
Setelah kuda milik mereka mati semua, terpaksa Dewa Rencong dan yang lainnya meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tepatnya berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.
"Biar saya bantu membawakan beban yang tetua bawa." Made Pasek menawarkan bantuan melihat Suro sibuk mengikat sendiri semua perbekalan dalam buntalan besar.
"Tidak, beban ini terlalu berat untukmu. Kamu tidak bakal kuat menanggungnya, biar aku saja yang mengangkatnya." Suro menolak tawaran Made Pasek sambil menepuk dadanya. Dia ingin membuktikan kepada mereka bahwa beban yang terlihat begitu besar bagi dia hanya perkara mudah. Meski dia membawanya sambil berlari kencang. Karena saat dia berlatih bersama Eyang Sindurogo beban yang dibawa naik ke puncak Gunung Arjuno berukuran berkali-kali lipat dari pada beban yang dia bawa saat ini.
Apalagi sekarang chakra sahasrara atau chakra mahkota miliknya sudah terbuka. Dengan kondisi itu tentu bukan perkara yang sulit jika hanya membawa beban yang tak seberapa, dibandingkan dulu saat masih berlatih di Gunung Arjuno. Sebab kondisi waktu itu tenaga dalam dia hanya sampai dititik nadi sushumna saja. Dengan kondisi itu saja dia sudah mampu mengangkat beban lebih berat.
"Memang pedang sebanyak ini akan nakmas gunakan untuk apa?" Dewa pedang menunjuk sebuah buntalan berisi seratus bilah pedang yang telah dibungkus rapi.
"Buat berjaga-jaga saja paman, kali saja Suro memerlukannya jika nanti dalam pertempuran besar."
Setelah semuanya siap mereka mulai berlari dengan ilmu meringankan tubuh. Made Pasek terlihat keteteran mengejar mereka bertiga. Suro yang membawa beban begitu berat terlihat begitu lincah menggerakan kakinya.
Mahadewi yang telah mendapatkan latihan langkah kilat dari Suro mengalami kemajuan ilmu meringankan tubuhnya, membuat dia bisa mengimbangi kecepatan Suro. Mereka terus berlari meski kondisi telah gelap.
Walaupun semua pendekar itu sudah selesai membuka chakra ajna atau mata ketiga, tetapi bukan berarti penglihatan mereka bisa sejelas seperti yang dirasakan Suro. Sebab di saat gelap seperti itu Suro justru mengandalkan pendengaran dan getaran ditanah yang dia rasakan melalui telapak kakinya.
Sehingga dengan itu dia bisa tetap berjalan tanpa terhalang gelapnya malam, meski dalam kondisi mata tertutup sekalipun. Bahkan bisa mengetahui apa saja yang ada didepan dan disekitarnya, baik pepohonan maupun semua binatang yang berjalan diatas tanah. Semua itu berkat ilmu yang diwariskan oleh Sang Hyang Anantaboga kepada dirinya.
Dewa Rencong berada paling depan sebagai penunjuk jalan, dibelakangnya Mahadewi. Suro lebih memilih mendampingi Made Pasek agar dia tidak ketinggalan terlalu jauh dengan yang lain.
Suro berlari sambil bersiul-siul entah senandung apa yang dia nyanyikan dalam siulannya. Mereka terus menyusuri jalan setapak yang membelah lebatnya hutan untuk menuju Kademangan Kalinyamat.
"Tetua Suro senandung apa yang tetua siulkan itu? Sepertinya begitu indah jika dikidungkan."
"Hahahaha...itu hanya untuk mengusir sepi. Senandung itu dulu sering aku dengar sewaktu aku masih ada di Gunung Arjuno. Dulu aku sering mendengarnya dialunkan dengan menggunakan seruling. Entah siapa yang mengalunkannya, tetapi aku menyukai alunan suara yang berasal dari seruling itu. Entah mengapa aku jadi teringat dengan Gunung Arjuno. Apa sebaiknya aku mengajak Maung jika ada waktu ke Gunung Arjuno?"
"Mohon maaf tetua sejak tadi beberapa kali murid mendengar tetua menyebut Maung sebenarnya maung itu orang atau maung yang dimaksud adalah benar-benar harimau sesuai namanya?"
Mereka terus berlari mengikuti Dewa Rencong yang berada didepan berdekatan dengan Mahadewi.
"Tentu saja seekor harimau yang kedua taringnya mencuat keluar seperti dua pasang pedang."
"Maksud tetua seekor harimau bertaring pedang yang besarnya menyamai sapi dewasa itu?"
"Benar sekali, persis sesuai dengan gambaranmu."
"Bukankah itu hewan yang terkenal dengan keganasannya yang sangat susah ditundukkan tetua. Tidak pernah aku mendengar ada yang mampu menaklukkan kecuali tetua barusan."
