
Perjalanan Dewa Pedang dan Suro akhirnya telah menghantarkanya sampai di depan pintu gerbang Perguruan Pedang Surga.
Seperti yang telah dijanjikan Mahapatih Lembu Anabrang pembangunan kembali Perguruan Pedang Surga yang hancur akan lebih megah daripada sebelumnya.
Di sekeliling perguruan dibangun tembok benteng setinggi sekitar dua tombak lebih. Walaupun semua proses pembangunanya belum selesai. Tetapi terlihat pintu gerbang perguruan dibuat dengan begitu besar membuat penampakannya begitu gagah.
"Sungguh luar biasa paman pendekar. Perguruan paman sudah mulai dibangun kembali dengan begitu megah."
"Aku juga tidak mengira secepat ini mereka membangun sekteku. Kemungkinan mereka telah memulai pekerjaan pembangunannya, sejak kita berada di istana Sri Maharaja Wasumurti."
Terlihat satu senyum puas tersungging dibibir Dewa Pedang.
Dengan berkuda mereka beriringan memasuki gerbang Perguruan Pedang Surga. Sambil melihat para pekerja bangunan yang hilir mudik sibuk dengan aktifitas pekerjaanya.
Begitu cepatnya pengerjaan mereka tentu karena didukung dengan jumlah pekerja yang begitu banyak. Ribuan pekerja dan ahli arsitektur dari penjuru tiga kerajaan dikirim untuk mempercepat proses pengerjaan.
Bertumpuk-tumpuk bahan bangunan dikirim bersamaan kedatangan para pekerja. Mereka membangun kembali perguruan mengikuti bentuk yang telah disetujui oleh Dewa Pedang dan juga para tetua perguruan yang ikut hadir sebelum keberangkatanya ke istana Kerajaan Kalingga.
"Ketua akhirnya sudah sampai!"
Wakil ketua Perguruan Eyang Udan Asrep menyambutnya bersama para tetua juga anggota perguruan yang lainnya. Kebahagiaan tidak mampu mereka tutupi terlihat diraut wajah-wajah mereka. Ada harapan baru yang timbul dalam hati mereka semua. Melihat betapa megahnya bangunan perguruan yang baru.
Walau pembangunan belum selesai tetapi melihat tatapan mata mereka terlihat ada harapan baru yang lebih cerah. Semua anggota maupun petinggi perguruan terlihat begitu bahagia setelah sebelumnya seluruh kawasan padepokan pusat luluh lantah dihancurkan Naga raksasa, kini sudah mulai terlihat betapa megahnya bangunan yang sedang dibangun. Tidak ada lagi kesedihan tersirat dimata mereka. Walau tidak mampu menghapus kesedihan atas kehilangan sanak saudara dalam serangan itu, ada hal lain yang muncul dalam perasaan mereka, yaitu semangat mereka kembali menggebu dan mampu membuat mereka kembali bisa tersenyum percaya diri juga yakin bahwa semua bisa dilewati.
Mereka segera mengerubungi pendekar Dewa Pedang untuk menyambut dan memberikan laporan singkat tentang kemajuan pembangunan dan hal penting lainnya yang perlu diketahui selama kepergiannya. Meski kebanyakan dari mereka datang menyambutnya hanya untuk keperluan sekedar berbasa basi.
Suro tau dengan posisinya secara perlahan dia mulai menyingkir untuk mencari tempat beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Dewa Pedang melihat Suro yang menjauh dari kerumunan anggota perguruan hanya memandang dan kemudian kembali mendengarkan laporan singkat hal-hal penting yang perlu dia ketahui.
Dewa Pedang memahami sikap Suro yang segera secara perlahan menyingkir. Alasannya tentu saja karena dia bukanlah anggota perguruan. Sehingga dia tidak ingin mencampuri urusan perguruan atau ingin tau urusan dalam perguruan. Tetapi Dewa Pedang dalam hatinya dia sudah ada sebuah rencana mengenai Suro. Dia ingin mengangkat Suro masuk dalam perguruan dengan status yang istimewa.
"Hamba ikut bersedih dengan hilangnya Tuan Guru."
Suro menoleh ke arah asal suara yang tak asing baginya. Seorang lelaki tambun dengan tampang kasar menjura kepadanya dengan memberikan senyum manis.
