SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 125 PENAMPAKAN YANG MENGEJUTKAN



"Apa ini? Kenapa diatas awan ada benda sebesar ini?" Kini di hadapan Suro terhampar sebuah pemandangan yang sangat mencengangkan. Sebuah penampakan benda dengan ukuran yang sangat besar terpampang didepan matanya. Dari atas benda yang sangat besar itulah lesatan siluman yang tidak ada habisnya berasal.


Siluman yang berada diatas awan hitam itu sesuai dugaan Suro memang sangat banyak. Tetapi terasa aneh mereka secara terus menerus terbang memutari benda raksasa itu seperti sedang menunggu perintah. Seakan setelah mendapatkan giliran mereka, segera meluncur turun kebawah menembus awan hitam dibawah benda tersebut.


Dengan begitu banyaknya siluman yang terus menerus meluncur kebawah, seakan tidak mengurangi sedikitpun jumlah siluman yang bergerombol menutupi bagian atas dari sebuah bangunan yang berada ditengah-tengah benda yang sangat besar itu. Karena begitu banyaknya para siluman yang terbang berputar, membuatnya seperti sebuah putaran tornado yang sangat besar.


'Itu adalah penampakan sebuah Wilmana tuanku. Awan hitam yang ada dibawah wilmana disebut laghima. Walaupun sekilas seperti awan hitam sebenarnya itu adalah sebentuk energi murni. Laghima inilah yang sebenarnya menerbangkan benda sebesar Wilmana, sehingga mampu terbang setinggi ini.


'Entah siapa yang mampu mengendalikan wilmana sebesar ini. Karena sesungguhnya kekuatan laghima yang diperlukan untuk mengangkat benda ini harus dipancing dengan sebuah kekuatan yang sangat besar dan tidak mungkin dimiliki oleh seorang manusia.' Kavacha yang menyaksikan wahana terbang yang begitu besar dari mata Suro ikut terkejut.


'Mengapa begitu besar wilmana ini kavacha?' Tubuh Suro terus melesat menuju ke wilmana yang disebut Kavacha. Benda itu sedikit banyak menyerupai jung atau kapal yang sangat besar. Hanya saja tidak ada layar ditengahnya justru ada semacam bangunan yang tinggi.


'Aku masih ingat ini adalah Wilmana puspaka sebuah wilmana milik raja bangsa detya atau raksasa yang dulu pernah dikalahkan oleh Sri Rama. Aku tidak menyangka setelah sekian puluh ribu tahun aku tidak melihatnya, kini telah hadir disini.'


'Sekarang lebih baik kamu memperkuat racun apiku bocah. Jika benda sebesar gunung ini yang akan kau hancurkan, maka kamu harus memberikan chakra yang lebih banyak kepada bilah pedang ini.' Lodra menyela setelah menyaksikan apa yang dilihat Suro, dia merasakan sebuah kekhawatiran. Tetapi dia tidak menjelaskan hal yang dia khawatirkan itu kepada Suro.


"Entah siapa yang memiliki istana terbang sebesar gunung ini, lebih baik aku menghancurkannya dari sekarang saja. Lodra aku akan menyerap kekuatan Sang Hyang Batara Surya yang sangat berlimpah disini dan juga kekuatan para siluman. Serap semua kekuatan itu dan simpan dalam bilah pedangmu!" 


'Baik bocah aku mendengarkan perintahmu. Memang sebaiknya kita segera menghancurkannya sebelum penguasa dari benda ini menyadari kedatangan kita. Aku yakin pemilik wilmana ini bukanlah sesosok makhluk yang kekuatannya bisa kita remehkan. Sebaiknya dirimu dapat memberikan kekuatan yang sangat besar agar mampu membuat bilah pedang ini setara dengan kekuatan pusaka Dewa.'


Dalam kondisi meluncur ke arah wahana terbang yang disebut wilmana, Suro mulai menyerap kekuatan matahari dengan lebih maksimal. Dengan kondisi dirinya berada diatas awan dan zirah kavacha yang terlihat menutupi tubuhnya, membuat Suro mampu mengumpulkan chakra yang sangat besar lebih besar daripada yang pernah dia lakukan sebelumnya.


Selain itu dia juga tidak membiarkan siluman yang dalam jangkauannya dibiarkan lolos, setiap lesatan asap yang turun dari atas wilmana dia serang dan dihisap dengan tehnik empat sage.


'Terus bocah hisap semua siluman itu sebanyak mungkin! Aku sangat menyukai ini. Dengan kekuatan sebanyak ini akan ada peluang bagiku meningkatkan kekuatan bilah pedangku sejajar dengan senjata Dewa.' Lodra begitu semangat menyerap energi chakra dari tangan Suro yang menggenggam erat gagang pedang itu.


Semakin mendekati wahana terbang itu semakin banyak siluman berseliweran disekitar tubuhnya yang terus terbang melesat. Hal itu tentu saja tidak disia-siakan oleh Suro, semua dilibas amblas dalam putaran energi dari tehnik empat sage.


Walaupun para siluman itu begitu banyak, sehingga mirip kawanan kelelawar yang baru saja keluar dari sarangnya. Tetapi karena begitu kuatnya pusaran energi yang dikerahkan Suro membuat para siluman itu tak dapat berkutik sebelum menyadari dirinya amblas dalam telapak tangan Suro. Bahkan awan hitam yang disebut kavacha sebagai laghima ikut terhisap.


Dengan terhisapnya awan hitam itu serta merta tubuh Suro merasakan sesuatu yang lain. Dia merasa tubuhnya berubah begitu ringan seakan tidak memiliki berat badan. Karena itulah mengapa kini tubuhnya melesat semakin bertambah cepat daripada sebelumnya. 