"Mungkin saja tetapi tidak denganku. Maung sangat penurut denganku. Dia pintar sekali berburu binatang liar. Biasanya aku bersiul untuk memangilnya. Jika dia ingin tidur biasanya aku juga memainkan senandung yang barusan aku siulkan."
"Mengagumkan sekali."
Saat mereka sedang berlari sambil berbincang-bincang Made Pasek melihat di kejauhan Dewa Rencong sedang menghentikan langkahnya dan mematung ditengah jalan.
"Kenapa itu Pendekar Dewa Rencong berhenti didepan?" Made Pasek berteriak membuat Suro ikut memperhatikan dengan apa yang dilakukan Dewa Rencong. Jalan yang berada didepan Dewa Rencong agak menurun sehingga dari arah Suro tidak kelihatan jelas.
Dewa Rencong berada didepan sejauh lebih dari dua puluh tombak. Dia terlihat berdiam diri sambil memandangi sesuatu ditanah. Disampingnya Mahadewi berteriak histeris.
"Ada apa paman pendekar?" Suro berteriak dari arah belakang, dia begitu penasaran melihat Mahadewi bisa berteriak begitu histeris tentu sesuatu yang sangat dahsyat. Salah satu contoh adalah jika dia melihat seekor tikus. Bagi Mahadewi dia menganggab hewan itu begitu menjijikan dan juga begitu menakutkan dengan kedua gigi depannya yang bisa mengigit.
Dewa Rencong hanya menoleh ke belakang ke arah Suro, tetapi dia tidak menjawab. Justru kembali menatap sesuatu yang ada dihadapannya. Dengan penuh penasaran Suro mencoba melihat dengan merasakan getaran ditanah. Setelah dia merasakan getaran tanah lebih cermat dia melihat sesuatu tumpukan di depan Dewa Rencong tetapi dia tidak begitu yakin dengan apa yang dia lihat dengan menggunakan tehnik barusan.
Walau apa yang dia liat dengan getaran tanah hampir tidak pernah meleset, tetapi entah kenapa dia tidak begitu yakin. Kemudian dia mempercepat langkahnya menuju tempat dimana Dewa Rencong berdiri.
Walau dalam gelapnya malam dia dapat melihat apa yang menumpuk ditengah jalan setapak itu. Mahadewi sudah mutah-mutah tidak kuat melihat apa yang ada didepannya. Begitu juga Made Pasek begitu melihat apa yang ada didepan Dewa Rencong dia langsung mutah-mutah kepalanya langsung pusing dan bersender di bawah pohon.
Dewa Rencong tidak mengatakan sepatah katapun. Suro segera meletakkan beban bawaan yang ada dipunggungnya. Dia mulai mendekati tumpukan yang agak menggunung itu. Sesuatu yang seperti di sengaja dilakukan seseorang atau sesuatu makhluk yang memiliki tujuan tertentu.
Kemungkinan itu dilakukan untuk menakut-nakuti mereka berempat. Karena orang yang melewati jalan itu hanya mereka saja tidak ada orang lain. Dan semua tentu dilakukan dengan sangat cepat dan belum lama terjadi.
"Benar itu adalah mereka semua nakmas." Dewa Rencong berkata pelan sambil menghela nafas beberapa kali.
Suro berjongkok didepan tumpukan yang menggunung itu. Terlihat dia sedang memeriksa, mencoba mengenali tiap bagian yang mungkin saja dia masih bisa mengenalinya dengan apa yang di lihatnya. Sebab apa yang dia lihat itu adalah tumpukan potongan anggota tubuh dari prajurit Gelang-gelang yang belum lama dibiarkan hidup oleh Suro.
Suro seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat bagaimana ada orang yang begitu kejam sanggup melakukan pekerjaan ini.
Dia masih mengeleng-gelengkan kepala seakan tidak mempercayai apa yang dia lihat sejak tadi. Bahkan saat dia melihat dengan merasakan getaran ditanah dia bisa melihat jelas, tetapi hatinya masih tidak bisa mempercayainya seperti sekarang pun meski sudah didepan matanya sendiri.
"Inilah dunia persilatan nakmas. Ini hanyalah permulaan aku yakin akan banyak lagi korban tidak bersalah yang harus meregang nyawa. Apalagi jika Medusa benar-benar menjadi penguasa di tanah Javadwipa ini. Aku yakin tanah ini akan banyak bermandikan darah rakyat yang tak berdosa."
"Paman bagaimana ada orang begitu kejam membuat seratus lebih prajurit dicincang menjadi tumpukan mayat yang menggunung seperti ini?"
"Mereka sedang memberi peringatan kepada kita nakmas, agar jangan mencampuri urusan mereka. Ini adalah gaya yang biasa digunakan aliran hitam. Mereka membuat sesuatu yang sangat sadis yang bahkan orang normal seperti kita tidak mampu membayangkan bagimana ada manusia bisa sekejam itu."