Kolo Weling yang baru saja selesai mengobati para penduduk mendengar kedatangan Dewa Pedang. Segera dia buru-buru menyelesaikan pekerjaanya. Dia secepatnya datang untuk ikut menyambut kedatangan junjungannya, yang tak lain Suro bledek. Bocah yang pantas dia sebut sebagai anaknya.
Suro hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Kolo Weling.
"Terima kasih paman Kolo Weling. Bangunlah tidak perlu bersikap seperti itu aku bukan siapa-siapa."
Suro mencoba menyuruh Kolo Weling bangun dari posisinya yang bersujud kepadanya.
"Bagi kami paduka adalah penyelamat hidup kami dan juga telah mengubah hidup kami menjadi lebih bermanfaat."
"Paman tidak perlu menyebutku dengan sebutan paduka paman, itu terlalu berlebihan. Saya ini bukan siapa-siapa. Selain itu, jalan hidup paman Kolo Weling bukan saya yang menentukan semua kembali ke paman Kolo Weling sendiri yang ingin merubahnya. Jadi tidak perlu terlalu menganggab diriku begitu berjasa kepada kehidupan paman."
"Bagaimana paman berubah menjadi seperti sekarang ini bukan ditentukan oleh diriku tetapi oleh paman sendiri yang mau berubah menjadi sesorang yang lebih bermanfaat."
"Diriku hanya menjadi perantara yang telah membuka mata hati paman dan menunjukan pilihan hidup atau jalan hidup yang lebih baik. Daripada jalan hidup yang sebelumnya telah paman jalani bersama teman-teman paman."
Kolo Weling hanya menganguk-anguk mendengar perkataan dari seorang bocah yang ada didepannya. Bagi Kolo Weling, Suro bledek tidak dia pandang sebagai seorang bocah. Tetapi dia memandangnya sebagai sosok yang benar-benar dia hormati. Bahkan rasa hormatnya melebihi kepada Maharesi Eyang Sindurogo seseorang yang paling begitu dia takuti keberadaanya.
"Untuk sementara waktu kita akan tetap tinggal di perguruan ini sampai waktu yang tak dapat ditentukan."
"Mungkin sampai aku mencapai tahap kekuatan yang bisa menyelamatkan Eyang Guru! Semoga saja secepatnya aku bisa mewujudkan itu."
Mata Suro menerawang mengingat kembali gurunya yang masih terjebak dalam alam kegelapan.
Setelah istirahat semalaman, besok paginya Suro langsung menuju ke kediaman Dewa Pedang untuk meneruskan latihannya yang sempat tertunda. Dia mulai berlatih tahap kelima yaitu di chakra ananda anahat (titik antara perut dan titik jantung).
Dia memulai mengerahkan energi menrik dri chkra manipura dipusar dan ditarik ke chakra ananda anahat agar pada titik tersebut energi dapat bersirkulasi dengan memutar cakram chakra.
Untuk melakukan itu dia memulai samadhinya mengunakan mudra padma yang sama dipakai untuk membuka chakra yang ada dijantung atau chakra anahata. Karena chakra ananda anahat adalah chakra penghubung menuju jantung.
Suro berlatih ditengah halaman rumah Dewa Pedang karena dia ingin menikmati sinar matahari pagi, sekaligus menyerap kekuatan matahari, sehingga dapat membantunya mengumpulkan energi untuk memutar chakra didalam tubuhnya. Dia terlalu sibuk dalam meditasinya, sehingga tidak memperdulikan alam sekitar.
Di sebuah ruangan yang luas masih masuk dalam kediaman Dewa Pedang para tetua pusat Perguruan Pedang Surga berkumpul untuk membahas sesutu.
Mereka semua berkumpul didalam ruangan itu untuk membahas mengenai tindakan Dewa Pedang yang telah mengajari Suro dengan salah satu tehnik rahasia milik perguruan, yaitu sembilan putaran langit.
Meskipun sebelumnya para tetua terlihat tidak setuju dengan keputusan itu, tetapi seiring penjelasan Dewa Pedang mereka sebagian mulai memahaminya. Panjang lebar Dewa Pedang menjelaskan alasan dirinya mengajari Suro yang merupakan orang luar perguruan dengan tehnik yang merupakan ilmu rahasia milik Pergurun Pedang Surga.
"Akan aku katakan kepada kalian dibalik alasanku mengajarkan tehnik rahasia ini kepada seseorang yang bagi kalian hanya seorang bocah itu."
