
"Akhirnya mereka menemui ajal juga setelah kobaran api membakar tubuh mereka," Jendral Yuwen Huaji menatap lorong didepan dengan tatapan mata yang tajam.
Pedang miliknya dalam kondisi terhunus siap siaga. Begitu juga para punggawa dan semua pasukan yang berada di belakangnya. Mereka masih merasakan ketegangan setelah melewati pertempuran panjang.
Walaupun itu bukan akhir dari pertempuran. Sebab sisa dari pasukan Khan Langit yang menyusul dibelakang jauh lebih banyak.
"Aku tidak menyangka rencana Jendral Yuwen Huaji berhasil dengan begitu gemilang," ucap Jendral Tian Bai.
"Jangan senang dahulu, ini hanyalah bagian kecil dari pasukan Khan Langit. Pasukan mereka yang memiliki kulit hitam akan menjadi musuh terberat bagi kita. Apalagi kita tidak mengetahui seberapa banyak mereka pasukan yang sejenis dengan mereka?
Setelah melawan mereka secara langsung, aku segera mengerti mengapa mereka begitu sulit dihabisi. Bahkan serangan milikku yang telah dilambari tingkat surga sekalipun tidak berhasil membunuh mereka. Kekuatan mereka persis seperti yang telah dijelaskan jendral Tian Bai kepadaku sejak awal."
Dihadapan mereka kini tumpukan batu menggunung. Jalan diantara kedua tebing telah tertutup sepenuhnya. Sehingga dari arah yang berlawanan tidak mungkin lagi dilewati dengan menggunakan kuda atau semacamnya.
Tetapi mereka masih dapat melewatinya dengan cara memanjat dan melewati tumpukan batu yang cukup tinggi.
Seluruh pasukan Khan Langit yang terjebak tidak ada yang selamat. Termasuk yang telah tertanam dalam dirinya benih iblis. Sepertinya batu-batu besar telah memastikan kematian mereka setelah kobaran api yang memenuhi lorong itu membakar tubuh mereka.
Sedangkan bagi pasukan yang belum sempat memasuki lorong telah mati dihujani anak panah. Serangan anak panah itu dimulai sejak suara ledakan terdengar pertama kali.
Belum sempat mereka menikmati keberhasilan mereka setelah berhasil menghabisi pasukan Khan Langit barusan, salah satu dari pasukan Macan Hitam yang bersembunyi diatas tebing tinggi telah turun menghampiri Jendral Yuwen Huaji.
"Ampun Jendral Yuwen Huaji yang perkasa, pasukan Khan Langit telah terlihat." Lelaki itu adalah pemimpin Pasukan Macan Hitam kolonel Xian Hua.
"Apakah mereka sudah mencapai Tebing Besar Yangu?" tanya Jendral Yuwen Huaji dengan tatapan penasaran.
Jendral Yuwen Huaji sudah berada didalam lorong, apalagi bebatuan dan asap tebal dari kobaran api yang sebelumnya menyala tidak sepenuhnya padam. Sehingga mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, kecuali mereka naik ke atas tebing dan melihatnya secara langsung dari atas.
Tebing itu sesungguhnya pegunungan besar yang menjadi pembatas antara wilayah Bei Ping dan He Bei.
"Mereka sudah mendekat yang mulia. Suara itu menandakan mereka sudah tidak jauh dari Tebing Besar Yangu." Xian Hua menjawab pertanyaan Jendral Yuwen Huaji sambil menujuk asal suara yang bergemuruh.
"Perintahkan semua pasukan pemanah untuk bersiap!"
Setelah menjawab perintah dari Jendral Yuwen Huaji, Xian Hua menjura dan berjalan mundur ke belakang lalu melesat kembali ke atas tebing.
Jendral Yuwen Huaji setelah Xian Hua pergi dia segera memerintakan para punggawa yang menjadi bawahannya untuk bersiap menghadapi serangan dari Khan Langit berikutnya.
Dia lalu membeberkan rencana miliknya kepada para bawahannya, setelah selesai dia bersama Jendral Tian Bei dan juga beberapa punggawa ikut melesat ke atas tebing.
Sementara wakilnya yaitu jendral Xiao Long bersama sebagian pasukan segera berjaga dilorong yang dipenuhi asap tebal. Mereka tidak akan membiarkan pasukan Khan Langit lewat lorong Tebing Besar Yangu. Sebab jika mereka menembus, maka akan sulit bagi mereka untuk menahan laju serangan musuh masuk ke wilayah He Bei.
Jendral Yuwen Huaji setelah sampai diatas tebing dapat melihat seluruh pergerakan pasukan Khan Langit lebih jelas. Dari tempat yang cukup tinggi itu dia melihat pergerakan pasukan tambahan milik Khan Langit.
Melihat penampakan itu, Jendral Yuwen Huaji terkejut. Sebab kabar tentang adanya pasukan tambahan milik Khan Langit tidak pernah di laporkan oleh pasukan telik sandi kepadanya.
Dia mulai mengernyitkan dahinya setelah dia perhatikan memang mereka tidak menggunakan seragam selayaknya para prajurit dari Khan Langit. Mereka bahkan tidak menggunakan pelindung sama sekali.
"Bukankah mereka semua adalah para penduduk?" ucap Jendral Yuwen Huaji sambil menoleh ke arah Jendral Tian Bai, meminta jawaban.
