliki nama didalam dunia persilatan. Semua itu karena reputasi buruknya. Nama pendekar itu adalah iblis pemetik bunga."


Yang Xiaoma berhenti berbicara sebentar untuk menangkap ekspresi wajah Mahadewi. Dia ingin mencari tau ekspresi yang dia tangkap tertarik atau tidak dengan penjelasannya. Tetapi dara itu masih saja sibuk memakan ayam goreng didepannya.


"Sesuai dengan namanya, reputasi buruk itu kebanyakan berkaitan dengan kejahatan yang memakan korban para wanita. Sudah tidak terhitung seberapa banyak jumlah korban yang telah direngkuh kehormatannya."


Dia menekankan masalah itu, biasanya sesama wanita akan ada empati yang timbul sebagai sesama wanita. Tetapi entah mengapa dia tidak menangkap darisikap Mahadewi yang terkesan tidak peduli.


"Aku takut adinda Yang Xie Ying akan menjadi korban berikutnya dari iblis keji itu!" Suara Yang Xiaoma kini bergetar penuh ketakutan dan kemarahan atas perlakuan iblis pemetik bunga kepada Yang Xie Ying.


"Hei, bocah! Serahkan dara yang bersamamu itu! Biarkan dia ikut bersama putri cantik ini untuk melayaniku semalaman! Jika kau lakukan itu, maka mungkin aku berubah pikiran tidak langsung membunuhmu!"


Iblis Pemetik Bunga tertawa sambil mempermainkan golok ditangannya pada tubuh Yang Xie Ying. Dara itu sudah begitu ketakutan, dia hanya mencoba menahan tangisnya, walau sulit dia lakukan. Suara Isak tangisnya tetap terdengar sekuat apapun dia mencoba menahannya.


"Cepat berikan, jika tidak akan aku potong lehermu!" iblis pemetik bunga kembali tertawa terkekeh melihat Yang Xiaoma ketakutan bukan main.


Tentu saja pemuda itu tidak berani membuka mulut sama sekali. Sebab jika salah bicara dia justru dihabisi oleh dara yang sibuk menyantap makanan di meja.


Mahadewi tampak tidak peduli, jika saat itu berpasang-pasang mata lelaki kasar menatap dirinya dengan pikiran yang sama dengan pimpinannya, yaitu iblis Pemetik bunga.


"Jika kau tidak memberikan biar aku yang mengambilnya sendiri! Ikat wanita ini!"


Sebelum melesat dia melemparkan tubuh Yang Xie Ying dalam kondisi sudah ditotok ke arah anak buahnya.


"Mengganggu orang makan saja!"


Braaak! Praaang!


Mahadewi menggebrak meja tempat dia makan sampai semua segala yang ada diatasnya berhamburan.


Sriiing!


Wuuus!


Seketika satu bilah pedang melesat menghajar iblis pemetik bunga.


"Woo...pendekar pedang terbang ternyata!" iblis Pemetik Bunga sedikit terkejut melihat kemampuan dara yang telah mencapai pemahaman pedang yang sebegitu tinggi.


Pendekar iblis Pemetik Bunga mencurigai tehnik pedang terbang Mahadewi menggunakan trik tertentu, semisal menggunakan benang atau apa. Sehingga mampu membuat bilah pedang milik sang dara melesat ke arahnya.


"Tidak aku sangka ternyata dara ini adalah pendekar pedang yang mumpuni, membuat nafsuku semakin menggelora! Hahahaha...!"


Lelaki itu memang banyak dicari oleh para pendekar aliran putih dan juga para pasukan kerajaan. Tetapi tidak ada yang memiliki kesempatan membunuhnya.


Salah satu kemampuan terhebat iblis pemetik bunga adalah ilmu meringankan tubuhnya. Sangat sedikit yang mampu mengejar kemampuan ilmu meringankan tubuhnya.


Bahkan beberapa pendekar yang sudah berada pada tingkat yang lebih tinggi beberapa lapisan diatasnya saja dapat di pecundangi olehnya. Semua itu berkat ilmu meringankan tubuh Setan Terbang.


Beberapa kali dia juga berhasil ditangkap, tetapi dapat meloloskan diri dengan berbagai tipu muslihat yang membuat para prajurit kerajaan kelimpungan.


Apalagi dia kemudian bergabung dalam kelompok Mawar Merah. Sehingga dirinya semakin jumawa seakan tidak ada yang berani menyentuh. Hal itu disebabkan pemimpin kelompok itu memiliki kedekatan dengan Kaisar Yang.