"Alasan pertama adalah generasi pertama bahkan dikenal sebagai tokoh yang menciptakan Tehnik Dewa Pedang, telah mengajarkan seluruh ilmu yang merupakan ilmu andalan sekte kita kepada Eyang Sindurogo. Secara tidak langsung Suro juga mendapatkan restu dari Mahaguru Dewa Pedang, karena dia adalah murid Eyang Sindurogo.
"Artinya keputusankupun juga tidak menyalahi keputusan dari Mahaguru untuk mengajari bocah itu dengan tehnik rahasia lainnya dari perguruan ini."
"Kedua berkat pertolongan dari bocah itu yang telah memahami keseluruhan isi kitab Dewa Pedang telah membuka pengetahuan baru mengenai pemahaman kitab tersebut."
"Maaf ketua Dewa Pedang apakah perkataan anda tidak terlalu berlebihan. Kitab Dewa Pedang bukanlah sebuah bacaan ringan yang mampu dipahami dengan mudah, dikarenakan kerumitan pemahaman tentang pedang yang ada dalam kitab tersebut."
Eyang Udan asrep menyela perkataan Dewa Pedang yang terkesan berlebihan dan mengada-ada. Bagaimana mungkin bocah seumuran dia mampu memahami keseluruhan kitab dewa pedang.
"Dan jurus ini diciptakan oleh bocah itu! Pasti kalian tidak akan percaya dengan perkataanku barusan, bukan?"
"Demi Sang Hyang widi! Bagaimana mungkin?"
Tetua pedang Eyang Tunggak Semi berdecak kagum. Bahkan bukan dia saja semua yang ada diruangan itu saling berpandangan. Bagaimana tidak jurus pamungkas dalam kitab Dewa Pedang tidak semua anggota perguruan yang mampu. Hanya para tetua, petinggi serta murid utama saja yang mampu mencapainya.
Kekuatan puncak dari jurus pamungkas itu mampu digunakan untuk memotong gunung. Maka tidak salah jika mereka sulit mempercayai cerita yang dikatakan ketua mereka. Bagaimana mungkin ada jurus yang kekuatannya berkali lipat dari jurus pamungkas tersebut yang diciptakan seorang bocah. Sebuah perkataan yang terasa mengada-ada, jika saja bukan Dewa Pedang ketua perguruan mereka.
Tetapi tentu saja mereka memandang apa yang diucapkan ketua mereka yang dinobatkan sebagai Pendekar Pedang nomor satu diseluruh Benua Timur. Tentu mereka mempercayai integritas yang dimiliki Dewa Pedang dari perkataanya bukanlah omong kosong belaka. Ucapan yang telah dipikir dengan matang.
Tetapi mempercayai sebuah fakta yang begitu mengagumkan dan diciptakan oleh seeorang bocah tentu sebuah hal yang sangat sulit dipercaya.
"Akan kutunjukan kepada kalian sebuah jurus baru yang lebih kuat dan lebih ringan dalam mengerahkannya karena tidak diperlukan kekuatan chakra yang begitu besar seperti Jurus seribu pedang menyatu."
"Nama jurus ini Sejuta tebasan pedang."
Mereka dipersilahkan semua mengikut Dewa Pedang keluar kearah halaman rumahnya.
Satu-satunya tempat di Perguruan Pedang Surga yang tidak rata dengan tanah hanyalah kediaman dari Dewa Pedang. Maka untuk sementara rumah itu menjadi tempat mereka berkumpul.
"Nakmas Suro!"
Dewa Pedang memangil Suro yang sedang bermeditasi. Dia berada ditengah halaman rumah yang luas dengan bertelanjang baju membiarkan tubuhnya terpapar sinar matahari yang mulai terik.
Mereka terkejut dengan apa yang dilakukan Suro sebab melakukan meditasi berjam-jam dibawah terik bukanlah sesuatu hal yang mudah dilakukan.
Bahkan mereka lebih terkejut lagi, sebab mudra yang digunakan dalam samadhinya adalah padma mudra. Yang artinya Suro telah melewati tahap keempat. Padahal menurut perhitungan mereka dan perkataan Dewa Pedang Suro memulai latihannya baru dua purnama yang lalu.
Bagaimana mereka tidak terkejut sebab jenius terhebat yang pernah dimiliki sekte Pedang Surga untuk melalui tahap itu diperlukan waktu lima purnama, dan setelah sembilan purnama dia baru mampu menyelesaikan semua tahap tehnik itu. Jenius yang dimaksut adalah pencipta tehnik itu sendiri yang merupakan Mahaguru dari Dewa Pedang.
