
"Kita akan merubah rencana awal." Suara itu berasal dari sosok yang sedang duduk diatas singgasana yang terbuat dari ratusan tulang manusia yang tertata dengan rapi.
Mata dari lelaki itu seluruhnya hitam, sehingga sekilas seperti tidak memiliki bola mata . Sedangkan dari mulut lelaki itu selalu keluar semacam asap tipis yang berwarna hitam. Di jidatnya tubuh tanduk menyerupai tanduk seekor antelop yang memlintir kebelakang lalu kembali maju kedepan.
Didepan lelaki itu duduk bersimpuh Batara Antaga dan Batara Karang. Dan dibelakang mereka berdua pasukan kegelapan ikut duduk bersimpuh dengan berbaris rapi.
"Kita akan mendatangi setiap perguruan aliran hitam dan meminta mereka bergabung dalam barisan kita. Kali ini aku akan memastikan keberhasilan rencanaku dengan melibatkan para manusia bodoh itu."
"Kita akan bergerak kesetiap perguruan aliran hitam. Dengan iming-iming peningkatan kekuatan yang cepat setelah menyerap kekuatanku yang tersegel didunia ini. Jika mereka menolak ajakan kita, maka habisi saja mereka semua."
"Aku harus melibatkan para manusia dalam rencanaku kali ini. Karena para Dewa sepertinya telah mengantisipasi kebangkitanku. Karena itu kita rubah rencana awal. Bahkan mereka telah mengirim utusannya jauh sebelum aku dibangkitkan dengan wujudnya sebagai manusia biasa."
"Para dewa membuat keputusan seperti itu, agar bisa ikut campur dunia manusia. Lalu mereka memiliki kesempatan mampu mencegah diriku yang bangkit dalam dunia manusia."
"Dan kalian berdua tidak menyadari sejak dini adanya utusan itu."
"Ampuni keterbatasan pengetahuan kami kanjeng junjungan." Batara Antaga, Batara Karang dan seluruh pasukan kegelapan menundukkan kepala mereka hingga menyentuh lantai.
"Kau tau siapa yang aku maksud?" Lelaki itu mendengus penuh amarah ditandai dengan terlihatnya api keluar dari kedua lubang hidungnya. Hal itu terjadi setiap kali dia mendengus penuh amarah.
"Junjungan yang lebih mengetahui hal tersebut." Batara Karang dan Batara Antaga menjawab secara berbarengan.
"Utusan itu adalah murid dari Sindurogo, kalian tentu sudah mengetahui Sindurogo bukan?"
Lelaki yang berdiri diatas singgasana itu adalah Dewa Kegelapan. Wujudnya yang terlihat tidak lebih dari pada manusia normal lainnya. Bahkan tingginya kurang lebih hampir sama persis dengan tinggi Batara Karang.
"Tentu saja kami mengenalnya sejak dulu. Dialah lelaki yang ditugaskan Sang Hyang Ismaya untuk memburu kami sejak ratusan tahun lalu. Dengan bekal ilmu dari Dewa Surya membuat kami memilih menghindarinya." Batara Antaga menundukkan kepala terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Dewa Kegelapan.
"Bahkan hamba harus kabur dari tanah Jawadwipa karena terus diburu lelaki itu." Batara Karang ikut menyahut perkataan Batara Antaga.
"Kali ini untuk menggagalkan kebangkitanku yang sempurna, maka para dewa mengutus sesosok yang sangat istimewa."
"Sebab selain kekuatannya sangat luar biasa aku segera menyadari, mengapa para dewa kali ini hanya mengutus satu sosok," Dewa Kegelapan seperti meraba sesuatu yang berada dikejauhan yang tidak dipahami siapa sebenarnya sosok yang diraba itu.
"Aku menyadarinya ditubuhnya itu ada sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh para dewa, yaitu memiliki kekuatan yang memungkinkan tubuhnya menguasai pancha mahabhuta seperti diriku."
"Intinya kali ini para dewa hendak menghentikanku dengan cara yang tidak seperti sebelumnya, yaitu dengan menyegelku. Tetapi kali ini mereka berharap dapat menghabisiku dengan tuntas."
Batara Antaga dan Batara Karang yang mendengar ucapan Junjungannya saling bertatapan seperti menjawab beberapa hal yang mengganjal perasaan mereka. Sebab dua Batara itu sudah pernah merasakan seperti apa kekuatan sosok yang dibicarakan junjungannya tersebut.
"Kalian tentu cukup terkejut bagaimana manusia itu mampu mengalahkan kalian berturut-turut. Akan aku ceritakan kepada kalian dengan kemampuan mata milikku ini."
"Sebab inilah mata saktiku yang gelap tak teraba sekalipun aku mampu mengetahuinya."
"Bahkan yang berlalupun aku masih mampu mengetahuinya. Karena itulah aku bisa bercerita hal ini kepada kalian, ini semua adalah berkat kemampuan mata nujumku ini."
"Peristiwa kedatangannya tentu kalian mengingatnya, walaupun tidak menyadari hal tersebut. Sebab dia turun dari Khayangan Alang-Alang Kumitir dijaga oleh Sang Hyang Wenang." Dewa Kegelapan itu lalu bercerita panjang lebar kepada mereka.
