SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 39 PERTOLONGAN SEEKOR LABA-LABA



Setelah pertarungan Azura melawan Anum Panji selesai, maka tahap seleksi dilanjutkan esok pagi karena matahari sudah mulai tenggelam.


Para penonton terlihat mulai meninggalkan tempat duduknya.


Suro yang sudah beranjak dari tempat duduknya tidak jadi meneruskan langkahnya, sebab seorang prajurit Kalingga menghampirinya.


"Apakah anakmas yang bernama Suro bledek?"


"Benar sekali! Ada apa gerangan paman prajurit menanyakan nama saya? Mungkin ada sesuatu yang bisa dibantu?"


"Baginda Junjungan Sri Maharaja Wasumurti mengutus hamba untuk menjemput anakmas. Mari hamba antar, Baginda sedang menunggu bersama tuan pendekar Dewa Pedang."


Pembicaraan mereka membuat peserta lain begitu terkesima. Sepertinya kehadiran prajurit yang menjemput Suro telah menjawab keraguan mereka semua. Bukan saja kenal dengan seorang Dewa Pedang. Bahkan seorang Raja bisa mengenal namanya.


Mereka semakin penasaran dengan sosok Suro. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya dia? Tidak mungkin dia hanya seorang bocah biasa. Walaupun pakaian yang dia kenakan sedikit kumal. Tetapi koneksinya bisa mengantarkan dia dikenali seorang Raja tentu bukan orang biasa. Mereka sempat berpikir Suro adalah seorang bangsawan yang sedang menyamar. Apalagi melihat gelagat prajurit yang begitu menaruh hormat kepadanya.


Kemudian terdengar sebuah suara yang memangil namanya, membuat dia menghentikan langkahnya kembali. Dia menoleh ke arah asal suara. Seseorang yang memangilnya tidak berada terlalu jauh. Suara itu bukan hanya menghentikan langkahnya saja tetapi juga langkah para peserta lain ikut berhenti. Suara itu bahkan membuat Rithisak berkeringat dingin.


"Anakmas Suro! Gusti Maha prabu wasumurti ingin berbicara denganmu!"


Suro hanya menganggukkan kepala dan melangkahkan kakinya menuju ke arah Dewa Pedang bersama prajurit yang menjemputnya. Sepertinya Dewa pedang sudah tidak sabar ingin segera menunjukkan Suro kepada Mahaprabu Wasumurti.


Para peserta saling berpandangan. Hal yang tak mereka sangka dan membuat mereka benar-benar terkejut. Beberapa dari mereka yang sebelumnya hanya melihat Suro dicemooh dan tidak ikut serta, seperti bersyukur dari kemungkinan lepas dari mara bahaya besar.


Berbeda dengan yang terlihat dari ekspresi wajah Rithisak keliatan begitu pucat seakan darahnya habis dihisap. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Ternyata semua perkataan Suro adalah benar adanya.


Tak ada lagi plototan matanya saat Suro lewat bahkan secara tidak dia sadari badannya sedikit membungkuk memberikan penghormatan. Walau Suro tidak menyadari apa yang dialakukan Rithisak karena dia sedang tersenyum memandang Dewa pedang melambai ke arahnya. Para peserta lain juga ikut memandang kearah Suro. Terlihat bagaimana prajurit yang berada disampingnya terasa begitu menaruh hormat kepada Suro.


Apalagi setelah melihat dari jauh Dewa Pedang terlihat begitu akrab dengan Suro. Mereka semakin terkesima dengan Suro. Walaupun mereka tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Tetapi dari gerak tubuhnya terlihat bukan hanya Dewa Pedang yang begitu akrab dengan Suro.


Bahkan Baginda Sri Maharaja Wasumurti pun terlihat begitu menaruh hormat kepada seorang bocah yang ada dihadapannya. Bagaimana tidak, berkat gurunya juga kerajaan dan tahtanya bahkan nyawanya masih bisa dipertahankan.


Itu bisa dilihat bagaimana dia tidak membiarkan Suro bersimpuh dibawahnya. Dengan tangannya sendiri dia membangunkan Suro. Dan menyuruhnya duduk dikursi yang berada disampingnya.


"Suro, Ingsun(aku yang absolut) mewakili tiga kerajaan mengucapkan terimakasih berkat bantuan Eyang Sindurogo dan juga dirimu sehingga berhasil mengatasi serangan teror Naga raksasa."


"Selain itu sebagai tanda terima kasih ingsun tiga kerajaan telah sepakat memberikan hadiah. Walaupun ini tidak mungkin mengantikan rasa kehilanganmu atas kejadian yang menimpa Eyang Sindurogo, ingsun harap dirimu mau menerimanya."


"Sendiko dawuh, paduka Sri Maharaja." Suro menjawab sambil menjura ke arah Raja Kalingga itu.