Para tetua mengeleng-geleng seakan tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Sepertinya perkataan ketua mereka bukan omong kosong belaka.
"Ada apa paman pendekar memangil Suro?"
Suro yang sedang berlatih mendengar dipanggil Dewa Pedang segera menyelesaikan latihannya dan memakai bajunya kembali.
"Nakmas Suro bisa minta tolong lemparkan batu itu keatas dan tebas dengan jurus tebasan sejuta pedang!"
Dewa Pedang sengaja memberi perintah kepada Suro dengan suara agak lebih keras. Sehingga para tetua dan para petinggi perguruan mendengar semua dengan jelas. Tentu saja mereka semua terkejut dan saling padang kesesama mereka. Sepertinya setelah berperang dengan monster telah terjadi hal yang gawat dengan kepala ketua mereka.
Bagaimana tidak, bocah yang sekecil itu disuruh melemparkan batu yang sebesar lima kali ukuran gajah. Mereka mulai khawatir dengan keadaan ketua mereka yang sepertinya sudah dalam keadaan gawat.
"Baiklah tuan guru seberapa tinggi Suro harus melemparkannya?"
"Setinggi itu!" Dewa Pedang menunjuk seekor burung elang yang terbang tinggi.
Para petinggi perguruan semakin khawatir dengan keadaan ketuanya yang terlihat semakin menunjukan sebuah tanda-tanda ketidak warasan. Bagaimana mungkin batu sebesar itu disuruh melempar setinggi langit. Oleh seorang bocah yang sekecil itu pula. Muka para petinggi terlihat semakin pucat. Bahkan wakil ketua terlihat seakan mulai ingin menangis melihat Dewa Pedang. Matanya mulai memerah menahan tangis.
"Apa kamu sanggub nakmas Suro?"
"Kekuatan chakraku seakan banjir bah setelah melewati empat tahap dalam pelatihan tehnik sembilan putaran langit. Tidak ada salahnya akan Suro coba."
Sambil menyengir kearah Dewa Pedang dia memberi isyarat di jarinya bahwa itu urusan kecil. Kemudian dia mulai melangkahkan kakinya ke arah batu besar itu.
Dewa Pedang yang melihat tingkah Suro hanya tertawa-tawa sendiri sambil mengeleng-gelengkan kepala.
Para tetua yang melihat Dewa Pedang tertawa-tawa sendiri semakin membuat mereka khawatir.
"Gawat ini gawat tetua! Kondisi Dewa Pedang sepertinya sudah berat! kewarasannya sudah mulai terganggu!" Eyang Udan asrep berbisik kepada tetua yang ada disebelahnya.
Kekhawatiran mereka lenyap seketika dan berganti dengan sebuah keterkejutan yang beruntun.
Suro melakukan kuda-kuda dengan kokoh didepan batu yang berada didepannya. Dia melakukan olah pernafasan. Beberapakali dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan-pelan. Kemudian seolah-olah sedang mengangkat sebuah beban berat dia mengerakkan kedua telapak tanganya secara perlahan keatas.
"Grek! Grek! Grek!"
Batu itu bergetar kemudian secara perlahan bergerak seakan ingin lepas dari cengkraman tanah yang sebagian masih menutupi batu itu.
"Plass!"
"Tebasan Sejuta Pedang!"
"Bldaaar!"
Dalam satu hentakan batu sebesar rumah itu terlempar dengan sangat cepat keatas sangat tinggi. Mendekati jarak yang ditunjuk sebelumnya oleh Dewa Pedang.
Semua orang terkejut melihat penampakan batu yang sebesar itu terlempar setinggi itu.
Bahkan para pekerja yang melihat penampakan itu berteriak histeris. bagaimana mereka tidak teriak histeris apa jadinya jika batu sebesar itu menimpa manusia? Apa tidak menjadi bubur.
Satu hal yang kemudian membuat mereka menjadi ternganga dan terkagum-kagum adalah sesosok manusia yang melompat dengan cepat dan menyusul batu yang terlempar begitu tinggi.
Dan sebuah hantaman dari sepuluh sinar tipis yang tak terlihat dari jauh keluar dari ujung jari-jarinya. Sinar itu menghantam batu besar itu.
Sebuah ledakan dilangit kemudian telah melenyapkan batu sebesar itu menjadi kepulan debu.