SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 227 Kerajaan Champa



Setelah Suro menghilang ditelan gerbang gaib, dia kemudian telah muncul di suatu kota yang bernama Simhapura atau Tra-kieu. Kota ini adalah kota kerajaan Champa yang memiliki benteng atau tembok kota yang terbuat dari batu dan memiliki gerbang di empat arah yang berbeda.


Benteng Simhapura atau yang berarti kota Singa, terletak disepanjang aliran dua sungai dan memiliki tembok yang melingkar sejauh delapan mil. Kerajaan Champa menurut sejarah kemungkinan berada di sekitar wilayah Vietnam Selatan dan Vietnam tengah.


Di sebelah barat bersebelahan dengan Kerajaan Chen la. Sebelumnya kerajaan Chen la adalah bagian dari Kerajaan yang bernama Funan. Di kemudian hari mereka dapat merdeka dan justru menguasai seluruh bagian dari kerajaan Funan. Nama dari Funan sendiri berasal dari bahasa Khmer kuno yakni Phnom yang artinya gunung.


Raja-raja di negeri itu menggelarkan dirinya sendiri dengan sebutan "Raja Gunung" atau Sailenraja atau Syailendra. Gelar tersebut juga digunakan untuk raja di Yawadwipa.


Salah satu wangsa yang menjadi penguasa di Kerajaan Mataram kuno. Tepatnya setelah wangsa Sanjaya, yaitu wangsa Syailendra.


Bahkan raja dari wangsa Syailendra menganggap, jika mereka adalah keturunan langsung dari raja-raja di Kerajaan Funan. Mereka berlindung ke pulau Jawa setelah negeri itu ditakhlukkan oleh Kerajaan Tchenla atau Chen la. Hal itu bisa ditandai dengan julukan "Raja Gunung" atau Syailendra untuk menamai raja-raja keturunan mereka.


Salah satu keturunan dari wangsa Syailendra akhirnya menjadi raja Kerajaan Sriwijaya. Kemudian mengantarkan kerajaan itu sampai kepuncak keemasannya. Mereka para wangsa Syailendra juga menggunakan gelar Maharaja, karena menganggap dirinya sebagai penakluk dunia.


Setelah tahun 550 Masehi sampai awal abad kesembilan, tepatnya tahun 802 Masehi daerah itu di dalam kekuasaan Kerajaan Chen la atau Zhenla. Setelah Kerajaan Chen la berakhir, kemudian digantikan oleh sebuah kerajaan lain yang disebut sebagai Kerajaan Khmer kuno.


Saat ini sudah memasuki tahun 603 Masehi, kala itu Kerajaan Champa sedang dipimpin oleh Raja Chambuwarman atau kadang disebut dengan Sambhuwarman atau Fan-fan-tche.


Dahulu sebelum Kerajaan Champa ini berdiri ada sebuah kerajaan lain yang lebih dahulu berdiri di daerah itu. Kerajaan itu bernama Li Yie. Menurut ahli sejarah Kerajaan Li Yie atau Lam Ap telah berdiri sekitar tahun 192 Masehi. Menurut cerita Kerajaan Li Yie berdiri setelah berhasil melepaskan diri dari kekaisaran Han.


Setelah beberapa saat muncul di kota Kerajaan Champa, yaitu di Simhapura, Suro mencoba mempelajari situasi yang akan dihadapi. Beruntung saat membuat gerbang gaib pikirannya ada di dalam kota kerajaan.


Sebab untuk masuk ke dalam kota kerajaan harus memberikan identitas sebagai akses untuk masuk ke dalam gerbang kota tersebut. Masalahnya bukan hanya mengenai identitas untuk digunakan memasuki gerbang yang tidak dimiliki Suro, maupun Geho sama, tetapi karena kondisi diluar gerbang yang sudah cukup kacau balau.