"Selain mewakili tiga kerajaan secara khusus ingsun juga mengucapkan rasa kesedihan yang menimpa gurumu, Suro."


"Eyang bagi ingsun pribadi merupakan pahlawan yang sangat berjasa kepada Kerajaan Kalingga. Oleh karena itu tiga negara tidak melepaskan tanggung jawabnya. Sehingga jika ada upaya untuk melakukan penyelamatan Eyang Sindurogo maka kami tiga kerajaan akan membantu dengan berbagai sumber daya dan kekuatan yang kami miliki."


"Ingsun juga mendengar kemampuanmu yang luar biasa sangat membantu jalannya pertempuran melawan Naga raksasa itu sehingga mampu berakhir dengan kemenangan."


"Aku rasa gurumu sangat bangga memiliki murid seperti dirimu."


Panjang lebar Maharaja Wasumurti bercerita tentang gurunya dan rasa terima kasihnya yang tak terhitung.


Suro hanya menganguk-angukkan kepalanya. Tak terasa butiran airmatanya jatuh mengingat kembali gurunya yang entah bagaimana kabarnya. Dengan kondisi kekuatannya sekarang pun sepertinya masih belum mampu menyelamatkannya.


Dia sudah tidak mendengar apa yang dikatakan Maharaja Wasumurti. Pikirannya sudah tenggelam dalam bayangan gurunya. Mengingat satu-satunya orang yang paling berjasa dalam hidupnya.


Dewa pedang yang paling memahami perasaan Suro jika mengenai gurunya. Dia bangkit lalu mendekati Suro mengelus-elus kepala suro yang tertunduk. Walau bagaimanapun dia tetap hanya seorang bocah. Sejak dia bisa mengingat tidak tau siapa orang tuanya baginya Eyang Sindurogo adalah satu-satunya orang tuanya. Dengan kehilangan Eyang Sindurogo merupakan kehilangan terbesar dalam hidupnya.


Dia dekap kepala Suro seakan anaknya sendiri. Entah mengapa Dewa Pedang menjadi sedikit sentimentil bila menyangkut Suro.


**


Dengan hadiah dari Maharaja Wasumurti yang sebanyak empat peti koin emas, Suro berencana mengirim bantuan makanan kepada para penduduk. Untuk itulah dia menemui Kolo Weling dikediamannya.


Malam itu Suro berada dirumah yang menjadi tempat Kolo Weling dan teman-temannya tinggal. Empat peti koin emas dari pemberian Sri Maharaja Wasumurti dibawa semua ke rumah itu. Digabung dengan satu peti koin emas yang dulu diberikan Mahapatih Lembu anabrang.


Mereka sedang merencanakan untuk memberikan sumbangan pangan kepada seluruh penduduk di Kademnagan Cangkring dari hadiah yang diberikan kepada Suro.


"Mohon maaf Paman Klabang geni besok berbelanja ke pasar disana ada berapa karung beras yang ada kamu beli semua. Setelah itu kalian salurkan kepada para penduduk yang paling membutuhkan."


"Sendiko dawuh nakmas!" Klabang geni yang berada didepan Suro menganggukan kepalanya.


"Kalian semua bergerak! Kalau perlu beli lagi gerobak dan sapi penariknya. Terkecuali paman Kolo Weling, paman Kolo srenggi, paman Nawolo, paman Ugrowiseso. Kalian besok akan ikut denganku. Aku ada satu urusan yang memerlukan bantuan paman sekalian."


"Sendiko dawuh nakmas." Mereka serempak menjawab perintah Suro dengan begitu takzim.


Setelah pagi tiba seperti yang telah direncanakan Klambang geni beserta beberapa puluh orang rekannya memborong bahan pangan yang akan di salurkan ke seluruh penduduk Kademangan Cangkring.


Suro yang telah melalui seleksi tahap pertama tidak diwajibkan datang ke arena pertandingan. Karena itu dia memilih pergi bersama Kolo weling dan beberapa rekannya. Tujuan mereka adalah tempat pandai besi yang bernama Ki Pawirodirejo atau sering dipanggil Ki Pande besi.


"Suro ingin melatih tehnik pedang terbang. Tehnik pedang yang aku latih ini memerlukan bilah pedang yang lebih banyak. Karena tehnik pedang ini aku namakan jurus seratus pedang terbang." Suro membuka suara untuk menjelaskan alltujuannya kepada mereka yang mengikutinya.


"Demi Hyang Maha Tunggal....! Benarkah itu nakmas? Apakah itu tehnik yang sama dengan milik Mahesa kemaren?" Kolo weling terperanjat dengan niat Suro yang akan mengajari mereka dengan tehnik yang mengesankan itu.


