SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
142. Pusaka Kaca Benggala



Setelah Maung berlari cukup lama akhirnya mereka sampai didepan sebuah tebing yang menjulang tinggi begitu perkasanya.


"Akhirnya kita telah sampai!" Suro lalu turun dari punggung Maung.


"Ternyata tidak banyak yang berubah dari tempat ini dari terakhir aku melihatnya, kecuali semak ini agaknya lebih lebat. Mungkin karena ini sedang musim hujan." Suro mulai berjalan ke arah tebing sambil menatap ke sekeliling.


Disitulah dulu Suro pertama kali pernah bertatap muka langsung dengan Sang Hyang Anantaboga dalam wujud seorang lelaki muda yang sangat tampan dengan berpakaian begitu mewah. Sebuah mahkota dikepalanya melengkapi penampilannya yang tak ubahnya seperti seorang raja.


Didepan sebuah batu besar yang terdapat ceruk, Suro menghentikan langkahnya. Kemudian kedua telapak tangan Suro ditempelkan kearah dinding ceruk itu sambil berkata lirih.


"Sang Hyang Anantaboga ini, hamba, muridmu Suro Bledek sowan kepada Hyang pepulun untuk memohon ijin mengharapkan wejangan dari Sang Hyang pepulun."


Setelah itu dia melangkah mundur beberapa langkah. Pandangannya berpindah ke arah tebing yang terlihat menjulang tinggi.


'Apakah Sang Hyang Anantaboga kali ini akan datang dalam wujudnya yang sebenarnya, yaitu seekor naga yang sangat besar.' Dia membatin sambil tatapannya tetap tidak lepas dari tebing.


Dia terus menunggu sampai waktu yang cukup lama. Tetapi sampai sebegitu lamanya dia menunggu tidak terjadi apapun atau penampakan apapun didinding tebing yang ada dihadapannya.


"Mengapa tidak ada suara tebing yang bergerak. Apa suaraku barusan kurang keras?" Suro mulai kasak-kusuk.


Dia hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah ceruk yang terdapat di batu besar didepan tebing, tetapi kembali dia mengurungkan niatnya, dia tetap terdiam sambil tetap menatap tebing.


"Apa ada yang kurang dari ucapanku tadi?" Suro mulai menggaruk-garuk kepalanya.


Suro mulai resah Maung yang berada disampingnya justru sudah tiduran sambil menjilati bulu-bulu ditubuhnya.


"Aku rasa tidak ada yang kurang dari ucapanku tadi? Dan juga seingat Suro, eyang guru tidak merapalkan mantra apapun saat memanggil Sang Hyang Anantaboga." Suro menggaruk-garuk pipinya.


Ketika Suro hendak melangkahkan kaki ke ceruk, kali ini dia kembali menghentikan langkahnya. Dia melakukan itu bukan karena ragu, tetapi karena sebuah alunan seruling yang begitu merdu membuat perasaannya menjadi tentram. Seakan keresahan dan segala kegundahan yang dirasakan Suro telah sirna.


Kemudian lamat-lamat suara seruling itu menghilang. Kini sebuah suara lain muncul. Suara seseorang lelaki yng terdengar sedang melantunkan sebuah kidung yang terdengar begitu mengena dihati Suro. Dari kidung itu seakan orang tersebut sedang memberikan sebuah wejangan atau nasehat.


"Sasmitaning ngaurip puniki!"(isyarat dalam kehidupan ini)


"Apan ewuh yen nora weruha!"(tidak mungkin kau pahami jika kau tak mengetahuinya)


"Tan jumeneng ing uripe!"(tidak akan memiliki ketenangan dalam hidupnya)


"Akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa!"(banyak yang mengaku dirinya sudah memahami isyarat dalam hidup, padahal belum mengolah rasa)


"Rasa kang satuhu!"(inti dari rasa yang sesungguhnya)


"Rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira!"(oleh karena itu, berusahalah memahami makna rasa itu, agar sempurna hidupmu)


Suara itu lalu menghilang kembali sunyi, hanya suara alam yang terdengar suara angin, serangga dan juga binatang liar yang menjadi penghuni hutan.


Suro masih termangu dengan suara kidung yang baru saja terdengar. Suaranya yang merdu terdengar sangat jelas seakan menyusup ke dalam jantungnya.


Di sudut bibirnya mulai membentuk sebuah senyuman kecil. Walaupun dia belum mengetahui dimana tepatnya suara yang baru saja terdengar berasal, tetapi dengan tanda itu telah mengisyaratkan Sang Hyang Anantaboga berkehendak mau menemuinya.


"Sang Hyang Anantaboga, nuwun sembahing pangabekti murid pekulun, Suro Bledek." Suro langsung duduk bersimpuh, lalu menundukkan kepalanya begitu dalam menyentuh bebatuan cadas dibawahnya.


"Kuterima sungkem pangabektimu ngeer!" Mendadak sebuah suara begitu jelas terdengar dihadapan Suro.


"Ada perlu apa ngeer, cah bagus?" Sang Hyang Anantaboga kali ini datang seperti seorang pendekar dengan sebuah seruling kristal ditangannya.


Seluruh pakaiannya putih seakan terbuat dari sutra terbaik begitu ringan melambai-lambai tertiup angin pegunungan. Wajahnya terlihat begitu muda seperti seorang lelaki yang masih berumur hampir mendekati tiga puluhan.


Senyumnya terasa begitu menenangkan bagi yang melihatnya. Tetapi aura yang memancar akan membuat siapapun seolah dipaksa untuk menundukan kepala. Aroma wewangian begitu santer tercium bersama dengan kedatangannya.