Saat ini Raja Chambuwarman telah menyerah kepada pasukan kegelapan. Karena penyerangan yang dipimpin Eyang Sindurogo berjalan dengan cepat dan sangat mendadak.


Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan gerbang gaib yang diciptakan. Gerbang gaib itu mengantarkan seluruh pasukan yang dipimpinnya langsung menuju istana kerajaan.


Kekuatan pasukan kegelapan yang menyerang tidak terhentikan oleh pasukan pengawal raja. Karena mereka memang tidak dapat dilawan oleh kekuatan pasukan pengawal raja. Kekuatan mereka tentu bukan lawan yang dapat mengimbangi pasukan kegelapan yang tidak bisa dibunuh.


Seluruh pasukan kegelapan dengan cepat berhasil menguasai istana kerajaan. Para keluarga kerajaan, termasuk rajanya sendiri berhasil mereka tahan.


Alih-alih menghabisi seluruh pasukan kerajaan Champa dan juga seluruh keluarga kerajaan, mereka pasukan kegelapan justru memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki raja Champa, yaitu Raja Chambuwarman.


Mereka meminta raja yang sah untuk mengumpulkan seluruh rakyat yang ada. Dengan dalih hendak memberikan pengumuman kepada seluruh penduduk, jika kekuasaan telah berpindah kepada raja yang baru, yaitu Eyang Sindurogo yang menjadi pemimpin pasukan kegelapan.


Untuk mengumpulkan seluruh masyarakat tentu bukan hal yang mudah. Apalagi seluruh wilayah kerajaan, pasti butuh waktu yang lama. Sudah lebih dari tiga minggu mereka para masyarakat terus berdatangan ke kota raja.


Pasukan kerajaan yang sah tentu mematuhi perintah dari rajanya sendiri. Merekalah yang mengatur dan menyebarkan perintah rajanya untuk datang dan berkumpul di luar tembok kota kerajaan.


Bukan saja para penduduk atau masyarakat biasa, tetapi seluruh prajurit dari beberapa kadipaten yang ada ikut berkumpul. Di antaranya adalah kadipaten Indrapura atau saat ini dikenal Dong Duong, Amaravati atau Quang nam, Vijaya atau Cha ban, Kauthara atau Nha Trang. Dan yang terakhir adalah kadipaten Panduranga atau pada jaman sekarang memiliki nama Phan rang, mereka satu-satunya pasukan kadipaten yang belum datang


Sejujurnya mereka tidak mampu memahami keputusan yang seperti bunuh diri itu. Tetapi mereka sudah bertekad untuk melawan balik.


Sebab saat ini seluruh benteng kota Simhapura telah dikepung oleh seluruh pasukan. Beberapa kali Raja Chambuwarman menampakan diri didepan khalayak ramai untuk memberitahukan jika kondisinya dalam keadaan baik-baik saja. Tindakan itu juga memiliki tujuan agar pasukan yang berkumpul tidak akan menerobos masuk kedalam benteng.


Mereka para keluarga kerajaan ditahan didalam istananya sendiri. Sejak istana berhasil dikuasai oleh pasukan Eyang Sindurogo, maka malam itu juga seluruh pasukan kerajaan diusir keluar dari tembok kota kerajaan.


Seluruh pasukan kerajaan yang sudah berkumpul di luar tembok telah memutuskan hendak mengambil alih kembali kota kerajaan yang sudah dikuasai Eyang Sindurogo. Meskipun saat ini raja dan seluruh keluarganya menjadi tahanan di dalam kota kerajaan. Keputusan penyerangan akan dilakukan setelah pasukan dari kadipaten Panduranga sudah datang .


Pasukan Champa yang telah berkumpul di luar benteng telah memperhitungkan seluruh pasukan yang dibawa eyang Sindurogo. Pada saat penyerangan eyang Sindurogo hanya membawa pasukan darat. Manusia kelelawar maupun para naga yang biasa menyertai dirinya tidak terlihat.