"Mereka bukan manusia lagi nakmas. Mereka adalah jiwa-jiwa iblis yang telah merasuki tubuh-tubuh manusia. Jiwa kemanusiaannya sudah tak tersisa dalam hatinya. Mereka para penganut aliran hitam biasanya sengaja menengelamkan dirinya dalam kegelapan dalam hatinya. Semua itu mereka lakukan agar mendapatkan kekuatan besar yang bisa diperoleh dengan cepat."
Dewa Rencong menepuk-nepuk bahu Suro mencoba mengkuatkannya. Dia sudah puluhan tahun malang melintang dalam dunia persilatan tentu sudah memahami tabiat para aliran hitam. Mereka tidak peduli dengan banyaknya korban jiwa yang ditimbulkan asal kemenangan ditangan mereka.
"Bagi mereka, para prajurit ini adalah para penghianat. Karena telah lari dari tugas dan membocorkan semua yang mereka tahu kepada kita."
"Jadi jangan jadikan kematian mereka sia-sia nakmas kita akan menuntut balas kepada mereka semua yang telah tega melakukan ini semua. Silahkan nakmas segera kuburkan mereka. Agar jangan sampai dijadikan santapan para hewan buas. Selain itu mereka berdua juga sudah tidak tahan melihat pemandangan seperti ini." Dewa Rencong berkata sambil menunjuk Mahadewi dan Made Pasek yang masih saja mutah-mutah melihat pemandangan yang begitu sadis.
Suro mengangguk kemudian mulai mengerahkan tehnik bumi miliknya.Semua mayat yang menggunung itu akhirnya dikubur ke dalam tanah dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan jurus perubahan bumi.
Setelah selesai menguburkan mayat, Suro segera memberikan pil obat kepada Mahadewi dan Made Pasek yang terlihat begitu pucat.
"Siapapun yang telah melakukan ini akan aku pastikan menangung resikonya nakmas."
"Benar paman sebaiknya kita secepatnya menyusul ke Banyu Kuning."
Setelah Mahadewi dan Made Pasek telah merasa pulih mereka segera melanjutkan perjalanannya. Menuju Kademangan Kalinyamat untuk selanjutnya terus menuju Banyu Kuning.
**
Kabar tentang pendekar yang mampu membunuh beberapa siluman segera tersebar dengan cepat. Telik sandi Kerajaan Kalingga tidak menyia-nyiakan hal itu. Mereka segera melaporkan kejadian tersebut kepada Mahapatih Lembu Anabrang yang memimpin pasukannya langsung.
"Ada apa prajurit kenapa kamu berani sekali mengganggu pertemuanku dengan para senopati?" Mahapatih Lembu Anabrang menghardik ke arah prajurit yang tiba-tiba masuk ke dalam pertemuannya bersama para senopati perang Kerajaan Kalingga.
"Sembah pangabekti sinuwun Mahapatih. Mohon ampun paduka Mahapatih Lembu Anabrang saya ingin mengabarkan sesuatu hal yang sangat penting yang sebaiknya Mahapatih mengetahuinya."
"Hal penting apa yang kamu maksud prajurit?"
"Mohon ampun paduka Mahapatih saya mendapat kabar dari Ujung Para bahwa ada pendekar yang telah berhasil membasmi siluman ular yang telah mengamuk dan menghancurkan kapal-kapal yang melewati selat Juwana Paduka Mahapatih. Kejadian itu terjadi di tengah lautan. Selain itu ada peristiwa lain kabarnya pendekar itu juga telah membunuh dua siluman kera yang telah menyerang Kademangan Gelagah Wangi sejak beberapa hari yang lalu."
"Akhirnya ada yang mampu membunuh para siluman itu. Ini baru kabar baik. Siapa pendekar yang berhasil membunuh para siluman itu?"
'Menurut telik sandi namanya adalah Pendekar Gemblung."
"Haa! Pendekar Gemblung? Apa aku tidak salah mendengarnya?"
"Ampun Paduka Mahapatih benar nama itu sesuai dengan warta yang saya dengar dari para telik sandi. Namanya adalah Pendekar Gemblung." Prajurit itu menyembah ke arah Mahapatih didepannya.
"Aku baru mendengar ada nama pendekar gemblung. Siapa dia sebenarnya? Aku mengetahui semua nama para pendekar pilih tanding dari tlatah Swarnabhumi, Sulawesi, negeri champa, bahkan negeri Shinhaladwipa (Sri langka) sekalipun aku mengenalnya. Apalagi cuma pendekar yang ada di tanah Javadwipa ini tentu aku mengenalnya. Tetapi mengapa pendekar gemblung baru kali ini aku mendengarnya. Siapa dia sebenarnya?"
