
"Siapa sebenarnya kau bocah? Berani sekali membuat kegaduhan di perguruan ini?" Seorang lelaki gempal dengan berewok cukup lebat dengan perawakan tinggi besar membentak Suro dengan cukup keras.
Dia bertanya ke arah Suro dengan mata melotot. Meskipun mereka telah mengepung tidak satupun yang berani melangkah kan kakinya untuk lebih mendekat. Mereka mengepung dalam jarak hampir satu tombak setengah.
"Aku hanya pengembara yang ingin berkunjung di perguruan ini!" Suro membalas tatapan lelaki gempal itu dengan sebuah senyuman.
"Pengembara apanya! Jelas-jelas kau memakai pakaian milik Pedang Surga. Apa tujuanmu datang di perguruan ini?"
Meskipun Suro masih terlihat begitu muda, tetapi dia datang dengan terbang menaiki sebuah bilah pedang membuat mereka menaikan kewaspadaannya dan tidak berani bertindak gegabah. Apalagi harimau yang berada disampingnya terlihat begitu mengerikan.
"Aku hanya ingin bertemu dengan ketua kalian iblis tongkat. Apakah dia sedang ada di perguruan?"
"Apa urusannya tetua Pedang Surga bertanya mengenai ketua?" Lelaki itu kembali menaikan nada ucapannya.
"Aku hanya ingin memastikan ketua dan seluruh pasukan Perguruan Tengkorak Merah yang ikut dengannya telah kembali ke perguruan atau belum? Setelah sebelumnya mereka ikut dalam penyerangan perguruan cabang kami di Banyu Kuning?"
"Bukan urusanmu ketua kami sudah kembali atau belum!" Lelaki itu kini berbicara dengan membentak-bentak. Tetapi Suro menanggapi ucapan lelaki didepannya itu, tetap dengan tenang. Satu senyuman masih tersungging di wajahnya.
"Ini menjadi urusanku, karena ketua perguruan kalian telah ikut serta menghancurkan Perguruan Pedang Halilintar."
"Seandainya ketua memutuskan untuk membumi hanguskan perguruan pusat Pedang Surga sekalipun, kami akan tetap mendukungnya, Benar tidak? Hahahahaha....!"
"Benar! Hahaha...!" Mereka serentak tertawa terbahak-bahak. Tindakan Suro yang datang sendirian ke tengah-tengah perguruan bagi mereka sebagai sebuah tindakan paling konyol. Sama saja tindakan itu dengan menyerahkan nyawanya sendiri.
Suro tersenyum sambil sibuk menenangkan Maung yang hendak menghabisi mereka semua.
"Kau pikir dengan membawa kucingmu itu akan membuat kami ketakutan. Akan aku pastikan hewan peliharaanmu menjadi hiasan dinding perguruan kami!"
Suro tetap tersenyum mendengar lelaki tambun sambil menatap ke seluruh penjuru. Orang-orang yang berdatangan semakin banyak, membuat Suro tidak ada celah lagi bagi dirinya untuk kabur.
Mereka tidak mengetahui jika Suro memang datang tidak untuk kabur, sebelum dia memastikan terlebih dahulu bahwa sisa pasukan Medusa tidak ada yang kembali ke perguruan masing-masing.
"Aku katakan sekali lagi, aku datang ke perguruan ini hanya sekedar ingin mengetahui apakah ketua sudah kembali atau belum? Jika dia ada, aku ingin meminta tanggung jawabnya. Karena keputusannya ikut dalam penyerangan di Banyu Kuning, sehingga membuat korban jiwa yang tidak terhitung banyaknya."
"Aku hanya ingin memengal kepalanya atas tindakan yang dia lakukan. Jadi aku tidak ada niat berdebat dengan kalian. Apalagi berniat mengotori tanganku dengan darah kalian!" Suro berbicara dengan cukup santai, tetapi di lambari kekuatan tenaga dalam. Sehingga seluruh perguruan mendengarnya.
Kuatnya tenaga dalam yang melambari membuat mereka semua tersentak kaget. Tidak terkecuali lelaki tambun yang memelototi Suro. Meskipun begitu karena merasa menang jumlah lelaki itu tetap berani berbicara dengan nada yang lebih kasar.
"Bocah ini mulutnya besar sekali! Dia berani mengancam kita dan juga berniat memenggal kepala ketua!"
"Aku tidak berniat berdebat dengan kalian! Katakan saja ketuamu ada atau tidak? Sekaligus aku bertanya mengenai Dukun Sesat dari Daha ketua Perguruan Racun Neraka. Apakah dukun itu menyambangi perguruan ini dalam kurun waktu kurang dari satu purnama? Karena aku tidak menemukan dia di perguruan yang dia pimpin!"
Kembali mereka terkejut dengan perkataan Suro yang terlihat tidak dibuat-buat. Tentu saja mereka terkejut karena perguruan yang disebut Suro barusan lebih mengerikan dibanding perguruan yang mereka miliki. Apalagi dengan ilmu racun yang dikuasai perguruan itu, tentu bukan hal yang bisa dianggap mudah untuk menghadapinya.
"Jangan membuat lelucon anak muda! Memang nyawamu ada sembilan, sehingga berani mendatangi rumahnya para ahli racun terkuat di Javadwipa ini?"
"Kemampuanmu yang dapat terbang dengan menggunakan bilah pedang tidak akan bakal membuat mereka ketakutan!"
"Naga Vritria? Apakah yang kau maksud adalah siluman ular yang memiliki kemampuan perubahan air-racun yang sudah berumur lebih dari sepuluh ribu tahun?"