Pasukan darat yang muncul secara mendadak dan menguasai istana tidak lebih dari pada lima ratus pasukan, sesuai pengetahuan yang mereka kumpulkan. Tetapi mereka para pasukan Champa yang ada diluar tembok agak kebingungan. Sebab pasukan kegelapan yang berjaga di atas tembok yang membentang sepanjang delapan mil, kini telah lebih dari lima ratus prajurit.


Mereka mengira pasukan darat itu memakai pakaian dan topeng yang membuat tampang mereka menjadi begitu menyeramkan. Informasi tentang pasukan kegelapan yang menguasai kota kerajaan simpang siur.


Sebab seluruh pasukan yang sebelumnya melindungi raja dan seluruh keluarganya telah dihabisi. Pasukan yang waktu itu berada di dalam kota raja langsung disuruh keluar dari tembok oleh raja yang sah. Mereka juga kebingungan, sebab para penduduk yang berada di dalam kota kerajaan kini telah lenyap.


Suro terus menyelidiki kondisi di dalam sekitar kota kerajaan. Dia kemudian mengetahui jika gerbang gaib yang digunakan para pasukan kegelapan ada disekitar istana.


Suro merasa ada sesuatu rencana jahat yang sedang dibuat oleh pasukan kegelapan. Sebab suatu hal yang aneh melihat masyarakat dan prajurit dikumpulkan diluar benteng kota raja. Sedangkan di dalam kota raja sendiri tidak ada penduduk yang tersisa, kecuali beberapa bagian pasukan darat dari pasukan kegelapan yang terlihat berseliweran.


Melihat hal yang tidak beres Suro segera meminta Geho sama untuk memantau beberapa daerah disekitar kota Kerajaan.


"Gunakan Langkah Maya milikmu dan terbanglah disekitar kota raja ini. Apakah ada pasukan kegelapan yang menyebar ke seluruh kerajaan? Aku merasa mereka pasukan kegelapan hendak mengumpulkan seluruh penduduk kerajaan Champa, seperti yang mereka lakukan saat menyerang kerajaan Mataram."


"Baik tuan Suro aku akan menjalankan sesuai perintah. Hamba akan memberitahukan kondisinya secara terus menerus."


Geho sama kemudian menghilang dari pandangan Suro.


Suro sendiri langsung melanjutkan penyelidikannya di dalam kota kerajaan yang berada di dalam benteng. Sesuai dengan dugaan Suro, para penduduk di dalam kota raja telah lenyap. Mereka semua kemungkinan sudah digiring masuk ke dalam gerbang gaib dibawa ke alam kegelapan. Karena setiap rumah yang dia masuki tidak diketemukan ada satupun penduduk di dalamnya.


Di atas tembok yang mengelilingi kota raja Suro melihat manusia yang memiliki kaki seperti ayam. Mereka adalah pasukan kegelapan seperti yang pernah dilihat Suro sewaktu di alam lain.


Tidak beberapa lama kemudian Geho sama mengirimkan suara batinnya kepada Suro. Dia sudah selesai mengitari daerah di sekitar kota kerajaan.


'Tuan Suro tidak ada pasukan kegelapan di sekitar kota kerajaan. Hamba tidak melihat para manusia kelelawar maupun para naga yang terbang. Justru hamba melihat masyarakat terus berduyun-duyun menuju kota kerajaan. Agaknya mereka hendak berkumpul di luar benteng kota kerajaan.


"Aku tau sekarang apa yang sedang direncanakan. Mereka sedang mengumpulkan seluruh penduduk kerajaan. Mereka memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki raja yang sah untuk mempermudah pekerjaan mereka mengumpulkan manusia sebanyak-banyaknya dalam waktu relatif singkat."


"Aku harus menghentikan pembantaian masal ini. Geho sama kembali ke sisiku! Kali ini kita akan mengamuk menghancurkan semua pasukan kegelapan yang telah menguasai kerajaan Champa!"