"Tentu saja tetapi Suro ingin menyempurnakan tehnik tersebut! Selain itu kedepannya Suro berharap banyak agar paman sekalian bisa menguasai jurus sepuluh pedang terbang."


"Haaaaaaa.......! Sepuluh bilah pedang apakah itu tidak berlebihan nakmas?" Kolo weling semakin terkesima seakan tak percaya.


Dia bukan meragukan perkataan Suro. Tetapi dia justru meragukan kemampuan mereka sendiri. Bukan sesuatu yang mudah mengendalikan pedang sebanyak itu. Bahkan mengendalikan satu pedang saja sudah begitu susah.


"Jangan khawatir paman Kolo Weling! Aku tau yang sedang paman pikirkan. Tentu saja Suro akan mengajari paman setahap demi setahap tidak langsung sepuluh bilah sekaligus."


"Mohon maaf jika saya terlihat meragukan kemampuan nakmas Suro!"


Tidak terasa mereka sampai ditempat pandai besi. Ketika yang lain masih sibuk mengikat tali kuda, Kolo weling mendahului masuk melihat-lihat ke dalam tempat dipamerkan berbagai senjata dan alat-alat pertanian.


"Ada yang bisa saya bantu, kisanak?" Suara seorang yang agak tua mengagetkan Kolo weling. Segera dia menoleh sumber suara seorang yang biasa dikenal ki pandai wesi tersenyum kepadanya.


"Bukankah anda yang biasa dipanggil Tabib weling?" Kolo weling tersenyum kaku sambil menganguk.


"Benar paman pandai besi! Tetapi bukan saya yang butuh bantuan saya sedang mengantar junjungan saya nakmas ini yang butuh bantuan paman pandai?" Kolo weling menunjuk Suro yang baru saja masuk.


Ki pandai wesi kebingungan yang dia sebut junjungan pakaiannya tak pantas dipakai seorang junjungan. Bahkan pakaiannya terlihat begitu buruk dibandingkan yang dipakai Kolo weling. Tetapi dia tetap tersenyum ke arah Suro.


"Bisa saya bantu nakmas?"


"Mohon maaf paman saya memerlukan bilah pedang yang memiliki kwalitas seperti ini atau mungkin yang mendekati!" Dia menyerahkan sarung beserta bilah pedangnya ke pada ki pandai wesi.


"Mohon maaf anakmas dengan kriteria seperti ini sepertinya tidak ada. Karena bahan dari bilah pedang ini sangat khusus tidak ada dijavadwipa. Baja ini disebut baja Wootz berasal dari Negeri Bharata bagian selatan." (Bharata lebih dikenal dengan nama Negeri Hindustan atau india)


"Pemahaman paman tentang senjata sungguh luar biasa."


"Aku hanya bisa membuat bilah pedang yang kwalitasnya mendekati tetapi perlu waktu yang lama dan harga yang tidak sedikit untuk satu bilahnya."


"Berapa harga perbilahnya paman?"


"Aku memberi harga 10 koin emas per bilah." Ki Pawirodirejo tersenyum kearah Suro. Dia yakin anak muda yang berada didepannya itu tak mampu membayarnya.


"Baiklah paman saya akan memesan 100 bilah pedang seperti yang paman katakan. Tetapi aku ingin melihat satu contohnya terlebih dahulu. Sekarang saya minta 100 bilah pedang yang terbaik milik paman pandai. Masalah harga saya tidak mempersoalkan."


Ki Pawirodirejo mulutnya menganga beberapa kejap sampai Suro memangilnya. Dia serasa bermimpi pasti dia akan panen rejeki dengan jumlah pemesanan sebanyak itu.


"Mohon maaf sebelumnya nakmas."


"Ada apa paman pandai besi? Kenapa harus meminta maaf kepada saya?"


"Untuk membuat bilah pedang yang nakmas minta tidak lah segampang membuat bilah pedang biasa."


"Bagaimana maksud paman pandai?"


"Untuk mendapatkan 100 bilah pedang yang sesuai dengan keinginan nakmas membutuhkan waktu yang cukup lama."


"Sebagai contoh kami para pandai besi sekedar untuk membuat sebilah pedang atau sebilah keris dengan kwalitas seperti yang nakmas minta. Waktu yang diperlukan minimal empat purnama."


"Mengapa harus selama itu paman?" Suro merasa penasaran dengan penjelasan Ki Pandai besi yang menyebutkan waktu yang sebegitu lamanya.


"Untuk membuat sebilah pedang yang tergantung didepan itu! Ya.. itu yang didinding sebelah kiri. Kalau yang itu tentu tidak membutuhkan waktu yang lama cukup beberapa hari saja." Ki Pandai besi menunjuk pedang-pedang yang tertata rapi di dinding.


"Tetapi dengan kwalitas seperti yang anakmas minta tidak sesederhana itu pembuatannya. Karena ada proses tambahan yang rumit. Proses yang akan sangat menentukan kwalitas dari pedang itu sendiri. Proses yang dimaksud adalah tehnik pelipatan."


Kemudian Ki pandai besi menjelaskan kepada Suro tentang tehnik pembuatan senjata, termasuk cara membentuk pamor dibilah pedang ataupun keris. Panjang lebar dia menjelaskan secara mendetail. Suro terkagum-kagum dan semakin terpesona dengan senjata yang memiliki kwalitas tinggi.


Suro menganguk-anguk mendengar penjelasan Ki Pawirodirejo didepannya. Dia tidak mengira sebegitu rumitnya pembuatan pedang yang berkwalitas.


"Mungkin untuk memenuhi pesanan anakmas saya membutuhkan bantuan dari pandai besi lain. Apakah itu tidak masalah buat anakmas?"


"Saya rasa tidak masalah paman. Kalau itu memang bisa mempercepat tanpa mengurangi kwalitas pedang yang saya pesan."


"Tentu saja anakmas saya bisa menjamin hal itu. Setelah jadi satu bilah pedang saya akan memperlihatkan kepada anakmas. Sampai anakmas merasa kwalitas itu sesuai dengan kriteria yang anakmas minta. Maka baru saya akan membuat produksi keseluruhannya dengan contoh bilah pedang yang anakmas setujui."


"Saya setuju dengan hal itu." Suro menjawab sambil menganguk sebagai tanda setuju.


Dengan dibantu tukang pandai wesi yang lain akhirnya Ki Pawirodirejo meminta waktu paling cepat sekitar lima belas purnama. Dengan perhitungan pembuatan satu bilah pedang kwalitas sedang memerlukan waktu kisaran empat purnama. Maka bisa dibayangkan melibatkan berapa banyak pandai besi yang diperlukan untuk memenuhi pesanan Suro dalam rentan waktu lima belas purnama itu.


Karena keterbatasnya waktu akhirnya mereka kembali pulang hanya membawa 100 bilah pedang dengan kwalitas seadanya. Harga satu bilah oleh Ki Pawirodirejo di hargai lima sampai sepuluh koin perak tergantung kwalitas pedangnya. Walau Suro sedikit kecewa tetapi minimal bilah pedang itu tetap masih bisa dia gunakan untuk latihan.


Setelah sampai dirumah, Suro mewanti-wanti agar tidak diganggu sampai besok lusa. Dia sedang berkonsentrasi untuk melatih tehnik 100 bilah pedang terbang.


Jika sebelumnya Mahesa mengunakan benang khusus yang mampu dialiri chakra untuk menggerakan pedang. Maka dalam latihan kali ini dia mengunakan Tehnik Telapak Dewa Matahari.


Tahap pertama Suro mulai memainkan dua bilah pedang tanpa menyentuhnya.


"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"


Dua bilah pedang itu bergerak begitu lincah memainkan jurus dalam kitab Dewa Pedang.


Merasa telah lancar sambil terus memainkan pedang dia mulai mengambil satu demi satu bilah pedang yang tergeletak dilantai.


Setelah satu jam berlatih dia telah genap memainkan sepuluh bilah pedang secara selaras. Pedang yang dia mainkan seakan benar-benar membentuk sayap pedang yang menari.


Setelah sepuluh bilah pedang mampu dia kuasai, Suro menghentikan latihannya. Bukan karena kecapaian tetapi karena dia tidak punya cara untuk menambah lebih dari sepuluh pancaran chakra.


"Untuk mengerahkan pancaran chakra sehingga bisa terbentuk sejenis tali chakra seperti hawa pedang tidak mungkin aku membuatnya melalui jalur nadi lain. Kecuali hanya dari jalur nadi yang berada diujung jari saja."


Saat Suro sedang merenung diantara sela-sela atap menerobos cahaya matahari yang menyinari sebuah rumah laba-laba yang belum jadi. Laba-laba itu terlihat begitu sibuk membuat rumahnya. Aktifitas laba-laba itu menyita perhatian Suro dia cukup lama mengamati dengan asiknya.


"Ah! Aku tahu sekarang!"


Suro langsung bangkit sambil memukulkan satu kepalan tangan kanannya ke telapak kirinya. Dia segera berjalan ketengah lapangan untuk memulai kembali latihannya.


Sepertinya berkat seekor laba-laba telah membantu Suro mendapatkan sebuah pencerahan. Dengan pencerahan itu akhirnya dia bisa menembus kebuntuan latihannya yang akan menghantarkan menuju tahap selanjutnya. Suatu tahap ilmu pedang yang mungkin tak seorangpun bisa melakukannya kecuali hanya Suro sendiri.