"Perasaanku saja atau memang awan hitam ini membuat tubuhku begitu ringan."


'Energi laghima awalnya berasal dari Maharesi yang sangat sakti. Dia yang pertama kali mampu membuka tabir kekuatan yang memungkinkan tubuhnya mampu terbang dan hidup berpuluh purnama tanpa pernah menyentuh tanah.'


'Kemudian dia memiliki cara khusus memanfaatkan energi itu untuk digunakan menerbangkan benda apapun. Energi itu disimpan dan dimurnikan dalam suatu wadah khusus yang membuat energi itu tetap diam didalam wadah, kecuali ketika sedang digunakan untuk menerbangkan wahana tersebut.'


'Kekuatan laghima yang mampu menerbangkan benda sebesar gunung ini dikumpulkan dari milik para bangsa dhitya atau raksasa yang berjumlah jutaan.' 


Dia semakin banyak menyerap kekuatan murni para bangsa raksasa dan para siluman yang kini mulai menyadari kehadirannya. Mereka para siluman mulai menyerang Suro, tetapi hal itu justru membuat dia semakin banyak menghabisi para siluman itu.


Dengan bertambahnya energi yang terserap dalam bilah pedang membuat pedang itu memancar sebuah sinar terang dan melingkupi dari ujung bilahnya dan terus menuju ke pangkal. Setelah itu bilahnya yang sebelumnya berwarna keemasan telah berubah kembali.


Bilah pedang itu sekarang memiliki wujud yang menyerupai sebuah kristal yang sangat bening. Bahkan pantulan sinar matahari membuatnya berkilauan seperti berlian.


'Aku semakin menyukaimu bocah. Keputusanku yang tidak membunuhmu sungguh keputusan yang sangat tepat. Akhirnya berkat dirimu aku berhasil mencapai kekuatan setingkat pusaka Dewa. Sudah sangat lama aku tidak melihat wujudku yang indah ini.' Lodra begitu bersemangat setelah wujud bilah pedangnya berubah menjadi sebuah pedang kristal.


Setelah melesat dalam kecepatan yang mengagumkan, akhirnya dia sampai ditepian wahana terbang yang sangat besar itu.


"Ternyata benda ini jika dilihat dalam jarak dekat mirip sebuah istana raja begitu megah dan luas. Makhluk apa sebenarnya yang memiliki benda seperti ini?" Suro memandang ke seluruh area yang begitu luas. 


Kehadirannya di wilmana sudah ditunggu para siluman. Siluman itu seperti mendapatkan perintah, segera setelah itu secara serempak berduyun-duyun turun dari atas bangunan ditengah wilmana. Sebelumnya mereka terbang turun menyebar dari berbagai sisi kini semua siluman itu meluncur ke satu arah dimana Suro sekarang sedang berdiri.


'Sekarang bocah kerahkan seluruh kekuatan tebasan terkuatmu!' Lodra yang menyadari bahaya segera memberikan perintah untuk menebaskan bilah pedangnya.


"Tebasan Sejuta Pedang!"


Bersama kekuatan tebasan Suro meledak dari bilah Pedang Pembunuh iblis, sebuah kekuatan api hitam yang mengerikan. Terjangan api yang keluar itu membentuk kepala naga raksasa yang sangat besar. Mulut naga raksasa itu menganga begitu lebar seakan hendak mencaplok sebuah gunung. 


Lesatan asap dari para siluman yang menerjang ke arah api hitam itu langsung hilang terbakar dan berubah menjadi wujud siluman. Tetapi wujud siluman itupun segera ditelan dalam kobaran api yang tidak bisa padam kecuali lawannya benar-benar musnah menjadi abu 


"Mengamuklah Lodra!"


Seperti nama aslinya racun api membuat para siluman yang terkena api itu tidak ada yang selamat. Semua terbakar habis. Kobaran api itu tidak hanya menghabisi para siluman yang hendak menyerangnya, tetapi juga menerjang ke arah bangunan tinggi di tengah-tengah wilmana. Dan juga ke seluruh siluman yang sedang terbang berputar diatas bangunan itu.


Para siluman itu seketika musnah tidak tersisa sama sekali. Semua berjatuhan tanpa terkecuali, bahkan saat sampai dibawah sudah berupa abu.


"Siapa yang berani mengusik istanaku!" Sebuah suara mengelegar begitu kuat bahkan Suro pun terhempas kebelakang begitu jauh.


Diatas puncak bangunan ditengah-tengah Wilmana itu, dari kejauhan kini terlihat sebuah sosok yang sedang terbang. Dengan jubahnya yang besar berkibar-kibar tertiup angin. Begitu juga riap-riapan rambutnya yang terurai panjang.


"Eyang guru?" Dari kejauhan dia menyadari sosok yang sedang melayang itu seperti sosok yang sangat dia kenal.


'Hati-hati bocah sosok yang kau sebutkan itu sedang menggenggam Pedang Chandrahasa atau pedang bulan. Sebuah pedang sekelas pusaka Dewa milik Rahwana. Dan aura kekuatan yang melingkupi tubuhnya bukanlah milik manusia. Bahkan lebih gelap dari iblis Kalipurusha sekalipun. Baru kali ini aku merasakan sebuah kekuatan yang begitu gelap.' 


Lodra yang pernah dalam genggaman Pedang iblis tentu sudah merasakan betapa sesatnya sumber kekuatan iblis kali. Jika dia sampai mengatakan tidak pernah merasakan gelapnya kekuatan yang dia lihat kali ini, tentu sebuah hal yang sangat buruk.