"Aku sudah membakar siluman itu sampai tidak tersisa jasadnya, bahkan tulang belulangnya pun telah menjadi abu."
"Tidak mungkin, tidak ada makhluk yang pernah mampu mengalahkan Naga Vritria! Apalagi cuma bocah tengik bermulut besar sepertimu!"
"Menghadapi Jurus Tongkat Nerakaku saja kau tak sanggub. Mana mungkin kau mampu menghadapi jurus milik perguruan mereka yang terkenal mematikan. Pasti kau sudah ****** jika mereka sudah menyerangmu dengan jurus Tapak Selaksa Dewa Racun!" Lelaki tambun itu bersiap menyerang Suro dengan tongkat berujung golok besar ditangannya.
"Coba saja kalau kau berani melangkahkan kakimu meski satu langkah untuk mendekatiku! Aku pastikan kau akan merasakan jurus yang baru saja kau sebutkan itu?"
"Apakah kalian masih meragukanku, jika aku sudah menguasai jurus beracun itu? Silahkan kalian maju satu langkah jika ragu aku memiliki jurus itu! Dengan senang hati akan memperlihatkan kepada kalian betapa mematikannya jurus yang belum lama aku kuasai itu!"
Semua orang kembali terkejut dan saling memandang ke sesama mereka. Mereka ingin mengabaikan perkataan Suro, tetapi ekspresi yang mereka baca terlihat begitu meyakinkan. Apalagi secara bersamaan dengan ucapan Suro di telapak tangan kanannya sebentuk kabut mulai terbentuk.
"Apa susahnya kalian menjawab pertanyaanku. Mengapa manusia seperti kalian suka sekali membuat susah hidup orang lain dan juga suka memilih jalan hidup yang akan membuat hidup kalian susah sendiri?"
"Sudah cukup nasib orang-orang Perguruan Racun Neraka yang telah aku bumi hanguskan, karena memiliki kepala bebal seperti kalian semua!" Kali ini suara Suro mulai meninggi. Agaknya dia mulai terpancing emosi, karena tidak satupun mereka mau menjawab pertanyaanya.
Perkataan Suro barusan tentu saja membuat semua orang kembali terkejut. Tetapi lelaki tambun itu tidak serta merta langsung percaya. Justru dia bergerak hendak menyerang Suro.
"Makan jurus tongkatku!" Tongkat besi yang ujungnya sebuah golok besar segera menghajar ke arah Suro.
Tetapi seperti yang telah dikatakan Suro siapapun yang berani melangkahkan satu langkah kedepan hendak menyerang dirinya, maka Suro akan menyerang balik dengan serangan Jurus Tapak Selaksa Dewa Racun.
Pada langkah pertama dia mampu melangkahkan kaki tanpa halangan sedikitpun. Namun saat langkah kedua Suro telah melesatkan jarum teramat kecil yang mengenai kakinya. Sebelum lelaki itu menyadari, tubuhnya telah ambruk terlebih dahulu.
"Sudah aku katakan, jika diantara kalian berani melangkahkan kaki satu jengkalpun, maka dia akan merssakan Jurus Tapak Selaksa Dewa Racun! Tetapi kalian terlalu bebal untuk memahami perkataanku yang begitu sederhana!"
Suro ikut terkejut melihat begitu cepatnya reaksi yang diakibatkan jarum beracun yang dia kerahkan.
'Aku tidak menyangka, ternyata racun ini begitu kuat.'
"Ini peringatan bagi kalian yang terakhir kali. Berikan dia pil penawar ini kepadanya! Jika tidak segera kau berikan, tidak akan ada yang mampu menyelamatkan nyawanya!" Suro menyentilkan satu buah pil ke dekat lelaki yang telah ambruk.
Satu orang segera bergerak menangkap dan tanpa menunggu lama langsung disuapkan ke dalam mulut lelaki gempal yang telah mutah darah hitam begitu kental.
Melihat kejadian barusan semua orang secara spontan mundur beberapa langkah. Kali ini mereka benar-benar percaya dengan kemampuan pemuda belia didepan mereka. Tidak ada yang mampu menyerang seseorang dengan racun yang begitu kuat kecuali para jagoan dari Perguruan Racun Neraka. Tetapi mereka kebingungan dari mana bocah didepan mereka belajar ilmu racun itu, jika dia sendiri mengaku telah menyerang perguruan pemilik ilmu racun tersebut.
"Siapa yang paling bertanggung jawab diperguruan ini? Keluarlah kalian! Jika tidak ada yang segera muncul jangan salahkan tanganku, jika harus menghabisi orang-orang yang menghalangi langkahku ini! Jangan sampai nasib perguruan kalian seperti nasib Perguruan Racun Neraka yang telah hancur lebur!" Kali ini Suro berteriak keras dengan dilambari tenaga dalam yang cukup kuat.
Dia sengaja mengancam seperti itu agar tidak perlu lagi melukai orang yang tidak perlu. Karena jika mereka menyerbu, maka tidak ada pilihan bagi Suro selain melakukan serangan balik. Dan jika itu terjadi maka akan banyak korban jiwa yang tidak perlu.
Walaupun sejak awal Suro tidak ingin membuat korban jiwa, tetapi berhadapan dengan sebuah perguruan yang menyukai kekerasan untuk menjadi solusi terakhirnya. Tentu apa yang dia niatkan itu, seperti melakukan sesuatu yang tidak mudah atau justru sesuatu yang mustahil.