"Hamba hendak memohon petunjuk dari Hyang pekulun mengenai nasib Eyang Sindurogo yang kini kondisinya dalam pengaruh kekuatan yang sangat jahat. Kemudian mereka telah menjadikannya tak ubahnya seperti sebuah wayang."


"Sang Hyang Surya sampai hari ini tetap berada ditempatnya, karena sudah digariskan takdirnya untuk tetap seperti itu." Sang Hyang Anantaboga mulai berbicara sambil tetap berdiri didepan Suro.


"Begitu juga setiap daun yang jatuh itu sudah digariskan kapan jatuhnya, kapan tumbuhnya. Semua telah digariskan menurut kodratnya, menurut garis takdirnya. Bahkan setiap tanah yang terang maupun yang gelap juga telah digariskan. Semua sudah dalam suratan takdir." Sang Hyang Anantaboga tersenyum ke arah Suro yang semakin tidak mengerti maksud perkataannya.


Meskipun begitu Suro tidak beringsut dari sujudnya dan tidak mengeluarkan satu patah kata pun, dia terus mendengarkan apa yang dituturkan oleh Sang Hyang Anantaboga.


"Selain itu, mengapa ulun harus khawatir jika gurumu telah memiliki murid seperti sira?"


"Jadi menurut pekulun Suro mampu menolong eyang guru?" Suro secara tak sadar langsung mendongakan kepalanya, begitu mendengar ucapan Sang Hyang Anantaboga barusan. Ingin rasanya meloncat kegirangan mendengar perkataan Sang Hyang Anantaboga barusan, tetapi mendengar ucapan selanjutnya, niat itu kembali dia urungkan.


"Itu bukan menurut ulun cah bagus, itu tergantung takdir yang akan sira pilih nantinya. Tergantung garis takdir mana yang akan sira pilih? Demi kepentingan apa yang akan sira pilih? Untuk keselamatan siapa yang nanti sira utamakan? Semua garis takdir sudah berada ditangan sira."


Suro bertambah pusing. Belum lama seorang resi menjejalinya tentang ilmu keselamatan. Kini setelah berhasil bertemu dengan Sang Hyang Anantaboga, dia justru disuruh memilih sendiri jalan yang akan ditempuh, agar bisa menyelamatkan gurunya.


Apalagi semua jawaban dari Sang Hyang Anantaboga dalam bentuk bahasa tamsil atau kiasan semakin membuat wajahnya bertambah kusut.


Tangannya mulai mengaruk-garuk kepalanya seperti biasa.


"Lalu di garis takdir yang mana murid ini harus berjalan agar Eyang Sindurogo dapat hamba selamatkan?" Mata Suro menatap sebentar ke arah wajah Sang Hyang Anantaboga yang penuh dengan cahaya kewibawaan.


"Jadilah ksatria yang pidekso puncak dari segala kesatria, pamungkasing satrio. Berani berkorban dengan pengorbanan yang tidak mengharapkan balasan."


"Tetapi semua kembali pada pilihan hidup yang nanti akan sira(kamu) pilih. Semakin besar pengorbanan yang sira berikan, maka akan semakin banyak yang akan sira selamatkan, cah bagus muridku Suro!"


Suro semakin tidak mengerti dengan penjelasan yang telah dituturkan sosok dihadapannya itu.


"Sudikah pekulun memberitahukan dimana keberadaan Eyang Sindurogo?" Suro kembali bertanya sambil menggaruk kepalanya.


Agaknya pikirannya bertambah ruwet setelah mendapatkan wejangan barusan. Sehingga dia tak lagi dapat menyembunyikan perasaannya itu.


"Keberadaan gurumu sekarang, tidak sedang berada dialam ini."


"Nagatatmala!" Hyang Anantaboga tiba-tiba memanggil nama anaknya yang sebelumnya menjadi penjaga kitab Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.


"Sembah pangabekti, apakah rama memanggil ulun?" Mendadak sebuah sosok lain muncul.


Suro segera mengenalinya. Karena sosok itu adalah yang ditemui di ruang perpustakaan bawah tanah sebelumnya.


Hyang Anantaboga mengangguk pelan.


"Muridku membutuhkan bantuanmu putraku. Dialah yang menjadi sarana atas hukumanmu yang panjang akhirnya telah berakhir. Pinjamkan padanya kaca benggala milikmu padanya!" Hyang Anantaboga menunjuk ke arah Suro yang masih duduk bersimpuh.


"Sendiko dawuh, rama!" Nagatatmala segera mengeluarkan sebuah benda yang hanya selebar telapak tangan. Benda itu tak ubahnya sebuah cermin kecil yang disekelilingnya dibingkai sebuah logam berukir yang kemungkinan terbuat dari emas.


Benda itu kemudian diberikan ke arah Suro. Walaupun belum memahami maksud dari perintah Hyang Anantaboga kepada anaknya untuk memberikan benda tersebut, tetapi Suro tidak berani bertanya dan menunggu titah Hyang Anantaboga selanjutnya.


"Pergunakan pusaka tersebut untuk mengejar keberadaan gurumu. Mereka selalu berpindah-pindah tempat dengan leluasa. Semoga dengan pusaka itu sira bakal mampu menolong Sindurogo." Sang Hyang Anantaboga tersenyum ke arah Suro yang kembali menundukkan kepala sambil mengucapkan terima kasih yang tidak terukur banyaknya.


Setelah itu dua sosok di hadapan Suro menghilang.


Tinggal Suro sendiri yang menatap pusaka yang berada ditangannya itu.


"Kenapa tadi aku tidak bertanya terlebih dahulu cara menggunakannya?" Suro berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk jidatnya.


**


Note: Kidung diatas disandur dari Serat Wulangreh pupuh pertama tembang dhandhanggula. Karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV