SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 491 Kemunculan Berturut-turut



"Ini gawat jika seperti ini jadinya, kemungkinan kita tidak akan dapat mempertahankan benteng ini lebih lama." Jendral Yuwen Shiji hanya bisa menarik nafas panjang dan kembali menyerang para pendekar aliran hitam yang berusaha menembus barisan pertahanan yang dia buat.


Hal terakhir yang bisa dia lakukan, adalah berusaha sebisa mungkin menjaga agar gerbang benteng tidak berhasil dijebol oleh pasukan musuh. Walaupun dia tidak mengetahui sampai kapan dia dan seluruh pasukannya dapat bertahan.


Apa yang dia lakukan sekarang hanyalah bertahan dari gempuran musuh selama mungkin.


Kini ucapan Dewa Obat kembali terngiang. Jika pasukan kekaisaran tidak akan mampu mengalahkan pasukan musuh, hanya keajaiban yang mampu merubah jalannya pertempuran dan memberi mereka harapan kemenangan.


Pandangan matanya sempat berharap pertolongan dari Dewa Obat. Tetapi Dewa Obat sendiri sudah begitu kerepotan menghadapai musuhnya. Keadaan itu membuat Jendral Yuwen Shiji tidak bisa berharap banyak kepadanya.


Keadaan Dewa Obat tidak jauh berbeda dengan keadaan pendekar yang lain. Apalagi sekarang pasukan dari Kerajaan Goguryeo dan Khan Langit menyerang dengan kekuatan penuh. Kondisi itu semakin memperburuk keadaan.


Keadaan itu terus diperburuk dengan keputusan pasukan Elang Langit yang ikut menyerang pasukan kekisaran. Mereka semua sebelumnya hanya mengepung dan menyerang Dewa obat, tetapi kini tinggal lima orang termasuk didalamnya Roku Suzaku yang menyerang Dewa Obat.


Sedangkan pasukan Elang Langit yang lain segera bergerak menyerang pasukan kekaisaran. Mulai dari situlah kondisi pasukan kekaisaran bertambah begitu buruk.


Jumlah pasukan Elang Langit yang menyerang memang hanya sekitar dua lusin. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jendral Yuwen Shiji dan seluruh pasukan kekaisaran dibuat bulan-bulanan oleh mereka.


Serangan pasukan Elang Langit memaksa Jendral Yuwen Shiji untuk menarik pasukan miliknya terutama pasukan Macan Hitam yang tersisa. Dia juga memberi perintah kepada para pendekar yang datang bersama Dewa Obat untuk mundur dan membantu membuat pertahanan disekitar gerbang. Terutama bagian yang berada di atas gerbang.


Jendral Yuwen Shiji menyadari serangan Pasukan Elang Langit terlalu sulit dihadapi oleh Dewa Obat sekalipun, apalagi pasukan yang dia miliki. Tentu kekuatan mereka bukan lawan yang mampu mengimbanginya.


Serangan mereka dapat begitu mematikan karena dukungan jurus Lipat Bumi yang mereka gunakan. Setiap kali pasukan Elang Langit muncul, maka nyawa pasukan kekaisaran ikut berkurang dihabisi oleh mereka.


Kondisi mereka yang sudah begitu buruk, akhirnya bertambah semakin buruk. Pasukan yang sebelumnya terlihat muncul dari dalam gerbang gaib, kini mulai bergerak ikut menyerang benteng kota He Bei.


Jumlah mereka cukup banyak lebih dari seribu prajurit lengkap dengan senjata dan zirah perang milik pasukan Khan Langit dan juga pasukan Kerajaan Goguryeo. Pasukan tambahan itu adalah pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis.


Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa buruknya keadaan itu. Sehingga seorang jendral Yuwen Shiji sekalipun mampu dibuat kehilangan harapan dapat mempertahankan benteng kota He Bei lebih lama.


"Jika hari ini aku ditakdirkan tewas, aku akan sangat bangga mati bersama kalian!" Jendral Yuwen Shiji berbicara dengan nada mengisyaratkan keadaan sudah begitu buruk dan pertahanan yang mereka buat sebentar lagi akan hancur.


Disampingnya Xian Hua menganggukkan kepala, lelaki itu juga telah bersiap menghadapi situasi terburuk sekalipun, yaitu mati.


**


Tetapi keadaan terburuk justru tidak diketahui oleh Jendral Yuwen Shiji dan Xian Hua, tetapi justru diketahui oleh Dewa Obat lebih awal. Meskipun pada saat itu dia harus terus berusaha menghindari hujan serangan dari Pasukan Elang Langit.


Sesuatu yang begitu buruk dia sadari setelah sesuatu aura muncul dikejauhan, tepatnya muncul dari dalam gerbang gaib. Dia mengira aura itu dari para prajurit yang didalam tubuhnya berdiam benih iblis.


Tetapi Dewa Obat segera menyadari, jika aura kekuatan itu adalah sesuatu yang lain.


"Siapa lagi yang akan datang?"


Pendekar itu merasakan firasat buruk dengan kemunculan aura kekuatan dari dalam gerbang gaib yang berada dikejauhan.


Tetapi sebelum Dewa Obat sempat mencari tau, musuh segera memanfaatkan kelengahan Dewa Obat. Roku Suzaku telah muncul disisi belakang dan langsung menghantam tengkuknya.