"Siapa diantara kalian yang pernah mendengar nama pendekar ini?" Pertanyaan itu ditunjukan kepada seluruh senopati yang duduk didalam tenda tersebut.
Semua senopati mencoba mengingat-ingat nama tersebut tetapi nama itu memang benar-benar tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Saat semua terdiam tidak ada yang menjawab seorang senopati berdiri. Dia bernama senopati Jio Ludung. Mahapatih Lembu Anabrang tersenyum akhirnya ada yang berdiri untuk menjawab pertanyaanya.
"Ampun Mahapatih jika seorang Mahapatih yang memiliki wawasan seluas samudera sekalipun tidak mampu mengenalinya, tentu kami yang hanya memiliki wawasan cupet(sempit) hanya selebar daun kelor ini tentu tidak akan mengetahuinya." Senopati Jio Ludung menjura terlebih dahulu sebelum kembali duduk. Setelah mendengar perkataan senopati barusan Senyum Mahapatih langsung sirna. Ternyata bukan jawaban hanya ucapan seorang penjilat yang sedang mencari kesempatan untuk bisa menjilat kepada Mahapatih.
"Kemungkinan nama itu hanyalah samaran belaka Mahapatih. Pendekar ini agaknya tidak ingin dikenal. Nama itu seperti asal saja disebut." Senopati Aryo Seno mencoba mengutarakan pendapatnya.
"Benar juga apa yang diucapankan adimas Aryo Seno. Nama itu kemungkinan besar adalah nama samaran. Jika siluman kera yang menyerang Kademangan Gelagah Wangi itu memang benar telah berhasil dibunuh aku yakin Ki Demang Sariyoso mengetahuinya."
"Mohon ampun Paduka Mahapatih saya ingin menambahkan laporan agar Paduka Mahapatih bisa menemukan pendekar tersebut. Karena menurut telik sandi kabarnya dia sedang menuju Kademangan Kalinyamat."
"Mereka para telik sandi juga mendengar kabar pasukan pembunuh sembilan racun yang berasal dari Perguruan Sembilan Selaksa racun dan juga pasukan siluman sedang memburu pendekar itu. Hal itu dikarenakan kegagalan pasukan Gelang-gelang yang telah gagal membunuh pendekar tersebut."
"Semakin menarik saja warta yang kamu dapatkan. Sepertinya Medusa Hitam mulai ketakutan dengan pendekar itu. Ini bisa menjadi hal yang bagus untuk kita."
"Untuk menghemat waktu kirim salah satu utusan kepada Ki Demang Gelagah Wangi mengenai identitas orang yang telah menyelamatkan kademangannya itu."
"Sendiko dawuh Mahapatih saya langsung undur diri. Sembah pangabekti sinuwun Mahapatih!" Prajurit itu mundur dengan jalan berjongkok setelah menyembah beberapa kali sebelum keluar dari ruangan itu.
"Jika bisa menjadikannya berada dipihak kita, maka dia tentu bisa menjadi kunci kemenangan pasukan kita dipertempuran selanjutnya."
Pertempuran panjang telah dilalui Pasukan Kerajaan Kalingga ini, sebab mereka harus mundur begitu jauh dari Kadipaten Banyu Kuning sampai didaerah Kademangan Tajug atau sekarang disebut kudus.
Bahkan saat berada di daerah Rahtawu puluhan ribu pasukan mereka telah terbunuh. Rahtawu sendiri berada disebelah selatan dari gunung yang sekarang memiliki nama Gunung Muria. Rahtawu memiliki arti banjir darah, kini daerah tersebut benar-benar dibanjiri darah dari prajurit Kerajaan Kalingga.
Sesuatu peristiwa yang akhirnya memaksa Mahapatih membuat keputusan berat untuk memerintahkan pasukannya mundur lebih jauh. Beruntung setelah sampai di Kademangan Tajug atau kudus, pasukan dari Medusa Hitam berhenti mengejar.
Pasukan siluman benar-benar membuat kerepotan prajurit Kalingga. Padahal sebelum keberangkatannya itu mereka sudah sangat yakin mampu membumi hanguskan Perguruan Ular Hitam. Tetapi apa yang terjadi sekarang sangat lain dari apa yang bisa mereka bayangkan.
"Senopati Aryo Seno!"
"Sembah dalem Mahapatih!"
"Kamu yang menyusul ke Kademangan Kalinyamat cari pendekar tersebut. Ajaklah dia agar mau menjadi bagian pasukan kita, apapun itu caranya. Jika perlu iming-imingi dengan hadiah sebanyaknya. Satu lagi kalian kesana jangan menggunakan atribut Kerajaan Kalingga, tetapi dengan menyamar agar tidak diketahui pasukan dari Medusa Hitam."
"Sendiko dawuh Mahapatih!"