SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 193 Kota Mati part 2



Dewa Rencong terlihat mengaruk-garuk kepalanya.


"Ada apa paman seperti sedang kebingungan?" Suro melihat Dewa Rencong bersikap aneh saat menatap lorong didepan mereka yang begitu gelap.


"Aku ingin melihat isi didalam lorong besar ini, tetapi lorong ini terlalu gelap. Aku bahkan tidak akan mampu melihat jari jemariku sendiri, jika aku tetap meneruskan melangkahkan kakiku berjalan ke arah sana."


"Sebentar paman, mungkin aku bisa membantunya." Suro kemudian terdiam.


Sesaat kemudian dari tubuhnya memancar cahaya kehijauan yang mampu menerangi sejauh lebih dari tujuh langkah disekitar Suro. Cahaya itu berasal dari zirah kavacha miliknya.


Bahkan saat Suro mulai memasuki lorong, cahaya itu terasa lebih terang dari pada sebelumnya. Cahaya itu mampu menerangi seperti saat Suro berada diperpustakaan eyang Sindurogo.


"Mengagumkan apa yang kau lakukan bocah, aku tidak mengira kau mampu melakukan seperti ini. Apa saja sebenarnya yang bisa kau lakukan? Semua hal yang bisa kau lakukan seperti bukan lumrahnya manusia saja?"


Suro hanya menyengir mendengar ucapan Dewa Rencong barusan.


"Paman jadi memeriksa ke dalam lorong ini atau hanya berdiri disana?"


Mereka kemudian masuk ke dalam lorong yang cukup leluasa untuk dapat mereka masuki sambil berjalan beriringan. Keseluruhan struktur bangunan itu dibentuk dari tumpuk-tumpukan batu besar. Kondisi itu mengingatkan cara pembuatan sebuah piramid ataupun sebuah candi.


"Dengan melihat struktur bangunan ini aku yakin yang membuat bukanlah para makhluk yang barusan kita temui. Apalagi patung raksasa yang berada disepanjang jalan seperti memperlihatkan seseorang yang sangat mirip seperti kita."


"Apa yang sebenarnya telah terjadi pada alam ini? Sepertinya telah terjadi pemusnahan masal sebelum alam ini dipenuhi hawa kegelapan." Dewa Rencong menggumam sambil menatap dinding yang dipenuhi dengan simbol-simbol tertentu semacam tulisan bergambar.


"Lalu makhluk yang kita temui itu berasal dari mana paman, jika mereka bukan penghuni asli alam ini?" Suro yang berada disamping Dewa Rencong ikut berbicara.


"Entahlah bocah aku tidak mampu menemukan jawabannya. Ini benar-benar jauh diluar penggambaran yang pernah kalian ceritakan mengenai alam ini."


"Suro juga tidak mengira menemukan sesuatu yang mengejutkan seperti ini paman. Karena waktu itu kita hanya masuk dalam waktu yang cukup singkat."


"Suro juga tidak mengira jika di alam ini dahulunya ada penghuninya. Walaupun sekarang juga ada penghuni lain yang kemungkinan berasal dari kekuatan kegelapan. Tetapi Suro setuju sesuai pemikiran paman, jika alam ini dulunya dihuni oleh makhluk yang mirip seperti kita."


Mereka terus menyelidiki kota mati diluar benteng. Setelah menyelidiki cukup lama, mereka akhirnya yakin, jika dahulu kala, negeri itu seperti juga di tempat asal mereka. Tetapi mereka menyadari jika penghuni asli alam itu telah musnah sejak lama. Entah sudah berapa ribu tahun yang lalu.


Mereka juga meyakini kala itu masih banyak pepohonan dan juga para binatang. Walaupun binatang yang di alam itu, mungkin tidak sama. Tetapi dengan peninggalan yang ada, mereka cukup yakin, jika makhluk penghuni alam itu adalah sebangsa makhluk yang mirip manusia. Semua itu musnah seiring datangnya hawa kegelapan yang meracuni alam itu.


Mereka dapat mengetahui mengenai hal itu, melalui patung dan juga setelah menemukan gambaran kehidupan kala itu, melalui ukiran yang terpahat di beberapa tempat.


"Seperti dugaanku sebelumnya, dengan melihat patung seperti seorang bangsawan yang berjejer disepanjang jalan, aku yakin dahulu kala alam ini dihuni oleh para manusia atau semacamnya yang mirip dengan kita." Dewa Rencong mencoba membuat rangkuman dari temuan yang mereka lakukan dengan cepat. Sebab mereka harus bekejaran dengan waktu untuk bisa segera menemukan Dewa Pedang dan tetua Dewi Anggini terlebih dahulu.