"Sepertinya hamba telah memahami cerita kanjeng junjungan. Bahkan telah menjawab peristiwa penuh misteri yang telah terjadi belasan tahun yang lalu di tanah Javadwipa. Walaupun kami tidak mengetahui perihal utusan para dewa dalam kejadian itu, namun saat kemunculannya sebenarnya kami sudah berusaha menemukannya sejak dini. Bahkan kami mengirim utusan mengejar ke tanah Javadwipa. Kami memutuskan untuk mengirim utusan, karena bersama kedatangannya diiringi sebuah kekuatan yang sangat kuat bahkan teramat kuat."
"Kami mencurigai adanya senjata dewa bersama jatuhnya benda dari langit itu. Namun sayang orang yang kami utus telah gagal menemukan benda langit yang jatuh di tanah Javdwipa itu."
"Jadi benda itu ternyata ditemukan oleh Sindurogo. Dan tidak disangka benda yang jatuh dari langit itu berisi seorang jabang bayi. Hamba tidak mengira sama sekali dengan kejadian tersebut, kanjeng junjungan." Selesai berbicara Batara Karang menangkupkan kedua tangannya didepan wajah dan kembali menundukkan kepalanya sampai menyentuh lantai.
Batara Karang berbicara dengan penuh keterkejutan. Ekspresi wajahnya sudah menggambarkan seberapa besar keterkejutannya mendengar cerita sebenarnya dari junjungannya.
"Benar memang seperti apa yang telah kau ucapkan itu Batara Karang, namun mata nujumku ini tidak mengetahui apa yang terjadi di kayangan alang-alang kumitir. Aku masih bertanya-tanya mengapa ada sesuatu yang sangat mengganjal, mengapa utusan itu sepertinya tidak mengetahui tentang jati dirinya. Seolah dia datang ke bumi ini dengan ingatannya yang baru."
"Selain itu dia tidak mampu mencegah gurunya saat kalian jebak. Sebab dengan kejadian itu justru akhirnya ragaku dapat terbebaskan. Aku merasa para dewa sengaja membiarkan kejadian ragaku ini terbebaskan dari segel yang memang sudah rapuh."
"Aku mencurigai ada rencana lain yang disembunyikan dari diriku yang memiliki mata nujum ini. Itulah sebabnya utusan itu tidak dibiarkan dirinya mengingat apapun sebelum diutus menjelma menjadi manusia dan turun ke bumi."
"Apa yang sebenarnya para dewa rencanakan? Karena bebasnya ragaku ini terasa begitu mudah. Ataukah memang murid Sindurogo itu sengaja tidak diberi ingatan tentang kehidupan miliknya sebelumnya, agar jika nanti tertangkap olehku tidak dapat aku ambil ingatannya?"
"Bagaimana jika kami habisi saja utusan itu junjungan, selagi dirinya belum mencapai kekuatan para dewa, kekuatan sejati miliknya?"
"Bukan kah kalian berdua telah gagal mengalahkan dirinya. Bahkan kalian dipecundangi olehnya. Kali ini aku hendak datang sendiri. Seperti yang telah kau katakan Batara Karang, aku hendak menghabisinya sebelum dirinya telah mencapai kekuatan sejatinya."
"Jika kita berhasil membunuh dirinya, maka tidak ada lagi yang mampu menghalangi diriku menguasai kekuatanku dan juga menguasai dunia manusia."
"Jika aku telah merubah seluruh manusia menjadi pasukanku. Maka mereka semua akan dapat menjadi perantara bagi kita untuk membebaskan jiwaku yang tersegel di khayangan alang-alang kumitir tempat bersemayamnya Sang Hyang Wenang."
**
Siluman ular bersama Dewi Kematian dan juga Para tetua segera melesat terbang ke atas menghindari Naga Api yang mencoba menghabisi mereka.
Mereka mengira jika tujuan makhluk mengerikan itu adalah dirinya, ternyata itu hanyalah pengalihan yang dilakukan oleh Suro. Sebab tujuan Suro mengubah Naga bumi bergabung dengan Naga Taksaka menjadi Naga Api adalah untuk membebaskan Lodra yang terkunci oleh sihir perubahan es milik Hantu Laut.
Mereka tidak memahami keputusan Suro yang justru mencoba menghancurkan gunung es raksasa itu. Secara nalar seharusnya Suro tinggal mengerahkan jurus seperti itu kembali, daripada harus bersusah payah menghancurkan gunung raksasa yang telah menyegel jurusnya.
Selain Suro tidak akan memahami tindakannya tersebut. Sebab tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya. Bahwa dalam jurus tersebut ikut tersegel jiwa Lodra didalam api hitam berbentuk burung raksasa itu. Karena itulah Suro bersikeras menghancurkan segel yang diciptakan oleh sihir Hantu Laut.
Naga Api itu lalu bergerak dengan cepat mencoba menghancurkan gunung es itu. Belum berhenti begitu saja Suro segera mengerahkan jurus petir milik Dewa Rencong digabungkan dengan tehnik tebasan angin dalam jurus Sejuta tebasan pedang.
Penggabungan kekuatan Pedang Kristal Dewa dalam setiap tebasan dalam jurus petir milik Dewa Rencong telah menciptakan jurus baru.
”Petir Hitam!"
Blaar! Blaar! Blaar!
Hantaman petir yang silih berganti diiringi lesatan kekuatan tebasan yang luar biasa mengerikan akhirnya berhasil menjadikan gunung es itu hancur lebur.
"Kurang ajar bagaimana sihir es milikku bisa dihancurkan olehnya?" Hantu Laut merutuk penuh kesal, tetapi itu hanya sebentar. Karena detik berikutnya dia harus bergerak sangat cepat menghindari amukan Lodra dalam tubuh api hitam Sang Hyang Garuda.