Serangan Roku Suzaku yang menghantam itu begitu kuat. Tetapi hentakan keras serangan Roku Suzaku justru dimanfaatkan oleh Dewa Obat untuk menjauh secepat mungkin dari jangkauan musuh.


Tubuh Dewa Obat bukan hanya meluncur cepat ke bawah, tetapi dia justru melesat begitu cepat dengan tujuan hendak bergabung dengan Jendral Yuwen Shiji yang bertahan di sekitar gerbang benteng.


"Aku tidak mengira lawan yang datang sekuat ini. Apalagi siluman elang langit yang menyerangku, ini benar-benar lawan yang merepotkan! Kondisi ini akan diperburuk dengan sesuatu yang bakal datang!


Kalian harus lebih mewaspadai dengan apa yang akan keluar dari gerbang gaib dikejauhan itu! Dia akan menjadi lawan yang lebih merepotkan dibandingkan lainnya!" ujar Dewa Obat sambil menunjuk ke arah gerbang gaib dikejauhan.


Keputusan Dewa Obat bergabung dengan Jendral Yuwen Shiji bukan suatu kebetulan saja. Tetapi memang sudah dia direncanakan.


Karena dia menyadari akan adanya bahaya yang lebih besar dibandingkan dengan situasi yang telah mereka hadapi. Pada awalnya Jendral Yuwen Shiji dan Xian Hua yang berada didekatnya tidak memahami ucapan Dewa Obat.


Mereka berdua sampai mengernyitkan dahi mendengar ucapan Dewa Obat. Tentu saja mereka kebingungan mendengar ucapan Dewa Obat, jika keadaan mereka yang sudah terjepit dan hanya menunggu waktu untuk kalah bukan hal terburuk yang dihadapi.


Tetapi dua punggawa dari kekaisaran Yang Guang itu tetap mengarahkan pandangan mereka berdua ke gerbang gaib yang muncul dikejauhan.


Sesaat kemudian, mereka berdua segera memahami atas ucapan Dewa Obat. Saat itulah sesuatu aura kekuatan yang begitu sesat datang di tengah-tengah pertempuran yang muncul dari gerbang gaib.


Bukan saja Jendral Yuwen Shiji dan Kolonel Xian Hua, tetapi juga hampir seluruh mata memandang sosok yang melesat keluar dari gerbang gaib dan justru terus melesat menuju ke atas.


Pasukan kekaisaran yang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan sosok apa yang muncul dengan begitu tiba-tiba. Tetapi dari pasukan musuh sepertinya telah mengetahui siapa dia sebenarnya.


Aura dan sosok yang telah muncul itu juga disadari oleh Roku Suzaku yang berdiri diatas udara bersama keempat pasukan Elang Langit. Setelah berhasil menyerang Dewa Obat pandangan Roku Suzaku terpaku ke arah gerbang gaib.


Seperti juga Dewa Obat yang merasakan aura kekuatan dari dalam gerbang gaib, Roku Suzaku juga merasakan hal yang sama.


Itulah mengapa mereka berlima membiarkan Dewa Obat kabur dari kepungan. Semua itu karena perhatian mereka telah terpaku pada gerbang gaib yang berada dikejauhan.


Aura sesat yang menyertai kedatangan sesosok makhluk yang barusan muncul, juga menjadi perhatian seluruh pasukan Elang Langit. Termasuk mereka yang sedari tadi terus menyerang pasukan kekaisaran. Mereka segera menghentikan aksinya demi melihat kedatangan sosok yang baru muncul dari gerbang gaib.


"Yang Mulia telah datang!" Roku Suzaku berbicara langsung melesat ke atas.


Begitu juga para pasukan Elang Langit yang lain. Mereka semua segera menyusul melesat ke atas langit hendak menemui sesosok yang barusan muncul.


Sebab mereka hendak mendengarkan titah pemimpin tertinggi mereka. Ketua suku Elang Langit yang tak lain adalah Karuru atau yang bernama asli Riyoichiro Soga.


**


"Kami menunggu perintah Yang Mulia Karuru." Roku Suzaku berbicara sambil menunduk hormat.


Tindakan Roku Suzaku juga diikuti pasukan Elang Langit yang datang mengikuti dibelakangnya.


Karuru justru bersikap aneh, seperti tidak mengindahkan kedatangan Roku Suzaku yang terus menundukkan kepala didepannya.


"Kalian bersiaplah! Sebentar lagi kita akan kedatangan musuh yang patut diwaspadai!"


Roku Suzaku segera menegakkan kepala mendengar titah pimpinannya. Pandangannya langsung menyapu ke depan ke arah yang sama dimana pandangan Karuru seakan tidak berkedip menunggu sesuatu yang datang.


"Kalian Serang pemuda itu!"


Teriakan Karuru memecahkan kesunyian diantara mereka semua. Tentu saja Roku Suzaku mengenali pemuda yang ditunjuk Karuru yang muncul begitu saja di atas udara sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Walaupun sedikit ragu, toh akhirnya dia segera melesat menggunakan jurus Lipat Bumi ke arah pemuda yang menatap jalannya peperangan dengan tatapan murka.