"Tetapi entah sejak kapan segalanya berubah menjadi seperti ini, kita belum mendapatkan jawabannya? Selain itu, entah masih ada atau tidak para manusia di alam ini yang berhasil selamat? Namun untuk mendapatkan jawaban itu, bukanlah pekerjaan yang mudah." Dewa Rencong menatap bangunan didepan mereka yang baru saja dimasuki.


"Jawabannya mudah bocah gemblung, seperti juga gurumu eyang Sindurogo yang tiba-tiba sudah berada di Banyu kuning. Mereka pasti memiliki cara lebih praktis dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan untuk memasuki alam ini."


Mendengar jawaban barusan dari Dewa Rencong membuat Suro mengangguk-anggukan kepala. Mereka terus berjalan diantara reruntuhan bangunan dan juga patung sepanjang jalan yang mereka lalui.


"Apakah tidak sebaiknya kita menerobos masuk ke balik tembok itu sekarang, paman?" Suro menunjuk ke arah benteng yang berada dikejauhan. Benteng itu seolah menjadi pembatas antara kota kerajaan dengan kawasan inti dari kota mati atau dari kawasan istana kerajaan.


"Benar, aku rasa untuk sekarang sudah cukup kita menyelidiki kota mati ini. Sekarang waktunya kita menyelidiki apa yang disembunyikan di balik benteng besar itu?" Pandangan Dewa Rencong fokus ke arah kepulan asap yang membumbung tinggi ke langit. Kemungkinan besar sumber dari asap itu berada di balik benteng.


Mereka kemudian melesat cepat ke atas dari sisi ujung yang tidak ada penjaganya. Seandainya para penjaga itu sempat melihat, maka mereka seolah hanya seperti melihat kilasan bayangan saja. Sebab mereka berdua bergerak dengan sangat cepat.


Setelah sampai dibalik tembok mereka segera bersembunyi diantara reruntuhan bangunan. Dibalik benteng itu ternyata ada kota lagi yang lebih megah dari pada sebelumnya. Bentuk bangunannya juga berbeda. Sebab seluruh bangunan yang ada memiliki kubah, pilar dan bentuknya kebanyakan bertingkat.


Kembali mereka dibuat terkagum-kagum dan bentuk dan juga besarnya bangunan yang ada. Bangunan yang berdiri begitu padat di tempat itu, sehingga hampir tidak ada tanah yang kosong. Bahkan ada jembatan yang menghubungkan di antara bangunan satu dengan yang lainnya.


Suro dibuat terpana dengan bentuk bangunan yang begitu besar. Sebab bangunan yang menjadi tempat mereka sembunyi berdiri ditopang oleh pilar-pilar besar yang menjulang tinggi ke atas lebih dari dua tombak.


Seluruh bangunan itu dibuat dari jenis batu marmer warna putih. Pusat dari seluruh bangunan itu pada sebuah bangunan yang paling megah seakan sebuah kastil. Bangunan itu juga dilengkapi benteng yang menjulang tinggi. Dari bangunan itulah hawa kegelapan berasal.


Beberapa kali mereka harus bersembunyi disebabkan para makhluk yang kakinya seperti burung berjalan didekat mereka.


Mereka terus menyusup untuk menjangkau bangunan termegah yang berada di tengah. Mereka berniat menyelidiki hawa kegelapan yang keluar dari kubah utama ditengah kastil itu.


"Sebenarnya apa yang tersimpan ditempat itu?" Dewa Rencong menatap bangunan tinggi itu dari jauh.


Saat mereka hendak meneruskan langkahnya lebih dari tiga lusin makhluk yang memiliki sayap seperti kelelawar kembali datang. Kedatangan mereka kali ini agak berbeda dari sebelumnya, sebab di setiap pundaknya terlihat sedang memanggul sesosok tubuh manusia.


Mereka mendarat didalam bangunan paling megah diantara semua tempat itu. Bangunan yang memiliki kubah besar dengan pancaran hawa kegelapannya naik membumbung tinggi hingga ke langit.


"Untuk apa mereka membawa tubuh manusia ke tempat ini?" Dewa Rencong kaget dengan apa yang dia lihat.


"Apakah mungkin mereka dijadikan tumbal, paman? Atau justru tubuh mereka dijadikan wadak atau tempat untuk menampung kekuatan kegelapan, seperti yang dilakukan Bhuta kala waktu itu?"


"Benar juga apa yang kau katakan bocah. Bisa jadi semua makhluk yang setengah manusia itu, awalnya adalah manusia."


"Untuk membuktikan mengenai hal itu Suro akan menghisap kekuatan salah satu makhluk itu." Suro menatap Dewa Rencong untuk meminta persetujuan.


"Lakukan."