Kejahatan terberat dan paling sering dilakukannya adalah berurusan dengan lawan jenisnya. Banyak sudah wanita yang telah direbut kehormatannya.


Baik dari rakyat biasa, istri pejabat, anak pejabat ataupun korban dari kalangan dunia persilatan. Karena alasan itulah mengapa para pejabat kerajaan banyak yang memberikan hadiah atas kepalanya dengan harga yang sangat tinggi.


Tentu saja para pejabat itu memburunya sebelum pendekar iblis Pemetik Bunga bergabung dengan kelompok Mawar Merah. Setelah dia bergabung, para pejabat pun memilih tidak ingin berurusan dengan kelompok Mawar Merah.


Mereka yang mengejar iblis Pemetik Bunga tentu saja disebabkan sanak saudara mereka telah menjadi korban oleh iblis itu. Banyak juga anggota perguruan yang telah dinodai oleh iblis itu.


Ludah iblis Pemetik Bunga hampir menetes melihat Mahadewi dari dekat. Dia segera bergerak cepat menangkis pedang yang menerjang ke arahnya dengan sebuah pedang sepanjang kurang dari satu depa.


Tubuhnya yang bergerak begitu cepat laksana hantu yang memelintir dan menangkis semua serangan Mahadewi.


Melihat serangannya dapat dihindari dan ditangkis dengan sedemikian mudahnya Mahadewi semakin marah.


"Kali ini jangan harap mampu menghindari seranganku!" Bersama teriakan kemarahannya, Mahadewi melesatkan dua bilah pedang ke arah iblis Pemetik Bunga.


"Aih, aiiiih bidadari yang cantik ini ternyata sudah marah! Tenang saja sebentar lagi aku akan membuat kemarahanmu sirna dan berganti dengan kenikmatan yang luar biasa!"


Serangan pedang yang luar biasa cepat kini diterima oleh iblis Pemetik Bunga dengan menggunakan dua bilah pedangnya.


Walaupun lelaki itu tertawa-tawa tetapi dia menyadari jika jurus yang dikerahkan dara itu tidak bisa dianggap sepele.


'Sialan si tambun menipuku, mengapa informasi yang dia berikan tidak seperti yang dia katakan sebelumnya. Mengapa sekarang di samping anak walikota Yang Taizu ada pendekar pedang sekuat ini?' iblis Pemetik Bunga merutuk, meski dia lakukan hanya dalam hati.


Tentu saja dia tidak akan mau terlihat lemah didepan anak buahnya yang datang bersamanya.


"Jurus Pedang Mawar Merekah!" Bersama pembukaan jurus pedang milik iblis Pemetik Bunga, maka Mahadewi juga tidak mau kalah gerakan pedang yang berseliweran menyerang musuhnya semakin bertambah cepat.


Dalam tiga jurus, iblis Pemetik Bunga berubah serius setiap serangan yang dikerahkan Mahadewi telah berubah sedemikian cepat, sehingga anak buahnya sekalipun kesulitan mengikuti cepatnya gerakan lesatan pedangnya.


'Gawat, bagaimana dara semuda dia memiliki jurus pedang sehebat ini?' Meskipun keringat dinginnya sudah mulai mengujur, tetapi iblis Pemetik Bunga tidak mau terlihat ketakutan.


"Siapakah bidadari cantik ini? Dari perguruan manakah? Aku tidak pernah melihat ada perguruan yang memiliki jurus pedang terbang sehebat ini?"


Dia mencoba mencari tau latar belakang Mahadewi yang kini tidak lagi dia layani serangannya dengan setengah-setengah. Kecepatan ilmu meringankan tubuh yang dia kuasai masih mampu menyelamatkan dirinya sampai sejauh ini.


Tetapi lelaki itu menyadari, jika secara terus menerus kecepatan pedang yang dikerahkan lawannya semakin bertambah, tentu nyawanya akan melayang dalam hitungan waktu jika tidak mencari jalan keluar.


Melihat kondisi yang tidak menguntungkan, pandangan matanya berpindah ke anak buahnya yang ada dibelakang.


"Apa yang kalian tunggu habisi wanita ini!"


Mahadewi justru tertawa melihat kepanikan yang kini tergambar diwajah iblis pemetik bunga.


**


ingat like Dan koment jangan sampai lupa