"Tepat sekali, bahkan mereka bukan penduduk dari suku utara. Tetapi pakaian yang mereka gunakan adalah dari sekitar sini. Alias mereka sesungguhnya adalah penduduk dari wilayah kekaisaran ini." ucap Jendral Tian Bai sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Sepertinya kita sudah mendapatkan jawaban mengenai pasukan penjaga beberapa wilayah yang telah dikuasai Khan Langit yang justru ikut bergabung dengan musuh."
Jendral Tian Bai tersenyum sambil menganggukan kepala mendengar Jendral Yuwen Huaji yang telah memahami maksud ucapannya.
"Semua ini pasti ulah Perguruan Seribu Hantu. Berani sekali mereka mendukung Khan Langit. Akan aku pastikan perguruan mereka rata dengan tanah." Gigi Jendral Yuwen Huaji terdengar bergemeletukan menahan marah setelah mengetahui dalang dari pasukan penjaga wilayah yang telah kehilangan ingatan.
Jendral Tian Bai tertawa kecil melihat panglimanya mulai murka, "tahan kemarahan Jendral Yuwen, kita harus membereskan pasukan Khan Langit terlebih dahulu. Setelah itu kita pastikan Perguruan Seribu Hantu harus hancur tanpa ada sisa.
Sebab merekalah yang membuat kita terpaksa harus menghabisi saudara sendiri, karena mereka berperang melawan kita setelah kesadarannya dikuasai hantu laknat peliharaan para anggota Perguruan Seribu Hantu." Bukan hanya Jendral Yuwen huaji, Jendral Tian Bai juga menyimpan dendam.
Karena ulah dari merekalah sisa pasukan penjaga yang ditangkap dan ditawan Khan Langit tewas di bunuh pasukan kekaisaran dalam pertempuran mereka sebelumnya.
Dari kejauhan suara pasukan Khan Langit terdengar riuh. Perhatian mereka semua kembali ke arah pasukan musuh yang semakin mendekat.
"Ingat para pasukan pemanah jangan melesatkan busur, kecuali sudah aku ijinkan. Kita harus membuat serangan kejutan, sehingga mampu membunuh sebanyak mungkin pasukan Khan Langit." Perintah Jendral Yuwen Huaji tidak diucapkan secara keras.
Bahkan disebarkan kepada seluruh pasukan pemanah yang ada di kedua sisi tebing dengan menggunakan bahasa isyarat. Dengan cara itu musuh tidak mengetahui, jika pasukan kekaisaran telah menunggu kedatangan mereka.
Pasukan yang berada diatas tebing terus bersembunyi di balik pepohonan yang banyak tumbuh diatas tebing tinggi itu. Memang diatas tebing itu merupakan bagian hutan luas yang menutupi seluruh pegunungan.
Tanpa mereka sangka mendadak langkah pasukan Khan Langit terhenti pada jarak yang tidak terjangkau oleh panah mereka. Terjadi sesuatu hal yang membuat mereka memutuskan langkah kuda-kuda mereka yang sebelumnya melaju sedemikian kencang berhenti secara mendadak.
"Apa yang sedang mereka pikirkan? Mengapa mereka mendadak berhenti?" Pertanyaan Jendral Yuwen Huaji tidak segera dijawab oleh para bawahannya. Sebab mereka juga kebingungan dengan keputusan berhenti secara mendadak dari Khan Langit.
"Kemungkinan Khan Langit telah mengetahui nasib pasukan miliknya yang telah sebelumnya kita habisi didalam lorong Tebing Besar Yangu. Asap dari lautan api yang membakar hampir seluruh lorong dapat dilihat dari kejauhan." Jendral Tian Bai mencoba menjelaskan pemikirannya.
Apa yang dikatakan Jendral Tian Bai memang benar. Bahkan asap itu masih memenuhi lorong dan kepulan asap sisa kobaran api itu masih terlihat meski dari kejauhan.
"Benar ucapanmu, Mereka sepertinya ragu untuk meneruskan jalan melewati lorong yang membelah tebing besar ini. Kemungkinan mereka hendak mencari jalan lain?" Jendral Yuwen Huaji membenarkan pemikiran Jendral Tian Bai.
Secara keseluruhan tempat dimana mereka berada seperti sebuah benteng alami. Jalan yang membelah dua tebing itu juga satu-satunya jalur yang mampu mengantarkan pasukan Khan Langit menembus wilayah He Bei.
Jika mereka ingin mencari jalan lain, maka jalur yang harus ditempuh sangat jauh harus memutari pegunungan. Membutuhkan waktu hingga beberapa hari. Tentu waktu yang diperlukan untuk memutar pegunungan akan membuang-buang waktu.
Apalagi rombongan pasukan besar, tentu waktu yang dibutuhkan juga lebih lama lagi. Jalur itu terhalang oleh peggunungan tinggi yang tidak mungkin bisa dilewati, kecuali melewati lorong Tebing Besar Yangu.
Apalagi di sebelah selatan mengalir sungai besar Yongding. Sungai itu terkenal berarus deras yang tidak mungkin dilewati. Apalagi harus dilewati pasukan berkuda, tentu itu adalah pilihan yang sangat membahayakan seluruh pasukan.